Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 1. Kau gila


__ADS_3

...🍁POV Rendi🍁...


Perlahan aku membuka mata, aku melihat seisi ruangan ini begitu sangat asing. Mataku mengelilingi setiap sudutnya, tapi ini bukan tampak seperti ruangan tapi gubuk kayu. Begitu kotor, banyak sekali ranting pohon dan dedaunan. Aku berpikir ini di mana? Ah aku baru ingat kalau terakhir ada orang yang memukul punggungku dan sampai sekarang masih terasa sakit.


Eh tunggu dulu. "Eemmmm." Bibirku di lakban? Kaki dan tanganku di ikat kuat oleh tali, aku duduk di atas kasur.


Apa-apaan ini? Siapa yang melakukan ini padaku? Benar-benar keterlaluan.


Krekkk....


Bunyi suara dari pintu, seseorang membuka pintu seraya berjalan dan memasuki ruangan ini.


Aku menoleh kearah orang itu dan ternyata dia adalah SISKA! Jalang sialan! Apa yang ingin dia lakukan padaku.


"Selamat malam sayang." Ucap Siska seraya duduk di kasur di sebelahku.


Dia mengelus pundak ku, aku mencoba menghindar. "Eeemmmm..." Gumam ku, mataku sudah melototi dia.


Dia mengelus pipiku, tapi aku langsung memalingkan wajah.


"Sayang kenapa kau sombong sekali sekarang?"


"Eemmmm...." Ah brengsek lakban nya terlalu kuat menempel di mulutku. "Eemmm..."


Siska berkacak pinggang. "Ada apa sayang? Kau mau bicara?" perlahan tangannya mendarat di ujung lakban di pipiku, namun terhenti. "Ah jangan deh, nanti kamu hanya berkata kasar padaku." Ucapnya urung.


Tubuhku mulai meronta-ronta, tapi tidak bisa. Kenapa ikatannya begitu kuat. Ini tidak mungkin Siska yang mengikat, pasti dia menyewa orang lain.


Wajahnya kini mendekati wajahku. "Kenapa kau begitu berubah Ren? Apa kau sama sekali sudah tidak tertarik padaku?" tangannya kini melingkari leherku.


"Eemmm..." Sial! aku tidak bisa berkata apapun.


"Kenapa kau begitu mencintai istrimu sekarang? Apa yang tidak aku punya darinya, jawab aku Ren?" bodoh! Bagaimana aku bisa menjawab kalau mulutku kau lakban.


Wajahnya terlihat begitu kesal. Dia langsung berdiri. "Oke.... Coba kita lihat, bagaimana kau bisa menahan untuk tidak tertarik lagi padaku." Ucap Siska seraya mengangkat dress keatas, dengan cepat aku menutup mata.


Jalang gila apa-apaan kau ini, dia mencoba untuk menggodaku. Tidak Rendi, kau tidak boleh tergoda, aku harus tetap tutup mata.


Dia langsung mendudukkan bokongnya di kakiku dan tangannya mengelus juniorku yang masih tidur di dalam celanaku. Jangan sampai dia terbangun.


Oh tidak. Ya Allah, aku mohon. Buat jiwa laki-lakiku menghilang dalam malam ini.


Aku terus berdo'a tidak henti-hentinya, Aku mencoba untuk melipat kakiku. Tapi justru Siska makin dekat denganku.


"Kenapa kau memejamkan mata Ren? Bukannya ini hal biasa? Buka matamu cepat!" Pekik Siska seraya memaksa mataku untuk terbuka dengan jarinya.


Dan aku melihat seisi tubuhnya yang polos, entah kenapa bukannya nafsu aku malah merasa sangat jijik, angan-angan ku merasa Indah sedang menanggis. Sayang maafkan aku, lagi-lagi mataku melihat hal kotor.


"Bagaimana Rendi? Apa tubuhku tidak membuatmu menggoda? Aku jauh lebih seksi di banding Indah bukan?"


Dia langsung mendorong tubuhku untuk berbaring, kini dia berada di atas ku, aku memejamkan mata lagi supaya aku tidak bisa melihat tubuhnya.


Dia menciumi leherku, nafasnya begitu dekat. Dan lidahnya begitu gila. Siska benar-benar sudah lihai dalam masalah ini. Tidak heran dia jadi jalang, Rendi bego! Kenapa aku baru sadar sekarang. Dulu aku pernah mencintai wanita jalang seperti dia.

__ADS_1


Indah maafkan aku....


Dia menggigit kecil leherku. Tubuhku menjadi merinding, tapi aku masih berusaha untuk menahannya. Aku bersumpah! Jika aku lolos dari sini aku akan melemparkan kau ke penangkaran buaya.


Aku harus tahan dengan permainannya, jangan biarkan juniorku tegang. Tidak ada sejarahnya laki-laki di perkosa? Benarkan.


Tok.... Tok... Tok.


Bunyi suara ketukan pintu. Tapi mulut Siska masih berada di leherku.


Tok... Tok... Tok.


Seseorang mengetuk pintu lagi dan akhirnya Siska melepaskan lum*tan di leherku.


"Menganggu saja." Dia mendengkus kesal.


Dia bangun dan berdiri lalu memakai kembali pakaiannya, dan membuka pintu. Aku menoleh kearah pintu melihat kedua pria kekar memakai kacamata hitam.


Dia memberikan selembar kertas dan bolpoin pada Siska.


"Masuklah." Ucap Siska mengisyaratkan pada pria itu.


Pria itu mengangkat tubuhku untuk bangun dan mendudukkan ku di tepi kasur. Salah satu dari mereka menarik lakban di mulutku begitu kasar.


"Aaaahhhh...." Kumis tipisku seakan ikut terangkat.


"Jalang sialan! Apa yang kau inginkan? Lepaskan aku!" Pekik ku pada Siska yang masih berdiri memandangku.


...____________...


...Perjanjian Pernikahan...


Dengan menanda tangani surat ini, saya selaku Rendi Pratama akan bersedia menikah dengan Siska Novelis. Dan menceraikan istri saya yang bernama Indah Permatasari.


50% harta kekayaan saya akan saya serahkan pada istri baru saya, yang bernama Siska Novelis dan tidak akan membaginya kepada mantan istri saya.


Demikian surat ini, saya membuatnya dengan sukarela. Tanpa paksaan dari pihak manapun.


...__________________...


Sudah ada tanda tangan Siska di atas materai, dan ada namaku di sampingnya.


Ini semua karena uang? Dasar wanita hina dan gila uang. Bisa-bisanya dia mengancam ku begini.


"Kau gila Jalang! Sampai mati pun aku tidak akan mau menikah denganmu. Kau wanita kotor! Aku tidak akan mau menikah dengan wanita kotor seperti mu!" Umpat ku kesal. Aku ingin sekali mencekik lehernya.


Siska tersenyum menyeringai, dia seperti tengah menantang ku. "Kau bilang apa? Aku kotor?" Dia menunjuk dirinya sendiri.


"Justru kau sama kotornya denganku Ren. Kau selingkuh dengan ku, kau sama kotornya juga dengan ayahnya Indah. Yang mabuk akan tubuh seksi ku ini." Dia berkacak pinggang dengan sombongnya.


"Iya memang benar! Tapi aku sudah sadar sekarang. Aku sudah pernah bilang padamu. Jangan ganggu hidupku lagi, APA KAU TULI??" Teriakku, tubuhku meronta-ronta. Tapi percuma, tali di tubuhku ini begitu kuat sampai membuat memar di kaki dan tanganku.


Dret.... Dret.... Dret....

__ADS_1


Suara ponselnya berdering. Dia langsung mengangkatnya.


"............"


Aku tidak bisa mendengarnya, siapa kira-kira orang yang meneleponnya.


"Dia tidak mau menikah denganku. Bagaimana ini?"


Siska bertanya pada orang itu, aku jadi penasaran mungkin dia adalah komplotannya, berarti Siska tidak sendiri. Ada orang lain di belakangnya.


".............."


"Kau yakin?"


"............."


"Aku yang melakukannya?"


"..........."


Siska mengangguk-angguk, dia berjalan keluar sebentar dan masuk lagi. Dia memegangi pisau yang ujungnya begitu lancip.


Dia menempelkan pisau itu di dadaku sebelah kiri. "Kau tetap tidak ingin menikah denganku Ren?" Aku mengangguk.


"Kalau kau tidak mau tanda tangan. Aku akan menusuk mu Ren!" Pekiknya mengancam.


"Tusuk saja." Ucapku santai.


"Oke...."


Bruusssssss.....


Mataku terbelalak. "Aaarrrrrggghhhh...." Aku merintih kesakitan, dia beneran berani menusuk dadaku dan ingin membunuhku.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak like ❤️

__ADS_1


__ADS_2