
"Sebentar ya, Pak. Saya cari di buku ...."
Rio terdiam dan menunggu jawaban dari balik telepon. Sekitar beberapa detik, wanita itu kembali berbicara.
"Pemesan atas nama Rio Pratama, Pak."
"Apa kau bilang? Aku Rio Pratama! Aku tidak memesan bunga itu!" bantah Rio tak terima.
"Saya tidak tau, tapi disini namanya Rio Pratama, Pak."
"Apa kau ingat wajah orang yang memesannya? Beritahu aku."
"Tadi siang banyak sekali pengunjung, saya tidak terlalu ingat."
Rio terdiam sejenak, ia memikirkan bagaimana caranya dapat mengetahui siapa orang itu.
"Dia bayar pakai apa? Kalau pake kartu debit, bisa periksa namanya? Aku ingin tau."
"Baik, tunggu sebentar, Pak."
Rio lagi-lagi menunggu wanita yang saat ini tengah mencarikan informasi untuknya. Selang beberapa menit, wanita itu berbicara lagi.
"Dia bayar cash, Pak. Disini tidak ada bukti pembayaran lewat kartu debit."
Niat sekali orang ini, mengaku-ngaku sebagai aku. Siapa sebenarnya? Kurang ajar sekali.
"Apa Bapak bisa tunggu sebentar?" tanya wanita itu lagi.
"Maksud Mbak bagaimana?"
"Saya tanya para karyawan saya dulu, siapa tau ada yang ingat. Nanti saya telepon lagi."
"Oke." Rio mematikan sambungan telepon. Ia merasa pelukan Wulan sudah meregang, wanita itu begitu anteng dengan kepala yang menyandar pada dada suaminya.
"Wulan ...." Rio menarik tubuh Wulan, ternyata wanita itu tengah tertidur. "Malah tidur," keluhnya.
Rio mengangkat tubuh Wulan, merebahkannya dengan perlahan di kasur. Ia juga menarik selimut sampai diatas dada istrinya.
"Semenjak hamil, kau gampang sekali tertidur Wulan. Tapi kalau malam-malam suka terbangun." Tangan Rio membelai pipi istrinya dan mengecupnya pelan.
Cup~
"Maaf, kadang aku sering membuatmu takut."
__ADS_1
Tak lama ponsel Rio kembali berdering, panggilan dari pemilik toko bunga tadi.
"Halo, bagaimana Mbak?" tanya Rio.
"Saya sudah tanya karyawan saya, silahkan Bapak bicara dengannya." Wanita itu seperti sedang menyerahkan ponselnya pada orang lain. Dan benar saja, kali ini terdengar suara pria.
"Halo, Pak."
"Ya, sebutkan ciri-cirinya," titah Rio.
"Pria berpakaian rapih, memakai setelan jas seperti pekerjaan kantoran. Dia juga seperti orang kaya, Pak."
"Usianya sekitar berapa?"
"Sudah berumur, ya mungkin sekitar 50 tahunan lebih."
Deg!
Rio mendengus kesal, ia tau betul siapa orang yang mendekati dengan ciri-ciri yang pria itu sebutkan.
Ini pasti kerjaan Papah! Apa maksudnya coba? Awas, ya! Tunggu pembalasanku!
Bagi Rio, Mawan benar-benar sangat niat mengerjainya supaya Wulan dan dirinya berantem. Apalagi sampai membayar bunga itu dengan cash. Setau Rio, Mawan tidak pernah pegang duit cash. Paling hanya dua ratus atau lima ratus ribu.
Dilihat dari buket bunganya saja, harganya terbilang fantastis. Tidak akan dapat sejuta, dua juta. Rio memutuskan untuk membalas dendam pada ayah sambungnya itu. Karena kalau hanya bertanya tentang maksudnya, Mawan pasti akan beralasan.
"Cukup. Eemm ... saya mau pesan lima buket bunga yang seperti tadi siang. Dengan lima kartu ucapannya juga," ucap Rio.
"Baik, Pak. Besok bunganya saya akan kirim."
Setelah mematikan sambungan telepon, Rio kembali mengetik-ngetik layar ponselnya. Merencanakan sesuatu untuk Mawan.
"Huh, selesai! Tinggal tunggu reaksi Papah nanti," ucapnya sambil tersenyum licik.
Krukuk-krukuk.
Cacing pada perutnya mulai mendemo, Rio juga baru sadar kalau diatas meja dekat tempat tidur ada menu makan malam. Dua piring nasi, sepiring rendang dan sepiring perkedel. Persis makanan kesukaannya.
Baru melihat pemandangannya saja, makanan itu seperti enak dan menggugah selera. Tanpa berlama-lama, Rio mengambil sepiring nasi di tangannya. Menaruh rendang dan juga tiga perkedel diatasnya.
Baru satu suap dan lalu di kunyah, rasanya benar-benar enak. Bahkan lebih enak masakan Bibi pembantu di rumahnya.
"Wah! Enak sekali, siapa yang masak kira-kira? Ayah atau Wulan?" tanyanya pada diri sendiri.
__ADS_1
"Aku, Mas," jawab Wulan tiba-tiba yang mampu membuat Rio menoleh. Wanita itu menarik tubuhnya untuk duduk. "Mas Rio kok makannya sendirian?" tanyanya dengan lesu. Aslinya ia minta diajak makan bareng.
"Kau tadi bukannya tidur? Kok bangun?"
"Iya, aku lapar, Mas." Wulan memegangi perutnya, ia menatap makanan diatas piring Rio. Tapi pria itu malah memberikannya sepiring nasi yang belum tersentuh, menaruh beberapa lauknya juga diatas. Lalu, memberikan pada Wulan.
"Ini, kita bisa makan bareng."
Wulan menggelengkan kepalanya, ia ingin makan dari makanan yang berada di piring Rio. Tapi sepertinya, suaminya itu tidak mengerti.
"Kenapa tidak mau? Katanya lapar? Ini enak sekali, kamu pintar membuatnya."
"Aku ingin ...." Rasanya ragu untuk bicara, Wulan tidak enak meminta makanan yang tengah Rio makan.
Rio menaruh piring yang untuk Wulan diatas meja, ia kembali menyuapi dirinya sendiri. "Ingin apa? Kau tidak mau makan nasi? Mau apa? Nanti habis makan aku belikan."
"Aku ingin makan nasi, Mas."
"Tadi bilang tidak mau!" Rio kembali mengambilkan piring itu dan memberikan pada Wulan. Tapi lagi-lagi Wulan diam saja. "Ini ambil! Kenapa diam saja? Katanya mau makan nasi?" tanyanya kesal.
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Wulan, pria itu langsung menaruh piring itu diatas pahanya.
"Sudah makan Wulan, kenapa bengong saja?"
Aku ingin makan nasi dan lauk yang Mas Rio makan, tapi aku tidak enak mengatakannya.
Wulan kembali mengelus-elus perutnya sambil melihat Rio yang menyantap makanannya sampai habis. Dan satu sendokkan terakhir itu mulai mendarat pada mulut Rio, dengan cepat Wulan memegangi lengannya. Memberanikan diri untuk berkata, "Buat aku saja, Mas!"
"Apanya?" Rio mengerutkan kening.
"Ini, suapan terakhir Mas Rio, untukku saja." Wulan sudah menunjuk mulutnya yang menganga, seakan minta Rio menyuapinya. Rio langsung mendaratkan sendok itu kedalam mulut istrinya. Wulan mengunyahnya dengan penuh kebahagian dan mata yang berbinar-binar. Rio jadi heran padanya, padahal nasi dan lauk itu ada diatas paha. Tapi tidak disentuh sama sekali.
"Aku ke kamar mandi dulu, kau mau minum susu? Aku akan buatkan susu ibu hamil," tawar Rio.
Wulan mengangguk semangat. "Iya, Mas."
Melihat Rio sudah berdiri dan keluar dari kamar, Wulan ikut membuntut dibelakangnya sambil membawa sisa makanan tadi, menaruhnya didalam rak. Dan menaruh piring kotor diatas westapel, sekalian untuk dicuci.
"Lho ... kok kau malah mencuci piring? Memangnya sudah makan tadi?" tanya Rio yang baru saja keluar dari kamar mandi, menghampiri istrinya.
"Aku sudah kenyang, Mas." Wulan tersenyum dengan kebohongan.
"Kenyang? Apanya yang kenyang? Makan satu sendok dariku dibilang kenyang. Dasar! Bumil memang suka tidak jelas!" Rio meremas bokong istrinya dengan gemas, ia mengenggam rambut istrinya yang terurai panjang, mengalihkannya pada bahu sebelahnya. Kemudian, bibirnya mulai mengecupi tengkuk Wulan dan tiba-tiba nafs* di dadanya memuncak. Didalam celananya sudah menegang dan terasa sesak.
__ADS_1
"Eemm ... katanya Mas Rio mau buatkan susu untukku?" tanya Wulan ragu-ragu
^^^Kata: 1039^^^