Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 151. Kenapa dengan Rio?


__ADS_3

"Orang seperti Papah tidak akan ada berubahnya. Itu adalah sifat Papah dari dulu, suka menyakiti orang lain!" sungut Santi.


"Iya ... iya, Papah tau. Tapi kita tidak perlu bercerai, Mah. Kita sudah tua, dan Papah sangat mencintai Mamah. Papah tidak mau menjadi duda dua kali."


"Papah tidak akan menjadi duda dua kali!" tegasnya.


"Maksud Mamah? Kita tidak jadi bercerai?"


"Tetap jadi, tapi setelah Papah menikah lagi."


Deg!


Mawan melepaskan pelukannya. "Apa? Apa maksud Mamah? Papah menikah lagi?" Mawan menunjuk wajahnya sendiri, mimik wajahnya terlihat binggung.


"Iya, Papah menikah lagi dengan Mitha!"


"Mitha? Kok Mitha?"


"Iya, Papah harus tanggung jawab!"


"Papah tidak melakukan apa-apa, kenapa Papah harus tanggung jawab?"


"Mitha sudah tidak perawan, Pah."


"Tidak perawan? Lalu, apa hubungannya dengan Papah? Papah tidak melakukan apa-apa padanya, Mah."


"Bukan Papah! Tapi Mamah! Mamah yang membuat Mitha tidak perawan."


Netra Mawan membulat sempurna. "Kok bisa? Apa yang Mamah lakukan memangnya?"


"Mamah menusuknya dengan tongkat!"


Mawan kembali melotot. "Apa? Tapi kenapa Mamah lakukan itu? Papah dan Aji--"


"Papah mau menyalahkan Mamah? Hah?" sentak Santi. "Papah mau bilang Mamah ini wanita jahat begitu?"


Mawan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, Mamah wanita yang baik. Sangat sangat baik, tapi ... apa alasan Mamah? Apa karena rencana Papah dan Aji itu?" sebenarnya Mawan begitu tak percaya, bagaimana seorang Susanti bisa melakukan hal sekeji itu.


Santi membuang nafasnya dengan gusar, ia mulai menceritakan kejadian itu.


(Flashback On)

__ADS_1


"Tante Santi? Kok Tante Santi ada disini?" tanya Mitha saat melihat Santi berada didepan pintu. Santi sempat memencet bel dan Mitha langsung membukanya.


Wanita paruh baya itu menerobos masuk, bersama Irwan, Ali dan Aldi. Ia menggeser tubuh Mitha yang berada di ambang pintu.


Mitha mengenakan handuk kimono, tapi dibalik handuk itu ia sudah memakai lingerie seksi dari Aji.


Santi segera duduk dengan santai di sofa. "Sedang apa kau ada disini? Menunggu siapa?"


Mitha berjalan menuju tempat tidur ia duduk disana, berhadapan dengan Santi. "Aku menunggu Mas Rio."


"Apa kau bilang? Kau sebut anakku dengan kata 'Mas' apa itu pantas?!" Santi terlihat tidak terima, sebutan itu terdengar sangat mesra.


"Tante, sebentar lagi aku akan menjadi menantu Tante, aku akan menjadi istri kedua Mas Rio," ucapnya dengan percaya diri.


"Kau waras bicara seperti itu, hah?" Santi langsung berdiri, ia berjalan beberapa langkah untuk menghampiri wanita itu. Mitha terlihat begitu santai, sama sekali tidak ada rasa takut dan kecemasan.


"Aku waras Tante, memang itu kenyataannya. Sebentar lagi, Papih dan Om Mawan akan membawa Mas Rio, dia akan tidur denganku."


Deg!


Santi membulatkan netranya, ia langsung paham maksud arah pembicaraan Mitha kemana, sudah bisa dipastikan Aji dan Mawan merencanakan sesuatu.


"Apa kau bilang? Bercerai?" Santi sudah mencengkeram pipi Mitha dengan gemasnya. Namun wanita itu bukannya takut, ia justru tersenyum, merasa sangat percaya diri kalau rencananya akan berhasil.


"Iya, Mas Rio pasti tidak akan tahan melihat tubuhku. Kata Om Mawan, dia dulu menikahi istrinya setelah dia di perkosa. Dan sekarang, setelah aku di perkosa, Mas Rio tidak akan pernah melupakan tubuhku, dia juga akan menikahiku."


Santi melepaskan cengkramannya. Kini tangannya berayun dan dengan cepat ia kibaskan pada pipi kanan dan kiri Mitha, ia menamparnya dengan sekuat tenaga.


Plak!


Plak!


"Aaww!" jerit Mitha seraya mengelus kedua pipinya, ia merasa nyeri.


"Kurang ajar kau Mitha! kepedean sekali! Kau pikir anakku sebejat itu? Sampai dia memperkosa wanita lebih dari satu!" sentak Santi tak terima, emosinya sudah mulai memuncak.


"Aku tau, pasti Mas Rio memperkosa istrinya karena dia hilaf, aku juga tau Mas Rio tidak mungkin suka dengan istrinya. Jika dibanding denganku, istrinya tidak ada apa-apanya, dia itu jelek! Masih cantik dan seksian aku, aku ini seorang model Tante, jauh dari istrinya yang terlalu sederhana! Mas Rio pasti tergila-gila padaku setelah dia berhasil tidur denganku!"


"Lancang sekali mulutmu, ya?" Santi menoleh kearah Ali dan Aldi. "Pegang wanita sombong ini!" perintah Santi yang langsung dianggukan oleh mereka.


Ali dan Aldi segera memegangi kedua lengan dan kaki Mitha.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa aku dipegang begini? Apa ... apa yang mau Tante lakukan?" tanyanya dengan wajah cemas. Padahal, ia sedari tadi bersikap sangat tenang. Tapi sekarang ia merasa ketakutan.


Apa aku suruh mereka memperkosa Mitha saja? Biar mulut kurang ajarnya berhenti? Ah tidak-tidak, jangan bawa-bawa mereka.


Santi membisikkan sesuatu pada Irwan, memintanya untuk mencarikan tongkat didalam kamar Hotel itu, selang beberapa menit mencari, Irwan menemukannya. Lantas, ia segera memberikan pada Santi.


Dengan senyuman menyeringai, Santi menepuk-nepuk tongkat itu pada telapak tangannya. Perlahan ia mendekati Mitha. Wanita itu menjadi gugup dan sangat ketakutan, wajahnya sampai pucat pasih.


"Tan-tante, apa yang Tante mau lakukan?"


"Aku hanya ingin mengecek, seindah apa tubuhmu ini. Sampai kau berani menghina Wulan menantuku!" geram Santi seraya menyibakkan handuk kimono Mitha, ia melihat tubuh wanita itu nampak begitu seksi dengan pakaian kurang bahannya.


Dan terjadilah apa yang terjadi. Santi tidak ada niat melakukan hal itu, hanya saja ia sangat murka jika ada seorang yang menghina menantunya.


(Flashback Off)


"Tapi, Mah. Tetap saja Papah tidak perlu bertanggung jawab, itu bukan salah Papah," kilah Mawan.


"Oh, lalu Rio masuk rumah sakit salah siapa?" bentak Santi, emosinya makin menjadi-jadi. Dadanya terasa sangat sesak.


Mawan langsung tersungkur di lantai, ia lagi-lagi bersujud di kaki Santi, masih berusaha memohon ampun.


"Itu salah Papah. Papah mengakuinya, Mah. Tapi jangan minta Papah untuk menikahi Mitha. Papah tidak mau, Papah juga tidak mau bercerai dengan Mamah."


"Mamah capek! Capek, Pah! Capek berumah tangga dengan Papah! Papah sudah sering menyakiti Mamah!"


"Tapi Papah setia sama Mamah, kebiasaan buruk Papah di masa lalu tidak pernah Papah ulangi. Semenjak menikah dengan Mamah, Papah ini pria yang setia."


"Ya ... Papah memang setia, tapi Papah sering menyakiti anak-anak Mamah. Pertama Indah, Papah sampai hampir menghilangkan nyawa Indah gara-gara keegoisan Papah."


"Dan kedua Rendi. Mamah tau Papah benci dia karena menganggap Rendi adalah orang lain, tapi tidak sepantasnya Papah begitu kejam padanya. Papah sampai pernah memasukkannya kedalam penjara," lirih Santi, bendungan air mata pada kantung matanya kini lolos begitu saja, mengalir pada seluruh wajahnya.


"Sekarang Rio. Rio--" ucapan Santi terhenti kala mendengar suara deringan ponsel miliknya, segera ia merogoh kantong dress-nya. Lalu mengambil ponsel dan terlihat nama Wulan yang tertera pada layar. Tanpa menunggu waktu yang lama, Santi segera mengangkatnya.


"Halo."


"Mah ... Mas Rio, Mas Rio, Mah. Dia ...," lirih Wulan dengan suara bergetar. Santi mendengar isakan tangisnya, Wulan seperti tengah menangis si seberang sana.


"Rio, ke-kenapa dengan Rio?" tanya Santi gelagapan, ia memegangi jantungnya yang berdebar hebat.


Jangan lupa like 💕

__ADS_1


__ADS_2