
"Kita bisa lihat hasilnya kapan, Dok?" tanya Mamah.
"Tiga hari, kita bisa lihat hasilnya Bu."
Setelah selesai dari itu semua kita berjalan keluar dari ruangan Dokter itu.
Tapi tidak sengaja berpapasan dengan seorang pria, dia adalah Om Andra!
Wah... Sudah lama aku baru berjumpa dengannya, keadaannya juga baik-baik saja. Sehat wal'afiat! Syukurlah aku sangat lega. Aku dulu sampai mengira dia akan meninggalkanku.
Dia berjalan menghampiri kita bertiga, lho tapi aku baru sadar kalau dia juga merangkul seorang wanita.
Wanitanya adalah Irene! Ada apa ini? Apa hubungan mereka sedekat itu sampai Om Andra merangkulnya di tempat umum?
Memang dasarnya pria hidung belang Om ini, pintar juga menggaet wanita. Padahal dari dulu Irene tidak suka sekali bekerja di bawah Om Andra, sepertinya sekarang sudah berubah. Irene sudah kepincut sama Om tampanku yang satu ini, aku ikut senang rasanya.
..._____________...
...{POV Author}...
"Mbak Santi?" entah bertanya atau menyapa, yang pasti Andra tersenyum melihat Kakak iparnya itu.
Reymond masih mengendong Bayu dengan Santi di samping. Mereka menghentikan langkah kakinya, melihat pada Andre.
Santi melipat kedua tangannya di atas dada, "Kamu Ndra. Ngapain ke rumah sakit?" tanya Santi.
Namun sikapnya sangat acuh, tidak seperti Reymond yang tersenyum melihat Andra, tapi tidak berani menyapa.
Irene sedikit mengerakkan bahunya, merasa tak nyaman dan malu. Apa lagi di lihat Santi, seorang ibu mertua yang sajak dulu dia idam-idamkan.
Andra melepaskan tangannya dari bahu Irene. "Iya Mbak, aku mau mengantar Irene periksa."
Tangan Andra sudah mencoba mengangkat tubuh Bayu dari tangan Reymond. "Bayu sayang, sama Opa Andra. Yuk!"
Jelas dia ingin mengajaknya untuk di gendong. Namun Bayu menggelengkan kepalanya. "Ngga mau Opa!"
Akhirnya tidak jadi di gendong, Andra hanya mengecup rambut anak dari keponakannya itu. Matanya sedikit melirik pada Reymond, ini kali pertama mereka berdua bertemu. Melihat wajah yang asing.
__ADS_1
"Dia siapa Mbak?" tanya Andra menatap wajah Reymond yang sedari tadi tersenyum ramah padanya.
"Oh, dia calon suami Indah." Santi menoleh pada Reymond.
Deg.....
Apa katanya? Calon suami? Dia Pak Reymond kan? Kenapa bisa dia kenal dengan Indah dan jadi calon suaminya?
Dulu Indah yang berhasil menikah dengan Pak Rendi, sekarang setelah Pak Rendi tiada. Dia bisa dapat yang jauh lebih tampan, wajah Pak Reymond bahkan mirip Oppa Korea dan bertubuh kekar. Bayu saja sudah tampan begitu! Apalagi kalau Indah menikah lagi dengan Pak Reymond? Akan jadi bibit unggul nantinya.
Coba lihat dengan diriku ini?! Yang aku dapatkan hanya PRIA TUA!! Memang dia tampan, tapi tetap saja tua! Dia di panggil anak Indah saja dengan sebutan Opa?! Kalau aku menikah dengannya....
Bayu akan memanggilku Oma?! Astaga! Tidak Irene. Ini terlalu memalukan! Aku tidak mau menikah dengan pria bangkotan macam Andra.
Kenapa Indah lebih beruntung di banding denganku!!! Padahal aku juga cantik! Aku pintar! Kenapa yang selalu dapat semuanya adalah Indah! Dan kenapa dia selalu bahagia!! Ini tidak adil sekali.
Gerutu Irene dalam hati.
Irene tidak tahu saja, betapa menderitanya Indah selama ini. Yang dia lihat memang bahagianya, jadi terkesan sangat tidak adil baginya.
Andra memutar bola matanya begitu malas, wajahnya terlihat begitu kesal. "Cepat sekali si Indah itu melupakan keponakan ku! Aku tak habis pikir dengan jalan pikirannya!"
"Kau pikir menantuku akan hidup sendiri meratapi Rendi terus-menerus?! Yang jelas itu tidak mungkin! Dia akan menikah lagi!" jelas Santi.
Andra menyunggingkan senyum. "Tapi kira-kira pria ini bisa tidak mengurus anak dari keponakan ku, Mbak? Lebih baik Bayu tinggal denganku saja!"
"Kau tidak waras?! Bagaimana bisa kau berkata seperti itu! Bayu masih punya Bundanya, punya Opa dan Omanya, bahkan Omnya sekalipun dia punya. Kau tidak perlu memikirkan masalah ini Andra, urus saja masalah mu!" jelas Santi dengan ketus.
Andra menghela nafas dan mencoba menghilangkan kesalnya di dada. Dia tahu betul, kalau sudah mengatakan nama 'Indah mereka semua akan emosi bahkan memakinya, itu makin membuatnya lebih membenci Indah.
"Ngomong-ngomong ngapain Mbak ke sini? Mbak sakit?" tanya Andra basa-basi, mengalihkan pembicaraan.
"Adi Bayu abis kacih obat cama Doktel, Opa!" sahut Bayu.
"Obat?" Andra mengelus rambut Bayu. "Obat apa? Kamu sakit?"
"Idak Opa! Bayu di kacih obat bial cehat!" seru Bayu seraya mengangkat kedua tangannya di atas, dia begitu senang habis di suntik, lebih tepatnya di ambil darah.
__ADS_1
"Obat apa Mbak?" tanya Andra penasaran.
"Vitamin," sahut Santi dengan santai.
Andra mengangguk. "Oya, Mbak. Aku juga mau kasih tahu, kalau aku akan menikah dengan Irene," ucap Andra seraya merangkul pundak Irene kembali, wajah Irene bahkan terlihat tertekan.
Santi tersenyum kecil. "Bagus deh! Kalian berdua memang cocok!"
"Tapi nanti Mbak harus datang, aku bikin acara di rumahku. Hari ini undangannya sudah di sebar."
"Oke. Oya dimana Anton asisten mu itu?" tanya Santi.
"Dia ada di Restoran depan. Ada apa memangnya? Mbak ada urusan dengan Anton?" tanya Andra.
Dia merasa heran saja. Karena sangat tumben Santi bertanya tentang Anton yang hanya asisten pribadinya, bahkan sering di anggap sebagai bayangan saja.
"Tidak, aku hanya bertanya saja. Dia kan kacung mu!" seru Santi seraya berjalan mengajak Reymond dan Bayu, berlalu pergi meninggal mereka berdua.
Bayu melihat pada Andra dan melambaikan tangannya, "Dadah Opa Andla."
Andra membalas lambaian tangannya dan melanjutkan langkah kakinya, untuk pergi menemui Dokter kandungan.
***
Benar saja, Santi memang berniat ingin bertemu dengan Anton. Mumpung pas sekali! Dia masih penasaran dan ingin bertanya mengenai kejadian di malam itu. Reymond juga mengatakan kalau Anton lah orang terakhir yang menghubunginya setelah ia mencoba mengubungi Dion.
Santi berjalan masuk ke dalam Restoran dan melihat ke sana-kemari. Bola matanya berkeliling mencari sosok Anton.
Akhirnya dia menemukannya, Anton sedang duduk bersantai sambil ngopi. Berada di pojok kursi dan duduk sendirian, bukannya ini kesempatan yang bagus untuk memulai interogasi?
"Kita ke sana Rey," ajak Santi pada anaknya itu, Reymond mengangguk dan membuntut di belakangnya dengan Bayu.
Tanpa permisi dan basa-basi, mereka bertiga duduk di depan Anton. Mata Anton terbelalak kaget, setelah tahu keberadaan mereka dengan tiba-tiba sudah duduk manis di depannya.
"Bu Santi," ucap Anton.
Dia membenarkan posisi duduknya untuk tegak, karena sedari tadi menyender di kursi.
__ADS_1
"Pelayan!" pekik Santi memanggil sang pelayang Restoran. Sudah jelas sekali mereka sekalian makan bersama.