Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 33. Semoga saja


__ADS_3

"Iya, Pak," jawab Dido seraya menutup telepon.


Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan full. Namun masih berusaha untuk fokus supaya sampai dengan selamat di rumah sakit.


***


Indah, Reymond, Bayu, Clara dan Shelly masuk kedalam rumah. Terlihat Santi dan Wulan tengah duduk di sofa ruang tamu.


Clara langsung berlari menuju Kakaknya dengan memegang boneka panda.


"Kaka lihat, aku dibelikan boneka sama Kaka Indah," ucapnya sambil memperhatikan boneka tersebut, pada Wulan.


Wulan bangun dari duduknya dan tersenyum kearah Indah.


"Terima kasih, Indah."


"Sama-sama," jawab Indah.


"Lho kok Shelly kalian bawa kesini?" tanya Santi seraya bangun.


"Iya, Mah. Untuk malam ini, aku mau Shelly menginap disini. Maaf aku belum izin dulu sama Mamah," sahut Indah tak enak hati.


Entah kenapa aku tidak yakin kalau anak ini adalah Adiknya Indah. Bisa saja Siska berbohong. Wanita itu dari dulu tidak dapat dipercaya.


Batin Santi menatap tak suka kearah Shelly.


"Mah ...." Indah memanggil Santi kembali, karena sedari tadi mertuanya diam saja.


"Tidak boleh, ya?" manik mata itu kembali berkaca-kaca.


"Boleh Sayang, tapi ... dia sudah izin dulu, tidak? Eemm ... maksud Mamah, dia selama ini tinggal dimana? Apa punya keluarga?"


"Biar aku yang ceritakan, Mah," jawab Reymond.


Reymond mencium kening Indah. "Sayang, mending kamu istirahat kedalam, kamu capek seharian ini."


"Iya, Mas. Yasudah ... aku mau antar Shelly ke kamar Clara. Biar nanti malam, Clara ada temannya."


"Iya Sayang," sahut Reymond.


Indah mengajak Bayu, Shelly dan Clara untuk menaiki anak tangga.


Ketiga anak kecil itu tampak senang masuk kedalam kamar yang ditempati Clara.


Tadi Indah dan suaminya juga sempat membelikan beberapa baju, tapi bukan hanya untuk Shelly. Indah membelikan juga untuk Clara dan Bayu.


"Nanti malam kamu dan Clara tidur bersama, Sayang," ucap Indah pada Shelly.


"Disini Kak?"


"Iya."


Mata Shelly mengelilingi setiap sudut kamar itu.


"Kamarnya besar banget, bagus lagi Kak," puji gadis kecil itu.


Indah menurunkan Bayu untuk berdiri, bocah laki-laki itu langsung menghampiri Clara yang sedang duduk lesehan di pojok kamar. Bermain dengan boneka barunya.

__ADS_1


"Kaka Lala, pecawat Bayu bagus ngga?" tanya Bayu, sedari tadi ia memegangi mainan barunya.


"Bagus Dede, apa ini bisa terbang? Coba Kaka liat."


Clara menaruh boneka yang ia pegang dan mengambil pesawat dari tangan Bayu. Terkadang dia lebih memilih main dengan mainan Bayu, supaya Bayu sendiri bisa bermain dengannya. Mengalah, demi anak yang lebih kecil dari umurnya.


Indah dan Shelly duduk diatas kasur, tangan Indah perlahan mengelus rambut Shelly yang di ikat kuncir kuda.


"Kamu suka dengan kamar ini, Sayang?"


"Suka, Kak."


Nanti kamu akan tinggal bersama Kakak, selamanya Sayang. Setelah hasil tes itu keluar.


Batin Indah.


"Syukurlah kalau kamu suka. Semoga nanti malam kamu bisa tidur nyenyak dengan Clara, ya?"


"Iya, Kak." Perlahan Shelly memegang tangan Indah dan mencium punggung tangannya, "Kaka Indah orang yang sangat baik ... cantik lagi ...."


Sebuah kata pujian yang pertama kali Indah dapatkan dari seorang Adik. Ya, dia begitu percaya Shelly itu Adiknya.


Kata itu mampu membuatnya terharu. Indah langsung memeluk tubuh Shelly dan mencium rambutnya.


"Kamu juga anak baik ... cantik, Sayang."


Disisi lain Clara terkadang curi-curi pandang pada mereka berdua. Merasa heran dengan kedekatan diantaranya, apalagi dia baru pertama kali melihat Shelly. Namun sudut mata cantiknya mulai berair, merasa sedih tapi sulit diartikan.


"Jadi kamu bertemu dengan Shelly itu dimana?" tanya Santi. Ia tengah duduk berdua, bersama Reymond.


"Panti asuhan." Reymond meraih amplop putih yang sedari tadi ada diatas meja.


"Ini Mamah baca saja. Siska menitipkan bayinya di panti asuhan," ucap Reymond seraya menyerahkan amplop putih itu pada Santi.


Santi perlahan membuka dan membacanya, matanya terbelalak kaget. Ada foto suaminya juga disana.


"Mamah masih ingatkan, dulu Papah pernah bercerita kalau dia selingkuh dengan Siska?"


"Iya."


"Ya itu ... mereka berdua selingkuh sampai menghasilkan anak," jelas Reymond.


Jujur dalam hati Santi. Walau memang dia menerima masa lalu suram suaminya, tapi ... setelah tau kalau Mawan mempunyai anak hasil perselingkuhan, ada rasa kecewa didalam hatinya. Ada rasa tak ikhlas, jika benar Indah punya Adik.


"Tapi Mamah tidak percaya, rasanya Shelly itu bukan Adiknya, Indah. Dan sepertinya memang Siska berbohong," ujar Santi.


"Aku harap juga begitu, Mah. Aku juga sebenarnya tidak suka setelah tau masalah ini. Tapi ... berbeda dengan Indah. Dia begitu senang, Mah. Terlebih lagi ... dia seperti sudah menganggap Shelly adalah Adiknya sendiri."


"Kalau misalkan Shelly bukan Adiknya Indah, bagaimana? Apa dia akan kecewa? Harusnya kamu jangan kasih tau dia dulu ... kasih tau Papah dan Mamah saja. Inikan belum pasti, Rey. Kamu 'kan tau sendiri kondisi Indah seperti apa?! Dia tidak boleh stres dan banyak pikiran," jelas Santi, wajahnya langsung berubah menjadi kesal.


Deg......


Mamah benar juga, kenapa aku tidak berfikir kesitu. Tapi, semoga saja ... semua harapan istriku menjadi nyata.


Kalau aku sudah menemukan Adiknya Indah, rasanya hutangku dengan Siska sudah lunas.


Batin Reymond.

__ADS_1


Tak lama suara ponsel Reymond berdering, ia segera merogohnya kedalam saku jas.


Tertulis nama Dion pada layar yang memanggil.


"Halo, selamat siang Pak Reymond."


"Siang."


"Pak, saya ingin memberitahu kalau Pak Rio pingsan. Dia dibawa ke rumah sakit."


Deg......


"Apa?!" pekik Reymond dengan refleks langsung berdiri.


"Iya, Pak. Nanti saya kirim alamatnya."


"Oke." Sambungan telepon itu langsung dimatikan.


"Rey, ada apa?" tanya Santi penasaran.


"Rio pingsan. Masuk ke rumah sakit, Mah!"


Deg......


"Apa?! Astaga Rio ...."


Santi langsung berlari menuju kamarnya untuk mengambil tas. Setelah keluar, ia memanggil menantunya, "Wulan! Wulan!"


Wulan yang berada di kamar Clara langsung keluar dan menghampiri. "Ada apa, Mah?"


Wajah Santi terlihat begitu panik dan cemas, keringatnya sudah keluar pada sekitar area wajah.


"Kita ke rumah sakit, Rio pingsan ...."


Deg.....


Wulan terbelalak kaget. Belum sempat menjawab, Santi sudah menarik lengannya untuk menuruni anak tangga.


Mas Rio pingsan?! Ya Tuhan, semoga dia baik-baik saja.


Batin Wulan.


"Rey, kamu tidak perlu ikut. Kamu disini saja temani Indah dan Anak-anak. Kamu kirimkan alamatnya ke ponsel Mamah dan kasih tau Papah juga," titah Santi pada Reymond yang tengah berdiri.


"Iya, Mah. Mamah dan Wulan hati-hati di jalan."


Santi mengajak Wulan untuk masuk kedalam mobilnya, mereka berdua berangkat ditemani oleh sopir menuju rumah sakit.


***


Sampainya di rumah sakit, mereka bertanya pada salah satu penjaga resepsionis didepan lobby.


"Selamat siang, Ibu ada perlu apa?" tanya seorang wanita dengan rambut yang disanggul.


"Saya ingin bertemu dengan anak saya, namanya Rio Pratama. Dia dimana ya, Bu?" tanya Santi dengan wajah cemas.


^^^Kata: 1020^^^

__ADS_1


__ADS_2