Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 97. Apa aku senang bersamanya?


__ADS_3

Setelah selesai di pijit, tubuh Rio menjadi lumayan segar. Tidak kaku seperti saat bangun tidur.


Wulan dan Rio tengah duduk berhadap di sebuah Restoran yang berada di Hotel itu. Rio memesan seafood saus Padang dua porsi, untuknya dan Wulan. Di temani juga dengan es jeruk, menambah rasa nikmat menu makan siang mereka berdua.


Wulan terlihat begitu bersemangat menyantap makanan itu. Ia bangun siang dan baru bisa mengisi perutnya yang keroncongan. Terakhir makan saja hanya sepotong pizza.


"Kau tidak ada alergi sama makanan seafood, kan?" tanya Rio.


"Sepertinya tidak, Mas."


"Kok sepertinya? Kayak tidak yakin begitu?"


"Aku lupa kapan terakhir makan seafood, mungkin saat aku masih kecil, Mas."


"Oh, semoga saja tidak masalah didalam perutmu nanti."


"Iya."


"Oya ... apa makanan kesukaanmu?"


"Kebab."


"Selain kebab? Bukannya Ayah jualan bakso? Kau tidak suka dengan bakso Ayah memangnya?"


"Suka, tapi mungkin karena terlalu sering makan bakso, aku jadi sedikit bosan," sahutnya sambil tersenyum. Wulan sedari tadi mengobrol sambil menunduk dan memperhatikan menu makan siangnya. Tapi berbeda dengan Rio, pria itu selalu memperhatikan Wulan saat berada didekatnya.


"Aku jadi penasaran dengan rasa bakso, apa rasanya enak?"


"Mas Rio belum pernah makan bakso memangnya?" Wulan langsung mengedikkan kepalanya. Tapi pandangan matanya teralihkan pada leher Rio yang begitu banyak tanda merah. Bisa di hitung ada empat kec*p*n disana.


"Belum, aku belum tertarik untuk mencobanya." Rio mengulas keringat pada lehernya menggunakan tissu. Hal itu membuat Wulan menelan salivanya dengan kasar. Ia seperti tergoda dengan leher putih dan jakun milik suaminya itu.


"Mas ... leher Mas Rio kenapa merah-merah begitu? Apa Mas Rio alergi?"


"Oh ini." Rio menunjuk lehernya dengan jari telunjuk. "Ini ulahmu, Wulan."


"Ulahku? Apa maksud Mas Rio?"


"Hasil kau memp*rk*s*ku, kau mengigitnya dengan rakus. Katanya kau menyukai leherku."


Kedua pipi Wulan langsung bersemu merah, tapi sungguh ia tak ingat akan hal itu. "Benarkah? Aku rasa, aku tidak mungkin melakukan itu pada Mas Rio."


"Kau ini kebanyakan lupa ingatan, Wulan. Nanti malam kau bisa mencobanya lagi. Biar ingat." Rio menarik turun alis matanya, menggoda wanita yang sedang malu-malu didepannya. "Oya ... hari ini kau mau pergi kemana? Kita bisa jalan-jalan dan menghabiskan waktu berdua."


"Bukannya Mas Rio bilang sedang sakit? Lebih baik istirahat saja, Mas."


"Badanku sudah enakan kok. Kita pergi ke taman dekat sini saja, yuk!"

__ADS_1


Setelah menyelesaikan makannya, Rio membayar semua dan mengajak Wulan keluar dari Hotel itu. Tentunya mereka di temani Indra, Indra sang sopir begitu setia mengantar kemanapun mereka pergi.


"Kita kemana, Pak?" tanya Indra seraya memegang stir.


"Kita ke taman dekat sini saja, aku dan Wulan mau reflesing."


"Baik, Pak."


Sesekali Wulan kembali menoleh kearah Rio, pria itu juga sama-sama melihat kearahnya.


"Bagaimana menurutmu? Apa kau senang saat bersamaku, Wulan?" tanya Rio mendekatkan tubuhnya pada istrinya.


Senang? Apa aku senang bersamanya?


Rio membelai pipi wanita itu secara perlahan. "Kau masih ragu padaku? Benar, kan?" Wulan sama sekali tidak mengangguk dan menggeleng. Ia seakan membeku, tidak bisa berkata-kata.


"Tidak masalah Wulan. Lama-lama juga kau akan percaya padaku. Kalau tidak sekarang, mungkin nanti. Tapi yang jelas ... kau jangan sampai meninggalkanku lagi, ya?"


"Iya, Mas."


Rio mengambil permen rasa cherry pada kantong jaket, ia membuka bungkusnya dan menyodorkan pada mulut istrinya. "Buka mulutmu, kau dan aku habis makan seafood. Biar mulut kita tidak bau."


"Buat Mas Rio saja, aku tidak ingin mengemut permen."


"Iya, kau dulu. Habis kau, baru aku." Wanita itu menurut dan sama sekali tidak curiga, ia membuka mulutnya dan mengemut permen itu.


"Bagaimana rasanya?"


Rio mendekatkan kembali wajahnya pada Wulan, wanita itu menjadi gugup dan detakan jantung mereka saling beradu.


"Berikan padaku permennya." Bibir Rio sudah mulai menganga, ia memberikan kode. Tapi sepertinya Wulan tidak mengerti maksud pria itu.


"Mas Rio tidak ikhlas memberikan aku permen? Memangnya tidak ada la--"


Cup~


Satu kecupan itu mendarat dengan sempurna, lidahnya seakan masuk kedalam mulut Wulan untuk mengambil alih permen tersebut. Tapi bukan hanya mengambilnya saja, Rio mengajaknya berciuman dengan memainkan permen itu memindahkan padanya dan pada Wulan, secara bergantian. Hingga membuat saliva mereka terasa manis dan rasa ciuman itu makin nikmat.


Tak terasa mereka sudah sampai pada parkiran taman, Indra menghentikan mobilnya dan langsung keluar dari mobil. Meninggalkan mereka yang masih bercumbu.


Ciuman itu turun pada leher Wulan dan mengigit kecil disana.


"Ma-mas ...," desah Wulan.


Rio melepaskan ciumannya sebelum nantinya ikut terhanyut dan bernafs*. Ia lebih memilih untuk menundanya.


Aku harus simpan energiku untuk nanti malam. Ya, bercinta akan berlanjut nanti malam.

__ADS_1


Rio mengulas sisa salivanya pada mulut Wulan. "Kita sudah sampai, ayok turun!" ajaknya seraya membukakan pintu.


"Iya, Mas."


Mereka berdua turun disebuah taman bunga, banyak sekali para pengunjung yang tengah duduk-duduk santai dan keluar masuk dari taman itu. Beberapa gerombolan anak kecil, remaja, dewasa bahkan lansia. Taman bunga itu juga milik umum, jadi siapapun bebas untuk datang.


Rio dan Wulan langsung mendudukkan bokongnya pada bangku taman yang kosong. Walau masih siang hari, tapi suasana di kota Bandung tidak panas seperti di ibukota. Terasa begitu sejuk dan menenangkan, cocok sekali buat orang-orang yang akan melakukan reflesing.


Semakin lama Wulan sadar, ia merasa lingkungannya amat asing. Kalau diingat lagi, Rio tidak mengatakan kalau ia akan mengajaknya ke Bandung.


"Mas ... sebenarnya ini dimana? Kok seperti bukan di Jakarta?" tanya Wulan.


"Memang bukan, ini di Bandung."


Kedua mata Wulan membola dengan sempurna. "Bandung? Jadi Mas Rio bohong, bukannya bilang kita menginap di Hotel terdekat?"


"Iya, maafkan aku. Soalnya kalau aku jujur ... kau tidak akan mau ikut denganku, Wulan."


Kenapa dia berfikir seperti itu?


Rio merangkul bahu Wulan dan mengecup keningnya sekilas. "Tapi nanti, kalau kita sudah pulang ... kau jangan bilang kita pergi ke Bandung pada Ayah, ya?"


Wulan mendongak kearah suaminya. "Kenapa memangnya?"


"Tidak apa-apa, cuma aku juga izin pada Ayahnya menginap di Hotel terdekat. Aku hanya tidak mau, jika Ayah mengira aku membohonginya."


Bukannya dia memang sudah berbohong?


"Iya, Mas." Wulan menurunkan kepalanya.


"Apa kau haus? Kau ingin minum apa?"


"Aku tidak haus, justru aku mau pipis, Mas."


"Pipis, kau ingin kita kembali ke Hotel?"


"Aku mau cari toilet didekat sini saja, aku sudah tidak tahan rasanya." Wulan bangun dari duduknya sambil memegangi perut bagian bawahnya.


Ucapan 'sudah tidak tahan' seakan mengingatkan Rio pada kejadian semalam. Walau efeknya terasa sakit, tapi jika diingat, itu bisa menambah g*irah Rio.


"Aku titip ponselku ya, Mas. Aku mau cari toilet," ucap Wulan seraya memberikan ponselnya ke tangan Rio.


"Ayok! Aku akan mengantarmu, kita cari toilet terdekat."


Rio ikut bangun dan mengajak Wulan mencari toilet umum, untung saja tidak terlalu jauh dari tempat yang mereka duduki tadi. Wulan langsung buru-buru masuk kedalam sana, meninggalkan Rio yang menunggunya sambil berdiri agak menjauh dari toilet itu.


Tak lama ponsel milik Wulan yang dipegang oleh Rio berbunyi, panggilan itu dari Wahyu. Tanpa berlama-lama, Rio segera mengangkat panggilan itu dan menempelkan pada telinga kanannya.

__ADS_1


"Halo, Wulan. Maaf ... Ayah menganggu waktumu bersama Rio. Sekarang Ayah berada di toko emas. Apa Ayah boleh menjual kalung kamu sewaktu kecil untuk membayar nyicil, hutang pada Dido? Habis Ayah tidak enak padanya, dia sering sekali menjenguk Clara di rumah sakit," papar Wahyu.


^^^Kata: 1164^^^


__ADS_2