
"Saya juga dengar kalau pak Andra sedang di tipu dengan sekretarisnya, menurut saya juga wajar Pak. Karena dia terlalu sibuk dengan wanita-wanitanya, itu juga tidak bagus untuk perusahaannya, bisa-bisa dia bangkrut." Kata Dion dengan jujur.
"Aku juga mikir ke situ. Kenapa bisa sampai di tipu? Apa Lisa itu menggodanya?" tanya Rendi menanyakan pendapat dari asistennya.
"Mau Lisa ataupun pak Andra mereka sama saja Pak,"
Rendi tertawa kecil. "Ah memang Om Andra ini terlalu berambisi pada wanita. Apa lagi wanita cantik. Jadi dia mudah tertipu." Kata Rendi sambil menggelengkan kepalanya.
"Ehem... Bukannya Bapak juga dulu seperti itu." Kata Dion menyindir.
Dahi Rendi langsung mengerut. "Apa maksudmu?"
"Dulu kan Bapak sempat tergoda oleh Siska, apa Bapak lupa?" tanya Dion dengan senyum meledeknya.
"Aish... Kamu ini masih ingat saja." Ucapnya dengan malas.
"Itu kan belum lama Pak, kejadian dulu di Bar saja, saya masih mengingatnya kok."
Rendi memainkan jari jemarinya di atas meja. "Itu kejadian buruk. Oya mengenai itu, katanya aku menabrak motor ya?" tanya Rendi, yang baru mengingatnya, maklum dulu hati dan pikirannya tergoncang, depresi habis-habisan.
"Bapak kenapa baru nanya sekarang, itu kejadian sudah lama Pak."
"Tapi bener nggak? Aku kan dulu sangat frustasi Dion. Jadi wajarlah." Kata Rendi dengan santai
"Iya itu benar Pak, motornya sampai rusak parah. Tertimpa di bawah mobil."
Rendi manggut-manggut. "Ah pasti itu, mobilku saja rusak di bagian depannya kan? Apa lagi nasib motornya, tapi kamu sudah kasih ganti rugi kan?" Semenjak peristiwa itu Rendi sudah menganti mobilnya yang baru.
"Sudah Pak, saya meminta tolong pada Pak Andra dan mengirimi sejumlah uang untuk biaya ganti rugi."
"Ah syukurlah, kamu memang bisa di andalkan." Ucapnya menepuk pundak asistennya merasa bangga, "Om Andra juga baik sudah menolongku."
Setelah beberapa lama mereka berbincang-bincang mereka memutuskan untuk pulang, tapi tidak sengaja Rendi melihat Rio sedang duduk di cafe yang sama dengannya, bersama dua orang laki-laki sebaya Rio.
"Dion tunggu dulu." Ucap Rendi menghentikan langkah kaki Dion dan dirinya.
"Iya kenapa Pak?"
Ngapain Rio ada di sini, memangnya dia tidak kuliah?
Tanyanya dalam hati, sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
"Pak." Panggil Dion lagi.
"Kamu pulang saja dulu, tapi langsung ke kantor papah ya. Minta ke staffnya untuk carikan sekretaris baru yang sudah berpengalaman. Kamu juga bantu cari, aku butuh besok soalnya," perintah Rendi.
"Baik Pak." Sahut Dion menurut, dan melangkah.
__ADS_1
"Eh tunggu dulu." Panggilnya lagi.
Dion menghampiri Rendi kembali. "Iya Pak,"
"Sini kunci mobil kamu, kamu pergi naik taksi saja." Pinta Rendi, Dion langsung menyerahkan kunci mobilnya, dan berlalu pergi.
🚶🚶🚶
Rendi berjalan menghampiri Rio. "Rio..." Panggilnya.
Rio langsung menoleh kearahnya, "Eh... Elu Kak... Ngapain lu di sini?" tanya Rio dengan nada terbata-bata.
"Harusnya gue yang nanya, lu ngapain di sini. Emang lu nggak kuliah?" tanya Rendi sambil duduk di samping Rio.
"Ini gue lagi ada urusan sama temen gue." Kata Rio, dua orang temannya hanya manggut-manggut.
"Gue tanyanya, emang lu nggak kuliah?" Rendi mengulang pertanyaannya lagi.
"Iya gue hari ini izin nggak kuliah dulu, gue ada urusan." Sahut Rio.
"Lu belain bolos kuliah cuma demi ketemu sama mereka di cafe? Alasan lu absurd banget." Kata Rendi sambil menggelengkan kepalanya, "Jangan mentang-mentang kampus punya keluarga sendiri lu jadi seenaknya gitu, gue bisa kok bilang ke Dekan suruh ngeluarin lu." Ucap Rendi sambil marah-marah.
"Udah deh Kak, gue juga nggak sering bolos kok. Baru hari ini aja." Sahutnya berkelit. "Mending lu pulang sana, balik ke kantor. Jangan mentang-mentang kantor punya sendiri lu bisa kerja seenaknya," timpal Rio membalikkan perkataan kepada Rendi.
Rendi langsung berdiri. "Tambah songgong ya itu mulut." Pekiknya kesal. Tangan Rendi dengan cepat menampol bibir Rio.
"Aaahhh." Pekiknya, sambil memegangi bibirnya yang kini berdarah sedikit.
Manager cafe datang menghampiri mereka berdua yang terdengar sangat gaduh. "Mas-mas tolong jangan berantem di cafe ini. Lebih baik kalian berdua pergi sebelum saya panggil security!" Ancam pria itu.
Rendi menghela nafasnya dengan kasar. "Rio sekali lagi lu ngomong kurang ajar, gue bakal robet mulut lu." Gertak Rendi. Rio hanya terdiam mulutnya bergetar seperti ingin berkata kasar lagi tapi dia menahannya.
Rendi, Rio dan dua orang temannya, pergi dari cafe itu.
🌺🌺🌺
Seperti biasa, pulang dari kampus Indah langsung di jemput oleh sopirnya, di tengah perjalanan Rendi menelepon.
"Halo Indah." Kata Rendi dari balik telepon.
"Ya Mas." Jawabnya.
"Kamu sudah pulang?"
"Ini aku di jalan."
"Oya nanti malam aku mau ajak kamu ke acara temanku, kamu...."
__ADS_1
Ckittt....
Sopir mengerem mendadak karena ada mobil dari belakang menyelip ke depan untuk menghadang mereka, sampai ponsel Indah jatuh di kolong kursi.
BRAKK....
"Pak ada apa ini?" tanya Indah sambil mencari-cari ponselnya di bawah kursi, tapi tidak berhasil ketemu.
"Indah ada apa?" tanya Rendi yang masih tersambung teleponnya.
Tak lama tiga orang pria berbadan kekar dan berwajah sangar membuka pintu mobil, sontak saja. Indah dan sopir itu terkejut. "Bapak siapa?" tanya Indah.
Tanpa jawaban dua pria itu menarik paksa Indah untuk keluar dari mobil. "Bapak mau bawa aku kemana?" tanya Indah lagi. Syal yang dia pakai terlepas dari lehernya.
"Indah kamu kenapa? Ada apa?" tanya Rendi mulai panik, tak lama sambungan teleponnya terputus. Rendi langsung buru-buru mengambil kunci mobil dan berlari ke parkiran.
"Pak Bapak mau kemana? 30 menit lagi kita ada meeting." Ucap Melly yang berada di parkiran.
"Kamu urus dulu sendiri, saya ada urusan." Sahutnya kemudian masuk ke dalam mobil, dan menancap gas.
Salah satu pria itu menarik tas Indah dan membuangnya di jalan, Indah di masukkan kedalam mobil hitam. yang menghadang dirinya di depan tadi. "Lepasin aku...." Teriak Indah.
"Pak jangan bawa dia." Ucap sang sopir menghalangi ketiga pria itu, yang sudah masuk ke dalam mobil.
Salah satu pria kekar Itu keluar dan
Buggghhh...
Dengan sekali tonjokkan di bagian perut sopir itu terpental jauh.
"Aakkkhh..." Rintihnya kesakitan.
"Lu jangan ikut campur!" Ancam pria itu kepada sang sopir yang sudah tersungkur di jalan. "Ini bukan urusan lu."
Buggghhh.....
Pria itu kembali menonjok di bagian wajah, yang membuat sopir tak berdaya itu jatuh pingsan.
Pria itu dan temannya berlalu pergi mengendarai mobil dengan kecepatan penuh.
"Lepaskan aku!" Teriak Indah.
"Kalian mau apa? Kalau kalian butuh uang, kalian bisa ambil di tasku, di sana ada ponsel dan atm. Tapi kenapa tadi kalian membuangnya," pekiknya berontak namun kedua lengannya masih di himpit kedua pria itu kanan kiri, dan pria yang satunya menyetir.
...🌸🌸🌸🌸🌸...
Note: Beri dukungan yuk. Dengan cara like, vote, dan gift seikhlasnya ya ❤️
__ADS_1
Jangan lupa klik tombol favorit juga, soalnya update setiap hari. Thanks All.....