
"Bu, nomornya tidak aktif. Apa Ibu salah memberikanku nomor?" tanya Rio.
"Tidak kok, Pak. Itu benar nomornya, mungkin ponsel Pak Wahyu lowbat," tebak Bu Lina.
Rio menghela nafas dan mengusap-usap wajahnya, ia kembali menelepon Wulan. Tapi kali ini nomornya juga ikutan tidak aktif.
"Apa-apaan ini! Menyebalkan!" pekiknya kesal.
Bu Lina sampai tersentak kaget. "Kenapa, Pak?"
"Tidak."
"Coba Bapak tanya pada memilik rumah kontrakan ini, siapa tau Pak Wahyu memberitahu dia pindah kemana," usul Bu Lina.
"Ibu tau rumahnya dimana?"
"Saya kasih tau alamatnya saja ya, Pak. Soalnya rumah dia lumayan jauh dari sini."
Rio menyerahkan ponselnya pada Bu Lina, supaya dia bisa mengetik alamat sang pemilik kontrakan.
"Nama pemiliknya siapa, Bu?"
"Pak Amir, Pak."
"Yasudah, aku permisi kalau begitu. Terima kasih, Bu."
"Sama-sama."
Rio berlalu pergi dan masuk kedalam mobil, Jojo menyetir mobilnya kembali.
"Nona Wulan dan Nona Clara tidak ada ya, Pak?" tanya Jojo.
"Kelihatannya?" Rio menyenderkan punggungnya dengan wajah keki.
"Sekarang kita kemana, Pak? Apa langsung ke kantor Bapak?"
"Kita ke jalan Xxx."
"Baik, Pak."
Rio kembali membuka ponselnya, ia mengirimi beberapa pesan pada Wulan.
💬
To: Wulan
09.01 AM
Wulan, kau dan Ayah pindah kemana? Kenapa tidak memberitahuku?
💬
To: Wulan
09.02 AM
Wulan, aku ingin bicara denganmu. Kenapa kau terus mengabaikanku?! Kau ini menyebalkan sekali!
Tiba-tiba perutnya kembali bergejolak, seperti hendak mengeluarkan sesuatu.
"Jojo berhentikan mobilnya cepat!"
Ckittt......
Jojo langsung mengeremkan mobilnya disisi jalan. Pria itu membuka pintu mobil dan berlari menuju saluran air, ia memuntahkan sarapan paginya.
__ADS_1
"Uueekk ... uueekk ... uueekk."
"Uueekk ... uueekk ... uueekk."
Melihat Rio muntah-muntah, Jojo ikut keluar dari pintu dengan tangan yang membawa secarik tissue dan botol air mineral.
"Bapak, apa Bapak baik-baik saja? Pakai ini Pak."
Rio mengambil apa yang Jojo berikan. Ia mengelap mulutnya dan menenggak botol air minum itu.
"Bapak mau minum obat?"
"Tidak, aku sudah minum obat tadi pagi."
"Apa lebih baik kita pulang saja, Pak? Saya antar."
"Kita ke alamat yang tadi dulu, Jo."
"Baik, Pak."
Kini mereka masuk lagi kedalam mobil. Jojo memutar badannya kebelakang, pada Rio.
"Bapak pakai minyak angin, oleskan pada perut Bapak. Supaya terasa lebih enak," ucapnya seraya menyerahkan botol minyak angin.
Rio mengambilnya dan menuruti ucapan Jojo. Ia menuangkan minyak angin pada telapak tangannya dan kini mengolesi seluruh perut. Ia juga sekalian mengolesi pada tengkuk dan dahi.
Apa jangan-jangan Wulan benar-benar hamil?! Lalu maksudnya aku yang ngidam begitu?! Aneh! Masa begitu?! Tidak masuk akal.
Batin Rio.
Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka sampai pada rumah besar dan luas. Namun masih lebih besar rumah keluarga Rio.
Ia langsung turun dari mobil dan berjalan menuju gerbang depan.
"Pak, apa benar ini rumah Pak Amir?" tanya Rio pada sang satpam.
"Saya menantunya Pak Wahyu Hidayat, dia mengontrak rumah di jalan Xxx. Apa betul itu milik beliau?" tanya Rio.
Satpam itu membuka gerbang dan menyuruh Rio untuk masuk kedalam.
"Masuk dulu, Mas. Saya akan panggilan Pak Amir."
"Iya, Pak." Rio duduk di kursi depan, pada teras rumah Pak Amir. Sedangkan satpam tadi masuk kedalam rumah.
Tak lama keluar seorang pria paruh baya dengan rambut yang sudah tertutup uban, ia memakai peci dan sarung.
"Pagi, Pak. Maaf saya menganggu," ucap Rio.
"Tidak apa. Oya ... Mas ini ada apa mencari saya?" Pak Amir ikut duduk pada kursi sebelah Rio.
"Begini Pak. Apa benar Bapak pemilik kontrakan yang di tempati Pak Wahyu Hidayat penjual bakso?
"Iya benar, saya memiliknya. Memang kenapa? Mas mau ngontrak disana?"
"Tidak, Pak. Saya hanya ingin tanya ... apa Bapak tau dia pindah kemana sekarang?"
"Saya tidak tau, dia hanya bilang ingin mencari rumah. Hanya itu saja."
Rio menghela nafas dengan gusar, ia memijat dahinya sendiri. Merasa pusing mencari Wulan yang belum ketemu.
Wulan. Kau kemana sebenarnya? Ayah juga kenapa pakai pindah, sih? Tidak tau menantumu pusing begini!
Gerutu Rio dalam hati.
"Mas ini siapanya Pak Wahyu memangnya?"
__ADS_1
"Menantunya."
"Oh menantu, kenapa tidak Mas coba telepon saja Pak Wahyunya. Tanyakan dia pindah kemana," usul Pak Amir.
Jawaban dari Pak Amir sungguh membuat Rio makin kesal. Kalau dia bisa menghubungi Wahyu dan Wulan, dia tidak mungkin sampai jauh-jauh bertanya padanya. Hanya itu kekesalan dalam hati Rio.
"Yasudah, kalau begitu saya permisi, Pak." Rio langsung bangun dari duduknya dan berlalu pergi meninggalkan rumah itu.
Kini Rio kembali masuk kedalam mobil.
"Bagaimana, Pak? Apa Bapak sudah tau Pak Wahyu pindah kemana?" tanya Jojo.
"Belum."
"Kenapa Bapak tidak pergi ke tempat Pak Wahyu mangkal saja, bukannya dia menjual bakso?" usul Jojo.
"Benar juga kau, Jo. Tapi aku tidak tau tempatnya dimana. Apa kau tau?"
"Apalagi saya, Pak. Wajahnya saja, saya tidak terlalu ingat," balas Jojo.
"Lalu buat apa kau mengusulkan itu padaku?! Bodoh sekali kau ini Jojo," dengkus Rio kesal.
"Maaf, Pak. Saya tidak tau. Lalu sekarang kita mau kemana?"
"Kau antarkan aku ke kantor saja. Aku banyak kerjaan disana."
"Baik, Pak." Jojo kembali menyetir mobil.
Rio terdiam sambil menyandarkan punggungnya pada kursi mobil.
Oh iya, Indah 'kan temannya Wulan. Siapa tau Wulan cerita padanya.
Batin Rio.
Rio segera menelepon Indah yang masih berada di rumah sakit.
"Halo Indah."
"Iya, Rio. Ada apa?"
"Aku pergi ke rumah Wulan. Tapi dia tidak ada di kontrakan Ayahnya dan mereka juga pindah. Tapi masalahnya aku tidak tau mereka pindah kemana ... apa kau tau Wulan dimana, Indah? Kamu temannya, kan?"
"Iya aku memang temannya. Tapi dia tidak cerita apa-apa padaku Rio. Saat dia pergi dari rumah saja, dia bilang ingin menginap di rumah sakit menemanimu. Kalau tau dia akan pergi, aku akan mencegahnya," jelas Indah.
"Yasudah tidak apa, terima kasih Indah."
Rio hendak mematikan sambungan telepon, namun Indah berkata, "Apa kau tidak mau coba ke tempat biasa Pak Wahyu jualan? Aku tau tempatnya Rio."
Mata Rio langsung berbinar, ia seperti mendapatkan petunjuk dari Indah. Walau itu juga belum pasti.
"Kau tau? Dimana?"
"Didekat sekolah SD, di jalan Xxx. Kau cari saja SDN 1 Jakarta. Dia mangkal disitu kata Clara."
"Baik, terima kasih Indah. Kau benar-benar seperti malaikat penolongku."
"Sama-sama. Tapi kalau sudah bertemu dengannya, aku harap kamu tidak menyakitinya lagi Rio."
"Iya, yasudah ... aku tutup teleponnya."
Setelah menutup sambungan telepon. Rio langsung menyuruh Jojo putar balik, mumpung mereka masih ada di jalan. Siapa tau kali ini Rio bisa bertemu dengan Wahyu dan akan bertemu kembali dengan Wulan.
Kalau sudah ketemu, siap-siap saja kau Wulan! Tunggu pembalasanku!
Ancam Rio dalam hati.
__ADS_1
^^^Kata: 1050^^^