
"Milikmu enak," ucap Mas Rendi yang langsung menarik maju mundur, pinggulnya sudah goyang ngebor membuat aku ikut bergerak mengikuti permainannya, tapi kenapa terasa begitu sempit.
"Aaahhh...." Mas Rendi mendesah dan melajukan permainannya.
"Kenapa terasa sempit sayang?" tanya Mas Rendi.
"Aku... Aku tidak.... Aahhhh...."
Aku malu sekali, kenapa mulutku terus saja mengoceh. Aku seperti wanita agresif saja jadinya.
"Enak sayang..." Mas Rendi melajukan permainannya begitu cepat, seluruh tubuhku bergetar tak karuan. Tapi enak sekali rasanya.
"Sayang... Apa kau pas lahiran terasa sakit?" tanya Mas Rendi. Aku tidak mampu menjawabnya, tanganku sibuk menarik-narik bantal yang menyangga kepalaku, rasanya begitu melayang-layang.
"Aaahhh.... Mas...."
Aku mengerang ke enakan, sungguh luar biasa nikmat tiada tara. Mas Rendi membalikkan tubuhku, kini aku berada di atasnya, miliknya masih tenggelam di dalam sana.
"Sayang ayok gantian." Ucap Mas Rendi mengajak.
Apa ini? Dia mengajakku main di atas, bagaiman bisa?
"Tapi aku tidak...."
"Tidak apa sayang, kau bisa."
Tangan Mas Rendi meraih pinggulku dan menarik-nariknya maju mundur. Dia kembali memeras gunung kembar dan menciuminya, rasanya aku sudah beneran tak tahan. Ada sesuatu yang akan keluar.
Aku menarik maju mundur tubuhku yang masih di bantu oleh tubuh Mas Rendi. "Mas... Aku tidak tahan lagi."
Mas Rendi menepuk-nepuk bokongku dan meremasnya, miliknya kembali bergerak sangat cepat. Benar-benar cepat. Aku tak sanggup menghentikannya.
"Aahhhhhh......"
Aku mendesah sekuat tenaga dan mengeluarkan sesuatu yang aku tahan sejak tadi, rasanya begitu lemas. Tapi aku menikmatinya, Mas Rendi tersenyum dan meraup bibirku. Dia menciumiku begitu dalam.
Dia masih melanjutkan permainannya, kini dia menyuruhku men*ngging dan menusukku dari belakang. Astaga sensasi ini begitu membuat ubun-ubunku panas.
Mas Rendi memompanya begitu cepat, hingga terdengar suara ceplak ceplok. Memalukan sekali.
"Aaaahhh sayang... Enak sekali," ucap Mas Rendi yang makin menggila dan menciumi punggungku.
Aku menarik seprei hingga hampir terlepas dari kasur. Kasur milik Pak Rizky sudah acak-acakan oleh ulah kita berdua.
Mas Rendi mendekap ku dari belakang, dan menekan juniornya begitu dalam sampai akhirnya.
"Aaarrrrggghhhhhh..."
Miliknya muntah di dalam milikku, terasa begitu hangat di dalam rahimku. Mas Rendi melemah dan mengajakku untuk berbaring. Dia kembali memeluk tubuhku, tubuh kita bahkan sudah lengket karena keringat.
__ADS_1
"Bagaimana olahraganya, enak?" tanya Mas Rendi. Aku tersenyum malu.
Dia kembali menghimpit tubuhku, dan menciumi seluruh lekukan tubuh. Bukan mencium saja, lebih tepatnya mengigit kecil hingga semuanya menjadi memerah.
"Apa yang kau lakukan Mas. Ini sakit," ucapku sambil meringis.
"Sakit? Yang ini baru enak," ucap Mas Rendi seraya menciumi leherku. Dia menjilatinya secara perlahan namun terasa begitu rata.
"Aaahhh..." Dia kembali mengigit nya, terasa begitu sakit tapi enak.
"Kita lakukan sekali lagi," Mas Rendi mengelus-elus juniornya yang kembali menegang, perlahan dia memasukkannya lagi.
"Aaahhh ... Mas bukannya kamu sudah keluar tadi?"
Mas Rendi memompa miliknya maju mundur, pinggulnya tidak bisa berhenti untuk bergerak. "Ya ... Tapi aku menginginkan lagi sayang, aku kurang puas."
Bibirnya mendekat dan menciumi ku, kita kembali berciuman. Kenapa semakin manis bibir Mas Rendi, aku makin menikmati.
Semakin lama dia menghentakkan miliknya begitu keras, sangat keras. Aku menarik-narik rambutnya, aku ingin mengeluarkan sesuatu lagi.
"Aaaahhhh ..."
Aku benar-benar sudah lemas, lama-lama milikku terasa begitu perih.
"Mas..."
"Apa sayang? Sebentar lagi."
Mas Rendi masih memimpin permainannya dan memompanya begitu kuat, tubuhku sampai ikutan bergetar dengan kasur ini.
"Aaaarrrrhgghh..."
Akhirnya Mas Rendi mengerang juga, miliknya kembali membasahi rahimku dan begitu hangat.
Dia melingkup tubuhku di bawah, Mas Rendi seperti sudah tak bertenaga.
"Apa kau capek Mas?"
"Apa sayang? Aku tidak capek, aku hanya ..." Deru nafasnya begitu tak beraturan, aku tahu dia capek. Sama halnya denganku.
"Sudah Mas, angkat tubuhmu. Aku pegal begini terus," pintaku seraya menarik tubuh kekarnya yang masih berada di atas. Bahkan miliknya belum dia keluarkan dari tubuhku.
"Aku masih ingin terus begini sayang ... Aku ingin terus menyentuhmu,"
Apa dia sedang menggodaku lagi? Aku juga ingin seperti ini terus, tapi badanku sudah capek.
"Mas, aku enggap sekali, sesak rasanya," Mas Rendi akhirnya membalik tubuhnya dan berbaring di samping. Tangannya kembali memeluk tubuhku.
Aku meraba perut kotak-kotaknya itu, kenapa terasa begitu indah seperti namaku. "Aku suka perutmu Mas,"
__ADS_1
Mas Rendi mencium keningku. "Hanya perut? Aku bahkan suka semua yang ada pada dirimu sayang. Apa lagi ini," tangan nakalnya kembali memegang milikku yang sudah terasa nyut-nyutan olehnya, dia mengelusnya secara perlahan.
"Mas sudah ... Ini sangat perih," ucapku menghentikan tangannya.
"Itu tanda karena aku sudah menyentuhmu lagi sayang. Bukankah itu bagus," Mas Rendi mengedipkan salah satu matanya dan mencium pipiku.
Kita menatap langit-langit kamar. "Sayang... Mulai sekarang panggil aku Mas Reymond. Jangan menyebut nama Mas Rendi lagi."
Deg....
Apa maksudnya? Aku duduk dan menyenderkan punggungku di tepi ranjang, Mas Rendi menyelimuti tubuh polos ku.
"Kenapa Mas? Kenapa aku tidak boleh memanggil nama suamiku sendiri."
"Nama tidak penting sayang, yang penting kan orangnya. Wajah aku berubah, dan nama aku juga harus. Aku tidak mau orang lain tahu aku masih hidup, dia bisa kembali memisahkan kita. Apa kau mau kita kembali berpisah?" tanya Mas Rendi.
Aku langsung memeluk tubuhnya, "Tidak Mas... Aku tidak mau, aku tidak mau berpisah denganmu lagi. Aku mencintaimu,"
Mas Rendi mencium rambutku, "Aku juga mencintaimu sayang... Aku boleh meminta sesuatu padamu?"
Kepalaku mendongak keatas, kearah wajahnya, "Apa Mas?"
"Kamu juga harus rahasiakan ini pada orang lain."
"Rahasia apa?"
"Rahasiakan aku masih hidup pada Papah dan Mamah. Pokoknya pada semuanya,"
"Tapi, kenapa?"
"Aku ingin mencari tahu dulu siapa dalangnya, kau harus berpura-pura menjadi pacarku dulu ya."
Konyol sekali Mas Rendi mengajakku menjadi pacarnya, tapi tidak masalah. Aku akan menurutinya, semua aku lakukan demi aku dan Bayu. Tentu untuk keluarga kecil kita juga.
Tok... Tok... Tok.
"Rey....." Panggil seseorang dari pintu, dia seperti Pak Rizky.
Mas Rendi membenarkan selimut dari tubuhku. Dia turun dari kasur dan memakai celana, lalu membuka pintu.
Ceklek....
"Hiks.... Hiks... Hiks.... Bunda," ucap Bayu sambil menanggis.
"Bayu sayang," ucap Mas Rendi seraya mengangkat tubuh Bayu dan mengendong nya.
"Maaf Rey, Bayu menanggis terus sejak tadi," ucap Pak Rizky.
"Tidak apa-apa, terima kasih Riz sudah menjaganya,"
__ADS_1
Pak Rizky melihat seisi kamarnya yang berantakan lebih tepatnya kasur. Tapi dia tiba-tiba saja tertawa.
"Hahahaha... Astaga Rey... Lu benar-benar ganas sekali. Kasur gue sampai bugil begitu," ucap Pak Rizky sambil terkekeh geli.