Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 79. Rip II


__ADS_3

Terdengar suara lantang dua kali tembakkan pistol, tepat mengenai sasaran. Suaranya berasal dari dalam gedung. Entah siapa yang telah menembak Siska dari belakang?! Peluru itu berhasil tertancap pada punggung tengah Siska.


"Siapa itu?!" pekik Reymond dengan lantang.


Mata Reymond, Hersa, Harun, Ali dan Aldi sontak terbelalak kaget, tubuh Siska sudah mulai bergoyang dan hendak terjatuh dibawah, tepat pada kobaran api. Dengan sigap Ali berlari untuk menangkap tubuh Siska.


Sedangkan Aldi, dia berlari mengejar seseorang yang tadi menembak Siska. Orang itu keluar lewat pintu belakang gedung.


Punggungnya sudah mengeluarkan banyak darah segar, Ali memegangi kedua lengannya dan menopang tubuh Siska.


"Aarrgghhhhh ...," Siska meringgis kesakitan.


Reymond berlari menghampirinya, memegangi kedua pipi Siska. Wajahnya sudah mulai pucat, seperti akan meninggal.


"Siska beritahu aku sekarang! Siapa?! Siapa orang yang menyuruh?!" desak Reymond, dia tidak ingin Siska mati dulu sebelum tahu siapa orang yang dibelakangnya.


Tidak ada alasan lagi untuk Siska berbohong, dia merasa nyawanya sebentar lagi akan melayang. "Di-Dia ... A ... A ... An ... Ton."


Deg.......


Mata Reymond terbelalak. "Apa?! ANTON?! Apa kau bicara jujur padaku Sis?!" Tangan kekarnya sudah menepuk-nepuk kedua pipi Siska, kedua mata wanita itu sudah sayup.


"Siska!"


"Ya, it-itu be-nar. Ma-afkan, ak-aku .... Sa-saat itu, ak-ku sed-dang bu-bu-tuh u-uang. Haaaaahh ... Haaah ....," jawab Siska dengan nada terbata-bata, dadanya terasa begitu sesak.


Punggung wanita itu terasa sakit dan mati rasa, darah segarnya terus mengalir deras sampai bercucuran dibawah. Lengan Ali juga terkena banyak darah, karena sedari tadi dia masih menopang tubuh Siska.


Anton sialan! Ternyata dia dalangnya?! Tapi dia adalah kacung Om Andra?! Apa mungkin Om Andra yang menyuruhnya?!


Batin Reymond dengan tangan yang mengepal.


"Ren ... Aku ... ***-boleh minta se-suatu, pa-damu?" tanya Siska dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Apa?"


"To-to-long, ca-cari a-nakku," lirih Siska pelan.


Mata Reymond terbelalak. "Anak?! Memang kau punya anak?"


"Yaaa ... Di-dia ad-ad-diknya Indah."


Deg.....


Apa maksudnya? Adiknya Indah?


Batin Reymond.


"Laki-laki atau perempuan?"

__ADS_1


"Pe-pe-rem .... Aaahhhh." Siska tidak bisa meneruskan ucapannya, seluruh tubuh yang terikat itu sudah terasa kaku. Nafas dari hidung dan mulut tersendat-sendat, dia yakin sekali. Kalau kali ini, dia akan tiada.


"Haaaah ....," Dia menghembuskan nafas terakhirnya secara perlahan dan menutup mata dengan wajah pucat pasih.


"Sis .... Bangun, Sis!" pekik Reymond seraya menggoyangkan wajah Siska.


Harun dan Hersa berlari menghampiri Reymond, tangannya menyentuh lengan Siska. Menempelkan pada sumber denyut nadi yang sudah berhenti berdetak.


"Siska sudah meninggal, Pak," ucap Hersa.


Deg.....


Mata Reymond membulat sempurna. "Apa?! Kenapa dia mati secepat ini?! Aku bahkan belum menyiksanya!" umpatnya kesal.


Reymond menghela nafas dengan kasar, tapi setidaknya dia sudah tahu dalangnya adalah Anton. Tapi masalahnya sekarang, siapa yang menembak Siska?! Apa orang itu tidak mau kalau Siska berkata jujur pada Reymond? Apa dia adalah suruhan Anton juga?


Tak lama Aldi datang bersama kedua bodyguard depan. Menghampiri mereka berlima. "Bagaimana Aldi? Kau sudah dapat orang yang menembak Siska?" tanya Reymond.


"Tidak, Pak. Dia berhasil kabur," jawab Aldi seraya mengelap keringan diatas dahinya mengunakan tangan.


"Pak, sepertinya pelaku yang sebenarnya sudah tau Bapak adalah Pak Rendi," ucap Hersa.


Deg.......


"Anton! Maksudmu Anton sudah tahu?!"


"Iya, tapi dia adalah asisten pribadi Pak Andra. Ada besar kemungkinan Pak Andra dibalik semua ini," ucap Hersa.


Deg......


Hersa mengangguk. "Nyawa Bapak tidak aman sekarang, sebelum semuanya terungkap. Sebaiknya Ali dan Aldi menemani kemanapun Bapak pergi, kita tidak tau juga nantinya seperti apa."


Reymond melirik kearah tubuh Siska yang sudah tidak bernyawa itu, tangannya menarik kalung berlian pada leher Siksa sampai kalung itu putus.


Lengannya terulur, menyerahkan pada kedua bodyguard yang sudah berada didepannya.


"Kalian berdua, urus Siska. Makamkan dia, kalung ini jual saja. Untuk biaya pemakaman dan sisanya sumbangan ke panti asuhan, atas nama Siska Novelis." perintah Reymond.


"Baik, Pak," sahutnya seraya mengambil kalung itu dari tangan Reymond.


Mereka berdua melepaskan semua tali pada tubuh Siska, ikatan tali itu berhasil membuat kaki dan tangan Siska membiru. Setelah selesai, mereka bergegas pergi meninggalkan gedung sembari membawa tubuh Siksa yang sudah tak bernyawa.


Reymond beralih menatap wajah Harun. "Harun, rekayasa semua Siska meninggal. Buat ini semua kecelakaan, jadikan barang-barangnya sebagai bukti. Jangan sampai polisi tahu, lagian bukan aku yang membunuhnya."


"Baik, Pak," sahut Harun.


Pandangan Reymond sekarang beralih pada Hersa. "Hersa, kau mulai malam ini. Cari tahu keberadaan Anton! Suruh orang lagi untuk langsung menyekapnya saja, tapi kita cari tempat yang lain. Disini sudah tidak aman."


"Baik, Pak," sahut Hersa.

__ADS_1


"Dan satu lagi, bersihkan tempat ini menjadi seperti semula. Karena ini tempat wisata, sebulan lagi akan dibuka," lanjut Reymond.


"Iya, Pak," jawab Hersa.


Reymond melihat seluruh tubuh Ali banyak sekali bercak darah segar milik Siska. "Kau bersihkan diri, habis itu pergi menyusul ke apartemenku."


"Baik, Pak," jawab Ali seraya pergi menuju toilet didalam gedung.


Sekarang tinggal Aldi yang belum dia suruh. "Aldi kau ikut sekarang denganku." perintah Reymond seraya berjalan keluar gedung.


Aldi membuntut dibelakang sampai masuk kedalam mobil Reymond, dia memegang setir seraya mengendarai.


Reymond sudah duduk di kursi belakang, kedua tangannya perlahan membuka sarung tangan dan meraih ponsel pada kantong celana.


Niatnya ingin menelepon Indah, karena sejak dari pagi telepon dia tidak di angkat-angkat. Bahkan pesannya saja belum dibaca sampai sekarang.


"Nomor yang ada tuju sedang tidak aktif, mohon ...," terdengar suara operator.


"Shit! Sekarang nomornya tidak aktif!" dengkus Reymond kesal.


Sayang, kau kemana saja? Kenapa sejak pagi susah sekali di hubungi? Sekarang ponselmu malah tidak aktif.


Batin Reymond.


Jalan ninjanya adalah menelepon Santi, dia langsung meneleponnya, tapi kenapa tidak diangkat? Reymond kembali menelepon sampai 3 kali baru diangkat.


"Halo, siapa ini?!"


Deg......


Terdengar suara seorang pria dengan suara beratnya, mata Reymond terbelalak. Dia segera mematikan sambungan telepon.


Papah?!


Batin Reymond.


Reymond menyenderkan punggungnya di kursi sembari mendongakkan kepalanya keatas, tangan kekarnya memijat dahi secara perlahan karena terasa pusing.


Hatinya merasa tak tenang, dia terus memikirkan Indah.


"Aldi!" panggil Reymond.


Aldi yang sedang fokus menyetir menjawabnya, "Iya, Pak."


"Kita ke jalan Xxx, ya."


"Baik."


***

__ADS_1


Keesokan harinya, Indah bangun dan membuka mata. Dia menoleh ke samping pada Bayu yang masih tertidur pulas, bibirnya mendekat untuk mencium kening.


Perutnya lagi-lagi bergejolak, ini sungguh terasa sangat dahsyat. Indah langsung bangun dan berlari menuju kamar mandi.


__ADS_2