
"Tapi, Pak. Saya hanya ada segitu," jawab Wahyu dengan jujur.
Pria itu menoleh ke kanan dan kiri pada anak buahnya, mengedipkan kedua matanya seolah memberikan kode.
Kedua pria berbadan kekar itu mengangguk dan menerobos kedalam rumah. Salah satu dari mereka mendorong tubuh Wahyu yang sempat menghalanginya.
"Kalian mau apa?" tanya Wahyu.
Sembari berkacak pinggang, kedua pria kekar itu memperhatikan seisi rumah Wahyu. Mencari barang mana yang terlihat berharga. Mata mereka berpusat pada sofa dan meja. Selain terlihat masih baru, terlihat juga sangat mahal.
Tanpa berlama-lama, kedua pria itu menggotong sofa dan mengeluarkannya dari rumah.
Wahyu tersentak dan membulatkan matanya, ia merasa tak terima dengan tindakan kedua pria kekar itu. "Bapak! Sofa menantu saya mau dibawa kemana? Cepat turunkan!"
Wahyu tidak sadar kalau di halaman rumahnya sudah ada mobil pick up terparkir dengan rapih, pemilik rumah itu datang dengan mengendari mobil tersebut. Ia memang sengaja, sengaja untuk mengambil barang-barang Wahyu yang berharga demi menekan biaya angsuran rumahnya yang menunggak.
"Ini gara-gara kau tidak membayarnya sesuai dengan tanggal!" sembur pria itu seraya menunjuk-nunjuk wajah Wahyu didepannya.
Wahyu bergeming ditempat saat melihat mereka berhasil menaruh sofa dan meja kaca itu di atas mobil.
Mobil pick up itu sudah mulai mundur, hendak keluar dari halaman rumah Wahyu. Namun mobil Rio yang baru saja datang menghalanginya.
Dari balik kaca mobil, Rio membulatkan matanya saat melihat sofa dan meja miliknya berada diatas sana. Merasa tak terima, lantas Rio turun dari mobilnya dan mengedor-gedor kaca depan mobil pick up.
"Apa-apaan kau! Kenapa membawa sofa dan meja Ayah mertuaku!" pekiknya.
Bos mereka membuka pintu mobil, lalu menghampiri Rio yang tengah melototinya. Pria itu memperhatikan Rio dari ujung kaki ke ujung kepala. Rio mengenakan kaos putih polos dan celana boxer. Walau terlihat belum mandi, tapi tidak menutupi wajah tampannya.
"Kau menantunya Wahyu?" tanyanya.
"Iya! Turunkan sofa dan meja itu sekarang!" tekan Rio berteriak.
"Tidak bisa, Ayah mertuamu itu menunggak biaya angsuran rumah! Ini resikonya!"
__ADS_1
Rio membulatkan netranya, ia kaget karena baru tau selama ini rumah yang ia tempati masih nyicil. Rio merasa sangat malu pada dirinya sendiri, malu pada isi rekeningnya yang tak terhingga. Tapi membiarkan sang mertua hidup dengan rumah yang masih dicicil.
Rio merogoh ponselnya kedalam kantong celana. "Berapa nomor rekeningmu? Aku akan bayar lunas semuanya."
"Jangan! Jangan Rio!" sergah Wahyu seraya menghampiri menantunya, membuat Rio menoleh.
"Kenapa jangan?"
"Biar Ayah yang membayarnya, kau tidak perlu repot-repot."
Wulan dan Indra keluar dari mobil, menghampiri mereka bertiga. Sama halnya dengan Clara juga, sudah mengenakan treaning sekolah, menghampiri mereka dihalaman rumahnya.
"Hei Wahyu! Kalau memang menantumu mampu melunasi semua, biarkan saja," cetus pria itu.
"Apa maksudmu mampu? Kau meremehkanku?" geram Rio yang kembali melotot padanya. "Cepat berikan nomor rekeningmu bodoh! Tidak perlu banyak bicara!"
"Rio, jangan lakukan. Ayah mohon ... biarkan Ayah yang membayar semuanya." Wahyu memegang lengan Rio, menghentikannya mengetik layar ponsel.
"Memang kenapa, sih? Aku 'kan tinggal disini juga, kenapa Ayah melarangku?"
"Merepotkan, merepotkan! Ayah selalu bilang merepotkan! Aku tidak merasa direpotkan Ayah! Aku juga tinggal disini, aku berhak membayarnya juga!" tekan Rio dengan kesal.
"Tapi Rio--"
"Ayah ... apa uangku haram di mata Ayah? Apa menantumu ini sama sekali tidak boleh membantu mertuanya saat sedang susah? Apa Ayah ingin melihatku sebagai menantu yang tidak berguna?" cecar Rio sambil memegangi kedua lengan Wahyu, meminta penjelasannya padanya.
Wahyu terdiam dan menatap wajah Rio yang memerah. Menantunya sama sekali tidak peduli walau Wahyu menolaknya. Ia bersikukuh mentransfer biaya angsuran itu sampai lunas. Setelahnya, ia meminta pada pria didepannya untuk menaruh kembali sofa dan mejanya ke tempat yang semula.
*
Mereka semua sarapan bersama dengan nasi goreng, duduk lesehan beralaskan tikar. Namun keheningan kembali terjadi, hanya bedanya bukan antara Rio dan Wulan. Tapi, antara Rio dan Wahyu.
"Eemm ... Ayah, biar aku yang mengantar Clara ke sekolah," kata Wulan menepis keheningan.
__ADS_1
"Iya, biar nanti Indra ikut menemanimu." Rio yang menyahutinya.
"Mas Rio tidak berangkat ke kantor memangnya?" tanya Wulan.
"Ke kantor, aku bisa naik taksi. Sekarang kau dan Clara berangkat, ini sudah jam 7." Rio sengaja meminta Wulan dan Clara untuk pergi, sepertinya ada hal yang ingin ia bicarakan pada Wahyu.
"Iya, Mas. Kalau begitu aku dan Clara pergi dulu." Wulan dan Clara mencium punggung tangan Rio dan Wahyu, lalu mereka pamit keluar rumah.
Melihat Wahyu tengah membereskan piring dan membawanya ke dapur, Rio ikut membuntut dibelakangnya. Ia menyandarkan punggungnya pada tembok.
"Ayah, apa selama ini Ayah masih marah padaku?" tanya Rio dengan hati-hati.
"Marah? Kenapa Ayah musti marah, memangnya kau punya salah?" Wahyu bertanya sambil mencuci piring pada wastafel. Rio hanya bisa melihat punggung mertuanya.
"Mungkin sekarang tidak, tapi kesalahanku dimasa lalu. Apa Ayah sudah memaafkanku?"
"Tentu saja, memang kau pikir Ayah ini pendendam? Tidak Rio."
Rio menggembungkan senyumannya. "Ayah. Sebenarnya ... aku ingin mengajak Wulan, Ayah dan Clara tinggal di rumahku. Tapi rasanya aku ragu, Ayah pasti tidak mau," keluhnya.
"Kenapa kau mengajak Ayah dan Clara? Ayah dan Clara tidak perlu ikut. Kalau memang kau ingin mengajak Wulan untuk tinggal di rumahmu lagi, Ayah mengizinkanmu. Tapi syaratnya tetap sama. Kau tidak boleh menyakiti hatinya."
Harusnya Rio senang dengan jawaban Wahyu. Tapi setelah beberapa lama tinggal bersama, Rio merasa begitu hangat dan nyaman. Ia juga melihat Wulan begitu bahagia tinggal bersama keluarganya. Berbeda saat tinggal bersamanya dulu. Rio sekarang memutuskan untuk mengajak mereka semua tinggal dengannya. Tapi Rio binggung, bagaimana caranya untuk membujuk Wahyu?
"Tidak Ayah, aku ingin Ayah dan Clara juga ikut denganku. Aku ingin Ayah dan aku sama-sama mengurus Wulan dari hamil sampai melahirkan nanti."
"Maafkan Ayah, Rio. Ayah tidak bisa tinggal di rumahmu."
Rio mendekati Wahyu, berdiri di sampingnya. "Kenapa tidak bisa? Apa karena Ayah ingin berjualan bakso? Aku tidak akan melarang Ayah kok. Malah nanti ... aku akan membelikan Ayah kedai yang lebih besar. Untuk Ayah berjualan, supaya bisnis Ayah makin lancar."
Wahyu menoleh ke arah Rio. Ia menatap mata menantunya dengan lekat. "Maaf Rio, bukan Ayah mau menolakmu. Ayah tau niat kamu baik. Tapi kalau kamu melakukan hal itu, Ayah merasa malu. Malu pada diri Ayah sendiri. Ayah tidak pernah ingin meminta apapun dari anak atau menantu Ayah. Malah ... Ayah sendiri ingin memberimu sesuatu, kalau Ayah mampu. Tapi nyatanya ... Ayah tidak punya apa-apa," keluhnya.
Kenapa musti malu? Apa Ayah merasa tidak enak padaku? Apa dia merasa terbebani karena masalah uang? Mungkin iya, Ayah dan Wulan memang paling sensitif kalau bicara masalah itu.
__ADS_1
Rio mengelus bahu Wahyu dengan lembut. "Ayah hanya perlu memberikan aku kasih sayang, itu sudah cukup. Eemm ... tapi, kalau memang Ayah tidak mau, aku tidak akan memaksa. Biar aku dan Wulan tinggal disini selamanya."
^^^Kata: 1083^^^