Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 121. Tergila-gila


__ADS_3

"Kita pulang ke rumah Papah sekarang dan tanya padanya!" Sekarang giliran Rio yang memegangi lengan Mawan, menariknya menuju pintu. "Pak Antoni pria yang lembut, dia tidak kasar seperti Papah! Hati Mamah akan luluh! Siap-siap Papah akan menjadi duda dua kali!"


Rio tertawa jahat dalam hati, melihat wajah garang Mawan yang seketika menjadi pucat pasih.


"Tidak, tidak! Papah tidak mau, kau jangan lakukan itu Rio! Papah sangat mencintai Mamah." Mawan menghentikan langkah kakinya saat Rio berhasil membawanya keluar dari ruangan.


"Kalau tidak mau yasudah! Mulai sekarang ... berhenti memintaku untuk bercerai dengan Wulan! Aku juga sangat mencintai istriku, Pah!"


Mawan termangu, kehabisan kata-kata. Ia sudah kalah telak oleh Rio. Rio memang sengaja melakukan hal itu, karena ia tau sendiri, kalau Mawan benar-benar mencintai Santi. Ia menjadi saksi saat dulu Mawan mengejar-ngejar cintanya dan mengajak Santi menikah.


"Pah ...," panggil Rio. Seketika membuyarkan lamunan Mawan.


"Apa?"


"Aku tidak bohong pada Papah, ya! Aku meminta jangan pernah menganggu rumah tanggaku, Papah juga jangan pernah mengatakan hal yang tidak-tidak pada Ayah. Hubunganku sudah mulai membaik dengan mereka, aku juga nyaman tinggal bersama mereka. Aku tidak mau semuanya sia-sia hanya karena Papah!" tegasnya.


Mawan menghela nafas dengan gusar. "Tapi Papah binggung sama kau Rio, dulu saja kau bilang tidak tertarik dengan Wulan. Tapi sekarang kau seperti tergila-gila padanya, apa kau waras?" Mawan menyentuh dahi Rio sebentar, seakan mengecek suhu panas tidaknya.


"Aku waras! Benar-benar waras. Aku tidak gila, Pah. Tapi aku benar-benar tergila-gila dengan Wulan, aku ... aku sangat mencintainya, apalagi setiap kali bercinta dengannya, rasanya nik--"


Mawan membungkam mulut Rio dengan salah satu tanganya, ia merasa jijik mendengar kata-kata Rio dengan espresi wajahnya yang sangat bahagia. Rasanya seperti mual dan ingin muntah.


"Sudahlah! Kau pergi sana temui istrimu! Papah jijik mendengar ocehanmu!" Mawan menarik tangannya dari mulut Rio.


"Oke, tapi nanti aku akan buat surat perjanjian dengan Papah. Papah harus tanda tangan!"


"Perjanjian apa?"


"Perjanjian supaya Papah tidak menganggu rumah tanggaku lagi! Dengan ancaman rumah tangga Papah! Besok aku kesini dan Papah harus tanda tangan! Yasudah ... aku pergi dulu." Rio berlalu pergi meninggalkan Mawan didepan ruangan.


Mawan masuk kembali kedalam ruangannya menemui Jojo dan Mitha yang masih berdiri dengan posisi semula.


"Om ... bagaimana? Pak Rio tetap tidak mau, ya?" tanya Mitha dengan wajah sedih, sepertinya ia sudah tertarik dengan Rio saat pertama kali melihat fotonya.


"Iya, si Rio tidak mau meninggalkan istrinya. Om juga binggung, kau sana pemotretan lagi. Tidak usah mikirin Rio, Om juga pusing." Mawan mengusirnya secara halus.


"Yasudah, deh." Mitha melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Mawan bersama Jojo.


***


Rio turun dari mobil taksi tepat didepan gerbang sekolah TK, ada mobil mewahnya juga disana, tengah terparkir dengan rapih.

__ADS_1


Suasana sekolah itu begitu sepi, sepertinya para guru dan murid sudah pulang. Mengingat sekarang sudah jam satu siang.


Rio melangkahkan kakinya masuk, melewati gerbang besi yang terbuka lebar. Benar apa yang dikatakan Wulan saat di telepon. Walau Rio begitu lama datangnya, tapi ia masih menunggu.


Wulan bangun dari duduknya saat melihat Rio yang menghampiri dirinya di teras sekolah. Wulan tidak sendiri, ada Clara dan Indra disampingnya.


"Mas Rio," ucap Wulan seraya tersenyum, Rio juga ikut tersenyum melihat istrinya yang sangat manis.


Clara segera mencium punggung tangan Rio. "Kak Rio lama sekali, Kakak dan aku menunggu dari tadi," keluhnya.


"Maaf sayang, Kakak tadi macet di jalan." Rio mengusap rambut belakang Clara dengan penuh kasih sayang.


"Mas Rio, maaf ya ... Mas Rio pasti sibuk banget."


"Tidak kok, mana pohon mangganya?"


Padahal Rio sudah melihat pohon itu ada di sebelahnya. Tapi ia hanya basa-basi untuk bisa bertanya pada istrinya.


"Itu, Mas. Itu pohon mangga." Wulan menunjuk pohong itu dan Rio langsung meneladah. Buah mangga begitu banyak dan berukuran kecil-kecil, benar-benar bisa dikatakan mangga muda, bahkan sangat muda. Rio tidak bisa membayangkan rasanya saat didalam mulut. Mungkin membuat matanya berkerut dan perutnya sakit saat mengunyah buah itu.


"Apa tidak asam? Nanti perutmu sakit, Wulan."


"Tapi sudah izin belum sama pemiliknya? Nanti tidak enak kalau main ambil-ambil saja."


"Tidak ada yang punya, Mas. Kalau mau mengambilnya tinggal ambil saja," jelas Wulan.


"Lalu, bagaimana cara mengambilnya? Ini terlalu tinggi Wulan." Rio berjinjit dengan tangan yang ia angkat keatas, mencoba meraih mangga yang terlihat lebih dekat ke bawah, tapi tangannya tidak sampai.


Indra mendekati Rio lalu berjongkok. "Bapak naik ke punggung saya, saya akan mengendong Bapak."


"Cih! Yang benar saja kau mau mengendongku! Memangnya kau kuat?" tanya Rio meremehkan.


"Kuat, saya ini rajin olahraga dan sering mengangkat beban berat pada punggung saya, Pak."


"Cepat naik, Mas ...," titah Wulan yang sudah tidak sabar.


Pada akhirnya Rio menurut, ia naik keatas punggung pria plontos dan seketika Indra berdiri, hingga Rio bisa meraih mangga buah itu, tapi ia hanya mengambil dua.


"Ambil yang banyak, Mas! Kenapa hanya dua?" cicit Wulan.


"Jangan banyak-banyak! Segini juga cukup," sanggah Rio.

__ADS_1


Indra kembali berjongkok supaya Rio bisa turun dari punggungnya.


"Ini." Rio memberikan dua mangga itu ke tangan Wulan. Tergambar jelas sekali wajah Wulan sangat senang menerima dua mangga dari Rio, hatinya sangat berbunga-bunga.


"Terima kasih, Mas."


"Sama-sama." Rio mendekatkan pipinya pada wajah Wulan, seperti menginginkan sesuatu. "Cium pipiku dulu."


Tanpa berlama-lama, lantas Wulan mencium pipi Rio, tapi ia baru sadar, kau pipi Rio terlihat lebam kemerahan. Mungkin bekas tonjokan Mawan tadi.


Cup~


"Mas ... pipi Mas Rio kok merah, kenapa?" tanya Wulan seraya mengelus pipi Rio.


"Iya, aku habis berantem dengan Papah tadi."


"Kok bisa? Kenapa?"


"Biasalah Papah, kadang tidak jelas. Kau sudah makan belum?"


"Belum."


"Kau pulang lalu makan nasi, jangan dulu makan mangga muda. Nanti perutmu sakit, kasihan si Entun." Rio mengelus-elus perut Wulan yang masih terasa rata.


"Entun siapa, Mas?"


"Ini, calon anak kita. Namanya Entun."


"Oh, Mas Rio ada-ada saja." Wulan terkekeh geli mendengar nama itu. "Mas Rio ingin pulang dulu, tidak? Nanti aku kompres pipi Mas Rio."


Rio menggeleng sambil memegangi pipinya. "Tidak usah, ini tidak terlalu sakit. Kau dan Clara sekarang pulang saja, biar Indra yang mengantarmu."


"Eemm ... aku ingin ikut Mas Rio ke kantor, apa boleh?" tanya Wulan ragu-ragu.


Rio langsung menarik senyum. "Serius? Kau ingin ikut denganku ke kantor?"


"Iya, itu juga kalau boleh, Mas."


"Tentu boleh, yasudah kita pergi sekarang." Rio langsung merangkul bahu Wulan, mengajaknya untuk masuk kedalam mobil bersama Clara juga. Indra mengantarkan Clara pulang dulu, sebelum mengantarkan Rio menuju kantornya.


^^^Kata: 1055^^^

__ADS_1


__ADS_2