
Mumpung aku sudah di rumah mas Rendi, apa aku sekalian bicara saja sama dia ya. Gumamnya.
"Oh ya sudah kita putar balik." Ucap Rio yang menyalakan lagi mobilnya namun Indah berkata. "Eh nggak usah berhenti di sini saja aku mau turun." Ucap Indah, dan turun dari mobil.
"Katanya mau pulang ke rumah lu." Membuka kaca mobil.
"Nggak apa-apa di sini saja. Kamu mau sekalian mampir?" tanya Indah menawarkan.
"Nggak ah gue males ketemu kakak. Gue duluan ya Ndah lu jaga diri baik-baik."
"Iya terima kasih juga kamu sudah mengantarku Rio." Tersenyum, Rio membalas senyuman Indah lalu Rio kembali menyetir.
Indah melangkahkan kakinya masuk ke rumah Rendi dengan rasa terpaksa sebenarnya dia sangat malas bertemu dengan Rendi tapi dia takut kalau dia tidak bicara sekarang Rendy akan semakin menjadi-jadi bersama Siska.
Di ruang makan terlihat Rendi berada di sana dengan piring bekasnya makan, Rendi menatap Indah dengan tatapan tajam. Rendi menatap dengan tatapan seramnya seolah-olah Indah lah yang bersalah dan dia langsung berkata. "Mau ngapain kamu ke sini?" tanyanya dengan ketus.
"Apa aku sekarang nggak boleh ke sini lagi." Tanya Indah.
Rupanya dengan kejadian di mall tadi tidak merubah sikap Rendi yang angkuh terhadap Indah. "Bukan. Maksudku kamu ada perlu apa? Apa butuh uang." Melembutkan perkataannya.
"Emang kalau aku temui kamu semua harus berhubungan dengan uang?" tanya Indah lagi.
"Iya terus apa lagi? Oya tadi pagi kamu kenapa pulang nggak ngomong dulu sama aku dan kenapa harus buru-buru?"
"Bukannya kamu yang minta ya mas. Aku kan nurutin apa kata kamu."
"Terus sekarang ada apa?" tanya Rendi.
"Aku mau bicara sama kamu masalah tadi siang." Ujar Indah. Rendi mengajak Indah mengobrol di dalam kamarnya, namun Indah takut dengan ucapannya akan membuat Rendi marah. Meskipun rasanya sulit di mulutnya akhirnya dia mengatakan. "Apa perempuan yang tadi di Mall itu selingkuhan kamu?" tanya Indah.
Ucapan Indah langsung membuat Rendi kaget dan dia mengira dia harus menceritakan semuanya kepada Indah sekarang tentang hubungan dia dan Siska.
ketika mulutnya yang sudah menganga untuk menjawab pertanyaan Indah namun tiba-tiba, Dret... Dret.. Dret. "Aku angkat telepon dulu." Jawab Rendi dan melihat panggilan masuk dari nama Indah di ponselnya.
__ADS_1
Ibu Indah memakai ponsel indah untuk menelpon Rendi. Dia bercerita kalau indah pergi dari siang sampai sekarang belum pulang dan membuatnya khawatir lalu Rendi menjawab kalau Indah sedang ada di rumahnya, jawaban Rendi membuat hati mertuanya tenang lalu Randy langsung memberikan ponsel ke Indah berkata, "Mamah kamu." Indah langsung mengambil dan menaruh ponsel Rendi ke kupingnya.
"Hallo mah."
"Sayang kamu kenapa belum pulang?"
"Maaf mah aku ada urusan dan aku juga lupa kabarin Mamah gara-gara ponselku ketinggalan."
"Ya sudah nggak apa-apa. Ini kan sudah malam, kamu nggak usah pulang tidur di rumah Rendi saja."
"Nggak mah sebentar lagi aku pulang kok."
"Sudah nggak apa-apa, Rendi kan suami kamu juga. Dia juga tadi pagi telepon cari kamu, ya sudah Mamah tutup teleponnya ya. Selamat malam sayang."
"Malam mah." Memberikan ponsel Rendi kembali.
"Ngomongin apa tadi?" tanya Rendi mengalihkan pembicaraan. "Mamah menyuruhku menginap di sini. Oh iya pembicaraan ku tadi belum kamu jawab Mas." Ucap Indah yang mengingat.
"Tapi Mas."
"Indah besok saja kita bahasanya ya." Ucap Rendi sambil berbaring dan menarik selimut dan menutup matanya.
Rendi sengaja mengalihkan pembicaraan dan dengan alasan ingin tidur supaya Indah tidak bertanya banyak hal tentang Siska.
Apa dia sengaja bertingkah begini. Ah tapi aku nggak bisa memaksa kalau dia bilang mau tidur.
Krukuk-krukuk. Suara cacing di perut Indah sedang mendemo.
Ah aku lapar mending aku makan dulu terus istirahat. Gumamnya keluar kamar Rendi.
Indah pergi ke dapur untuk makan dan sehabis makan dia istirahat. Tapi dia pergi kamar tamu untuk tidur di sana.
***
__ADS_1
Keesokkan harinya sehabis mandi dan sudah rapih Indah kembali ke kamar Rendi. Indah melihat Rendi masih tidur dengan pulas.
Ah yang benar saja dia bahkan belum bangun gimana aku mau bicara sama dia. Mana aku harus ke restoran.
Gumam Indah yang berdiri melihat Rendi, dia memutuskan untuk pulang dan menunda pembicaraannya mengenai Siska.
Setelah beberapa lama Indah keluar dari kamar Rendi.
Rendi membuka matanya, "Ah sepertinya Indah sudah pulang sekarang." Ucap Rendi yang sebenarnya sudah bangun sejak tadi dan pura-pura tertidur saat tau Indah masuk ke kamarnya.
Indah keluar rumah Rendi dan bertemu Dion asistennya Rendi. Lalu Dion mengantarkan Indah pulang."
***
"Ah males banget hari ini apa aku nggak usah ke kantor saja ya." Ucap Rendi yang masih berbaring di tempat tidur, tapi ponselnya berbunyi sektretaris nya menelepon dan memberitahukan bahwa dia hari ini ini ada meeting bersama investor besar sekitar jam 8. Karena meeting jauh lebih penting daripada rasa males dari hati Rendi.
Dia memutuskan untuk pergi ke kantor. Di langsung berdiri bangun dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi dan bersiap-siap.
Semenjak Rendi memegang perusahaan yang dulunya di pegang pamannya. Perusahaan almarhum ayahnya menjadi lebih besar bahkan sekarang dia mau membuat perusahaan cabang ke dua miliknya. Selain terlahir dari keluarga kaya dia ini termasuk murid yang berprestasi di sekolahnya jadi terbukti meskipun umurnya masih 28 tahun dia sudah bisa sesukses sekarang.
Setelah selesai meeting Rendi masuk ke dalam ruangannya dan kaget melihat ibunya tengah duduk di sana. Ya sudah mengira kalau kedatangan ibunya ada sangkut-pautnya dengan masalah Siska dan juga Rio adiknya Rendi memang sudah menceritakan semuanya kepada ibunya.
Wajah ibu Santi terlihat seperti memendam rasa amarah tanpa basa-basi dia pun berkata. "Ren mamah kecewa sama kamu." Ucap ibunya dengan Lantang
Rendi terdiam lalu ibunya melanjutkan, "Kamu nggak usah bohong lagi sama mamah. Mamah tau semuanya dari Rio, kamu diam-diam berhubungan lagi kan sama Siska? Jawab Mamah." Langsung berdiri dan menatap mata anaknya seakan-akan ingin memakannya.
"Iya Mah." Rendi menunduk Karena rasa takut dia tidak berani menatap mata ibunya.
"Bukannya kamu sudah janji sama Mamah untuk tinggalkan perempuan itu." Tegas ibunya.
"Maafkan aku Mah, aku nggak bisa ninggalin Siska aku sangat mencintainya." Rendi memohon dengan memegang tangan ibunya karena memang Rendi sampai sekarang tidak bisa melupakan Siska.
"Ren kamu ini benar-benar sudah buta ya. Mamah nggak habis pikir kamu bisa berselingkuh, bagaimana perasaan Indah Ren pasti dia sakit hati." Ucap ibu Rendi emosi.
__ADS_1