Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 89. Kebun Strawberry


__ADS_3

"Oke, Papah!" seru Reymond sambil tersenyum pada kaca spion depan, dia juga melihat ekspresi wajah Mawan yang terlihat begitu tertekan.


Aku tak menyangka, ternyata Papah akhirnya kalah. Hahahaha ... Maafkan aku Pah, tapi aku senang melihat wajah Papah sekarang.


Kelemahan kita sama Pah, yaitu Indah. Bukankah kita berdua cocok?! Harusnya Papah juga ikut kerjasama denganku saja. Ah tidak-tidak, nanti Papah akan membunuh musuhku. Salah satunya antara Rio dan Om Andra, tapi kalau aku tidak cerita aku Rendi, dia terus saja salah paham padaku. Biarkan aku serahkan pada Mamah deh, dia yang lebih mengerti untuk kebaikanku.


Batin Reymond.


Santi menoleh pada Mawan, wajah suaminya terlihat sudah ditekuk, namun justru membuatnya ingin tertawa. Tapi mulutnya dia tahan, karena tak mau suaminya makin emosi.


Santi mengusap-usap dada Mawan secara perlahan. "Jangan sambil emosi dong, Pah. Ikhlas demi Indah."


"Iya," jawab Mawan singkat.


Mereka sudah sampai di area perkebunan buah strawberry, semua sudah turun dari mobil. Tapi yang terlihat didepan kebun itu hanya rumah makan sederhana dengan duduk lesehan, jauh dari nama Restoran yang Reymond katakan tadi.


Bayu, Indah dan Santi sudah masuk duluan, mereka sama sekali tidak protes karena memang perutnya lapar. Mawan berdiri bersebelahan dengan Reymond.


Matanya melirik sedikit. "Kau buta atau apa?! Jelas-jelas ini rumah makan? Bukan Restoran!" dengkus Mawan kesal.


"Maafkan aku, Pah. Tapi aku lihat pada Mapsnya ini Restoran," elak Reymond.


Mata Mawan melihat pada isi ruangan didalam, suasananya begitu sepi. Bisa dibilang hanya mereka berlima sebagai pengunjung.


Mawan tidak menghiraukan ucapannya, dia langsung ikut duduk disebelah Santi. Sedangkan didepan Bayu, Indah dan Reymond. Mereka duduk terhalang meja persegi empat. Suasana sekitarnya dipenuhi oleh buah strawberry.


"Bunda, Bayu mau meetik buah ctawbeli," pinta Bayu seraya menarik-narik lengan Indah, dia sudah berdiri dan tidak sabar.


"Bayu sayang, kita sarapan dulu. Habis ini baru memetik. Oke?" rayu Indah, tubuh kecil itu langsung duduk menurut.


"Api abis calapan kecana ya ....," telunjuk kecil itu menunjuk ke depan.


"Iya sayang, kita kesana. Nanti sambil main juga," sahut Reymond.


"Iya, Ayah."


Tak lama datang seorang gadis muda menyodorkan buku menu padanya.


"Silahkan mau pesan apa?" tanyanya dengan sopan.


Reymond menggeser kan buku menu itu ke depan Indah.


"Coba lihat sayang, apa ada yang kamu mau?" tanya Reymond.


Mata Indah sudah melihat-lihat menu itu, hanya ada beberapa menu saja yang tertera. Nasi goreng, nasi uduk, bubur ayam, ketoprak, pecel lele dan pecel ayam.

__ADS_1


"Aku mau soto ayam, Mas."


Deg.....


Reymond menggeserkan menu itu didepan matanya, jelas-jelas tidak ada menu soto.


"Tidak ada soto disini sayang. Nasi goreng saja, bukannya kamu suka nasi goreng?"


Indah menggelengkan kepalanya, "Aku ingin makan makanan yang berkuah."


"Ini, bubur berkuah sayang."


"Itu beda, Mas."


Reymond langsung bangun dari duduknya. "Yasudah ... Aku akan belikan soto buat kamu, sayang."


Mawan juga ikut berdiri. "Tidak, usah. Biar Papah saja."


Kedua pria itu saling menawarkan diri, membuat Indah jadi makin binggung memilih siapa orangnya, wajah keduanya juga terlalu bersemangat.


"Kamu mau dibelikan siapa? Papah atau Reymond?" tanya Santi.


"Aku binggung, Papah dan Mas Reymond beli saja berdua," ucap Indah.


Setelah beberapa menit, Santi dan Bayu sudah menyelesaikan sarapan nasi uduk dan buburnya. Bahkan Bayu sudah memakai topi koboi berlarian di area kebun, dia sudah kegirangan karena tidak sabar ingin memetik buah. Santi ikut menemani dengan memakai payung dan membawa keranjang yang nantinya untuk tempat buah strawberry.


Indah hanya melihat mereka berdua, mau ikut tapi perutnya begitu lapar. Sampai cacingnya berbunyi.


"Perutku lapar sekali, Mas Reymond dan Papah lama sekali," keluh Indah seraya mengusap perut.


Dia memperhatikan lagi buku menu didepan, lama-lama dia tertarik dengan bubur ayam. Alhasil ia memesan dan segera menyantapnya.


Satu jam kemudian, mobil Reymond datang. Dia langsung berlari keluar mobil dan masuk kedalam rumah makan sambil memegang satu cup soto ayam dilapisi kantong plastik. Tapi dia tidak melihat Santi, Bayu dan Indah disana, pandangan mata Reymond sekarang tepat ke depan.


Dia melihat pemandangan begitu indah. Melihat istri, anak dan ibunya tengah tertawa bersama sambil memetik buah strawberry, bola matanya seakan berkaca-kaca.


Terima kasih ya Allah, aku masih di izinkan melihat pemandangan yang sangat indah seperti ini.


Mamah ... Terima kasih, telah melahirkanku ke dunia ini dan telah memaksaku untuk mencari istri.


Sayang ... Terima kasih, telah menerima semua kekuranganku dan setia padaku, walau dulu aku pernah mengkhianatimu. Tapi kau benar-benar wanita yang setia dan mencintaiku begitu tulus.


Bayu ... Terima kasih sayang, kau telah hadir di dunia ini. Menjadi garis keturunan Pratama yang pertama dan menemani Bunda selama Ayah pergi.


Aku berjanji pada kalian, aku tidak akan meninggalkan kalian bertiga lagi.

__ADS_1


Batin Reymond dengan cepat menyeka air mata yang baru mengalir.


Mawan menepuk pundak Reymond. "Kau kenapa diam saja begitu?! Susul Indah. Suruh dia makan, ini sudah lewat jam sarapan."


Reymond mengangguk dan berlari menyusuri jalan sepetak area kebun.


"Sayang ...," panggil Reymond.


Bayu sudah lompat-lompat melihat Ayahnya menghampiri, tangan kecil itu sudah melambai. "Ayah! Ayok etik buah ctawbeli!"


Padahal isi keranjangnya sudah penuh, bahkan mulutnya saja sedang mengunyah buah itu.


"Sayang, ini aku sudah belikan soto ayam. Kamu makan dulu," pinta Reymond yang sudah berada didepan mereka bertiga.


Bibirnya mendarat dan mencium kening Indah. "Aku nggak mau, Mas. Buat kamu saja," ucap Indah yang masih sibuk dengan aktivitasnya bersama Bayu.


Tangan Reymond menarik lengan Indah. "Sayang, jangan marah gitu ... Maafkan aku karena lama. Ini belinya jauh soalnya, sayang."


Indah melihat wajah Reymond. "Aku tidak marah kok."


"Tapi kenapa nggak mau? Nanti anak kita ileran sayang," keluh Reymond seraya mengelus perut Indah.


"Aku sudah nggak pengen, Mas."


"Yasudah sarapan saja yang lain, kamu mau apa?"


"Aku sudah sarapan kok tadi, kamu saja sana sarapan dengan Papah."


Pandangan Reymond sekarang mengarah pada rumah makan, tepat kearah Mawan yang sedang makan dengan lahapnya.


"Yasudah, aku sarapan dulu. Tapi maaf ya, gara-gara menunggu lama kamu jadi nggak pengen soto lagi," ujar Reymond tak enak hati.


"Iya."


Reymond membungkuk seraya berjongkok di depan Bayu, bibirnya menciumi pipi mulus itu dan mengusap-usap bibir Bayu yang sudah merah akibat buah.


Tapi sebelum makan buah, mereka sudah mencucinya terlebih dahulu. Karena disekitar kebun ada beberapa ada kran air yang di khususkan untuk pengunjung mencuci buah sebelum masuk kedalam mulut.


"Sayang, makan buahnya jangan banyak-banyak ... Nanti sakit perut."


"Iya, Ayah! Ayok, Ayah! Kita etik buah yang banyak."


"Kamu saja sama Bunda dan Oma ya, Ayah laper mau makan dulu," ucap Reymond seraya mengusap perut.


^^^Kata: 1073^^^

__ADS_1


__ADS_2