Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 133. Kedatangan Kurir


__ADS_3

"Oh iya, aku lupa. Tapi ... kayaknya lebih enak kita main dulu, Wulan." Rio mendekapnya dari belakang, kedua tangannya menerobos masuk kedalam baju tidur istrinya, demi menggenggam dua benda yang menantang.


Wulan terbelalak, saat merasa celana tidurnya sudah Rio turunkan sampai keatas lutut. "Mas! Aku sedang mencuci piring. Mas Rio ini ... Hhhmm ...."


Tanpa aba-aba Rio sudah melakukan penyatuan dari belakang.


Kedua tangan Wulan bahkan masih berbusa dan memegang spon pencuci piring. Tangan Rio memutar kran dan membantunya untuk mencuci tangan dan menaruh spon itu disisi wastafel.


"Mas ... ke-kenapa kita ... melakukan disini?" tanyanya sambil menahan des*han dalam mulutnya.


Rio menghentikan permainannya sebentar. "Memang kenapa? Bukannya ini enak? Kau juga tidak akan mual."


Kenapa musti dari belakang sih, Mas? Dan ini juga di dapur.


"Tapi ... Mas ... kalau Ayah--"


Rio menutup mulut Wulan dengan salah satu tangannya, satu tangannya lagi sibuk merayap kemana-mana. Bibirnya kembali mengecupi tengkuk dan juga bahu Wulan. Ia memulai permainannya lagi dengan semangat yang menggelora.


*


Clara mengerjap-ngerjapkan matanya, ia merasa ingin buang air kecil. Lantas, tangannya menepuk-nepuk lengan Wahyu, pria tua itu tengah tidur meringkuk di sampingnya.


"Ayah ... bangun, aku mau pipis," ucap Clara.


Memang kalau ingin ke kamar mandi malam hari, ia kerap kali membangunkan Wahyu ataupun Wulan. Mungkin alasan yang pertama karena rasa takut, meminta untuk diantar.


Wahyu membuka matanya secara perlahan, ia menarik tubuhnya untuk bangun dan menoleh pada jam weker yang berada diatas nakas, menunjukkan pukul 9.


"Ayok!" Wahyu berdiri dan memegang lengan putrinya, melangkahkan kakinya untuk keluar kamar.


Netra Wahyu membola sempurna kala melihat sepasang suami-istri yang tengah bercinta didepan wastafel. Ia menghentikan langkahnya dan langkah Clara. Dengan cepat, kedua tangannya menutup mata gadis kecil itu tatkala melihat bokong mulus Rio yang terekspos dengan gamblang. Mereka masih diposisi yang sama, Rio dibelakang dan Wulan didepan.


"Astaghfirullah! Rio, Wulan!" Wahyu memekik dan merasa geram. Bukan geram karena melihat mereka bercinta, tapi geram karena mereka tidak melihat tempat. Walau memang sudah malam, tapi tidak sepantasnya melakukan di dapur. Ada Wahyu dan juga Clara yang masih dibawah umur. Matanya tidak boleh ternodai oleh hal-hal yang kotor.


Permainan mengasikkan itu langsung Rio hentikan, ia memutar kepalanya kebelakang.


"Ayah!"


Mereka tersentak kaget saat Wahyu memergoki mereka yang tengah berbuat mesum di dapur. Dengan cepat Rio menarik celananya dan celana Wulan keatas, membereskan baju istrinya juga yang sempat berantakan karena ulahnya. Mereka berdua berbalik badan, menundukkan kepalanya dengan rasa malu.


"Maaf, Ayah ... tadi Mas Rio ...." Wulan mengantung ucapannya, ia benar-benar malu, seperti tak ada muka didepan ayahnya. Ia juga sangat takut, sampai tak berani menatap wajah Wahyu yang sudah masam.

__ADS_1


"Kalian lanjutkan di kamar!" titah Wahyu dengan lantang.


Wulan menarik lengan Rio untuk ikut melangkah dengannya.


"Ayah ... maafkan aku, ini semua salahku. Maaf ...." Rio menyempatkan untuk berucap saat berpapasan dengan Wahyu yang masih terpaku di tempat. Sampai akhirnya mereka benar-benar menghilang dan masuk kedalam kamarnya.


Bisa-bisanya mereka bercinta di dapur! Dasar! Pasti ini kerjaan si Rio, yang merayu Wulan. Mesum juga ternyata si Rio ini.


Sesungguhnya Wahyu memang kesal, tapi nyatanya ia mengembungkan senyum, merasa bahagia melihat anak dan menantunya makin lengket dan mesra. Ia jadi mengingat saat awal-awal menikah dengan istrinya.


Bunda ... lihat putri kita, Wulan. Dia dan suaminya saling mencintai. Mereka juga sebentar lagi menjadi orang tua, kita akan jadi Kakek dan Neneknya.


"Ayah! Kenapa mataku terus-terusan ditutup? Gelap ... aku mau pipis," ujar Clara seraya memegangi tangan Wahyu.


"Maaf-maaf." Wahyu menurunkan telapak tangannya dari kedua mata Clara. "Sana pipis, Ayah tunggu disini."


Clara mengangguk dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah selesai, mereka masuk lagi kedalam kamar.


Wahyu berbaring dan menyelimuti tubuhnya dan tubuh Clara yang tengah memeluknya. "Clara, apa tadi kamu lihat Kak Rio dan Kak Wulan di dapur?" tanyanya memastikan, ia sejujurnya tidak mau sampai Clara melihatnya.


"Iya, aku lihat. Mereka sedang apa Ayah? Kok bokong Kak Rio kelihatan?"


Ah Rio, kau benar-benar mencemarkan mata putriku.


Baru saja mata Wahyu mulai terpejam, tiba-tiba ia tersentak kaget karena mendengar suara Rio yang terus-menerus meracau nama anaknya. Rupanya mereka melanjutkan aktivitas panasnya didalam kamar.


"Wulan ... oh!"


Kamar mereka memang bersebelahan, jadi wajar kalau terdengar. Awal tinggal bersama juga sebenarnya Wahyu sering sekali mendengar suara-suara dari mulut Rio. Tapi masih samar-samar. Namun beda dengan tadi, suara Rio terdengar begitu nyaring di telinganya.


Wahyu menoleh ke arah Clara. Untungnya ia sudah tertidur pulas. Sudah dipastikan tidak akan mendengar suara Rio yang tengah berteriak karena keenakan. Wahyu hanya bisa geleng-geleng kepala dan perlahan memejamkan mata, menghiraukan suara mesum menantunya.


*


"Aku mencintaimu, Wulan. Sungguh ... sungguh mencintaimu," ucap Rio diakhir pelepasannya. Ia mencium dan melu mmat habis bibir istrinya itu. Kamarnya begitu minim pencahayaan, karena memang Rio yang sengaja mematikan lampu. Wulan juga sedari tadi memejamkan mata, supaya tidak timbul rasa mual.


Aku juga mencintai Mas Rio.


Wulan menjawabnya dalam hati, ia memagut bibir suaminya.


***

__ADS_1


Pagi hari, seorang kurir datang ke rumah Wahyu sambil memegangi lima buket bunga yang Rio pesan. Rio sampai menunggunya di teras depan, karena ingin dirinya saja yang langsung memberikan pada istrinya.


"Terima kasih ya, Pak," ucap Rio setelah menandatangani bukti penerima. Lantas, memberikan surat itu lagi di tangan kurir.


"Terima kasih kembali, kalau begitu saya permisi," pamit kurir pria itu, lalu berjalan menuju mobil pick up yang ia naiki tadi.


Rio membawa masuk kelima buket bunga itu kedalam rumah, menghampiri istrinya yang kebetulan habis dari dapur sambil membawa bubur ayam.


"Kok Mas Rio bawa bunga? Banyak sekali, buat siapa?" tanya Wulan dengan wajah sumringah. Ia sudah berharap bunga itu untuknya, tapi memang benar.


"Buat kamulah! Ini ambil." Rio mengulurkan kedua tangannya, menuju tangan Wulan.


"Serius Mas? Untuk aku semua?"


"Iya."


Wulan sudah mengambil dua bunga di tangan Rio, tapi pria tampan itu tiba-tiba mendekatkan pipinya pada wajah Wulan.


"Cium dulu, dong."


Wulan mengangguk, ia mendaratkan kecupannya pada pipi kiri suaminya.


Cup~


"Terima kasih, Mas."


"Sama-sama."


***


Di tempat lain, ada kurir juga yang tengah berdiri didepan gerbang rumah Mawan. Tentunya ia mengirimkan paket kiriman dari Rio, yang memulai balas dendamnya pada Mawan di pagi hari yang cerah ini.


"Maaf, Pak. Saya mengirimkan paket atas nama Hermawan," kata kurir berjaket hijau itu pada satpam depan rumah Mawan.


Satpam itu mengulurkan tangannya pada celah gerbang besi yang bisa menerima paket persegi empat kecil dari tangan kurir menuju tangannya. Jadi tak perlu repot untuk membuka gerbangnya.


"Nanti saya berikan langsung pada Pak Hermawan, Pak," jawab satpam.


"Bapak tanda tangan bukti penerimanya dulu." Kurir itu memberikan selembar kertas dan pulpen. Tanpa menunggu waktu yang lama, satpam itu segera menandatanganinya.


"Terima kasih, Pak. Kalau begitu saya permisi." Kurir itu pamit dan duduk diatas motornya, lalu mengendarai.

__ADS_1


Satpam itu melangkahkan kakinya menuju pintu utama rumah Mawan, lengannya ia angkat dan jari telunjuknya memencet bel.


^^^Kata: 1136^^^


__ADS_2