
"Wulan," lirihnya.
"Aku ingin istirahat." Wulan membenarkan posisi tubuhnya supaya bisa kembali berbaring. Namun pergerakannya seakan susah. Rio langsung membantu Wulan, mengangkat sedikit tubuhnya dan menarik selimut diatas dadanya.
"Aku ingin bicara denganmu, Wulan," ucapnya lagi.
"Aku sudah bilang. Aku ingin istirahat, Mas."
"Sebentar saja, Wulan."
"Yasudah, bicara saja."
Rio menarik nafas dan perlahan membuangnya, ia menggaruk rambut kepala yang tidak gatal. Merasa binggung harus bicara dari mana. Padahal tinggal bicara saja, tapi ia seakan mengulur waktu dan hanya melihat wajah wanita yang sedari tadi tidak melihatnya sama sekali.
Katanya mau bicara, tapi dari tadi diam saja. Aneh!
Hampir 10 menit berlalu, Rio hanya diam dan pada akhirnya Wulan duluan yang membuka mulut.
"Mana surat cerai kita, Mas? Apa Mas Rio sudah membawanya? Aku ingin tanda tangan!" sergah Wulan dengan pandangan mata berpusat kedepan.
"Aku tidak mau bercerai denganmu, Wulan," sahut Rio pelan.
"Kenapa?"
"Aku ingin memulai rumah tangga kita dari awal. Maafkan aku, Wulan. Aku sangat berdosa padamu. Maafkan semua kesalahanku."
"Maaf?! Segampang itu Mas Rio ucapkan kata maaf?! Itu tidak akan mengubah keadaan, Mas!"
"Iya, aku tau itu Wulan ...."
"Apa Mas Rio senang sekarang? Setelah melihat aku menderita? Menyakiti hati dan fisikku?" air mata Wulan tak terasa mengalir pada sudut matanya.
"Wulan, semua ini kecelakaan. Aku tidak ada niatan sama sekali untuk menabrakmu. Aku sangat menyesal, aku juga sakit karena tau ... aku sendiri yang membunuh anak kita."
"Sakit?! Bukannya kamu memang tidak ingin aku hamilkan, Mas? Kamu takut kalau aku hamil ... kamu tidak bisa bercerai denganku. Begitu, kan?"
Rio termangu, ia tak mampu menjawab pertanyaan Wulan. Karena memang itu ada benarnya.
"Kenapa diam, Mas? Berarti itu benar, kan?" tebaknya.
"Iya, aku mengakuinya Wulan. Tapi itu kemarin-kemarin, berbeda dengan sekarang." Tangan Rio perlahan ingin memegang tangan Wulan, namun wanita itu menggeserkan tangannya sendiri. Seakan enggan saling bersentuhan. "Tapi setelah aku tau kamu hamil ... dan aku sendiri yang membuatmu keguguran, aku menyesal Wulan. Tolong maafkan aku, kembalilah denganku. Kembali pulang bersamaku."
Wulan menyeka air mata yang terus saja mengalir, ia sama sekali tidak percaya dengan apa yang Rio ucapan. Baginya semuanya bohong.
"Aku tidak mau, Mas. Aku mau bercerai denganmu!" tegasnya.
Deg~
Mata Rio membelalak, dengan cepat ia membungkuk dan mendekatkan wajahnya pada wajah Wulan yang sudah basah karena air mata. Namun sungguh, perlakuannya membuat jantung Wulan berdebar. Bahkan ia sempat membelalakkan kedua matanya karena terkesima melihat wajah Rio sangat dekat dengannya.
Mau apa dia?
"Tidak, Wulan. Kau dan aku tidak boleh bercerai." Rio menatap manik mata Wulan dalam-dalam, tapi manik mata Wulan tidak menatapnya sama sekali. Nafas mereka kali ini sudah bertemu.
"Kenapa tidak boleh? Aku tau kamu dipaksa Mamah Santi, Mas. Nanti Ayah yang membantumu bicara padanya, Mamah Santi lama-lama akan luluh. Dia akan--"
Cup~
__ADS_1
Rio mencium bibir Wulan sekilas, supaya Wulan tidak melanjutkan ucapnya. Mata Wulan membulat sempurna.
Kenapa tiba-tiba dia menciumku?
"Aku tidak dipaksa siapapun. Ini murni keputusanku sendiri. Aku ingin mempertahankan rumah tangga kita. Beri aku satu kali kesempatan untuk memperbaiki diri, Wulan."
"Buat apa aku kasih kamu kesempatan, Mas! Kamu saja masih mencintai Indah. Aku tidak minta untuk dicintai, tapi setidaknya kamu menghargai aku sebagai istrimu. Kamu selalu merendahkan aku, Mas!" Wulan kembali menangis dan memejamkan matanya.
Tangan Rio mendarat pada pipinya, ia menyeka air mata itu secara perlahan. "Maafkan aku Wulan. Mulai sekarang aku akan berusaha untuk menghargaimu. Aku juga sudah melupakan Indah ... rasa cinta itu sudah mulai pudar. Sekarang aku akan fokus denganmu, fokus untuk mencintaimu!" tegasnya.
Deg~
Jantung Wulan kembali berdetak sangat kencang. Kedua pipi itu menjadi memerah.
Apa aku salah dengar? Fokus mencintai katanya? Apa mungkin? Apa bisa?
Tidak, aku tidak yakin dengan ucapan Mas Rio. Aku bukan wanita idamannya. Dia pasti berdusta!
Batin Wulan.
Walau Wulan tidak cantik, wajahnya ternyata manis juga. Apalagi kalau dilihat lebih dekat.
Batin Rio sambil tersenyum tipis.
Ia membenarkan lagi posisi punggung dan kepalanya, Rio merasa kalau Wulan tidak nyaman dengan wajah mereka yang saling memandang. Ralat, bukan saling memandang. Tapi hanya Rio yang sedari tadi memandanginya.
"Wulan ...."
"Apa?"
Tinggal lagi bersama? Aku tidak mau, nanti dia menyiksaku lagi.
"Wulan."
"Apa?"
"Kenapa pertanyaanku tidak dijawab?"
"Aku mau tinggal dengan Ayah saja, Mas. Maaf ... aku tidak mau tinggal di rumahmu."
"Kenapa tidak mau? Kau tidak betah tinggal disana? Apa di rumahku ada hantunya?"
Kau hantunya, Mas.
Wulan kembali terdiam dan memilih tidak menjawab pertanyaannya. Tapi ia merasa Rio sangat aneh. Kali ini nada suaranya terdengar standar, seperti orang lain pada umumnya. Karena mengingat lagi, kemarin-kemarin semua kalimat yang ia lontarkan selalu dengan nada tinggi dan penuh penekanan.
Apa mungkin semua yang Rio katakan adalah tulus? Entahlah, untuk saat ini ... Wulan tidak mempercayainya.
Kalau dia tidak mau tinggal lagi bersamaku ... lalu bagaimana?
Apa aku harus paksa dia?
Rio menggeleng cepat.
Tidak-tidak, nanti yang ada dia dan Ayah tambah membenciku.
***
__ADS_1
"Pak Reymond, Bapak cari saya? Ada apa? Apa Nona Indah mau bakso?" tebak Wahyu.
"Ah, hehe ... bukan, Pak." Reymond menggelengkan kepalanya. "Saya dan Papah Antoni ingin ngobrol-ngobrol saja."
"Oh yasudah." Wahyu langsung mendudukkan bokongnya, agak jauh dari Santi.
"Kita ngobrolnya di Restoran depan saja, Pak. Sekalian ngopi, bagaimana?" ajak Antoni.
"Tapi Wulan dan Clara? Saya tidak enak ninggalinnya, Pak."
Reymond melihat kearah Santi yang kebetulan ia juga sedang memperhatikan gerak-gerik anaknya dan Antoni. Merasa sangat aneh, karena yang ia tau ... Reymond dan Antoni tidak terlalu dekat.
Reymond sendiri lebih memilih tidak memberitahu siapapun, hanya dia dan Antoni saja.
"Mamah, titip Clara dan Wulan, ya? Aku mau ngopi bareng dengan Papah dan mertuanya Rio." Reymond mengedipkan salah satu matanya. Tidak memberi kode, melainkan hanya menggoda ibunya saja.
"Iya, kalian pergi saja. Mamah akan ke kamar inap Clara."
Wahyu menoleh juga kearah Santi. "Terima kasih, Bu."
"Sama-sama."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Langkah kaki mereka terhenti di halaman rumah sakit, tatkala melihat mobil hitam berhenti disisi jalan raya. Seorang wanita cantik keluar dari mobil itu sambil menggendong anaknya yang tampan.
"Ayah Lemon, Opa Onni!" seru Bayu dengan tangan terangkat, ia amat senang bertemu dengan Ayah dan Opanya.
Indah juga tersenyum dan menghampiri mereka bertiga, tapi ada rasa binggung dalam otaknya. Pemandangan yang jarang sekali terjadi.
"Aduh ... cucu Opa yang paling tampan!" Antoni begitu antusias melihat kedatangan mereka, ia segera mengambil alih untuk menggendong Bayu.
Reymond langsung memeluk istrinya dan mencium kening. "Sayang, kok kamu kesini? Katanya mau pergi sama Papah dan Bayu?"
"Tidak jadi, Mas. Papah ada meeting mendadak."
Ah bagaimana ini? Aku tidak mau Indah tau dulu.
^^^Kata: 1068^^^
__ADS_1