
Menjilati setiap rinci leher jenjang Indah, tubuh Indah sudah mulai berkeringat. Namun itu membuat nafsu Rendi makin bergejolak, dia mengigit kecil leher Indah. Sampai ada bercak merah.
"Aahhhhhh." Desisnya pelan, Indah mulai terbawa suasana.
Apa dia menikmatinya?
Batin Rendi tersenyum senang, dia kembali meraup bibir Indah dan bercumbu mesra. Meskipun tidak ada balasan dari Indah, tapi setidaknya Indah diam dan menurut.
Suasana makin panas, badan Rendi dan kepala Rendi bergerak kesana kemari. Sampai akhirnya lilitan handuk itu terlepas lagi, pisang raja itu berdiri tegak. Seperti ingin segera di kupas.
Rendi melepaskan ciumannya dan sontak meraba pinggul Indah. Mata Indah langsung terbelalak, dia kembali melihat pemandangan dari handuk yang terlepas, dengan cepat Indah menghentikan tangan Rendi yang mencoba membuka kancing celana Indah, namun terlihat kesusahan karena dia memakai celana jeans.
"Mas...." Lirihnya dengan nafas terengah-engah, sambil memandangi ketampanan Rendi.
"Ah... Iya.." Sahut Rendi yang sudah tersadar.
"Apa kita bisa udahan dulu?" tanyanya dengan ragu-ragu. "Tenggorokan ku sangat kering." Kata Indah sambil memegangi leher. Sebenarnya dia juga belum siap melakukannya, kalau soal tenggorokan kering itu memang benar, di dalam kerongkongan nya seperti tidak ada cairan yang mengalir.
Rendi mengangguk sambil tersenyum dan langsung melilit lagi handuk itu.
Mereka berdua bangun dan duduk di atas kasur. "Apa mau aku ambilkan minum?" tanya Rendi sambil berdiri.
"Nggak usah Mas... Eemm biar aku sendiri saja.." Sahutnya kemudian berjalan dan membuka pintu.
Rendi merebahkan lagi tubuhnya sambil senyum-senyum sendiri.
Akhirnya berhasil juga, dapat bibir dan kecupan di lehernya, tapi sayang tidak jadi jos.
Apa aku yang terlalu terburu-buru?
Rendi mengelus-elus juniornya dari balik handuk, "Sabar ya sayang. Nanti kamu akan ketemu kandang." Ucapnya mesum.
Tak lama Indah masuk kembali sambil memegang segelas air dingin untuk Rendi siapa tau dia juga ingin minum. "Ini Mas air," ucapnya menaruh di atas meja.
Rendi bangun dan duduk di tepi ranjang, "Iya... Oya Ndah, kok kamu dari kampus pulangnya ke sini? Kenapa?" tanya Rendi.
"Aku mau ngambil buku-buku kuliah aku Mas." Rendi manggut-manggut. "Ya sudah aku mandi dulu ya..." Kata Indah lalu berjalan ke kamar mandi.
Selesai mandi dan berpakaian, Indah membuka lemarinya untuk mengambil semua buku-buku itu dan menaruhnya di dalam kotak. Indah berjalan keluar kamar sambil membawa kotak itu dengan kedua tangannya, Indah menuruni anak tangga. Terlihat Rendi sedang duduk di ruang makan, ada nasi dan beberapa menu masakan di atas meja.
"Indah sini makan dulu." Ucap Rendi.
"Iya Mas," sahutnya dan duduk. Mereka berdua makan bersama.
🌺🌺🌺
Malam harinya di rumah Rendi.
Rendi berbaring sendiri di atas tempat tidurnya, menunggu Indah yang masih asyik mengobrol bersama ibunya di ruang tamu. Indah menceritakan beberapa hal tentang dia masuk kuliah lagi, berbagi kebahagiaan bersama ibunya.
__ADS_1
Setelah hampir beberapa jam Indah kembali ke kamar Rendi, terlihat Rendi yang sudah terlelap dari tidurnya, Indah ikut berbaring di sebelah Rendi.
Sontak saja Rendi memeluk Indah dari samping, lengan kirinya di atas perut Indah dan salah satu kakinya mengangkat di atas pinggul Indah.
Indah merasa ada yang aneh, ada benda yang keras menempel di bokongnya. Dan sesekali Rendi menggesek-gesekan pisang raja miliknya.
"Mas....." Lirih Indah.
"Eemm..." Rendi hanya bergumam, dan matanya masih terpejam.
Hembusan nafasnya terengah-engah di dalam kuping Indah, dia merasa tidak nyaman dengan keadaan itu. Indah mencoba bangun, namun tidak bisa. Dekapan Rendi sangat erat. Sampai akhirnya.
Breeesss.... Sesuatu keluar dari balik kolor Rendi dan benda keras itu sudah menjadi lembek.
Rembesan susu kental manis itu membasahi seluruh kolor di bagian depan Rendi, dan Indah juga ikut merasa bagian bokong celananya sedikit basah.
Basah?!
Batin Indah dengan mata membulat sempurna,
dekapan Rendi sudah mulai melemah. Dengan hati-hati Indah melepaskannya, dan bangun lalu berdiri.
Wajah hingga leher Rendi sangat berkeringat.
Apa dia habis mimpi basah?!
"Mas... Mas...." Ucapnya.
"Eemm..." Gumam Rendi dan membalikkan tubuhnya hingga tengkurap.
"Aish....." Ucap Indah sambil menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal.
"Mas.... Bangun...." Kata Indah lagi, kini dia menggoyangkan tubuh Rendi dengan heboh.
"Apa sih?" sahutnya, membuka mata.
"Bangun Mas, celana mu basah..... Nanti seprei nya juga ikutan basah." Kata Indah.
Rendi langsung terperajat, dia bangun dan berdiri sambil memegangi selangkangannya yang sudah basah dan lengket tidak karuan.
"ASTAGA...." Ucapnya dan langsung terbirit-birit masuk kamar mandi.
Rendi melepaskan semua bajunya dan menyalakan shower untuk membasahi seluruh tubuhnya.
Bisa-bisanya aku mimpi basah. Mana Indah lihat. Aahhh Rendi kamu ini kenapa sih? Gara-gara tadi berciuman aku malah mimpi begituan dengannya.
Sekarang jadi pengen beneran kan...
"Hahahaha... Rendi, Rendi sudah mesum sekali ini otak." Rendi bergerak tawa sendiri.
__ADS_1
Tok tok tok, "Mas di mana sprei kasur kamu?" tanya Indah dari balik pintu.
Ceklek, Rendi membuka pintu kamar mandi dan kepalanya nonggol. "Apa?"
"Sprei kasur kamu di mana? Aku ingin menggantinya," tanya Indah.
"Apa beneran basah?" Indah hanya mengangguk.
"Sprei itu ada di kamar penyimpanan, sebelah kamar bibi Mia. Nanti biar bibi saja yang menggantinya besok." Ucapnya kemudian menutup pintu dan melanjutkan mandi.
Setelah Rendi selesai mandi dan memakai baju tak lama Indah datang.
Ceklek, Indah membawa sprei ganti di tangannya.
"Kamu menemukannya?" Indah mengangguk dan langsung mencopoti sprei kasur.
"Sini aku bantu." Kata Rendi, mereka berdua bersama-sama memasang sprei itu. Karena ukuran kasurnya juga yang terlalu besar jadi lebih mudah kalau dua orang yang saling membantu.
"Indah, kamu nggak nanya aku kenapa tadi?" tanya Rendi yang kini mereka sudah berbaring bersama.
"Aku sudah tau Mas." Jawabnya datar.
"APA?" tanyanya mendekatkan wajahnya.
"Mimpi basah." Ucapnya mengalihkan pandangan.
"Ah iya, hehehe... Maaf ya." Sahutnya sambil cengengesan.
Kira-kira dia mimpi begituan sama siapa ya? Apa dengan Siska?
Batin Indah.
"Indah..." Panggil Rendi lagi.
"Ya."
"Eemm... Kapan-kapan kalau aku mau, apa kita bisa melakukannya?" tanya Rendi dengan ragu-ragu.
"Melakukan? Melakukan apa?" tanya Indah dengan polos.
"Seperti yang aku mimpikan barusan kita berdua.... Eemm.." Ucapnya mengerakkan tangan mengisyaratkan tentang hubungan intim.
Mengapa tiba-tiba dia mengajakku untuk berhubungan itu.
"Entahlah Mas," jawab Indah membingungkan.
"Kamu menolak?" tanya Rendi sambil memegang pipi Indah.
...💜jangan lupa tinggalkan jejak like💜...
__ADS_1