
"Dasar mesum! Apa yang kau pikirkan? Pasti kau menghayal yang tidak-tidak!" celoteh Mawan.
Reymond langsung menepis lamunan mesumnya dan menggelengkan kepala.
"Tidak, Pak. Aku hanya menghayal hidup bahagia dengan Indah. Karena itu keinginanku dari dulu."
"Oke, kau bisa menikah dengan Indah. Tapi nanti setelah Indah melahirkan, karena wanita hamil tidak boleh menikah. Sama saja nanti kau dan dia berbuat zina."
"Iya, Pak. Aku mengerti masalah itu."
"Kau tinggal dimana sekarang?"
"Masih ditempat yang sama, aku menyewa apartemen milik Rendi."
"Setelah Indah keluar dari rumah sakit, kau bereskan semua pakaian di apartemen Rendi. Kau harus pindah!" tegas Mawan.
Deg.......
Mata Reymond terbelalak. "Tapi aku disana menyewa, Pak. Aku juga bayar perbulannya, kenapa Bapak mengusirku? Itu juga bukan apartemen Bapak, kan?"
"Aku belum selesai bicara! Maksudku kau pindah dari apartemen Rendi dan tinggal di rumahku!"
Deg.....
Jantung Reymond berdegup sangat kencang, sungguh bahagia sekali. Ucapan Mawan kali ini membuat dirinya berbunga-bunga, pipinya kembali bersemu merah.
"Serius, Pak? Aku dan Indah tinggal satu atap?"
"Kau hanya menemaninya saja kalau sedang di rumah, tapi jaga batasanmu! Kau tidak boleh menyentuh Indah lagi! Apalagi kondisi Indah sekarang sedang hamil! Berbahaya buat dia dan anaknya, aku dan istriku akan mengawasimu di rumah, Reymond! Kau jangan pernah bertingkah yang aneh-aneh!" seru Mawan
Asik! Bisa tinggal serumah lagi dengan Indah, aku bisa menyelinap masuk kekamarnya kalau Papah dan Mamah sudah tidur. Mimpi apa aku semalam? Sepertinya ini hari keberuntunganku. Yes!
Batin Reymond.
"Iya, Pak. Terima kasih kalau Bapak ingin menampungku, jadi aku bisa tinggal secara gratis."
Setelah selesai membeli bubur ayam, Mawan mengajak Reymond untuk ikut bersama ke rumah sakit, menemui Indah.
Indah sudah duduk menyender disisi ranjang, ventilator itu sudah Santi lepaskan untuk sementara, karena ia ingin makan. Mawan membuka pintu dan masuk bersama Reymond disebelahnya.
"Sayang ....," panggil Reymond yang baru masuk dan melihat keadaan Indah, wajahnya terlihat masih lesu. Tapi setidaknya dia sudah sadar.
Indah tersenyum tipis melihat Reymond, mereka berdua berjalan menghampiri tempat tidur. Tangan Mawan perlahan mengelus rambut Indah, tapi mata putrinya langsung mengalihkan pandangan. Seakan tak mau menatap wajah sang Ayah.
"Sayang, ini .... Papah belikan bubur ayam, kau mau makan? Biar Papah yang menyuapi," ucap Mawan dengan lemah lembut.
Ia membuka bungkusan bubur dan membuka tutup cup. Bokongnya sudah duduk diatas tempat tidur sebelah kiri, dan sebelah kanan ada Bayu tengah berbaring. Mawan sengaja memesan tempat tidur lebih besar untuk Indah.
Tangannya perlahan menyendok 'kan bubur ayam dan mengarahkan pada mulut Indah, tapi dia belum membuka mulut.
__ADS_1
"Aku ingin disuapi Mas Reymond," ucap Indah pelan.
Mata Mawan langsung menatap wajah Reymond yang sudah berbinar-binar, cup bubur itu ia serahkan pada tangan Reymond.
Mawan mencium kening Indah terlebih dahulu dan berpindah posisi duduk diatas sofa bersama Santi. Sedangkan Reymond, duduk disebelah Indah, tepat bekas bokong Mawan tadi.
Reymond langsung menyuapinya secara perlahan, Indah juga menerima suapan itu. "Enak tidak rasanya, sayang?" tanya Reymond dengan kepala miring, sembari melihat wajah Indah.
Indah mengangguk pelan, tangan kekar itu perlahan mengelus perut dan menggeser 'kan badannya untuk makin dekat.
"Benarkan sayang, menurutku memang kau hamil. Aku memang perkasanya diatas ranjang," lirih Reymond berbisik.
Deg.....
Mata Indah terbelalak. "Apa maksud kamu, Mas? Kata siapa aku hamil?!" Dia sendiri belum dikasih tau tentang kondisinya sekarang.
"Iya, sayang. Kamu hamil, sebentar lagi Bayu akan punya Adik," sahut Santi.
Air mata Indah langsung berlinang, tapi ini air mata bahagia. Dia masih diizinkan untuk mempunyai anak kedua, karena banyak wanita diluar sana tidak seberuntung seperti dirinya.
"Hei, kenapa kamu menanggis sayang, jangan sedih. Kamu harus bahagia, kita sudah punya dua anak," ucap Reymond dengan cepat menyeka air mata.
"Iya, aku bahagia, Mas. Tapi ... Aku takut, Mas. Nanti kau akan meninggalkanku saat aku sedang hamil," lirih Indah sembari menatap dalam wajah Reymond.
Reymond langsung memeluk tubuhnya dan menciumi rambut.
"Tidak sayang, kau jangan bilang seperti itu. Kita tidak akan terpisahkan lagi, kita akan hidup bersama selamanya," lirih Reymond.
Batin Reymond.
Santi ikut merasakan kebahagiaan, apalagi melihat pemandangan seperti ini. Tapi, tidak dengan Mawan. Dia merasa begitu mual melihatnya, kepalanya menoleh pada Santi dan bangun dari duduknya.
"Papah keluar dulu ya, Mah. Kalau Indah dan Mamah butuh apa-apa, bilang sama Papah," ucap Mawan.
"Iya, Pah."
Mawan sudah berjalan keluar ruangan lagi, matanya terbelalak melihat dua pria kekar berdiri bersama Irwan, wajah yang sama saat mengacaukan acara ijab kabul.
"Kalian mau apa kesini?" tanya Mawan dengan mode galak.
"Kita berdua adalah bodyguard Pak Reymond, Pak," sahut Ali.
Bodyguard? Lebay sekali Reymond. Pakai menyewa bodyguard segala, seperti mampu membayarnya saja.
Umpat Mawan dalam hati.
"Oh. Tapi kalian jangan buat keributan disini, aku bisa melenyapkan kalian satu persatu!" ancam Mawan sambil menunjuk.
Ali dan Aldi menelan salivanya begitu kasar, seraya berkata. "Baik, Pak."
__ADS_1
Akhirnya bubur ayam itu berhasil Indah habiskan, karena sedari pagi juga perutnya baru diisi. Santi berpindah posisi duduk diatas tempat tidur, dia berhadapan dengan Reymond.
"Rey, bagaimana tentang masalah kamu? Apa si Jalang itu sudah membuka mulutnya?" tanya Santi.
"Sudah, Mah," jawab Reymond.
"Siapa? Siapa orangnya, Rey." Santi makin dibuat penasaran.
"Dia Anton, Mah."
Deg.....
Mata Santi terbelalak, tangannya mengepal dan menonjol telapak tangan yang satunya.
"Berengs*k! B*jingan itu bisa-bisanya kemarin berbohong! Kurang ajar sekali! Ternyata dia dalangnya! Sekarang kau sudah menangkapnya belum?"
Santi terlihat begitu emosi, tapi masih mengatur nada suaranya. Supaya tidak terdengar sampai luar.
"Belum, aku sudah menyuruh orang. Tapi mereka belum menghubungiku."
"Tapi Anton adalah asisten Andra, Rey. Apa jangan-jangan dia yang menyuruh Anton untuk melenyapkanmu?" tanya Santi curiga.
Deg......
Aku juga tidak tau siapa? Tapi aku tidak yakin. Kalau Om Andra bisa setega itu padaku. Dia memang menyebalkan! Tapi aku tau, dia sangat menyayangiku, aku malah curiga sama Rio. Apalagi dengan kondisi aku yang menjadi orang lain, dia seolah makin membabi buta membenciku. Tapi Rio adalah adikku juga, adik kandungku sendiri. Baik Om Andra ataupun Rio, mereka berdua adalah keluargaku. Bagaimana bisa salah satu dari mereka tega membunuh keluarganya sendiri, yang masih punya ikatan darah?! Semoga jika semuanya sudah terungkap, aku bisa ikhlas untuk menerima dan menghukumnya.
Batin Reymond dengan bola mata yang berkaca-kaca.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
^^^Kata: 1026^^^