Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 7. Enaklah, mantap!


__ADS_3

"Nggak akan. Mulutnya saja tiap bertemu Mamah seperti di kunci. Bagaimana bisa dia mengadu?! Lu tenang saja, Mas. Aman kok."


Tak lama pelayan Bar itu datang dengan membawa enam botol Vodka dan menaruhnya diatas meja.


"Apa mau sekalian pesan cemilannya?" tanya pelayan wanita itu.


"Tidak," sahut Rio singkat.


Pelayan itu langsung berlalu pergi. Tangan Rio segera membuka botol itu dan menenggaknya sampai habis.


"Ah! Enak juga rasanya," ucap Rio sambil mengulas bibir sisa air.


"Rio. Gue masih binggung sama lu deh, kenapa lu mendadak menikah dengan OB. Memangnya lu udah beneran bisa lupain Indah?" tanya Dimas.


Rio menggelengkan kepalanya. "Nggak tau deh. Gue pusing, Mas. Gue kayak ketiban sial aja. Gua nyesel banget bantuin dia. Dia nggak tau diri!" umpatnya kesal.


Kini giliran Dimas yang membuka botol itu dan menenggaknya sampai habis.


"Kenapa lu nggak cerita sama gue? Biasanya lu langsung cerita apa-apa tiap masalah Indah."


"Gue malas ceritain dia, dia nggak penting buat gue!"


"Tapi lu harus lupain Indah bego! Apa lagi Kak Rendi masih hidup. Memang lu dan dia nggak berjodoh saja. Mau dipaksain juga kalau memang nggak berjodoh itu susah, Rio," tutur Dimas.


Rio mengusap pelipis mata, kepalanya sudah terasa pusing. Tapi kini dia membuka botol lagi dan menenggaknya.


"Gua juga berusaha lupain dia ... tapi tiap hari wajahnya terbayang-bayang terus. Gue kayak kena pelet! Tau gitu mah sejak dulu gue perkosa dia saja! Biar dia jadi milik gue," ujarnya kesal.


"Hahahaha ... gila lu. Lu pernah punya niat kayak gitu sama Indah memangnya?"


"Nggak! Mangkanya itu gue nyesel, Mas! Gue juga heran padanya ... padahal dia bukan cinta pertama gue, tapi susah banget buat lupainnya!"


"Yasudah. Sekarang lu udah nikah. Mending lu coba mencintai istri lu, siapa tau dengan begitu lu bisa lupain Indah."


Rio tersenyum miring. Tubuhnya sudah merosot pada sofa.


"Hahahaha ... mencintai?! Seujung kukupun dia nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan Indah! Dia jelek! Gue nggak suka sama cewek jelek!"


"Kalau dia berdandan pasti ... eugh, cantik kok. Hahahaha ...." Dimas kembali meminum botol yang kedua.


"Cantik apanya, tadi pagi saja dia bilang sudah berdandan .... tapi terlihat seperti baru bangun tidur!"

__ADS_1


Dimas menggelengkan kepalanya. "Hahahaha ... parah banget lu, jangan gitu. Gitu-gitu juga istri lu. Lu udah ngerasain enaknya."


"Hahahaha ... iya enak! Tapi sial gue ketahuan Mamah ... padahal gue udah enak ngerasain perawan dengan harga 20 juta!" ucapan Rio makin ngelantur kemana-mana.


"Perawan? Yakin dia masih perawan? Lu aja belum pernah begituan dengan orang lain ... mana bisa ngebedain. Hahahaha ...."


"Ish ... tol*l! Gue tau masalah begitu, Mah. Gue kan sering nonton bok*p. Hahahaha ...." Rio bergelak tawa.


"Rasanya bagaimana? Apa enak?! Gue juga belum tau rasanya," tanya Dimas penasaran.


"Enaklah, mantap!" seru Rio dengan dua jempol mengangkat keatas.


"Gue jadi ingin coba ... tapi di Bar seperti ini mana ada yang perawan." Dimas menenggok kesana kemari, melihat beberapa wanita bayaran yang tengah menggoda beberapa pria yang baru datang.


"Iya memang! Mangkanya gue nggak mau main sama wanita jal*ng seperti mereka ... kasihan burung gue yang masih perjaka ....," ucap Rio sambil mengelus-elus juniornya.


"Lu udah nggak perjaka bego! Kan udah main sama Wulan. Hahahaha ...."


"Ah bener juga lu. Hahahaha ...."


Mereka berdua seperti dua orang gila yang sibuk mengoceh dan mengangguk-angguk.


"Lu bilang dia jelek! Tapi lu bisa bercinta dengannya ... dasar aneh!" dengkus Dimas.


"Itu lain lagi ceritanya! Tapi sekarang gue nggak bakal bercinta lagi dengannya ... gue ... gue kapok!"


Mereka berdua membuka botol terakhir dan menenggaknya sampai habis.


Keduanya cegukan, perut mereka sekarang terasa penuh akibat 3 botol alkohol itu.


Selang beberapa menit, mereka berdua langsung tertidur dalam sofa itu. Saling menimpa tubuhnya masing-masing.


Di tempat yang sama, Rizky baru saja datang bersama Anna. Mereka duduk dan memesan minuman beralkohol. Sudah menjadi hal yang lumrah bagi seorang Rizky, hampir setiap malam dia nongkrong di Bar.


Untuk sekedar bersenang-senang dengan para wanita bayaran atau hanya minum saja, tapi kali ini sebuah kebetulan lagi saat ia bersama dengan Anna, melihat seseorang yang menurutnya tak asing.


Meja yang Rizky duduki tepat didepan meja Rio dan Dimas. Kedua pria itu seperti manusia tidak berdaya dan tidak berguna, mereka berdua tidur sambil mengoceh.


Tangan Anna bahkan sudah sibuk membuka kancing dan resleting celana Rizky dan merogoh sesuatu yang panjang dan besar itu.


Tapi mata Rizky masih memperhatikan pada kedua pria itu dan mengingat akan wajahnya.

__ADS_1


Rio, Dimas. Apa itu mereka?


Batin Rizky.


"Rizky, ternyata tempat ini bagus juga, ya? Kenapa kau baru mengajakku di tempat ini?" tanya Anna sambil mengusap-usap junior Rizky.


"Aaahhhh ... iya, gue juga baru kesini," jawab Rizky dibarengi dengan *******.


"Aku menginginkannya Riz. Apa kita bisa sewa tempat disini untuk bercinta?" pandangan mata Anna hanya berpusat pada junior Rizky yang sedari tadi sudah ia pegang.


Bukannya Rio sudah menikah? Kenapa dia ada di tempat seperti ini?


Batin Rizky.


Rizky langsung membereskan celananya dan menyimpan junior itu dengan rapih.


"Lho kok kamu tutup. Padahal aku ingin menghisapnya," keluh Anna.


Rizky mengangkat bokongnya. "Sebentar, gue mau samperin dua bocah itu," ucap Rizky sambil berjalan kearah Rio dan Dimas.


"Rio! Dimas!" pekik Rizky di barengi tepukan pada punggung mereka berdua.


Tapi kedua pria itu masih memejamkan mata, Rizky sampai menepuk-nepuk punggung mereka dengan kasar supaya sadar. Mata Rizky langsung terbelalak menatap enam botol kosong, tangannya mengambil botol itu dan memperhatikan jenis minuman beralkohol itu.


"Mereka ini bodoh atau bagaimana? Minum segini banyak ya jelas teler!" umpat Rizky kesal.


"Rizky!" panggil Anna sambil bergelayut manja pada bahunya, "Ayoklah Riz. Kamu ngapain lihatin orang mabuk, biarkan saja mereka."


Anna sudah menarik tangan Rizky untuk kembali lagi ke mejanya. Namun perasaan Rizky tidak enak kalau meninggalkan Rio dalam keadaan seperti itu.


Apa gue anterin Rio pulang saja? Tidak mungkin dia sampai pagi disini.


Batin Rizky.


Ia menghentikan langkah kakinya dan langkah kaki Anna.


"Anna kita anterin bocah itu pulang dulu, habis itu kita bersenang-senang," pinta Rizky dengan tangan menunjuk kearah Rio.


"Kenapa harus dianterin? Biarkan saja," tolak Anna.


Rizky menoleh kearahnya dengan wajah kesal. "Dia ini Adiknya Reymond. Ya kali gue diem aja lihat dia teler. Lu kira gue setega itu?"

__ADS_1


Mata Anna terbelalak. "Jadi Reymond punya Adik?" Anna memperhatikan wajah Rio. "Tampan sekali dia, masih muda lagi ... apa dia sudah menikah? Aku ingin main dengannya Riz, sepertinya burungnya besar." Mulut Anna sudah menganga.


^^^Kata: 1029^^^


__ADS_2