
Mawan kembali melihat pada Reymond. "Kau pulanglah, Reymond," titah Mawan.
"Bapak mengusirku?" tanya Reymond.
Mawan menghela nafas. "Aku tidak ingin berdebat denganmu. Sekarang kau pulang, lagian kau juga tidak mengunakan baju. Apa kau tidak malu?" alis matanya sudah ia angkat keatas.
Reymond menurunkan pandangan dan menatap pada perut kotak-kotaknya itu. Dia sebenarnya tidak malu, hanya saja merasa tidak nyaman karena menjadi pusat perhatian didalam rumah sakit.
Aku tidak ingin pulang, aku mau menemani Indah disini. Lebih baik aku keluar dari rumah sakit saja dulu, biar Papah tidak curiga.
Batin Reymond seraya mengangkat bokongnya.
"Yasudah, Pak. Aku pamit pulang," ucap Reymond.
Mawan mengalihkan pandangan dan tidak menghiraukan ucapan Reymond, dia berjalan keluar rumah sakit sambil meraih ponsel pada kantong celana untuk menelepon Ali.
"Halo, Bapak ada dimana?" tanya Ali.
"Aku di rumah sakit A, kau kesini dan belikan aku pakaian sama ambil mobilku di jalan x," titah Reymond.
"Baik, Pak."
Setelah beberapa menit akhirnya Dokter keluar dari ruang UGD, terlihat Mawan masih menunggu dengan rasa kecemasan.
"Bapak, wali dari Indah Permatasari?" tanya Dokter pria berkacamata seraya menghampiri Mawan.
Mawan langsung berdiri. "Iya, betul aku Papahnya. Bagaimana putriku? Dia baik-baik saja 'kan Dok?"
"Mari ikut saya ke ruangan sebentar, Pak," ajak Dokter seraya berjalan.
Mawan mengangguk dan ikut membuntut sampai masuk kedalam ruangannya, mereka berdua duduk berhadapan terhalang oleh meja.
"Bapak, sebelumnya saya ingin bertanya, apa Bapak tau Indah sedang hamil?"
Deg......
Mata Mawan membulat sempurna. "Apa?! Hamil? Itu tidak mungkin, Dok!" kepalanya sudah menggeleng.
Apa?! Tidak! Indah tidak mungkin hamil, kan?
__ADS_1
Batin Mawan.
"Itu benar, Pak. Putri Bapak sedang hamil, kandungannya sudah berusia jalan 3 Minggu. kenapa Bapak terlihat tidak suka? Hamil itu sebuah anugerah 'kan, Pak?"
Bukan masalah tidak suka Indah hamil, tapi masalahnya itu anak Reymond. Aku tidak terima Reymond menyimpan benihnya pada perut anakku!
Gerutu Mawan.
Mawan mengatur nafas. "Lalu bagaimana keadaannya sekarang? Tadi Indah sempat pendarahan. Apa dia dan anaknya baik-baik saja?"
"Iya, dia baik. Untung Bapak segera membawanya ke rumah sakit. Kalau tidak, putri dan cucu Bapak tidak akan tertolong," jelas Dokter.
Deg.......
Astaga?! Indah dan bayinya hampir kehilangan nyawa. Tidak! Indah tidak boleh meninggalkanku.
Batin Mawan.
"Memangnya kondisi Indah begitu parah, Dok? Aku .... Aku tidak mau kehilangan putriku, Dok," ucap Mawan dengan sendu.
"Apa Indah selama ini punya masalah, Pak?"
Deg......
"Tapi, saya melihat kondisi Indah saat ini sangat tertekan dan stres, Pak. jiwanya seperti terguncang, saya khawatir Indah mengalami depresi. Seorang wanita hamil tidak boleh terkena tekanan terlalu parah, Pak. Itu sangat berbahaya, untuk nyawa Ibu dan Anaknya. Saya juga melihat Indah sepertinya pernah hamil, tapi lewat jalur operasi caesar. Benar atau tidak, Pak?"
"Iya, Dok. Hamil anak pertama, dia operasi caesar," jawab Mawan.
Mawan menatap kosong, untuk sekilas dia mengingat momen dimana Indah begitu stres pada saat hamil Bayu karena kehilangan Rendi, sampai-sampai pada usia 7 bulan dia terpaksa melahirkan, demi menyelamatkan Indah dan bayinya. Buliran air mata itu tiba-tiba terjatuh dengan sendirinya, membasahi pipi yang sudah mulai keriput.
Dokter itu menghela nafas secara perlahan. "Itu juga sangat beresiko, apalagi ini kehamilan yang kedua. Saya berharap Indah nanti akan lahiran normal, Pak."
Mawan menyeka air matanya, "Lalu ... Aku harus bagaimana, Dok? Aku tidak mau putriku kenapa-kenapa."
"Bapak turuti semua kemauan putri Bapak, jangan pernah memaksakan apa yang tidak dia inginkan. Buat Indah terus senang dan bahagia, itu sangat bagus untuk kondisinya sekarang. Saya yakin, Bapak sayang dengan putri Bapak. Saya hanya menyarankan demi kebaikan Indah sendiri," tutur Dokter.
Ucapan Dokter seperti paranormal, semua yang dia katakan seolah menyindir lubuk hati Mawan hingga terdalam. Tapi disisi lain, masih ada rasa tak ikhlas dalam dirinya mengenai Reymond. Untuk sejenak Mawan termenung, mulai mencerna semua yang Dokter sampaikan tadi.
"Iya, Dok. Terima kasih atas sarannya, aku akan mencoba untuk membahagiakan putriku," jawab Mawan.
__ADS_1
Mawan sudah mengangkat bokongnya, dia hendak melangkah. Namun terhenti kala Dokter itu berkata. "Tadi Indah terus mengoceh nama Bayu dan Mas Reymond. Apa mereka suami dan anaknya?"
Mawan mengangguk pelan. "Nanti Indah akan dipindahkan ke ruang perawatan. Bapak suruh saja suami dan anaknya datang untuk menemani," tutur Dokter.
Mawan mengangguk dan berjalan keluar dari ruangan seraya memijat pelipis matanya, hati dan pikirannya seakan dilema.
Beberapa perawat keluar dari ruang UGD, mereka mendorong brankar yang sudah berisi Indah tengah berbaring tak sadarkan diri. Dengan mulut dan bibir terpasang ventilator, punggung tangan kiri miliknya sudah terpasang jarum infusan. Mereka membawanya untuk masuk ke ruang perawatan VVIP 101.
Mawan berdiri dan melihat pemandangan itu, tangannya menempel pada tembok seakan menahan tubuhnya yang sudah lemas.
"Indah, Papah sayang kamu," lirih Mawan pelan.
Tak lama Santi datang sambil menggendong Bayu, dia berlari kecil menemui Mawan yang tengah berdiri dalam lamunan.
"Opa!" panggil Bayu.
Lamunan itu seketika pecah kala mendengar suara manis Bayu, Mawan mengambil alih untuk menggendong Bayu dan mencium rambutnya.
"Papah, bagaimana Indah? Dan sekarang dia dimana?" tanya Santi sambil melihat kearah ruang UGD dengan wajah panik.
Mawan langsung memeluk tubuh Santi sambil menangis.
"Mah, maafin Papah. Gara-gara Papah, Kita hampir kehilangan Indah dan bayinya," ucap Mawan dengan sendu.
Deg......
Mata Santi terbelalak, ada rasa senang dia mendengar kata bayi dan ada rasa sedih dia mendengar kata kehilangan. Rasanya seperti nano-nano. "Bayi?! Maksud Papah Indah hamil?"
"Iya, Mah. Indah hamil! Papah benar-benar Ayah yang gagal! Bisa-bisanya Indah hamil diluar nikah! Kenapa Papah sampai kecolongan begini. Papah mengira yang Indah rasakan selama ini hanya masuk angin dan magh, Papah tidak ingin Indah hamil anak Reymond. Kenapa ini bisa terjadi, Mah?!"
Ternyata benar dugaanku. Indah hamil, berarti tespeck yang kemarin benar-benar rusak.
Batin Santi.
Santi mengusap-usap punggung suaminya secara perlahan dan tersenyum.
"Sudah, Pah. Harusnya Papah senang. Mau Indah hamil anak Rendi ataupun Reymond, itu sama saja cucu kita. Benar, kan?" suara Santi terdengar begitu lembut masuk kedalam rongga telinga Mawan.
Rendi ... Maafkan Papah sayang. Papah tidak bisa menjaga istrimu, bagaimana bisa Indah hamil anak orang lain dan tanpa ikatan pernikahan? Bukankah itu dosa, Ren?! Maafkan Papah. Kamu mungkin sangat sedih dan kecewa di alam sana, Papah juga merasa hal yang sama. Papah ikut berdosa, Ren.
__ADS_1
Batin Mawan dengan hati yang teriris-iris.
^^^Kata:1014^^^