Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 60. Susun rencana


__ADS_3

"Memang si Haris itu tidak punya istri?" tanya Reymond.


"Dari informasi yang saya dapat, dia seorang duda, Pak."


Reymond terdiam sejenak, mencari beberapa ide supaya dia bisa menculik Siska dari genggaman Haris.


Aku tidak mengenal Haris dan belum pernah menjalin kerjasama dengan perusahaanya, tapi ada kemungkinan kalau Om Andra mengenalnya, kan? Rekan bisnis Om Andra jauh lebih banyak dariku. Baik aku ataupun dia, kita sama-sama dibidang property. Kalau dia kenal dengan Om Andra, itu bisa jadi dia diundang dan datang pada acara pernikahannya.


Batin Reymond.


"Oke kita susun rencana saja dulu, Hersa. Ada kemungkinan Haris mengenal dengan Om Andra, jadi yang sekarang kau lakukan adalah ....," Reymond memberitahukan semua rencana selanjutnya pada Hersa.


***


Mobil Harun sudah terparkir didepan rumah Antoni, tapi terlihat rumah itu sepi tidak ada orang. Maklum saja, dua orang penghuninya sama-sama pergi bekerja.


Harun keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Indah. "Terima kasih, Pak," ucap Indah.


"Sama-sama, Nona."


Tak lama ada mobil berwarna putih terparkir didepan halaman rumah Antoni, dibelakang mobil hitam milik Harun.


Pria itu keluar dari mobilnya dan berjalan menghampiri Indah.


"Pak Steven?!" Indah kaget beserta binggung, kenapa Steven bisa ada disini? Karena dia tidak pernah tahu rumah Antoni dan mengenalnya pun, tidak.


"Iya, Indah. Ini rumah siapa?" tanya Steven seraya menggerakkan kepala, melihat pada rumah didepan matanya.


"Ini rumah Papah Antoni, Pak. Papah tiriku," jawab Indah.


Lengan Steven terulur dan mengenggam tangan Indah dengan lembut. "Oya, Indah. Aku turut berduka cita atas meninggalnya Almarhumah Tante Sarah." Dia memberikan ucapan bela sungkawa.


Indah mengangguk dan tersenyum. "Iya terima kasih, Pak. Ngomong-ngomong kok Bapak bisa ada disini?" tanya Indah.


Sementara itu Harun masih berada disamping Indah, matanya terasa tak nyaman melihat Steven mengenggam tangan Indah. Tapi dia tak berani untuk menepisnya, takut mengira sikapnya nanti tidak sopan.


"Iya, tadi kata Pak Mawan kamu pergi ke apartemen Maya. Jadi aku kesana. Tapi, aku tidak sengaja lihat kamu keluar dari apartemen, maaf juga, aku ikuti kamu sampai kesini," tutur Steven.


Indah mengerutkan alis matanya, "Tapi kok Bapak bisa tahu apartemen Maya? Memang Bapak mengenalnya?"


Yang dia tahu Steven hanya bertemu sekali dengan Maya, pada saat dia diwawancarai.


Steven tersenyum. "Aku mengenalnya, dia pernah melamar kerja di kantorku. Dan apartemen yang Maya tinggali sekarang adalah milikku, dia menyewa."


Indah mengangguk-ngangguk dan melepaskan genggaman tangan Steven.

__ADS_1


"Lalu, Bapak memangnya ada perlu denganku?"


"Iya, aku ingin mengobrol denganmu," jawab Steven cepat.


"Yasudah mari duduk dulu, Pak. Papah Antoni juga sedang menuju kesini."


Indah menyuruhnya duduk di teras depan rumahnya, dia tidak mau mengajak Steven masuk kedalam. Karena tidak ada siapa-siapa di rumah, tidak mau sesuatu terjadi padanya.


Steven sudah duduk dan Indah menurunkan gagang pintu, ingin membukanya dan masuk. Tapi terhenti kala melihat Harun sedari tadi berdiri disebelah mobilnya dan diam tanpa kata.


"Pak Harun," panggil Indah.


Harun langsung menghampirinya, "Ada apa, Nona?"


"Bapak masih ada urusan denganku? Kenapa tidak langsung pulang?" tanya Indah.


"Saya memangnya tidak boleh mampir sebentar disini?" tanya Harun malu-malu, padahal dia hanya beralasan karena penasaran dengan obrolan yang akan Steven bahas.


Indah tersenyum. "Oh, tentu boleh. Bapak duduk saja di kursi, aku akan buatkan minum."


Melihat Indah sudah masuk kedalam, Harun langsung mendudukkan bokongnya disebelah Steven. Kursi teras didepan juga berjumlah empat buah, dua-dua saling berhadapan.


"Kau siapanya Indah?" tanya Steven, matanya masih menatap kedepan gerbang besi.


"Bukannya suami Indah sudah meninggal?" tanya Steven.


Belum sempat dijawab oleh Harun, Indah keluar sambil membawa nampan berisi dua cangkir kopi hitam dan segelas susu untuknya sendiri. Dia meletakkan diatas meja.


"Maaf, hanya ada kopi hitam di rumah Papah, Pak."


"Tidak masalah." Mereka berdua berucap bersamaan dan melayangkan pandangan, tatapan Steven begitu sinis. Dia tidak suka melihat keberadaan Harun disini, seperti merasa terganggu.


Indah duduk didepan Seven dan meletakkan nampan itu diatas pahanya.


"Jadi, Bapak ada perlu apa kesini?" tanya Indah.


Steven melirikkan matanya kearah Harun yang terdiam. "Aku sebenarnya ingin mengobrol berdua denganmu," pinta Steven.


"Memangnya kenapa? Apa rahasia?" tanya Indah.


"Tidak sih," keluh Steven.


Aku tidak mau pulang dulu, aku harus dengar apa yang Pak Steven ingin bicarakan pada Nona Indah.


Batin Harun.

__ADS_1


"Yasudah bicara saja, Pak. Tidak apa ada Pak Harun juga. Aku mengenalnya." Indah seperti mengerti maksud dari keberadaan Harun disini.


Steven mengambil kotak perhiasan dalam bentuk hati, berukuran kecil pada saku jasnya, dia membuka dan memperlihatkan pada Indah.


"Indah. Apa kau mau jadi istriku?" tanya Steven penuh harap, tangannya mengambil cincin itu. Tubuhnya membungkuk untuk sampai ke jari jemari Indah, jari manisnya juga tidak memakai cincin.


Indah menggeser tangannya seakan menolak untuk dipakaikan cincin. "Maafkan aku, Pak. Tapi aku tidak bisa," tolak Indah dengan nada lembut.


"Kenapa? Indah .... Sebenarnya sejak dulu aku suka padamu. Tapi aku tahu, saat itu kamu masih jadi istri orang. Tapi berbeda dengan sekarang, aku berjanji padamu. Aku akan membahagiakan kamu dan Bayu, aku juga sangat menyayanginya. Kau mau 'kan menikah denganku?"


Indah menatap dalam bola mata Steven. Terlihat begitu tulus dan penuh harapan, tapi tetap saja dia tidak mau menikah dengannya. Karena masih ada suami yang sudah jelas keberadaanya.


"Maafkan aku, Pak. Aku sudah punya pacar, aku juga akan menikah dengannya," ucap Indah berbohong.


Deg.....


"Pacar? Siapa dia?"


"Mas Reymond namanya, Bapak pria yang baik. Tapi maaf, aku tidak bisa menerima lamaran dari Bapak. Karena aku mencintai orang lain," tutur Indah sambil tersenyum.


Reymond? Siapa dia? Aku baru dengar namanya.


Batin Steven.


Steven membenarkan lagi posisi duduknya dan menaruh cincin itu didalam kotak merah.


"Tapi aku dengar dari Pak Mawan. Kamu dijodohkan dengan Pak Rio, adiknya Pak Rendi."


"Memang benar. Tapi aku tidak mau, Pak. Aku sudah mencintai orang lain," jelas Indah.


Steven mengenggam punggung tangan Indah. "Apa kau yakin Indah?" tanya Steven memastikan.


Indah mengangguk. "Iya aku yakin, Pak."


Steven menghela nafas panjang dan mencoba menerima penolakan dari Indah, walaupun dia sebetulnya masih sangat berharap menjadikan Indah istrinya.


Dia bangun dari duduknya.


"Yasudah, aku menerima keputusanmu, Indah. Tapi kalau misalkan kau berubah pikiran, kau bisa hubungi aku. Aku akan menantimu sebelum kau menikah lagi," ucap Steven seraya mengantongi kotak cincin didalam saku jas.


Indah tidak menjawab ucapan darinya, hanya mengangguk dan tersenyum saja.


"Aku permisi kalau begitu," ucapnya pamit dibarengi langkah kaki menuju mobilnya.


"Hati-hati, Pak," sahut Indah.

__ADS_1


__ADS_2