
Beberapa jam yang lalu.
Rendi masuk ke ruangannya sembari membawa berkas dan menaruhnya di meja. Dia pun duduk, tapi tiba-tiba dia memikirkan Indah.
Kok tiba-tiba aku ke pikiran Indah ya. Sudah lama dia tidak menghubungi ku.
Rendi lalu mengambil ponselnya dan mencoba menelepon Indah. Namun tidak nyambung.
Ah yang benar saja tidak aktif. Lagian ngapain juga aku hubungi dia nggak penting juga.
Gumam Rendi menaruh ponselnya lagi ke saku celananya.
Pulang kerja Rendi pergi ke cafe dekat kantor. Dia memesan beberapa menu kesukaannya dan dia duduk lalu menyantap makanannya, lalu tiba-tiba ada rekan bisnis yang tak sengaja bertemu.
"Pak Rendi ada di sini juga?" Tanya pria tersebut yang hampir seumuran dengannya, dia datang bersama istri dan anaknya.
"Pak Beni." Ucap Rendi seraya mengelap bibirnya dengan menggunakan tissu lalu berdiri sambil berjabat tangan.
Mereka saling tersenyum. "Kenalkan ini istri dan anak saya." Ujar Beni memperkenalkan, Rendi langsung merasa gemas dengan anak rekannya itu.
"Wah anaknya lucu sekali. Siapa namamu sayang?" Tanya Rendi yang membungkuk ke anaknya Beni.
"Namanya Alisa Pak." Sahut Istrinya Beni.
"Oya Pak Rendi denger-denger Bapak sudah menikah ya. Nanti kapan-kapan kita makan bareng bersama ya?" Ucap Beni meneruskan.
"Oh iya tentu. Kita nanti bisa atur waktunya,"
"Ya sudah Pak kami permisi." Rendi mengangguk.
Beni lalu berjalan dan duduk bersama istri dan anaknya yang berusia 2 tahun itu.
Anaknya pak Beni lucu sekali ya. Eeemmmm kira-kira nanti kalau aku dan Indah punya anak bisa selucu Alisa nggak ya.
Pikirnya.
__ADS_1
Aahhh ngapain aku mikirin itu. Gimana aku mau punya anak, orang tidur bareng aja belum pernah.
Rendi lalu berdiri untuk membayar biaya pesanannya, lalu dia melangkah keluar kafe untuk masuk ke dalam mobilnya. Dia melihat jam di tangannya yang menunjukkan pukul 17.00. Rendi langsung menyalakan mobilnya dan pergi ke rumah Indah.
🌼🌼🌼
Sampainya di sana dia tidak langsung turun. Dia membuka kaca mobil dan memandangi sebuah rumah yang sederhana namun cukup nyaman, karena ini pertama kalinya dia melihat rumah yang dia belikan kepada Indah.
Rumahnya sederhana sekali, sesuai apa yang pernah aku katakan kepada Dion.
Batin Rendi.
Ibu Sarah membuka pintu dan berjalan, namun dia melihat menantunya yang sedang melamun di dalam mobil.
"Ren...." Sapa nya dengan hangat, Rendi langsung menepis lamunannya.
"Ah Mamah." Rendi langsung keluar mobil dan mencium tangan mertuanya.
"Kenapa kamu nggak langsung masuk saja." Ucap mertuanya.
"Masuk dulu Ren." Ucap mertuanya yang menarik tangan Rendi untuk menyuruhnya masuk.
Mereka duduk di ruang tamu dan Ibu Sarah menyuruh pembantunya membuatkan kopi untuk Rendi.
"Indah belum pulang Ren. Kamu juga sesekali nginep di sini. Kalian kan suami-istri masa tinggal terpisah begitu." Ucap ibu Sarah.
"Ah iya Mah aku pengennya juga begitu. Aku juga kesepian di rumah." Sahut Rendi.
Lalu tiba-tiba ponsel Rendi berbunyi dan langsung mengambilnya di saku celana. Terlihat ibunya yang menelepon. "Mah aku angkat telepon dulu ya?" Tanya Rendi ke mertuanya, ibu Sarah mengangguk.
"Hallo Mah." Ucapnya dari telepon.
" ..... "
"Iya mah aku ke sana sekarang." Sahutnya menutup telepon.
__ADS_1
"Mah aku pergi dulu ya." Ucap Rendi yang langsung berdiri, mertuanya pun ikut berdiri.
"Kamu buru-buru amat, nggak nunggu Indah pulang dulu?" tanya Ibu Sarah dan mencoba mencegahnya.
"Aku mau ke rumah sakit Mah, Indah kecelakaan." Kata Rendi tiba-tiba.
"APA??" sontak mertuanya terkejut dan membuat jantungnya ngilu dia langsung memegang dadanya.
"Mamah kenapa?" tanya Rendi cemas dan memegang bahu mertuanya.
"Mamah nggak apa-apa Rendi. Mamah ikut kamu ke rumah sakit ya." Rendi mengangguk dan langsung mengandeng tangan mertuanya untuk masuk ke mobil.
Aku lupa kalau ibunya Indah punya penyakit jantung, dia pasti merasa khawatir sekarang. Semoga Indah baik-baik saja.
Gumam Rendi sambil melihat wajah mertuanya yang sangat tidak tenang. Dia langsung melajukan mobilnya untuk segera ke rumah sakit.
***
Mendengar Indah sudah bangun dari tidur ibu Santi langsung masuk ke dalam untuk menemui menantunya, "Indah sayang...." Ucapnya dengan lembut dan duduk di kursi kecil di samping tempat tidur Indah.
Indah menoleh sambil berbaring. "Mamah." Sahutnya tersenyum.
"Sayang apa kepala mu sakit?" sambil memegang dahi Indah yang di lilit perban.
"Sedikit Mah." Indah langsung melihat di belakang tubuh mertuanya, dia mencari keberadaan Rendi.
"Mah apa mas Rendi udah tau aku di rumah sakit?" tanya Indah.
"Mamah sudah kasih tau dia. Kamu tenang saja sebentar lagi Rendi akan kesini.
Sementara itu pak Hermawan datang dan berjalan di koridor rumah sakit lalu dia melihat Rio duduk. Pak Hermawan langsung menghampirinya, "Rio. Di mana Indah?" tanya ayahnya yang cemas.
"Di dalam Pah sama mamah." Ucapnya mengarahkan ruangan di sampingnya, pak Hermawan langsung memegang gagang pintu mencoba untuk masuk ke ruangan Indah namun di cegas oleh Rio.
"Pah jangan masuk dulu. Kata dokter yang menjengguk hanya boleh satu orang, jadi nanti gantian sama mamah." Ucap Rio. Ayahnya menurut dan duduk bersamanya di luar.
__ADS_1