
"Tunggu sebentar, Bu." Wanita itu menatap monitor komputer dan menggeser mouse.
"Rio Pratama sudah ada di kamar rawat VVIP nomor 80, Bu. Silahkan Ibu langsung kesana," jelasnya dengan sopan.
"Terima kasih." Santi langsung berlari kecil bersama Wulan, dari lobby menuju kamar yang wanita itu maksud.
Terlihat ada Dido tengah duduk di kursi panjang dengan keringat dan wajah capek. Ia langsung bangun ketika sadar mereka datang.
"Selamat siang Bu Santi, Nona Wulan."
"Dimana Rio? Apa dia didalam?" tanya Santi.
Ia menunjuk ruangan yang masih tertutup dengan rapat itu, ingin segera masuk tapi Dido mencegahnya.
"Nanti dulu, Bu. Masih ada Dokter didalam."
"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Santi.
"Saya tidak tau awalnya. Tapi pas saya masuk kedalam ruangan, Pak Rio sudah jatuh pingsan, Bu," tutur Dido.
Ceklek......
Seorang suster wanita keluar sambil mendorong meja troli yang berisi suntikan dan beberapa obat.
"Sus. Apa saya boleh masuk?" tanya Santi.
"Boleh, Bu. Silahkan."
Santi langsung masuk bersama Wulan. Terlihat Rio tengah berbaring sambil mengobrol dengan Dokter pria.
"Rio ...," panggil Santi.
"Mamah ...."
Ia langsung menghampiri anaknya dan mengecek seluruh tubuh Rio, takut ada yang lecet dan terluka. Punggung tangan Rio sudah terpasang selang infusan.
"Rio. Kamu kenapa, Sayang? Apa yang sakit?Kenapa bisa pingsan?" tanyanya berurutan, tapi suara Santi terdengar begitu lembut.
"Pak Rio tidak apa-apa kok, Bu. Dia baik-baik saja," sahut Dokter.
Santi menoleh kearah Dokter itu. "Dia baik-baik saja bagaimana? Tapi kata Asistennya dia pingsan, Dok."
"Iya, Bu. Dia hanya stres dan kecapekan saja," jelas Dokter itu.
"Tapi tadi aku mual dan muntah, Dok. Sekarang saja masih terasa mual perutku," ucap Rio sambil memegangi perutnya.
"Asam lambung Bapak juga kumat, itu penyebabnya."
Syukurlah, ternyata hanya asam lambung. Rio dan Rendi memang sama.
Batin Santi seraya menghela nafas dengan lega.
__ADS_1
"Oya ... saya ingin bertanya, apa Bapak sudah punya istri?" tanya Dokter itu tiba-tiba, Rio rasa pertanyaan kali ini tidak ada hubungannya dengan kondisinya.
Ngapain Dokter bertanya masalah pribadi?! Tidak nyambung! Bikin aku kesal saja.
Gerutu Rio dalam hati.
Wajahnya langsung berubah menjadi masam. Apalagi melihat Wulan yang sedari tadi berdiri menatap kearahnya. Wanita itu tersenyum ragu-ragu. Ya dia tau, senyumannya saja pasti tidak disukai oleh Rio.
Santi menghampiri Wulan dan menariknya untuk berdiri lebih dekat pada Rio yang tengah berbaring.
"Ini istrinya, Wulan. Memang kenapa, Dok?" tanya Santi.
Dokter tersenyum kearah Wulan seraya berkata, "Apa Mbak sedang hamil?"
Deg.......
Mata mereka terbelalak kaget, Dokter ini bertanya hal yang tiba-tiba dan membuat ketiga orang itu binggung harus menjawab apa.
"Tidak, Dok. Saya tidak hamil," jawab Wulan.
Apa-apaan Dokter ini? Dia menebak atau apa?! Wulan hamil?! Aku rasa tidak mungkin.
Batin Rio.
"Memang kenapa, Dok? Kok Dokter tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Santi binggung.
"Tidak, Bu. Saya kira istri Pak Rio ini sedang hamil. Soalnya gejala yang tadi sempat saya tanyakan pada Pak Rio ... hampir mendekati orang ngidam, tapi Pak Rio juga punya riwayat asam lambung. Jadi saya masih ragu," jelas Dokter itu.
Ngidam katanya? Mana ada pria ngidam! Aneh-aneh saja Dokter ini.
Batin Rio.
Deg......
Mata Wulan terbelalak, ia menoleh kearah mertuanya.
"Mamah ... aku tidak sedang hamil," bantah Wulan.
Tidak, aku tidak mau hamil dulu. Pernikahanku saja seperti ini.
Batin Wulan.
"Kau 'kan belum tau, belum pernah di cek, kan?" Santi sedikit memaksa Wulan dan meminta Dokter itu memeriksa menantunya.
"Wulan memang tidak hamil, Mah," ucap Rio tiba-tiba.
"Memang kau tau?" tanya Santi seraya menoleh.
"Iya, Mah. Wulan saat ini sedang datang bulan. Mana mungkin wanita yang sedang datang bulan hamil," sahut Rio meyakinkan.
Datang bulan?! Aku tidak sedang datang bulan. Apa mungkin Mas Rio hanya berbohong saja, supaya aku tidak diperiksa?! Lagian memang aku yakin, aku tidak hamil.
__ADS_1
Batin Wulan.
"Benar kamu sedang datang bulan?" tanya Santi kearah Wulan.
Wanita itu mengangguk, ia terpaksa berbohong karena Rio sejak tadi melototinya.
"Kalau Mbak Wulan tidak hamil berarti memang hanya asam lambung saja, Bu," ucap Dokter.
Padahal aku tadi sempat berharap, tapi ternyata Wulan datang bulan.
Batin Santi kecewa.
"Iya, Dok."
"Untuk sementara waktu, Pak Rio dirawat dulu ya, Bu. Dia butuh cairan dan banyak istirahat."
"Iya, Dok."
"Yasudah, kalau begitu saya permisi." Dokter itu pamit, seraya berjalan keluar dari ruangan Rio.
Wulan langsung duduk pada sofa, sedangkan Santi duduk di kursi kecil. Didekat tempat tidur Rio.
"Kau jangan terlalu stres dan banyak pikiran Rio. Mamah tau kerjaan di kantor banyak, tapi jangan sampai buat kamu sakit dan telat makan," tegur Santi.
"Ini semua gara-gara Wulan, Mah," ucap Rio menuduh.
Deg......
Wulan yang sejak tadi duduk sambil menunduk. Kini kepalanya terangkat dan melihat kearah Rio.
"Mas Rio kok jadi nyalahin aku? Memangnya aku salah apa?" tanya Wulan dengan nada lembut dan memelas.
"Memang ya, kau ini lupa ingatan. Kemarin malam kau telat memberiku makan malam! Dan kemarinnya lagi kau tidak membangunkan saat aku ketiduran! Apa kau juga lupa saat itu, malam-malam aku terbangun dan kelaparan?! Perutku sampai berbunyi, Wulan!" pekik Rio dengan emosi.
"Maafkan aku, Mas. Saat itu aku tidak berani mem-"
"Halah alasan! Memang kau ini tidak ada pengertiannya jadi seorang istri," sergah Rio dengan cepat.
"Rio! Apa yang kau katakan? Jangan bicara seperti itu, itu tidak baik," tegur Santi.
"Mamah ini terus saja membela! Memang kenyataannya Wulan seperti itu kok. Bilang dia wanita yang penurut, penurut apanya? Masa suaminya kelaparan dia tidak peduli," dengkus Rio kesal, bola matanya menatap tajam kearah Wulan.
Wulan merasa kali ini tersudutkan. Ia binggung mau menjawab apa. Karena pembelaannya pun tetap salah di mata Rio.
Wulan langsung mengalihkan pandangannya, pura-pura tidak melihat Rio.
Padahal saat itu bukan aku tidak pengertian padamu, Mas. Aku justru tidak berani membangunkanmu. Ya mungkin saat itu aku yang salah. Tapi kenapa kamu bicarakan hal ini didepan Mamah?! Apa kamu sengaja, supaya aku terlihat menjadi istri yang tidak baik untukmu?! Iya, aku tau Mas. Ini mungkin cara kamu supaya kita bisa bercerai.
Batin Wulan.
Air matanya sudah mulai berlinang. Namun sebelum Santi dan Rio tau, ia segera menghapusnya.
__ADS_1
"Rio ... sudahlah, berhenti bersikap kasar pada Wulan. Dia tidak sepenuhnya salah. Mungkin sudah jalannya kau hari ini sakit. Lagian kau sudah baik-baik saja sekarang, tidak perlu diperpanjang. Kasihan Wulan," tutur Santi.
^^^Kata: 1027^^^