Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 35. Aku menyayangi Mamah Sarah


__ADS_3

"Opa ... Bunda napa bobo telus?" tanya Bayu ke arah Mawan yang sedang duduk di kursi kecil.


Mawan mengangkat tubuh Bayu dan memangkunya, "Bunda tidak apa-apa sayang. Bunda hanya mengantuk."


"Bayu mau bobo baleng Bunda, Opa."


Mawan membantu Bayu untuk berbaring bersama Indah di samping, Bayu juga sudah memeluk Bundanya itu.


"Vinno bagaimana, masih banyak orang yang mengaji di rumah kamu?" tanya Mawan.


"Iya Pak, di rumah juga ada Papah."


"Kalau kalian butuh apa-apa bilang saja, tapi untuk ke depannya, Indah biar tinggal bersama denganku," ucap Mawan.


"Baik Pak."


Terlihat Bayu juga ikut terlelap tidur, Mawan membaringkan tubuhnya di atas sofa dan menoleh menatap wajah Indah.


Dia masih mengingat ucapan Sarah sebelum meninggal, yang meminta Indah untuk menikah dengan Rio.


Dia sebetulnya juga sangat setuju, tapi balik lagi pada Indah. Dia bahkan masih belum sadarkan diri, setelah Indah sadar dan cukup tenang barulah dia membicarakan hal itu lagi pada anaknya.


Dia menunggu Indah dengan Vinno berdua di rumah sakit, sementara itu panggilan teleponnya terus saja berdering di dalam saku celana.


Merasa tak tahan karena berisik, Mawan bangun dan mengangkat teleponnya.


"Selamat malam Pak Hermawan, maaf menganggu waktu Bapak," ucap pria pada panggilan telepon.


"Ada apa?"


"Sebelumnya saya ingin mengucapkan turut berduka cita untuk Ibu Sarah."


"Iya, terima kasih."


"Apa besok Bapak ada waktu? Saya ingin bertemu dan membuat janji."


"Aku tidak tahu! Aku masih sibuk mengurus anakku, nanti saja," ucap Mawan dengan nada tinggi seraya mematikan sambungan telepon dan kembali berbaring di sofa.


***

__ADS_1


Sementara itu di kantor polisi, Reymond dan Rizky tengah berbaring beralaskan tikar di dalam sel, tidak ada bantal, selimut apalagi AC. Hanya ada kipas angin yang menempel di dinding, itu juga begitu berdebu dan tidak terasa angin. Mereka sudah menghabiskan dua malam di penjara, dan selama dua malam juga Reymond tidak bisa tidur.


Reymond menoleh kearah Rizky, dia sudah tertidur lelap walau sambil menepuk-nepuk lengannya karena di gigit nyamuk.


Reymond bangun dan menyenderkan punggungnya di sisi tembok. Seluruh tubuhnya juga terasa sangat sakit, dia paling tidak bisa tidur kalau tidak pakai kasur. Reymond memegangi tengkuknya dan memijatnya sedikit, terasa begitu keras seperti jeruji besi di depan.


"Aaww ... Sakit semua badanku," lirihnya pelan.


Tiba-tiba dia mengingat wajah Sarah sang ibu mertuanya, perasaan di hatinya teramat sedih, terakhir kali dia tahu kalau Sarah meninggal dunia, air matanya tak terasa mengalir di pipi.


Reymond menyeka air matanya, bola matanya mengelilingi ruangan sel tahanan. Dia seperti mencari sesuatu, tapi tidak menemukan apa-apa, karena memang tidak ada apa-apa. Ruangan sel penjara yang dia tempati bersama Rizky juga sudah lama kosong dan baru di isi lagi oleh mereka berdua.


Reymond berdiri dan menempelkan wajahnya di jeruji besi, dia melihat ada polisi tengah berjaga di samping selnya.


"Pak ..." Panggil Reymond.


Polisi yang berdiri di samping itu menghampirinya, "Ada apa, Pak?"


"Bapak punya sarung dan baju Koko yang bersih tidak? Aku ingin pinjam," ucap Reymond.


"Ada Pak, Bapak mau shalat? Sebentar saya carikan," sahut Polisi itu berjalan pergi.


Polisi itu membuka gembok sel dan membuka pintu, dia memberikan pada Reymond, Reymond segera pergi ke kamar mandi. Dia mengambil air wudhu dan mengenakan pakaian untuk dirinya melaksanakan shalat.


Setelah selesai dari shalatnya, Reymond mengangkat kedua tangannya seraya berdoa.


"Ya Allah beri Mamah mertuaku tempat terbaik di sisimu. Aku menyayangi dirinya seperti ibuku sendiri, jaga Indah dan Bayu juga ya Allah. Jaga Papah Mawan dan Mamah Santi untuk selalu sehat, biar mereka bisa melindungi Indah dan Bayu. Beri aku jalan keluar untuk semua masalahku ini. Aku ingin berkumpul kembali dengan orang-orang yang aku sayang ... Amin."


Reymond mengusap wajahnya, setelah menyelesaikan do'a.


***


Tengah malam Mawan mendengar suara rintihan seseorang yang menanggis, dia langsung bangun dan melihat ke arah Indah. Ternyata memang benar Indah yang menanggis sambil sesenggukan.


Mawan berdiri dan menghampiri anaknya. "Sayang kau kenapa?" tanya Mawan seraya duduk di atas ranjang.


Indah masih berbaring sambil menanggis, di sampingnya ada Bayu yang tidur sambil memeluk Indah.


"Papah ... Aku tidak menyangka Mamah bisa pergi secepat ini," lirih Indah.

__ADS_1


Mawan menyeka air mata dan mencium kening anaknya, "Sayang ... Umur manusia kan nggak ada yang tahu, mungkin Mamah Sarah lebih di sayang sama Allah."


Indah mengangkat tubuhnya, ingin duduk. Karena terlihat kesusahan Mawan membantunya dan membiarkan Indah menyender di dadanya.


"Itu benar Pah, tapi aku juga sayang Mamah ... Aku ingin terus bersamanya."


Mawan memeluk tubuh Indah. "Iya sayang Papah tahu, tapi kamu harus ikhlaskan Mamah. Masih ada Papah di sini, Papah sayang sama kamu."


"Mamah sudah di makamkan, Pah?" tanya Indah mendongak melihat wajah Mawan.


"Sudah sayang, semuanya sudah selesai."


"Kenapa Papah tidak menungguku bangun? Aku ingin lihat Mamah dan ikut memandikannya Pah ..." Indah Kembali menitihkan air mata.


Mawan mengusap air mata Indah. "Papah juga maunya begitu sayang, tapi tidak baik membiarkan Mamah lama-lama."


Indah mengangguk. "Apa kamu laper? Ingin makan sesuatu? Papah akan belikan untukmu ya?" tanya Mawan penuh perhatian.


"Aku nggak pengen apa-apa Pah. Aku mau tidur saja."


Mawan mengambilkan segelas susu putih yang sudah di tutup yang berada di atas meja.


"Ya sudah minum susu saja, kamu jangan sampai sakit sayang. Besok kita ke makam Mamah ya?"


Indah mengangguk dan meminum susu itu sampai habis, dia kembali berbaring. Mawan juga ikut berbaring di sofa dan memejamkan mata.


Namun Indah tidak bisa tidur, rasanya masih terbayang detik-detik Sarah menghembuskan nafas terakhirnya, membuat air matanya terus mengalir deras.


Semoga Mamah tenang di sana, Mamah juga tak merasakan lagi rasa sakit sekarang. Ya Allah kasih Mamah tempat di surgamu, Mamah orang yang baik, aku sangat menyayangi nya.


Batin Indah sambil menanggis.


***


Keesokan harinya tepat jam 6 pagi, Mawan sudah selesai mandi dan mengganti pakaian dengan rapih. Hari ini dia ingin pergi ke kantor, dia melihat Indah dan Bayu masih tertidur lelap.


Mawan berjalan keluar, dia melihat Vinno membawa kantong plastik berisi makanan, dia juga semalaman menginap di rumah sakit. Tapi tidur di dalam mobil.


"Pagi, Pak Mawan. Aku belikan sarapan buat Bapak," ucap Vinno seraya memberitahu apa yang dia bawa.

__ADS_1


"Tidak usah Vinno. Aku mau ke kantor sekarang, kau jaga dulu Indah dan Bayu di sini. Nanti Mamah Santi juga ke sini," ucap Mawan seraya menepuk pundak Vinno.


__ADS_2