
"Itu karena ...." Manik mata Rio bergerak-gerak, ia binggung harus jujur atau memberikan alasan.
"Jujur saja pada Ayah, Rio. Ini demi kebaikan kamu dan Wulan juga."
Apa aku jujur saja? Tapi nanti bagaimana sikap Ayah padaku? Apa dia akan membenciku?
Batin Rio.
"Apa ... apa Wulan belum cerita semuanya pada Ayah?" tanya Rio.
"Ayah ingin dengar jawabannya dari kamu, Rio. Tolong jawab Ayah!" desak Wahyu.
Bibir Rio bergetar hebat, ia seperti berat berbicara.
"Itu benar Ayah, aku tidak mencintai Wulan. Aku menikahinya karena dipaksa Mamah."
Deg~
Akhirnya, walau terasa berat, Rio mampu menjawabnya dengan jujur.
Wahyu tersenyum tipis dan mengusap-usap wajahnya sendiri. Hatinya benar-benar sangat sakit sekarang.
"Apa Ayah boleh tau kenapa kamu dipaksa menikah oleh Bu Santi? Dan apa itu ada kaitannya dengan uang 20 juta?"
Pertanyaan bertubi-tubi Wahyu lontarkan pada Rio. Ya ... dia sangat penasaran.
"Iya, Yah. Itu ...."
"Itu apa? Jujur pada Ayah, Rio! Ayah juga wajib tau, alasan putri Ayah menikah denganmu. Jangan ada yang di tutup-tutupi lagi!"
Wahyu mendesak Rio terus-menerus supaya jujur. Dan Rio perlahan membuka mulut, ia menceritakan semuanya, dari awal menabrak Clara dan Wulan, tentang hutang dan permintaan konyol Rio.
Melakukan barter, menukar uang 10 juta yang menjadi 20 juta dengan mahkota yang Wulan miliki. Mungkin bisa dibilang, Rio mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Menantu yang Wahyu anggap adalah pria sempurna, bahkan tidak ada celah buruknya sekalipun. Tapi setelah tau semuanya, seketika anggapannya sirna. Hancur berkeping-keping dengan rasa kecewa di dada.
Wahyu berdiri seraya menarik lengan Rio dengan kasar sampai keduanya keluar dari kamar Clara. Wajahnya sudah terlihat begitu emosi, bahkan secara mendadak Wahyu langsung menonjok pipi kanan dan kiri Rio.
Bug......
Bug......
"Aaww!" pekik Rio merintih.
__ADS_1
Menantunya sampai terhentak, namun ia tidak sampai terjatuh. Mata Rio membelalak kaget, ia memegangi kedua pipinya dan menatap mata Wahyu dengan tatapan rasa takut.
"A-Ayah ... kenapa Ayah menonjokku?" kaki Rio maju dua langkah, untuk bisa kembali mendekati Wahyu.
Nafas Wahyu sudah tersengal-sengal, namun ia masih mencoba untuk mengontrol emosi. Salah satu tangannya mengusap-usap dada.
"Kamu masih tanya kenapa? Jelas tonjokan itu tidak sebanding dengan apa yang Wulan rasakan Rio! Kamu ... kamu menganggap remeh harga diri anakku!"
Deg~
"Tapi Ayah, aku sudah bertanggung jawab atas semua kesalahanku. Aku menikahinya."
"Iya, Ayah tau kamu menikahinya. Tapi lihat sekarang ... kamu bahkan ingin bercerai dengan Wulan, tapi meminta bantuan Dido untuk kembali padanya ...." Tak terasa air matanya mengalir. Namun dengan cepat ia menghapusnya. "Kalau memang kamu ingin bercerai dengannya, kamu tinggal temui Ayah saja! Kalau pun Bu Santi tidak setuju kamu menceraikan Wulan, ada Ayah disini yang setuju, Rio! Ayah yang akan membantumu bicara dengan Bu Santi!" bentak Wahyu.
Rio termangu dan menatap sendu pada Wahyu yang tengah murka.
Kok Ayah bisa tau? Tau dari mana?
Batin Rio.
"Tidak ada seorang suami yang mendukung mantan kekasih istrinya untuk bisa merebut istrinya. Tapi kau ... kenapa kau seperti itu, Rio? Ayah benar-benar kecewa padamu!" tambahnya lagi.
Rio langsung berjongkok dan memeluk lutut sang mertua.
"Ayah ... maafkan aku, aku dulu hilaf. Tapi sekarang aku-" belum selesai Rio meneruskan ucapannya, segera Wahyu membungkuk dan menarik lengan Rio supaya ia berdiri.
Glek~
Rio menelan salivanya dengan kasar.
"Ayah akan mengabulkan permintaan kamu. Kamu urus perceraian kamu dan Wulan, lalu temui Ayah di rumah." Wahyu sudah berbalik badan dan melangkahkan kakinya menuju pintu kamar Clara, namun dengan cepat, Rio menghentikan langkah kakinya dengan memegang salah satu lengannya.
"Aku tidak akan menceraikan Wulan, Ayah. Aku ingin kembali bersamanya, aku ingin melanjutkan rumah tanggaku."
"Untuk apa, Rio? Kamu saja tidak mencintai Wulan, jadi untuk apa pernikahanmu di lanjutkan?" pandangan mata Wahyu tidak menatap Rio sama sekali, ia lebih memilih menatap pintu.
"Aku akan mencoba mencintainya, Ayah ...."
Wahyu segera menepis tangan Rio pada lengannya. "Harusnya kamu mengatakan hal ini sejak awal pernikahanmu, dan sebelum kamu menyakiti putri Ayah. Ayah tidak tau apa saja yang kamu perbuat pada Wulan. Tapi yang Ayah tau ... Wulan itu wanita yang sabar dan penurut. Kalau Wulan sudah memutuskan untuk pergi, itu tandanya kamu sangat menyakitinya ...."
"Maafkan Wulan, Rio. Maafkan segala kekurangan yang dia miliki ... mungkin dia bukanlah wanita idamanmu, jadi Ayah bisa memakluminya."
"Kamu tampan, kamu kaya, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu punya. Tapi kamu tidak bisa terus-menerus menyakiti Wulan, karena disini masih ada Ayah ... masih ada Ayah yang mencintai, Wulan."
__ADS_1
"Lepaskan Wulan, Rio. Ayah ingin Wulan bahagia, walau tidak bersamamu."
Deg~
Selesai meluapkan semua kekesalan pada dadanya, Wahyu segera masuk kedalam kamar Clara, meninggalkan Rio yang tengah berdiri sambil termangu. Kali ini, pintunya ia kunci. Sengaja, supaya Rio tidak bisa masuk kedalam.
Tidak, aku tidak mau bercerai dengan Wulan. Ayah ... Ayah benar-benar sudah membenciku, aku harus temui Wulan dan membujuknya untuk kembali padamu.
Tapi dimana dia?
Rio menoleh ke kanan dan kiri, sekitar ruangan itu. Memang tidak ada Wulan disana. Pria itu mendekati pintu kamar Clara dan mengetuknya.
Tok ... tok .. tok.
"Buka pintunya Ayah! Maafkan aku, aku tidak ingin bercerai dengan Wulan. Dimana Wulan sekarang Ayah? Aku akan mengajaknya kembali bersamaku."
Orang yang didalam sana tidak menggubris ucapan Rio. Pria tampan itu bahkan menarik turun gagang pintu.
"Ayah!"
Sikap Rio membuat salah satu Suster yang lewat merasa risih. Karena suaranya cukup nyaring dan membuat pasien terganggu. Suster itu berjalan menghampirinya.
"Mas ... tolong jangan berisik, ini rumah sakit dan tidak enak menganggu pasien yang lain," tegurnya.
Rio menoleh kearah Suster dan melepaskan gagang pintu.
"Maafkan saya, Sus."
Suster itu mengangguk pelan dan berlalu pergi meninggalkan Rio.
Sepertinya susah berbicara kembali dengan Wahyu, karena pria paruh baya itu jelas masih kesal padanya. Rio memutuskan untuk melangkah kakinya menuju lift.
Ia hendak turun ke lantai bawah, menemui ibunya di kamar inap Indah. Mungkin hanya Santilah satu-satunya orang yang dapat membantu.
Rio mengirim pesan dulu pada satpam rumahnya, memintanya untuk mengantarkan mobilnya ke rumah sakit.
Ting~
Pintu lift sudah terbuka dengan lebar, Rio langsung mencari kamar VVIP nomor 190. Namun saat sedang mencari, tiba-tiba ia mendapatkan panggilan masuk dari ponselnya.
Ia menghentikan langkah, dan merogoh ponsel pada saku jas. Ternyata panggil tersebut dari anak buahnya.
"Halo Bos Rio, saya sudah menemukan keberadaan Nona Wulan!"
__ADS_1
"Dimana? Dimana dia?" tanya Rio dengan penuh antusiasnya.
^^^Kata: 1051^^^