
Kenapa dia terus berprasangka buruk dan tidak percaya padaku? Padahal aku tulus mengatakannya.
Batin Wulan.
Manis sekali ucapannya itu, apa dia tulus? Aku rasa tidak.
Batin Rio sambil tersenyum miring.
"Tapi aku tidak percaya padamu, Wulan!" seru Rio.
"Iya, aku tau kok, Mas. Tidak masalah ...."
Rio menghela nafas. "Mendekatlah! Pijat kepalaku!"
Wulan mengangguk dan mendekati Rio, perlahan tangannya terangkat dan memijat lembut dahi dan rambut kepala Rio.
Namun kali ini Rio tidak memejamkan mata, pandangannya teralihkan pada kedua gunung kembar yang sedikit terlihat dibalik dress yang Wulan kenakan. Memang dress yang saat ini Wulan pakai agak terbuka di bagian dada.
Kalau dari kejauhan mungkin tidak terlihat. Tapi karena mereka sangat dekat, belahannya saja mampu membuat Rio meneguk salivanya dengan kasar.
Ada yang langsung menegang dibalik celana dan selimut itu, Rio segera memegangi juniornya. Supaya tidak terlihat berdiri.
"Sudah-sudah, hentikan pijitanmu!" seru Rio.
Wulan langsung melepaskan tangannya dari kepala Rio. Tapi dia masih berdiri dan terdiam.
Mata Rio masih menatap dua gunung yang terlihat menantang itu, padahal masih tertutup dalam kain.
Kenapa Wulan memakai dress seperti itu? Aku sampai bisa melihat belahannya tadi. Oh apa dia sengaja memakainya karena akan bertemu dengan Dido?! Lalu supaya tergoda, begitu?! Cih! Gatal juga ternyata si Wulan ini. Sudah punya suami tapi masih ingin menggoda pria lain.
Batin Rio.
"Wulan, kenapa kau memakai dress seperti itu?!" tanya Rio dengan tatapan dinginnya.
"Memangnya ada yang salah dengan pakaianku, Mas?!" Wulan menunduk seraya memperhatikan tubuh, baginya tidak ada yang salah.
"Kau buta?! Dressmu itu terlalu terbuka di bagian dada! Aku sampai bisa melihatnya!" seru Rio.
Deg.......
Mata Wulan terbelalak, ia segera memegangi pakaian pada bagian dadanya itu.
Lalu kenapa? Bukankah dia pernah melihatku tanpa busana?! Kok sekarang malah marah-marah. Apa yang salah denganku? Aku saja tidak menyadari kalau Mas Rio bisa melihatnya.
__ADS_1
Batin Wulan.
"Apa kau sengaja memakai dress itu ketika mau ke rumah sakit dan bertemu dengan Dido?! Benar begitu, Wulan!" bentak Rio.
"Mas ... Mas Rio ini bicara apa?! Aku memakai dress ini sejak pagi, aku juga tidak tau Mas Rio pingsan dan akan ke rumah sakit," jelas Wulan dengan nada lembut.
Rio mulai mengingat pakaian Wulan dari pagi, tapi dia tidak mengingatnya sama sekali. Mungkin karena dia tidak pernah memperhatikan istrinya.
"Kau berbohong! Lagian aku juga baru melihat dressmu yang seperti itu. Kemarin-kemarin dress yang kau kenakan tidak terlalu terbuka!"
"Sumpah! Aku tidak berbohong. Aku memakai pakaian ini sejak pagi," jawabnya dengan jujur.
"Kapan kau membeli dress itu dan untuk apa?! Apa kau membeli itu sengaja untuk membuat Dido tergoda padamu?!" tuduh Rio.
Deg.......
Wulan sudah geleng-geleng kepala dengan apa yang Rio katakan.
"Astaga Mas ... Mas Rio ini kenapa selalu su'uzan padaku? Aku bahkan tidak pernah beli dress atau pakaian yang lain. Ini Mamah Santi yang memberikannya padaku," jelas Wulan.
"Lagi-lagi kau berbohong! Sekarang ingin membela diri dengan bawa-bawa nama Mamah! Keterlaluan kau, Wulan!"
Wulan terdiam dan mengelus-elus dadanya, merasa begitu kesal dan jengkel dengan apa yang Rio katakan. Bukan hanya berkata, Rio sudah jelas seperti memfitnahnya.
Ceklek......
Dido masuk kedalam ruangan itu dan berdiri disamping Wulan.
"Bapak memanggil saya? Ada apa, Pak?" tanya Dido dengan sopan.
"Kau antarkan mantan pacarmu itu pulang! Aku muak melihat wajahnya!"
Deg......
Mata Wulan terbelalak. Ia merasakan ada sesuatu yang nyeri didalam hati. Padahal Rio sering mencaci maki dirinya, tapi kali ini rasanya berbeda.
"Apa maksud Mas Rio? Mas Rio mengusirku dari rumah sakit ini?" tanya Wulan dengan emosi, nafasnya sudah naik turun. Tapi dia masih mencoba berkata dengan nada rendah.
"Kalau kau merasa aku mengusirmu, anggap saja iya! Aku tak mau melihat kau berpakaian seperti itu! Kau pulang dan ganti baju!" titah Rio.
Kalau memang dia menyuruhku untuk mengganti pakaian, cukup bilang saja. Tidak perlu dia mengatakan muak melihatku. Kau benar-benar jahat sekali, Mas.
Batin Wulan.
__ADS_1
"Aku akan pulang. Tapi aku tidak mau diantar dengan Pak Dido. Aku bisa pulang sendiri, Mas ...."
"Kenapa? Bukannya kau senang jika terus bertemu dengannya?! Kenapa kau masih berpura-pura juga sampai sekarang, hah?! Kau masih mencintainya, bukan?!" sergah Rio
Wulan mengontrol emosinya, ia menarik nafas dan perlahan membuangnya.
"Mas ... ini yang terakhir aku katakan padamu, ya! Aku tidak mencintainya! Iya ... dulu memang aku cinta dan sayang padanya." Wulan melirik wajah Dido sekilas.
"Tapi sekarang tidak lagi, didalam hatiku tidak ada namanya," jelas Wulan dengan yakin.
"Aku tidak percaya!" sahut Rio seraya memalingkan wajah.
"Sejujur apapun aku, memang Mas Rio tidak akan percaya. Aku tau itu, Mas ...," lirihnya pelan.
Tak terasa air mata Wulan jatuh membasahi pipi, tak tergenang sampai derasnya. Bahkan ia membiarkan begitu saja air itu mengalir sampai dress.
"Apapun yang aku katakan dan apapun yang aku lakukan memang selalu salah di mata Mas Rio. Aku juga tau itu. Tapi ... kenapa, Mas? Kenapa segitu bencinya kamu padaku? Apa aku pernah berbuat dosa padamu?!"
Deg......
Mata Rio terbelalak, ia langsung menoleh kearah Wulan. Seluruh wajah wanita itu basah terkena keringat dan air mata.
Wulan menyibak rambutnya kebelakang, "Ah iya ... aku tau, semua ini gara-gara uang, bukan? Apa Mas Rio tidak ikhlas memberikanku uang 20 juta saat itu sampai sekarang?! Padahal aku sudah memberikan perawanku padamu, Mas!"
Deg......
Kini mata Dido yang ikut terbelalak kaget, dia tidak menyangka dengan apa yang Wulan ucapkan. Sedangkan Rio terdiam tanpa kata. Mulutnya seakan terkunci dengan rapat.
"Apa dari awal kamu menyentuhku ... kamu sama sekali tidak merasa puas padaku? Tidak terasa enak, begitu?! Jawab aku, Mas?!" pekiknya dengan lantang dan penuh penekanan.
Apa yang Wulan katakan?! Kenapa dia terlihat begitu emosi padaku?!
Batin Rio.
Rio sama sekali tidak menjawabnya, pria itu menatap nanar wajah Wulan.
Wulan menyunggingkan senyum.
"Kalau kamu diam saja begitu ... aku anggap jawabanmu adalah IYA."
"Dari awal pernikahan kita ... aku selalu mencoba jadi apa yang kamu inginkan, setiap ucapanmu selalu aku patuhi dan tidak pernah aku bantah sama sekali!"
"Kamu membuat peraturan. Aku selalu mengingat dan menjalaninya setiap hari. Semua cacian dan hinaanmu selalu aku biarkan ... aku selalu mencoba untuk jadi orang yang sabar. Tapi kali ini ... kamu sungguh benar-benar tidak menghargaiku ... kesabaranku sudah habis! Aku ... aku sekarang menyerah, Mas ...." Linangan air mata itu mengalir beriring dengan apa yang Wulan lontarkan.
__ADS_1
^^^Kata: 1016^^^