
Warning!!
Kawasan dewasa ... boleh di skip jika tidak suka.
****
Tangan Rizky mengusap kasar wajah wanita mesum didepannya.
"Dasar! Pikiran lu hanya burung saja! Hanya burung gue yang besar! Ayok bantu gue anterin dia pulang!"
"Iya."
Rizky menghampiri Rio lagi dan mengangkat tubuhnya supaya bangun. Ia meletakkan lengan Rio diatas bahunya, kemudian mengajak untuk melangkah keluar dari Bar.
"Hahahaha ... lu tau, Mas. Gue blu bre tidak ...," Rio sudah mengoceh tidak jelas. Kalimatnya sudah tidak mampu di mengerti.
Ish ... nggak Kakaknya nggak Adiknya, mereka berdua merepotkan!
Gerutu Rizky.
Rizky menopang tubuh Rio sampai ke parkiran. Namun baru saja hendak membuka pintu belakang mobil, tiba-tiba Rio memuntahkan isi dalam perut pada jas yang Rizky kenakan.
"Oek ... Oek ... Oek."
"Bodoh!" pekik Rizky sambil menoyor kepala Rio sampai dia tersungkur jatuh dibawah.
Bruk........
"Rizky, apa yang kamu lakukan? Kasihan dia." Anna sudah berjongkok untuk membantu Rio bangun.
"Kasihan-kasihan! Jas gue kotor. Mana bau!" dengkusnya kesal.
Rizky langsung membuka jas yang ia kenakan dan dibuang begitu saja.
"Lu yang bawa mobil deh, biar gue yang pegangi Rio," ucap Rizky seraya memberikan kunci mobil pada Anna.
"Kok aku?! Biar aku dibelakang saja bersama dengannya, aku ingin melihat bu-"
"Anna!" sergah Rizky sambil melotot.
"Iya ... iya, galak amat!"
Burung-burung aja terus. Dasar jal*ng!
Gerutu Rizky.
Anna segera duduk di kursi depan untuk menyetir mobil, sedangkan Rizky dan Rio duduk di kursi belakang. Rio sudah menyenderkan punggungnya.
"Indah ... kenapa ... lu ada didalam ... otak gue terus!" celoteh Rio sambil memukul-mukul kepala.
Rizky melihat tingkah Rio sambil geleng-geleng kepala.
Parah bener, Kakak sama Adik mencintai orang yang sama. Kayak udah nggak ada stok cewek aja di dunia.
Batin Rizky.
"Indah ... Indah ... Indah ... Indah," gumamnya, hampir dalam perjalanan itu Rio sibuk mengoceh nama Indah.
***
Sampainya mereka di rumah Rio, Rizky langsung merangkul tubuh pria yang kini mabuk berat itu, berjalan menuju pintu utama.
Anna memencet tombol bel diatas pintu.
Ting ... Tong.
Ting ... Tong.
Ceklek......
Mata wanita yang baru saja membuka pintu itu terbelalak kaget, ia melihat kondisi Rio yang sudah tidak karuan.
__ADS_1
"Mas Rio, kamu kenapa?" tanya Wulan sambil memegangi lengan Rio.
Rio masih tidak sadarkan diri. Kini Wulan menatap wajah Rizky dan Anna bergantian.
"Lu istrinya Rio?" tebak Rizky.
"Iya, Pak. Bapak siapa dan kenapa bisa bersama Mas Rio?" tanya Wulan kebingungan.
"Apa gue boleh masuk dan anterin Rio sampai ke kamar? Nanti gue ceritain."
"Boleh-boleh, silahkan Pak." Wulan melebarkan pintu untuk Rizky dan Anna masuk, lalu menutupnya kembali.
Kini mereka sudah menaiki anak tangga, Wulan mengarahkan kamar Rio pada Rizky. Perlahan tubuh itu sudah Rizky lempar diatas kasur.
"Ah!" desis Rio pelan. Dia hanya membolak-balik tubuhnya diatas kasur dengan mata terpejam.
Rizky, Anna dan Wulan berdiri sambil melihat Rio.
"Nama lu siapa?" tanya Rizky.
"Wulan, Pak."
"Gue Rizky temannya Reymond, tadi gue nggak sengaja ketemu suami lu di Bar. Karena dia mabuk berat ... jadi gue mengantarnya pulang," jelas Rizky.
Teman Pak Reymond? Oh iya, saat aku menikah dia juga datang.
Batin Wulan.
"Terima kasih, Pak," sahut Wulan sedikit membungkuk.
Anna memperhatikan Wulan dari ujung kaki ke ujung kepala, entah apa yang dia pikirkan saat ini.
"Apa gue boleh menginap disini?" tanya Rizky.
"Boleh, Pak. Silahkan."
Anna melihat kearah Rizky. "Kok menginap, sih? Katanya mau bersenang-senang." Bibirnya sudah mengerucut.
"Iya, kita bersenang-senang disini saja. Lagian sudah malam. Nanggung kalau balik lagi ke Bar."
"Mari aku antar ke kamar tamu, Pak."
Wulan mengantarkan Rizky dan Anna pada kamar yang kosong, dekat kamar Clara.
"Oya Wulan. Nanti ajak Rio ke kamar mandi, suruh dia berendam air dingin pada bathtub, biar sedikit meredakan mabuknya," tutur Rizky.
"Iya, Pak. Yasudah ... selamat malam. Aku permisi," ucap Wulan dengan sopan, kakinya melangkah pergi dan masuk lagi kedalam kamar Rio.
Rizky langsung menutup pintu dan melancarkan permainan panasnya dengan Anna.
Sedangkan Wulan sudah menghampiri Rio yang masih berbaring dengan telentang.
"Panas!" pekik Rio dengan lantang.
Tadi Pak Rizky bilang Mas Rio suruh berendam? Apa aku sekalian lepaskan seluruh pakaiannya juga?
Batin Wulan.
"Panas!"
Dengan ragu-ragu Wulan mendekat dan melepaskan seluruh kancing kemeja yang Rio kenakan.
"Sial! Benar-benar sial!" Rio masih mengoceh tidak jelas.
Kini tangan Wulan sudah mendarat pada gesper yang Rio kenakan, menariknya untuk terlepas. Ia juga melepaskan kancing dan resleting celana bahan, tapi tiba-tiba lengannya ditarik paksa oleh pria itu hingga tubuhnya tertimpa diatas.
Brukk......
"Ah!" pekik Wulan dengan kaget.
Rio langsung membalik tubuhnya dan menindih tubuh Wulan, perlahan ia mencelikkan matanya sedikit dan menatap wajah Wulan dibawah sana.
__ADS_1
Ia menarik senyum. "Kamu cantik!"
Deg.....
Jantung Wulan langsung berdegup sangat kencang, matanya sudah melotot.
Cantik?! Apa barusan dia memujiku?
Batin Wulan dengan pipi yang bersemu merah.
Rio segera memegang dagu wanita itu dan memandunya untuk menempel pada bibirnya.
Cup......
Mata Wulan terbelalak kaget.
Dia ... dia menciumku lagi?! Tapi mulutnya bau alkohol.
Batin Wulan.
Rio kembali memejamkan mata sambil memagut bibir atas dan bibir bawah Wulan secara bergantian. Ingin menghindar rasanya tidak bisa, Wulan malah ikut terhanyut dalam ciuman itu.
Rio makin dalam menciumnya dan kini menghisap lidah wanita itu. Kedua tangannya menerobos masuk kedalam dress untuk bisa meremas dua gunung kembar itu.
"Eemmm ...," gumam mereka berdua.
Apa dia ingin menyentuhku lagi?
Batin Wulan.
Rio melepaskan pelukan, dengan cepat ia mencopoti celana bahan dan CD. Lalu melemparkan ke lantai.
Rio mengelus-elus paha putih milik Wulan. Perlahan tangannya merogoh sesuatu yang masih tertutup dari balik kain renda-renda. Jari tengahnya menekan untuk masuk kedalam.
"Ah ... Mas, apa yang-"
Tangannya mempercepat gerakan maju mundur dan senyuman menawan menatap wajah Wulan.
Kini wanita itu ikut terbuai dan merasa sentuhan tangan Rio, membuatnya ingin mend*sah. Tapi mulutnya segera ia tutup dengan kedua tangan.
Rio menarik CD dan melucuti semua pakaian yang Wulan kenakan. Mulutnya langsung mengisap area yang sudah basah itu.
"Emmm ...."
Wulan masih sibuk menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara. Tapi sentuhan lidah dan mulut Rio begitu terasa, hingga tubuhnya menggelinjang tak karuan.
Katanya dia tidak tertarik padaku? Tapi apa yang dia lakukan sekarang? Kenapa dia melakukan itu dibawah sana.
Batin Wulan, seluruh tubuhnya sudah basah terkena keringat.
Setelah cukup puas, Rio segera membenarkan posisi dan mengangkat tubuh Wulan untuk menungg*ng dibelakangnya.
Junior yang sudah tegak berdiri itu langsung ia usap-usap dan menekannya pada milik Wulan.
"Eemmmm ...," gumam Wulan sambil melotot.
"Aaahhh ...," desah Rio.
^^^Kata: 1045^^^
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Instagram : @rossy_dildara