Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 31. Begitu senang


__ADS_3

"Aku juga masih ragu, Pah. Mangkanya itu, lebih baik Papah dan Shelly melakukan tes DNA dulu. Kalau memang kalian tidak cocok, berarti memang dia bukan anak Papah," jelas Reymond.


"Ngapain tes DNA segala, itu buang-buang waktu! Papah juga tau dia bukan anak Papah kok!" elak Mawan.


"Papah, jangan begitu ... aku mohon lakukanlah, ini demi kebaikan kita bersama. Aku lihat Indah begitu senang mendengarnya, memang Papah tidak ikut senang melihat Indah senang?"


"Pasti Papah senanglah, Papah sayang sama Indah, Reymond!"


"Yasudah ... kalau sayang, Papah lakukan tesnya dulu," pinta Reymond.


Tak lama semua orang yang didalam menghampiri mereka berdua yang berada dihalaman depan rumah. Kecuali Bayu dan Clara, kedua anak kecil itu sedang bermain.


Indah sudah memegang tangan kecil Shelly dengan senyum yang terukir.


"Papah, ayok kita lakukan tes DNA. Aku juga ingin ikut. Aku senang sekali, setelah tau aku punya Adik, Pah," ucap Indah seraya memeluk tubuh Mawan.


Kenapa kau begitu senang Indah?! Papah saja berharap itu semua tidak terjadi. Iya, Papah yakin anak itu bukan anak Papah. Lagian ... memang kamulah satu-satunya putri Papah.


Batin Mawan.


"Yasudah, Papah akan lakukan tes DNA," jawab Mawan.


Indah berjalan masuk lagi, ia menghampiri Bayu dan Clara.


"Bayu sayang ... mau ikut Bunda nggak? Kita ke rumah sakit."


"Au apa Bunda?"


Indah berjongkok dan memeluk tubuh anaknya. "Kita mau lihat Opa sama Kak Shelly di suntik, kamu mau ikut, nggak?"


Bayu langsung tersenyum bahagia. "Bayu au ikut Bunda!"


Indah langsung mengendong tubuh Bayu dan berbalik badan. Namun baru selangkah berjalan, dia kembali berbalik melihat wajah Clara yang sudah sendu menatap kearahnya. Mungkin gadis kecil itu juga ingin ikut, hanya itu yang terlintas pada benaknya.


"Clara mau ikut juga?" tanya Indah sambil tersenyum.


"Memangnya aku boleh ikut Kakak?" Clara berbalik tanya.


Tangan Indah terulur, "Boleh sayang, ayok ikut."


Gadis kecil itu langsung menghampiri Indah dan memegang tangannya, mereka bertiga balik lagi menuju halaman rumah.


"Ayok, Mas ... Pah, kita ke rumah sakit," ucap Indah.


Mawan dan Reymond mengangguk.


Kini mereka menaiki mobil. Reymond yang menyetir dengan Mawan disampingnya. Sedangkan Indah duduk dibelakang pada kursi tengah, disamping Clara dan Shelly, dengan memangku Bayu.


"Kaka ... kita ke rumah sakit mau apa?" tanya Shelly.


"Mau di suntik sayang," sahut Indah.


"Apa rasanya akan sakit?" tanyanya lagi.


"Ngga Kaka, Bayu uga pelnah di cuntik. Api ngga cakit," sahut Bayu.


Indah lagi-lagi tersenyum, tangannya perlahan mengelus rambut Shelly.


Semoga saja kamu beneran Adikku, aku tidak peduli mau dia lahir dari rahimnya siapa. Yang jelas, dia tetaplah Adikku.

__ADS_1


Batin Indah.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sampainya di rumah sakit, Reymond mendaftarkan nama Hermawan dan Shelly untuk melakukan tes DNA.


Selagi menunggu mereka berdua, Reymond mengajak Indah untuk mengecek kehamilannya.


Kini Indah sudah berbaring pada tempat tidur pasien, seorang Dokter wanita juga sudah siap memeriksa kandungan. Ia mengolesi cairan pada perut Indah dan menempelkan alat yang tersambung pada layar monitor.


Reymond mengendong Bayu. Clara juga ikut melihat pada layar monitor USG itu, ada mahluk kecil yang sedang bergerak-gerak didalam sana.


Mereka semua nampak tersenyum bahagia. "Ayah! Itu apa dicana?" tanya Bayu seraya menunjuk.


"Itu Adik kamu, sayang. Bayu akan jadi Kakak nanti," jawab Reymond.


"Iya Sayang, nanti ada Adik kecil yang akan menemani kamu main."


"Dede bayi Kakak Indah lucu ya, Om ...," ucap Clara sambil tersenyum melihat kearah Reymond, tapi pria itu tidak menghiraukannya.


"Dokter, bagaimana anakku?" tanya Reymond.


"Alhamdulilah, semuanya sehat dan normal, Pak. Bagus sekali," jawab Dokter sambil tersenyum.


"Apa aku bisa melihat jenis kelaminnya? Dia laki-laki atau perempuan?" tanya Reymond seraya memegang tangan Indah.


"Belum bisa, Pak. Usianya baru 3 bulan, mungkin nanti kalau sudah 4 bulan keatas," jelas Dokter.


"Oh, berarti sebulan lagi bisa terlihat ya, Dok," ucap Reymond lagi.


"Betul, Pak."


"Sayang, nanti kita cek USG lagi bulan depan ya?"


"Mending kita nggak usah tau jenis kelamin Adiknya Bayu, Mas. Biar nanti saja pas aku melahirkan. Kamu bisa lihat sendiri ..."


"Lho ... memang kenapa?" tanya Reymond dengan wajah kecewa.


"Nggak apa-apa, supaya surprise, Mas."


"Benar juga kamu, Sayang. Yang penting dia sehat didalam."


Reymond membantu Indah untuk bangun dan membereskan dress, ia sempat mencium perutnya dulu.

__ADS_1


"Ini hasilnya, Pak. Tetap jaga kesehatan Ibu dan bayinya," tutur Dokter itu seraya menyerahkan selembar foto USG.


Reymond langsung mengantonginya, dan memasukkan kedalam saku jas. Kini mereka keluar dari ruangan itu dan berpapasan dengan Mawan dan Shelly yang sudah selesai melakukan tes DNA.


"Yasudah, kalau begitu Papah pergi ke kantor dulu, ya? Reymond ... kau antarkan Indah dan Bayu pulang."


"Iya, Pah," sahut Reymond.


Mawan mencium kening Indah dan Bayu secara berganti, kemudian mereka berpisah di halaman depan rumah sakit. Karena Jojo sang Asisten sudah menjemput bosnya.


"Dadah Opa!" ucap Bayu dengan tangan yang melambai.


Mawan melambai tangannya sebelum masuk kedalam mobil.


"Mas ... pokoknya kalau nanti hasil tes DNA-nya sudah keluar, aku orang yang lebih dulu melihat, ya?" pinta Indah.


"Iya, Sayang." Reymond mencium pipi istrinya dan mengajaknya untuk masuk kedalam mobil.


Reymond, Indah dan Bayu duduk didepan, sedangkan dibelakang Clara dan Shelly. Mereka berdua tidak saling mengenal. Jadi hanya diam saja.


"Kita antarkan dulu Shelly ke panti asuhan, ya? Habis ini aku antarkan kamu pulang." Reymond sudah mulai menyetir.


"Mas ... aku ingin Shelly tinggal bersamaku, apa boleh?"


"Tapikan tes DNA-nya belum keluar sayang, masa dia sudah tinggal bersama kita."


"Tidak apa, Mas. Biarkan Shelly tinggal bersamaku mulai malam ini," pinta Indah.


"Itu tidak bisa Sayang ... nanti kalau memang hasil tes DNA-nya menunjukkan kecocokan antara dia dan Papah, Shelly bisa tinggal bersama kita. Lagian, kita tidak boleh sembarangan mengajaknya tinggal bersama. Panti asuhan juga punya peraturan terhadap anak-anak asuhnya," jelas Reymond.


Wajah Indah mendadak menjadi sendu,


"Apa tidak boleh kalau semalam saja?"


Reymond menoleh kearah Indah. Kali ini istrinya seperti hendak menangis, bola matanya sudah berkaca-kaca.


Aku jadi takut, takut hasil tes DNA itu tidak cocok dan Indah kecewa. Kalau benar Siska yang berbohong padaku bagaimana? Ah tidak-tidak, Siska tidak mungkin berbohong.


Batin Reymond.


"Yasudah. Kita ke panti asuhan dulu untuk meminta izin pada Bu Susan, ya?" akhirnya Reymond lah yang mengalah.


Indah langsung menarik senyum bahagia. "Beneran, Mas?"


Suaminya mengangguk dan tersenyum. "Iya, Sayang."


.


.


.


.


Ternyata meminta izin pada Bu Susan tidak sulit, mungkin karena kondisi Indah yang saat ini sedang hamil. Wanita paruh baya itu tidak tega. Ia juga melihat Indah yang begitu sayang pada Shelly, bahkan sejak pertama kali bertemu.


Jadi, Ia mengizinkan untuk sehari semalam, Shelly tinggal bersama Indah.


^^^Kata: 1046^^^

__ADS_1


__ADS_2