
"Ajakkan? Ajakkan yang mana?" tanya Siska pura-pura tidak tahu.
Reymond tersenyum lebar, hingga memperlihatkan deretan gigi putihnya, "Yang mana saja, berkencan boleh. Menemanimu boleh, dan bersenang-senang juga boleh. Punyaku ini cukup besar. Kau nanti akan puas, cantik."
Deg......
Sungguh jijik didalam hati, dia mengatakan hal itu pada Siska. Tapi balik lagi, ini semua dia lakukan terpaksa demi balas dendam.
Siska menelan saliva nya begitu kasar, otaknya langsung traveling dan membayangkan hal yang berbau sensor. Sambil memandangi wajah Reymond.
"Bagaimana?" tanya Reymond seraya mengerakkan lima jarinya kedepan wajah Siska, membuat lamunannya buyar seketika.
"Tapi kau harus mentraktirku dulu berbelanja. Bagaimana?" tawar Siska.
Jijik! Aku jijik padamu! Kelakuanmu tetap saja seperti dulu.
Gerutu Reymond.
Reymond tersenyum dan mengangkat bokongnya. "Oke, tenang saja. Uangku banyak."
Dia segera membayar minuman itu dan mengajak Siska pergi keliling Mall berbelanja apapun yang dia suka. Sekilas dia merasa dejavu, karena selama pacaran dulu. Rendi sering menemani Siska ke Mall.
Lengan Siska mengandeng erat lengan Reymond, kesal dan benci itu merasuk pada jiwanya. Dia juga merasa berdosa pada Indah, seperti sedang selingkuh dengan orang yang sama.
Langkah kaki Siska terhenti disebuah toko berlian. "Rey, kita kesana." Tangannya sudah menunjuk.
Siska mengajak Reymond untuk masuk kedalam toko tersebut, Pria itu hanya mengangguk dan menurutinya.
"Selamat siang Ibu, Bapak. Mau cari apa?" tanya pelayan toko.
Mata Siska sudah melihat-lihat pada benda berkilauan didalam etalase itu. Berlian-berlian itu tampak cantik dan sangat berkelas, harganya juga sangat fantastis.
"Coba carikan aku kalung berlian yang termahal di toko ini," perintah Siska.
"Baik, tunggu sebentar."
Tangan pelayan itu masuk kedalam etalase, dan mencari berlian yang paling mahal. Yang akan Siska beli dari uang Reymond.
Wajah Reymond begitu masam memandang Siska dari samping, tangannya sudah sangat gatal ingin segera melenyapkan wanita itu.
"Ini, Mbak," ucap sang pelayan.
Dia memperlihatkan kotak persegi empat, berisi kalung berlian dengan satu permata pada liontin. Warna putih dari berlian itu seakan silau pada kedua mata Siska.
"Berapa harganya?" tanya Siska.
"500 Miliyar."
Siska menoleh pada wajah Reymond yang sibuk menatap ponselnya, dia tengah mengirim pesan pada Hersa.
__ADS_1
"Reymond," panggil Siska.
Reymond langsung melihat padanya dan memasukkan ponselnya pada saku jas. "Apa?"
Siska mengangkat kalung pada kotak merah itu. "Ini harganya 500 Miliyar. Apa kau sanggup membayarnya?" tanya Siska.
Omongannya seperti meledek, meragukan Reymond banyak uang. "Apa yang kau katakan? Aku bahkan sanggup membeli toko ini!" seru Reymond dengan sombong.
"Oke, kau bayarlah."
Reymond mengangguk, dia menggesek black card miliknya pada tempat pembayaran di toko itu.
Setelah selesai membelikan Siska kalung, dia langsung pergi bersama Reymond. Menaiki mobil Lamborghini miliknya, "Mobil kamu bagus juga, sepertinya baru," ucap Siska seraya melihat-lihat ruang mobil.
Reymond melirik sedikit padanya, tapi tangannya masih fokus menyetir.
"Sebulan sekali memang mobilku ganti, aku gampang bosan orangnya," sahut Reymond berbohong, padahal mobilnya dibelikan oleh Santi! Ck!
Deg....
Apa benar dia orang kaya? Kalau dia lebih kaya dari Mas Haris. Lebih baik aku bersamanya saja, dia juga masih muda dan tampan.
Batin Siska.
"Oya, berapa umurmu?" tanya Siska.
"31 tahun, kalau kau?" Reymond berbalik bertanya.
"Benarkah? Tapi aku merasa kau seperti wanita berusia 25 tahun, ternyata kamu awet muda juga."
Cih! Gatal sekali lidahku ini.
Batin Reymond.
Mata Siska langsung berbinar-binar. "Terima kasih, mungkin karena aku orang yang cantik dan selalu menjaga penampilan." Tangannya sudah memegangi kaca, melihat pantulan wajah cantiknya. Di puji-puji dia makin terbang ke udara.
"Iya, mungkin begitu. Kau juga seorang model, kan?" tebak Reymond.
"Benar, kau tahu darimana?" tanya Siska, lama-lama mereka berdua terasa begitu akrab.
"Dari Rizky, dia cerita banyak tentangmu."
Deg......
Apa Rizky cerita juga tentang dulu aku jadi pelakor pada rumah tangga Rendi?
Batin Siska.
"Cerita? Cerita apa saja memangnya?" tanya Siska.
__ADS_1
Reymond tersenyum, tapi matanya masih memandang kearah depan. "Hanya bilang kau seorang model yang cantik dan seksi, itu saja yang aku dengar."
Siska menghela nafas dengan lega, dia seakan malu kalau sampai Reymond tahu dia bukan wanita yang sempurna dan pernah perebut suami orang.
"Ngomong-ngomong kita mau kemana? Aku hanya menyetir tapi tidak tahu arah dan tujuan," tanya Reymond.
Tubuh Siska bergelayut manja pada lengan Reymond. "Kita ke Hotel saja, kita akan bersenang-senang disana."
Deg......
Apakah sebentar lagi rencanaku akan berhasil?
Batin Reymond.
Reymond menarik senyum, tangan sebelahnya mengelus rambut Siska. "Oke, cantik. Kau pasti senang, aku pria yang perkasa di ranjang."
"Benar, kah?" tangan Siska mengelus junior Reymond yang masih dilapisi celana bahan. "Apa punyamu, sangat keras dan terasa nikmat?" tanya Siska, sepertinya dia sudah masuk dalam rayuan Reymond.
Deg....
Reymond segera menepis tangan Siska pada juniornya, dia merasa tak ikhlas dan takut didalam sana terbangun.
"Apa aku tidak boleh menyentuhnya?" tangan Siska kembali mengelusnya lagi, tapi Reymond berusaha mencegah dan memegangi tangan Siska.
"Tentu boleh, cantik. Tapi jangan sekarang. Aku mau fokus menyetir dulu, nanti bahaya kalau sampai tertabrak. Kita tidak jadi mantap-mantap," sahut Reymond seraya mengusap keringat pada dahinya, merasa begitu merinding dan takut.
Tahan Rendi, aku harus pintar merayunya. Tapi aku juga harus ingat janjiku pada Indah, niatku hanya balas dendam. Tidak akan ikut terhanyut dalam permainan wanita kotor ini.
Batin Reymond tertegun dalam hati.
Siska membenarkan lagi posisi duduknya, Menyenderkan punggung pada kursi sebelah Reymond. Tangannya membuka tas dan membuka kotak perhiasan yang tadi dia beli.
Dia mengalungkan sendiri kalung berliannya itu pada leher dan menunjukkan pada Reymond. "Bagaimana menurutmu? Apa aku tambah cantik?" tanya Siska seraya memegang liontin kalung.
Reymond melihat sekilas. "Tentu, cantik. Kamu pakai apapun akan terlihat cantik."
Cup.....
Sebuah kecupan mendarat pada pipi kiri Reymond, membuat bola matanya membulat sempurna. "Terima kasih, kau juga sangat tampan," puji Siska dengan pipi yang merona.
Anj*ng kau! Kenapa kau menciumku! Bangs*t!
Gerutu Reymond kesal setengah mati.
Dia segera mengusap pipinya dengan lengan jas yang ia kenakan, "Lho kenapa diusap? Memangnya tidak suka aku menciummu?" tanya Siska.
Reymond tersenyum paksa. "Tidak, cantik. Bibirmu itu merah sekali, kalau ada yang lihat, pipiku ada bekas merah kecupan bibir. Aku akan malu." Nada suaranya masih dia coba untuk lemah lembut, walau ubun-ubun kepalanya sudah terasa panas.
"Benar juga. Yasudah tidak apa," jawab Siska santai.
__ADS_1
Awas saja kau Siska! Anggaplah hari ini, adalah hari terakhirmu di dunia. Sebentar lagi kau akan mati di tanganku.
Batin Reymond.