Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
86. Lingerie & Obat kuat


__ADS_3

"Ehem..." Deheman nya membuat mereka menoleh kearahnya.


"Om Andra." Ucap Rendi.


Andra langsung memeluk Rendi dengan hangat. "Selamat ya Ren, Om bangga sama kamu." Ucapnya tersenyum. Pandangannya teralihkan kearah Indah.


"Terima kasih Om. Oya kenalin ini Indah, pujaan hati Rendi... Sayang kenalin ini Om Andra," kata Rendi saling mengenalkan mereka satu sama lain.


Indah dan Andra saling berjabatan tangan.


Cantik juga istri Rendi. Tapi wanita ini? Aku seperti pernah ketemu dengannya, tapi di mana ya?


Batin Andra yang mulai pikun, karena terlalu banyak melihat wanita-wanita cantik di luar sana.


Orang inikan yang dulu kasih uang pas motorku tertindas mobil keponakannya, apa jangan-jangan keponakan yang menabrak motorku adalah Mas Rendi?


Batin Indah mengingat-ngingat, karena walaupun Andra memakai kacamata hitam pada saat itu. Tapi wajahnya tidak asing di mata Indah. Apa lagi wajah asistennya yang saat itu juga berada di sana.


Sangking lamanya mereka ngomong dalam hati. Jabatan tangan mereka jadi lama, dengan cepat Rendi melepaskan keduanya.


"Ah sudah-sudah. Om jangan lama-lama memegang tangan istriku, itu tidak baik." Kata Rendi dengan posesif yang langsung menggenggam tangan istrinya.


"Ah maafkan Om, rasanya Om pernah ketemu dengan Indah tapi lupa di mananya," sahut Andra mengusap tengkuknya.


Aku harus hati-hati dengan om Andra, aku juga tahu dia seperti apa. Aku tidak akan biarkan om Andra terus memandangi Indah.


Batin Rendi cemburu.


"Ya sudah mari kita makan bersama." Ucap Rendi kepada teman-temannya, tidak lupa dia mengajak pamannya juga. "Hayu Om makan bareng."


"Kau duluan saja, nanti Om nyusul." Sahut Andra menolak.


Indah, Rendi dan temannya yang lain berjalan meninggalkan Andra berdua dengan asistennya.


"Anton, sepertinya aku pernah bertemu dengan istrinya Rendi tapi di mana ya?" tanya Andra kearah asistennya yang sejak tadi diam mematung.


"Dia wanita yang dulu motornya di giling oleh mobilnya pak Rendi Pak." Sahut Anton memberitahu.


"Oh iya-iya." Sahutnya sambil mengangguk dan mengingat-ngingat. "Wanita miskin!" Umpatnya.

__ADS_1


"Kau harus cari tahu siapa dia Anton, apa jangan-jangan dia hanya mengincar harta Rendi saja." Lirihnya sambil tersenyum menyeringai.


"Baik Pak." Jawab Anton.


🌼🌼🌼


Sebelum acara Rendi selesai Indah lebih dulu ingin istirahat. Karena matanya sudah mengantuk dan tubuhnya mulai lelah. Rendi menyewa kamar Hotel untuk dirinya dan Indah, tentu dengan niatan ingin melaksanakan tugas negara part 2.


Indah keluar dari kamar mandi Hotel dengan mengunakan handuk kimono, Rendi sendiri bilang sudah menyiapkan baju ganti untuknya. Tapi ketika Indah membuka lemari.


Jeng....


Jeng....


Jeng....


Jeng....


Hanya ada satu kolor pendek dan kaos putih, ukuran pria. Ya mungkin itu untuk Rendi. Tapi ada satu lagi stelan lingerie renda-renda berwarna hitam dengan model kurang bahannya, tidak lupa dengan celana d*l*m yang bahkan bermodel bolong di bagian bawahnya, Indah melihatnya sambil senyum meringgis merasa geli sendiri.


"Baju apaan kayak gini. Bisa-bisa ar*a kewanita*n ku masuk angin." Ucap Indah menggerutu.


Mas Rendi ini mungkin sengaja.


Gumamnya sambil mengerucutkan bibir.


Indah tidak jadi memakainya, dia menaruh baju kurang bahan itu kedalam lemari. Dan langsung saja merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan masih memakai handuk.


☘️☘️☘️


Rendi membuka tutup botol obat dan langsung meminumnya satu kapsul, obat itu adalah obat kuat yang ayahnya belikan. Dia meminumnya bukan karena merasa dirinya lemah. Tapi hanya ingin memastikan seberapa berkhasiat nya obat itu, karena Rendi sendiri tidak suka di bilang lemah.


Apa obat ini kuat sampai pagi?


Batin Rendi


"Hahahaha.." Dia tertawa sendiri, sambil berkhayal tugas negara yang sudah dia tahan-tahan sejak acara di mulai, sudah macam orang gila aja si Rendi. Cekikikan sendiri.


Rendi berjalan menghampiri Dion yang sedang bersama Melly, "Dion kau urus acara ini sampai selesai ya," ucapnya memerintah.

__ADS_1


"Baik Pak." Jawab Dion.


Rendi melangkahkan kakinya, namun terhenti oleh Melly yang berkata. "Pak Rendi tunggu..." Ucapnya tiba-tiba.


"Ya..." Sahut Rendi.


"Apa Bapak ada waktu? Saya ingin bicara sebentar." Ucap Melly ragu-ragu.


"Penting tidak? Kalau tidak penting tidak usah." Sahutnya sambil menggerakkan tangan, berasa orang sibuk banget si Rendi.


"Buat saya penting Pak, sebentar saja saya mohon." Ucap Melly dengan wajah memelas.


"Duduk di sana." Kata Rendi sambil mengarahkan pandangannya ke kursi untuk dirinya dan Melly duduk mengobrol.


Melly menenggok kearah kanan-kiri, guna memastikan tidak ada si Casanova. "Pak langsung saja. Saya ingin balik lagi jadi sekretaris Bapak, saya nggak nyaman jadi sekretaris nya Pak Andra." Ucapnya to the poin.


"Kenapa memangnya?" tanya Rendi.


"Maaf sebelumnya, bukan maksud saya menjelekkan Pak Andra." Ucapnya hati-hati dan perlahan menghela nafas. "Saya sering di lecehkan sama beliau. Perlakuan beliau menganggap saya seperti wanita murahan, saya tidak suka Pak." Lirih Melly berkata jujur.


Rendi membulatkan kedua bola matanya, "Apa kau jujur berkata seperti itu?" tanya Rendi binggung antara percaya atau tidak.


Yang dia tahu memang pamannya seperti itu, tapi itu hanya kepada wanita simpanan atau wanita sewaannya. Selebihnya dia tidak tau, dan masih bertanya-tanya masa iya pamannya memperlakukan hal yang sama dengan karyawannya, apalagi Melly sekretaris yang sudah lama bekerja dengannya.


"Iya Pak, kalau Bapak tidak percaya saya bisa kasih bukti rekaman. Hanya rekaman suara sih, tapi setidaknya dengan ini Bapak bisa percaya dan menolong saya." Ucap Melly memohon.


Aku harus pastikan dulu, Melly jujur atau tidak dari rekaman itu.


Batin Rendi.


"Ya sudah kau kirim saja rekaman itu ke ponselku, kalau memang benar aku akan membantumu." Sahutnya kemudian berdiri.


"Terima kasih Pak." Kata Melly sedikit membungkuk. Ada perasaan lega tersendiri dalam hatinya, semoga ada titik terang untuk dia bisa terlepas oleh cengkraman Andra.


Rendi mengangguk dan berjalan ke kamar Hotel.


Kalau memang benar apa yang di katakan Melly, aku harus membawanya untuk bekerja lagi di kantorku dengan menukar Irene. Wanita kurang ajar yang sudah menghina istriku.


Gumam Rendi tersenyum menyeringai.

__ADS_1


Masuklah Rendi kesebuah kamar Hotel. Obat kuatnya sudah mulai bereaksi dan juniornya sudah tegak berdiri.


Dia melihat Indah tengah tertidur dengan pulas nya, namun Indah masih mengenakan handuk mandi. Rendi memegang handuk kimono yang Indah kenakan dan terasa begitu lembab dan basah.


__ADS_2