
Wahyu terdiam dan kembali duduk pada sofa single. Ia juga menurunkan kepalanya, seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Bapak ... apa Bapak sama sekali tidak kasihan pada Indah? Kasihan dia, Pak. Dia ingin tau siapa adiknya," lirih Antoni.
Apa aku jujur saja? Tapi aku tidak rela kalau berpisah dengan Clara. Dia sudah aku anggap anakku sendiri dan aku sangat menyayanginya.
Tapi aku juga tidak mau jadi orang tua yang egois, Nona Indah dan Pak Antoni orang yang baik. Bahkan Pak Antoni sudah menolongku dua kali.
Batin Wahyu.
"Kita ini keluarga, Pak. Kalaupun benar Clara adalah adiknya Indah, Bapak tidak akan berpisah dengannya. Bapak masih bisa bertemu," jelas Antoni.
Pria tua itu mengangkat kelapanya, melihat kearah Antoni yang melemparkan senyuman menawan padanya.
"Lalu sekarang Bapak maunya apa? Bapak ingin melakukan tes DNA?"
Mata Reymond dan Antoni langsung berbinar. Bukankah pertanyaan itu sudah membuktikan kalau tebakan Reymond dan Antoni itu benar? Tentu saja, iya.
"Iya, Pak. Saya ingin melakukan tes DNA antara Indah dan Papahnya," jawab Reymond.
"Yasudah, saya mengizinkan. Tapi kita tanya Dokter dulu, Pak. Takutnya itu bisa mempengaruhi keadaan Clara," ujar Wahyu.
Reymond menepuk pelan bahu mertuanya. "Pah ... kira-kira Papah Mawan mau tidak, ya? Dia orangnya susah, aku takut dia tidak mau melakukan tes DNA," keluhnya.
"Pak Mawan?! Apa maksud Pak Reymond? Kenapa Clara harus melakukan tes DNA dengannya?" tanya Wahyu dengan wajah binggung. Pasalnya ia tidak tau, kalau Hermawan adalah papahnya Indah. Yang ia tau ... Antoni adalah papahnya.
"Kan dia papahnya Indah, Pak," balas Reymond santai.
"Bukannya Papahnya Indah adalah Pak Antoni?"
"Iya, saya Papahnya, Pak. Tapi Papah tiri, Papah kandungannya adalah Pak Hermawan," jelas Antoni.
Deg~
Mata Wahyu membelalak kaget. Mendadak ia mengingat cerita dari Wulan, tentang Clara yang kekurangan darah. Hatinya terasa sesak didalam, atas apa yang Mawan perbuatan. Tapi dibalik itu semua, ia masih bisa bersyukur, karena Antoni dapat menolongnya.
"Pak Reymond, Pak Antoni ... boleh saya minta sesuatu?" tanya Wahyu pelan.
"Apa itu?" Reymond dan Antoni berucap bersamaan.
"Kalau nanti Clara benar-benar terbukti adiknya Nona Indah ... saya tidak mau dia tinggal bersama Pak Mawan."
Deg~
Mata Reymond terbelalak. "Kenapa memangnya? Papah pasti menyayangi Clara kalau dia sudah tau semuanya, Pak."
"Saya tidak mau berpisah dengan Clara, Pak. Saya menyayangi dan menganggapnya seperti anak saya sendiri. Rasa sayang saya padanya sebanding dengan rasa sayang saya pada Wulan. Jadi, saya mau Clara tetap tinggal bersama saya saja."
Mulut Reymond sudah menganga, hendak menjawab ucapan dari Wahyu. Tapi Antoni langsung menepuk pahanya sekilas.
__ADS_1
"Masalah itu biar nanti dipikirkan lagi, yang terpenting kita lakukan tes DNA dulu," usul Antoni.
Mereka berdua mengangguki usulan dari Antoni. Sekarang Reymond tinggal mencari cara untuk bisa membujuk Mawan, supaya mau melakukan tes DNA lagi.
"Nanti saya tanya sama Dokternya Clara, dia boleh melakukan tes DNA atau tidak," ucap Wahyu.
"Iya, Pak. Nanti Bapak beritahu saya saja." Reymond mengambil dompet pada saku belakang celana bahannya. Ia memberikan kartu namanya pada Wahyu.
***
Pagi hari.
Wulan tengah berbaring pada tempat tidur, tapi kali ini ia akan melakukan USG untuk mengecek rahimnya.
Rio juga ada disana, tengah berdiri disamping Wulan. Ia juga ikut penasaran dengan kondisi istrinya.
Dokter wanita itu menarik baju pasien yang Wulan kenakan sampai keatas dada, ia mengolesi cairan pada perut Wulan dan menempelkan alat yang tersambung pada monitor.
Bukannya fokus melihat layar monitor, Rio justru memperlihatkan perut putih Wulan. Ia juga sampai menelan saliva dengan kasar, seakan terpesona dengan perut datar itu.
Kenapa perutnya sangat menggoda.
Batin Rio sambil geleng-geleng kepala.
"Bagaimana rahim saya, Dok?" tanya Wulan sambil melihat kearah layar.
"Alhamdulilah, semuanya baik-baik saja. Tinggal tunggu masa pemulihan. Apa Mbak masih mengalami pendarahan hari ini?"
Rio langsung menepis pandangannya dan melihat kearah monitor.
"Apa istri saya bisa hamil lagi, Dok?" tanya Rio.
Dokter itu tersenyum. "Tentu bisa, Pak. Tapi Bapak dan istri jangan berhubungan dulu untuk sementara. Tunggu dia pulih."
"Kapan kira-kira pulihnya, Dok? Besok?"
"Sekitar satu atau dua Minggu, Pak."
Mata Rio membelalak. "Kok lama sekali, Dok? Memangnya tidak bisa dipercepat?"
Deg~
Kini mata Wulan yang membelalak, ia merasa kaget dengan apa yang Rio pertanyakan.
Dokter itu terkekeh. "Malah ini termasuk proses yang cepat, Pak. Banyak wanita yang keguguran, pemulihannya sampai sebulan bahkan lebih. Bapak sabar dulu, nanti kalau sudah sembuh baru bisa main sepuasnya. Tapi ingat juga ... jangan terlalu kasar," tegurnya.
Glek~
Wulan menelan salivanya dengan kelat, ia sangat malu dengan apa yang Dokter itu katakan. Kedua pipinya merah merekah.
__ADS_1
'Malah yang kasar lebih enak, Dok' batin Rio.
Dokter membereskan baju Wulan, ia juga sekalian mengganti kain kasa yang terlilit pada kepala Wulan. Menggantinya dengan yang baru dan mengobati luka bekas jahitan itu.
"Sudah selesai, Pak. Mbak Wulan bisa kembali ke kamar," ucap Dokter setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Terima kasih, Dok."
Rio perlahan mengangkat tubuh Wulan, namun bukannya mendudukkan pada kursi roda. Justru Rio langsung membawanya keluar dari ruangan itu dan meninggalkan kursi roda yang sempat dipakai saat datang.
"Mas, kenapa aku diangkat begini? Bukannya tadi kesini pakai kursi roda?" tanya Wulan heran.
"Sama saja, malah lebih enak begini, kan?"
'Apa maksudnya lebih enak begini? Aku malu dilihat orang-orang' batin Wulan.
Rio melangkahkan kakinya menuju kamar Wulan, ternyata disana ada Dido tengah berdiri tepat didepan pintu.
"Kenapa kau ada disini?" dengus Rio, ia seperti tak suka melihat kehadiran sang asisten.
"Saya ada perlu dengan Bapak, itu Wulan kenapa? Kenapa Bapak gendong?"
Emosi Rio langsung memuncak, Wulan bahkan bisa mendengar degup jantung Rio yang sangat kencang.
"Memang kenapa kalau aku menggendongnya? Kau cemburu? Minggir kau!" titahnya dengan gerakan kepala.
Dido langsung membukakan pintu untuk Rio masuk kedalam. Padahal niat Dido hanya bertanya, bukan mau memancing amarah Rio. Tapi pria itu sangat mudah tersinggung sekarang, apalagi kalau sudah membawa nama Wulan.
Setelah Rio merebahkan tubuh Wulan diatas tempat tidur, ia menarik selimut untuknya.
"Aku keluar sebentar," ucapnya pamit.
Wulan sedari tadi terdiam, ia binggung harus bahagia atau apa, karena melihat sikap Rio yang mulai berubah. Tapi hatinya masih ada rasa takut.
"Ada apa?" tanya Rio yang baru saja keluar dari kamar Wulan, berdiri disamping Dido.
"Hari ini ada meeting penting, Pak. Dan tidak bisa diwakilkan."
'Cih! Padahal aku masih ingin menemani Wulan disini' Batin Rio.
Tak lama Wahyu datang menghampiri mereka berdua.
"Selamat pagi, Om," sapa Dido dengan sopan.
"Pagi, kau kesini? Mau jemput Rio?" Wahyu menepuk bahu Dido sekilas dan tersenyum padanya.
"Iya, Om."
Rio menatap tajam mata Dido didepannya. Ada rasa kesal di dada, karena melihat Wahyu dan Dido terlihat begitu akrab. Apalagi sang mertuanya melemparkan senyum yang sudah lama tidak ia dapatkan.
__ADS_1
^^^Kata: 1070^^^