
Hampir beberapa menit perdebatan antara ibu dan anak itu masih sangat sengit. Di sisi lain ibu Santi meminta Rendi meninggalkan Siska karena dia ingin putranya memulai hidupnya yang baru dengan Indah, namun sebaliknya dengan Rendi yang kekeh ingin bersama Siska perempuan satu-satunya yang dia cintai. Sampai akhirnya ibu Santi berkata.
"Kalau kamu nggak bisa tinggalin Siska jangan pernah anggap Mamah ibu kamu lagi." Spontan ibunya bicara seperti itu karena dia merasa sangat kesal.
"Apa maksud Mamah? Cuma gara-gara Indah Mamah sampai tidak mengakui aku anak Mamah lagi. Bahkan Mamah baru mengenalnya, Mamah juga nggak tau sifat Indah yang sebenarnya." Jawab Rendi menjelaskan.
"Ya memang Mamah baru mengenalnya, tapi Mamah tau dia anak yang baik Ren. Sudah cukup dulu papah yang sakittin Indah, sekarang Mamah nggak mau kamu juga menyakitinya. Apa salahnya kamu coba mencintai Indah." ucap ibu Santi dan dia langsung bangun dan berjalan ke luar ruangan Rendi.
Rendi duduk dan terdiam dia merenungkan atas ucapan yang ibunya lontarkan. Sebenarnya dia tidak pernah bisa menolak kata-kata ibunya itu karena dia sangat menyayanginya dan sekarang tak ada hal lain yang bisa dia lakukan selain meninggalkan Siska.
***
Sementara itu di Restoran
Indah yang sedang mengelap piring yang habis di cuci tiba-tiba dia dihampiri oleh bosnya dan berkata. "Indah ada yang cari kamu di depan."
Indah menyelesaikan pekerjaannya dan menghampiri seseorang yang tengah duduk sambil menyeruput segelas kopi hitam. Seseorang itu ternyata ayahnya.
"Ada apa ya Papah ke sini?" tanya Indah sembari duduk.
"Sayang Papah tadi habis dari kampusmu menanyai soal kuliah kamu. Apa kamu mau melanjutkan kuliah lagi? Nanti biayanya Papah yang tanggung." Ucap pak Hermawan menawarkan.
Namun Indah menolak dan beralasan. "Nggak usah Pah biar aku saja. Lagi pula aku sekarang kerja nggak enak kalau berhenti."
"Biar Papah yang ngomong sama bos kamu. Kamu mending berhenti kerja terus lanjut kuliah, emang Rendi nggak kasih kamu uang buat biaya hidup?" tanya ayahnya.
__ADS_1
"Terima kasih Pah. Tapi Papah nggak usah repot-repot bayarin biaya kuliah aku segala. Aku bisa urus semuanya sendiri." Indah menolak dengan tersenyum tipis di bibirnya.
Atas semua yang ayahnya lakukan kepada dia dan ibunya, Indah masih bisa memaafkan. Namun sekarang dia tidak akan pernah mau menerima apapun dari ayahnya dia bahkan menganggap ayahnya hanya sebagai mertuanya saja.
"Ya sudah kalau kamu nggak mau Papah nggak maksa, tapi kalau kamu ada apa-apa atau butuh apa-apa kamu ngomong saja sama Papah." Memegang tangan anaknya dan melanjutkan. "Dan juga masalah kemarin Papah mikirin mulu sebenarnya ada apa Ndah kok kamu nanyain Siska? Apa kamu ketemu dengannya?"
Apa Rio nggak cerita sama orangtuanya? Dalam hati Indah.
"Iya aku ketemu dia Pah."
"Indah tapi Papah bersumpah Papah nggak ada hubungan lagi sama wanita itu." Sambungnya lagi.
"Pah aku harus balik kerja lagi ya." Meninggalkan ayahnya, tak lama ayah Indah pulang.
Sepulang kerja Indah mampir di ke minimarket. Karena lokasinya lumayan jauh jadi dia menaiki ojek setelah sampai tepatnya di seberang jalan depan minimarket ada sebuah keributan antara 2 orang perempuan dan ternyata itu adalah ibu Santi dan Siska orang-orang menghampirinya dan memisahkan mereka.
Sebelumnya.
Sepulang dari kantor Rendi ibu Santi pulang melewati jalan itu dan dia tidak sengaja melihat Siska keluar dari minimarket dengan membawa beberapa kantong belanja. Siska menyeberang jalan dan saat itu pula ibu Santi meminta sopirnya untuk memberhentikan mobilnya karena dia ingin turun dan membuat perhitungan dengannya.
"Siska." Panggilnya yang turun dari mobil. Siska menoleh dan memberhentikan langkahnya lalu secara tiba-tiba ibu Siska mengangkat tangannya dan langsung 'Plaakkk' sebuah tamparan tepat mengenai pipi kanannya, "Dasar kamu perempuan jalang nggak tau malu." Ucap ibu Santi dengan lantangnya.
Siska syok dan langsung memegang pipinya yang terasa sangat sakit habis di tampar dan mengatakan. "Apa maksud Tante? Kenapa Tante tiba-tiba nampar aku. Aku punya salah apa?"
"Nggak usah sok suci kamu, sudah cukup dulu kamu selingkuhi Rendi dan sekarang kamu mengajaknya berselingkuh. Jangan hasut anak saya menjadi seperti kamu."
__ADS_1
Lalu ibu Santi mengambil beberapa uang di dalam tasnya dan langsung melemparkan kepada wajah Siska dan berkata. "Nih kamu butuh uang kan. Ambil ini dan pergi dari hidup Rendi." Siska terdiam membeku dan uang itupun berhamburan di bawah.
Orang-orang yang melihat mereka langsung memisahkannya dan saat itu Indah datang.
"Mamah." Panggil Indah dari jauh. Dia langsung menyeberang jalan dan menghampiri ibu mertuanya
Siska pun melihat kedatangan Indah yang menghampiri mereka berdua. Tanpa berbicara sepatah katapun dia langsung pergi membawa barang belanjaannya tanpa mengambil uang sepeserpun yang sudah berserakan di tanah. Dia memberhentikan taksi dan langsung menaikinya.
"Mamah kenapa Mah?" tanya Indah yang sudah berada di depan ibu Santi.
"Indah kamu di sini?" tanya mertuanya, melihat Indah datang orang-orang mulai pergi meninggalkan mereka berdua.
"Iya Mamah kenapa ribut di sini?"
"Apa tadi kamu lihat Mamah dan Siska?"
"Iya Mah." Indah mengajak mertuanya duduk di warung terdekat dan membelikannya air minum untuk mertuanya.
Ibu Santi langsung meminum satu botol kecil sampai habis terlihat ibu mertuanya sangat emosi dan Indah mencoba menenangkannya.
"Mamah sudah baik-baik aja sekarang? " tanya Indah sambil memegang tangan mertuanya dengan hangat. Melihat perlakuan Indah ibu mertuanya langsung memeluknya dan mengucapkan. "Indah maafkan Mamah. Mamah belum bisa mengajari Rendi untuk menjadi orang yang baik. "
Melepas pelukannya dan Indah menjawab. "Mamah nggak perlu ngomong kayak gitu. Ini bukan salah Mamah. "
Ibu Santi memegang tangan Indah dan melanjutkan. "Pertama papah yang menyakiti kamu sekarang Rendi. Mamah tahu sekarang pasti kamu sangat sakit hati tapi Mamah nggak mau kamu bercerai sama Rendi. Mamah sudah menganggap kamu seperti anak Mamah sendiri dan Mamah tidak mau berpisah dengan anak Mamah."
__ADS_1
Indah menggeleng-gelengkan kepalanya dan berucap. "Mamah tenang saja ya, itu nggak akan terjadi. " Indah tersenyum dengan manis. Mertuanya menyentuh pipi Indah dan bergumam. Kamu berhak bahagia sayang.