Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
93. Aku sudah tidak tahan


__ADS_3

"Tidak perlu Mas... Kali ini aku akan coba mempercayai mu, kau suamiku. Aku juga tidak melihatnya secara langsung kalau kau bersama si jalang itu."


"Benarkah?" tanya Rendi Indah mengangguk.


Cup.... Rendi langsung meluncurkan ciuman penuh nafsunya ke bibir istrinya, hisapannya sangat penuh semangat dengan saliva yang menyatu dan pergerakan lidah yang saling beradu.


Cup.... Ciumannya kini beralih ke leher jenjang Istrinya, dengan kecupan yang mampu membuat Indah merem melek, tangannya kini mencopoti kancing kemeja yang Indah kenakan.


"Sayang kita tempur di sini ya?" pinta Rendi sedikit memaksa, juniornya sudah memberontak untuk keluar.


"Di rumah saja Mas, kita pulang." Sahut Indah menolak, masa iya dia melakukannya di dalam mobil.


Rendi meraih ponselnya dan membuka Asisten google untuk membantunya mencari Hotel terdekat daerah situ, karena rumah Andra dan dirinya lumayan jauh, dia benar-benar sudah tidak tahan, ingin menuntas nya saat ini juga.


"Kau tunggu di sini sayang." Ucap Rendi keluar mobil, meninggalkan Indah di parkiran Hotel.


Rendi langsung check-in Hotel, tapi sungguh benar-benar dia sedang di uji. Hotelnya penuh dan tak ada kamar kosong.


Kepala Rendi sudah benar-benar sakit karena menahan rasa yang bergejolak di dalam celananya, untuk mengendarai mobil lagi rasanya tak sanggup.


Rendi berjalan menuju dua bapak-bapak yang tengah mengopi dan merokok di sebuah warung di sekitar Hotel itu.


"Pak maaf saya ingin bertanya, apa di sini ada penginapan? Hotel di sana penuh." Ucapnya menunjuk. "Apartemen, villa atau semacam kontrakan juga tidak apa-apa." Ucap Rendi lagi menjelaskan.


"Kebetulan Pak itu kontrakan saya, baru hari ini kosong." Sahut Bapak itu menunjuk kontrakan di sebelah warung, tiga petak kontrakan tapi yang dia tunjuk yang di tengah.


Rendi memandanginya, dari luar terlihat bersih dan cat putih di tembok terlihat masih baru. "Apa Bapak mau lihat di dalamnya?" tanya Bapak itu.


Rendi mengangguk, Bapak itu bangun dan berjalan kearah kontrakan di ikuti oleh Rendi.


Dia mengambil kunci di kantong celananya, dan membukanya. Suasananya lumayan lah namanya juga kontrakan. Bapak itu menyalakan kipas angin yang berada di atas.


Terdapat lemari kayu, kasur busa beserta ranjang besi, Rendi menekan-nekan kasur tersebut, untuk mencoba seberapa empuknya.


"Kasurnya empuk kok Pak, ranjangnya juga kuat sampai beberapa ronde juga." Ucap Bapak itu yang seolah-olah sudah tau niat Rendi ingin ***-***, wajah Rendi benar-benar tidak bisa berbohong.

__ADS_1


Rendi menelan salivanya dengan kasar.


"Bagaimana Pak? Apa Bapak mau?" tanya Bapak itu lagi. Rendi mengangguk, lagian mau cari di mana lagi yang penting bisa tempur saja.


"Ya sudah saya akan ganti seprei, bantal dan juga selimutnya Pak." Ujar Bapak itu yang langsung mengerjakan apa yang dia katakan.


Rendi mengambil dompet di saku celana dan mengambil uang sebesar 3 juta. Dia langsung memberikan ke Bapak itu. "Apa segini cukup untuk semalam?" tanya Rendi.


"Cukup Pak, malah kebanyakan." Sahut Bapak itu merasa kegirangan.


Rendi berjalan keluar pintu. "Bapak sapu lantainya, saya akan kesini lagi dengan istri saya." Ujar Rendi yang langsung berlari kocar-kacir menuju parkiran Hotel, hatinya begitu senang sudah dapat kamar untuk tugas negara malam ini, kali ini jangan sampai gagal.


Rendi memencet alarm mobil, dan menuju mobilnya terlihat Indah yang sudah tidur. "Sayang..." Ucapnya mengelus pipi. Indah langsung terbangun.


"Mas apa kita sudah sampai di rumah?" tanya Indah melihat dari kaca mobil.


"Ayok keluar, kita harus tempur sekarang jangan tunggu nanti-nanti. Aku sudah tidak tahan." Ucapnya seraya menarik tangan Indah menuju surga dunia.


S


K


P


Sampai di kontrakan dia langsung mengunci pintu dan melucuti pakaiannya dan pakaian Indah secepat kilat.


Dia mengangkat Indah merebahkan tubuhnya yang sudah polos di atas kasur, kesempatan emas. Rendi langsung memburu dua gunung kembar dan salah satunya memerasnya, tidak lupa memberi kecupan tanda merah juga di sana.


Kepala Rendi kini turun di sebuah goa surga dengan aroma khas yang makin membuat juniornya nyut-nyutan. Lidahnya kini menari-nari di sana, membuat Indah menggelinjang tak karuan.


"Mas... Cepat lakukan." Lirih Indah yang sudah tak tahan dengan permainan Rendi.


Rendi meraup bibir Indah dan menghimpit untuk segera memasukkan junior kesayangannya itu yang sudah hampir ngambek karena gagal terus. Dan berhasil, dia langsung memompanya sangat cepat, hingga Indah mengerang keenakan.


Rendi membalikkan tubuh Indah dan menyuruhnya untuk menungg*ng, langsung saja dia tusuk dari belakang, bermain gaya kuda-kudaan. Indah mendesis lagi, tapi dengan cepat Rendi memasukkan tangannya ke bibir Indah.

__ADS_1


"Enak sayang..." Ucapnya, Indah tidak bisa berkata-kata hanya bisa mendesah menikmati tugas negaranya yang begitu nikmat.


Malam ini Rendi benar-benar ganas, ritmenya sangat cepat. Membuat tubuh Indah bergetar sampai ubun-ubun dengan keringat mereka yang saling beradu, dan akhirnya sampai juga dimana peluru itu berhasil dia keluarkan di tempatnya.


"Aarrgggggg..." Rendi mengerang sangat keras. Mungkin penghuni kontrakan yang di sebelah mampu mendengar teriakan Rendi.


Akhirnya, jos.


Batin Rendi.


Seketika tubuhnya terjatuh, begitu juga dengan tubuh Indah yang memang benar-benar sudah lemas. Rendi memeluk Indah dari belakang. "Terima kasih sayang. Aku mencintaimu..." Ucap Rendi dengan nafas yang terengah-engah.


"Aku juga mencintaimu Mas...." Sahut Indah dari depan.


Rendi bangun dan menghimpit tubuh Indah lagi. "Sayang, sekali lagi ya?" pinta Rendi dengan keringat di dahi hingga rambutnya juga basah.


"Mas aku..." Belum selesai menjawab Rendi sudah dengan cepat memasukkan miliknya kembali. Permainan panas itu mereka terus lakukan hingga dini hari.


"Mas... Sudah ya... Aku-aku capek...." Ucap Indah memohon dengan lemas, tenaganya benar-benar terkuras habis.


Rendi tidak tega, lagian dia sudah beberapa kali melakukannya malam ini. "Oke sayang, kita tidur." Sahutnya seraya berbaring. Dia menarik selimut untuk Indah kemudian mengecup keningnya, Indah langsung memejamkan mata.


Rendi berjalan memungut celananya untuk mengambil ponsel dan menelepon Dion.


Setelah beberapa kali akhirnya di angkat.


"Selamat pagi Pak Rendi..." Ucapnya dengan serak karena bangun tidur. "Ada apa Pak?"


"Pagi ini kau ke kantor Om Andra, dan tarik semua dana ku di kantornya,"


"Apa Bapak yakin? Eemmm Bapak sadar kan?" tanya Dion binggung.


"Kau pikir apa? Aku sedang mabuk? Aku sadar. Dan lakukan saja apa yang aku katakan."


"Baik Pak." Sahut Dion kemudian Rendi menutup telepon dan menyender di tepi kasur sambil memandangi wajah Indah.

__ADS_1


Rendi mengelus lembut pipi Indah yang merah. "Om Andra kau sudah berani menghasut istriku, kau tidak akan aku maafkan." Seru Rendi dengan tangan yang sudah mengepal.


Hai Readers, kasih gift yuk. Sedikit juga nggak apa-apa. Untuk memberi dukungan biar tambah semangat......💪 Terima kasih


__ADS_2