Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 110. Pengen kebab


__ADS_3

"Aku tidak --"


Krukuk ... krukuk.


Suara cacing didalam perut Wulan begitu nyaring terdengar, Rio langsung bergelak tawa sambil geleng-geleng kepala.


"Hahahaha ... kau lapar?"


Wulan mengangguk samar. "Iya, Mas."


Rio melihat arlojinya yang menunjukkan pukul 10. "Belum jam makan siang lho Wulan."


"Iya, tapi perutku sudah kosong sekarang, Mas."


"Mau beli apa? Nanti aku suruh OB membelikannya, didepan ada Cafe."


Wulan memegangi perutnya seraya dielus-elus. "Aku pengen kebab, Mas."


"Oh, yasudah."


Rio mengajak Wulan keluar dari kamar mandi, ia meraih ponselnya diatas meja untuk menghubungi salah satu ketua OB di kantornya.


"Tapi, Mas ...," ucap Wulan mengantung, ia merasa ragu untuk mengatakannya.


"Tapi apa?"


"Aku ingin kebab yang biasa aku makan," jawabnya dengan manja.


Rio makin terkekeh melihat tingkah aneh istrinya. "Hahahaha ... kau ini kenapa sih?"


Sangking gemasnya ia mengacak-acak rambut istrinya dan mencubit kedua pipi yang sudah merah merekah itu.


"Kau manja sekali sekarang, Wulan. Apa ini tandanya kau sudah mencintaiku?"


"Memang aku kelihatan manja ya, Mas? Kan aku cuma bilang pengen kebab yang biasa aku makan. Maaf, deh. Kalau Mas Rio tidak suka," lirihnya sambil cemberut.


"Kau ini bicara apa? Aku suka kok, aku suka kau manja padaku, Wulan." Rio kembali membereskan rambut Wulan dengan lima jarinya secara perlahan.


"Terima kasih, Mas."


"Sama-sama." Rio meraih tengkuk Wulan dan ia dekatkan pada wajahnya dengan sedikit membungkuk dan menaikkan dagu istrinya. Semakin mendekat dan tak lama keduanya saling menyentuh bibir mereka masing-masing.


Cup~


Sayang sekali, ciuman yang baru dimulai lantas terganggu oleh perut Wulan yang lagi-lagi berbunyi.


"Ah, maaf-maaf Mas. Perutku benar-benar lapar," ucap Wulan saat Rio melepaskan ciumannya.


Rio mengulas sisa salivanya di bibir Wulan, ia mengecupnya lagi sekilas.


"Oke, kita pergi cari kebab. Habis itu kita bercinta, ya?"


"Bercinta disini?"


"Ya dimana saja, yang penting jangan ada orang yang tau."


Pria itu mengandeng tangan istrinya untuk masuk kedalam lift yang baru saja terbuka.

__ADS_1


Tepat di halaman kantor Rio, langkah keduanya terhenti karena mendengar seorang wanita yang memanggil.


"Wulan, kau Wulan, kan?" terka wanita itu seraya berlari kecil menghampiri sepasang suami istri.


"Mbak Adel," ucap Wulan.


Oh, jadi ini mantan istrinya Dido.


Rio memperhatikan Adelia dari ujung kaki ke ujung kepala. Wanita itu terlihat begitu cantik dengan tubuh putih berisi. Pakaian minimnya membuat Adel semakin terlihat seksi dan menggoda kaum Adam. Tapi bukan Rio salah satunya.


Kok kayak ja lang?


Adel baru sadar, jika orang yang bersama Wulan adalah pria yang waktu itu ia tabrak, ia juga menyadari kalau Rio memperhatikannya. Tapi pria itu tersenyum miring, seperti menandakan rasa tidak suka.


"Wah ... Bapak yang kemarin itu, kan? Kenalin saya Adel. Kok Bapak bisa dengan Wulan?" tanya Adel seraya mengulurkan tangannya kedepan Rio.


Wulan menoleh kearah Rio, ia sedari tadi melihat suaminya memperhatikan wanita didepannya itu. Ada rasa kesal dan sesak didalam dadanya. Cemburu? Ya, itu mungkin benar.


"Aku suaminya," jawab Rio dengan datar, tanpa membalas uluran tangannya.


Adel tersentak kaget dan membulatkan kedua matanya. Tapi harusnya ia tidak perlu sekaget itu, karena kedua tangan mereka saja sedang bergandengan. Itu tandanya mereka memang punya hubungan.


"Bapak suaminya Wulan? Apa tidak salah?" tanyanya tidak percaya.


Apa maksud Mbak Adel? Dia sedang mengejekku?


"Apanya yang salah? Memang kenapa dengan Wulan?" tanya Rio.


"Tidak salah, tapi dia--"


'Mas Rio memujiku?' batin Wulan.


'Lho kok dia marah-marah? Emosian banget, padahal aku hanya bertanya' batin Adel.


Melihat Rio yang murka, Adel langsung menurunkan pandangannya.


"Maaf-maaf Pak. Saya hanya datang kesini ingin mencari Dido." Adel mengedikkan kepalanya dan melihat kearah Wulan. "Wulan, sampai sekarang aku belum berhasil menemukan Kak Dido."


"Tapi aku juga tidak tau dimana dia, Mbak," jawab Wulan.


"Dia sudah aku pecat! Dia tidak ada disini lagi!" kelakar Rio.


Mas Rio memecat Kak Dido? Pantas dari pagi aku tidak melihatnya.


"Satpam!" pekik Rio.


Kedua satpam yang sedang berdiri di pintu keluar masuk kantornya langsung bergegas menghampiri Rio.


"Kenapa, Pak?" tanya salah satu satpam itu dengan sedikit membungkuk.


"Kau berikan nomor Dido pada wanita ini dan usir dia!" perintahnya.


"Baik, Pak."


Rio merangkul bahu Wulan dan cepat-cepat untuk mengajaknya masuk kedalam mobil. Sudah ada Indra yang standby menunggu mereka berdua.


"Kita kemana, Pak?" tanya Indra.

__ADS_1


Rio menoleh kearah Wulan. "Beritahu alamat penjual kebabnya."


Wulan mengangguk. "Kita ke jalan Xxx, Pak."


"Baik, Nona."


Indra langsung memegang kemudinya menuju jalan yang Wulan arahkan.


Rio mendekatkan tubuhnya pada Wulan, merengkuh pinggangnya dan mengecup keningnya. "Apa si Adel itu sering mengganggumu?"


Wulan menggeleng kepala. "Tidak, Mas."


"Bagus deh. Aku tidak mau ya, Wulan. Kau ikut-ikutan membantu wanita itu. Biarkan saja dia, mau menagih hutang sama Dido atau apa, kau pokonya tidak perlu ikut-ikutan dengan urusan Dido. Dia sudah menjadi masa lalumu, aku yang jadi masa depanmu sekarang!" tegasnya.


"Iya, Mas. Aku tidak pernah kok ikut-ikutan masalah mereka. Terakhir waktu Mbak Adel ke kantor Mas Rio yang pertama, setelah itu aku sudah memblokir nomornya," papar Wulan.


Rio menghela nafasnya dengan lega. "Bagus, lain kali jangan beri nomormu pada siapapun. Aku tidak mau ada orang yang menganggu rumah tangga kita, Wulan."


"Iya, Mas. Maafkan aku."


Indra menghentikan mobilnya di sisi jalan raya, tepat penjual kebab itu berada. Ternyata penjual kebab itu pedangan kaki lima. Rio sempat berpikir belinya di Cafe atau Restoran.


"Ini bukan tempatnya, Nona?" tanya Indra.


Wulan yang sedari tadi menatap jendela mobil, Netranya sudah berbinar-binar walau hanya melihat gerobaknya saja.


"Iya, betul Pak."


Wanita itu segera membuka pintu mobil namun lengannya pegang oleh Rio, hingga pintu itu kembali tertutup.


"Jangan beli kebab disini. Belinya di Cafe atau di Restoran saja!"


Wulan menoleh. "Kenapa memangnya?"


"Lihat saja tempatnya." Rio menunjuk pedagang itu dari dalam mobil. "Itu pasti tidak bersih, nanti perutmu sakit."


Wulan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, Mas. Itu bersih kok, aku biasa beli disana."


"Tidak! Pokoknya jangan!"


"Tapi, Mas ...."


"Indra! Kita cari Restoran dan Cafe yang ada penjual kebabnya!" perintah Rio pada sang sopir.


"Baik, Pak."


"Dih, Mas! Aku mau kebab yang itu saja!" rengek Wulan seraya menunjuk-nunjuk jendela. Mobil Rio sudah melaju meninggalkan gerobak kebab itu, rasanya begitu sedih, kesal tercampur jadi satu. Wulan sudah membayangkan rasa dan nikmatnya makan kebab itu, tapi sekarang Rio menghancurkannya begitu saja.


"Kau ini! Tidak pernah nurut apa kata suami! Aku kesal padamu, Wulan!" geram Rio.


Wulan terdiam dan memalingkan wajahnya kearah jendela. Ia menyeka air mata yang baru saja mengalir dan mengusap-usap perutnya yang keroncongan.


'Aku pengen kebab yang disana, kenapa Mas Rio melarangku? Kamu jahat padaku, Mas' gerutu Wulan.


'Aku suka kau manja, tapi kalau kau keras kepala dan susah diatur, aku juga kesal, Wulan' gerutu Rio.


^^^Kata: 1094^^^

__ADS_1


__ADS_2