
Rio perlahan mencelikkan mata dan melihat Wulan sudah memejamkan mata. Semakin lama, wanita itu makin terhanyut dalam ciuman mesra yang Rio berikan. Bahkan lidah mereka seperti tengah bergulat sekarang, beradu untuk sama-sama bertukar saliva.
Setelah cukup puas, Rio melepaskan ciumannya dan beralih menciumi pipi, telinga dan turun pada leher. Ia menjilatinya secara rinci dan memberikan gigitan kecil disana.
Sungguh, dalam hati Rio ingin sekali menyentuh wanita itu. Tapi ia tiba-tiba mengingat ucapan dari Dokter waktu itu, yang melarangnya untuk melakukan hubungan suami istri sebelum istrinya benar-benar pulih dan fit. Tidak ingin ambil resiko, terpaksa Rio urungkan.
Namun demi mencapai kepuasan, Rio meminta Wulan untuk melakukannya dengan mulutnya. Awalnya wanita itu menolak keras, tapi Rio memasang wajah memelas untuk bisa meluluhkan hati wanita itu.
Disisi lain, Dido terus saja memperhatikan mobil itu. Terdengar begitu sunyi dan sepi, dalam benaknya hanya ada pertanyaan. Apa yang mereka berdua lakukan didalam sana?
Beberapa menit kemudian saat Dido dan Bibi mengobrol, telinganya seakan berdengung mendengar suara yang amat menggema.
"Aaaaa ...."
Suara Rio tengah mengerang mampu membuat Dido dan Bibi tersentak kaget.
Mereka yang berada di teras langsung mengarahkan pandangannya pada mobil didepan. Dido makin curiga dengan apa yang mereka berdua lakukan disana.
Sedang apa mereka? Apa sedang bercinta? Keterlaluan sekali! Bercinta didalam mobil. Tidak tau malu!
Wajah Dido benar-benar sudah memerah, ia sangat emosi. Kalau bisa, ia ingin membuka pintu mobil itu lalu menonjok kedua pipi Rio dengan kasar. Tapi nyatanya, tidak ada yang bisa Dido dilakukan. Pria itu diam dan hanya tercengang sambil memeras jas yang ia kenakan.
Sebenarnya ia juga tidak berhak marah untuk marah, karena apa yang mereka lakukan adalah urusan mereka. Terlebih lagi, Rio dan Wulan adalah sepasang suami dan istri.
Pria berkumis tipis itu menoleh kearah Bibi yang tengah tercengang. "Bi, aku ke warung sebentar beli minuman. Nanti bilang saja pada Pak Rio, ya?"
"Iya, Pak."
Demi menghilangkan rasa panas dalam hati dan dadanya, Dido melangkahkan kakinya, pergi mencari warung terdekat. Ia membeli minuman dingin untuk menjernihkan otaknya.
Minuman bersoda berwarna merah itu langsung ia tenggak sampai habis, sisa botol kosongnya ia remas dan membantingnya di tanah dengan hentakan kasar.
"Dasar gila! Bilang ingin bercerai! Bilang tidak mencintai! Tapi sendirinya bercumbu dan bercinta! Pak Rio benar-benar tidak waras!" umpatnya dengan penuh kekesalan.
Tiga puluh menit berlalu, ia menunggu pada bangku sebelah warung. Tak lama suara deringan ponselnya berbunyi. Dido segera mengambilnya pada kantong celana.
Tertulis nama 'Pak Rio' pada layar, bosnya yang tampan itu sudah selesai melakukan aktivitasnya. Dido tidak berencana untuk mengangkat telepon itu, ia segera membayar minuman dan berlari menuju rumah Wahyu, menghampiri Rio.
__ADS_1
***
Seusai berhasil melakukan pelepasan yang dibantu oleh sang istri, Rio langsung terkulai lemas dengan nafas yang naik turun. Tapi wajahnya tampak begitu berseri, jangan lupakan guratan senyumannya juga, sangat menawan.
'Ternyata menggunakan mulut nikmat juga rasanya' batin Rio.
Wulan membereskan pakaiannya yang masih terbuka itu, lalu mengumpulkan sisa tissu bekas yang sempat ia pakai untuk membersihkan tubuh bagian bawah suaminya.
"Tissunya buang saja di pojokan situ." Rio menunjuk tempat sampah kecil dibawah kursi yang Wulan duduki.
"Iya, Mas." Tanpa disuruh, Wulan segera memakaikan kembali celana d*l*m dan luar milik Rio.
Ting~
Bunyi notifikasi pesan masuk, Rio segera membuka ponsel dengan mata yang membelalak. Entah apa isi dari pesan itu, intinya ia harus segera ke kantor sekarang juga.
Ia segera menelepon Dido, tapi tidak diangkat sama sekali.
"Kemana si bodoh itu?" ia menurunkan kaca mobil dan menoleh pada Bibi yang masih duduk di teras. Mulutnya sudah menganga hendak bertanya tentang Dido. Tapi pria yang ia cari sudah ada didepan matanya. "Kemana saja, kau? Cepat antarkan aku ke kantor! Bisa mati aku dimarahin Kak Reymond!" titahnya dengan nada tinggi.
"Iya, Pak." Dido segera masuk kedalam. Sedangkan Wulan hendak membuka pintu mobil. Namun dengan cepat Rio memegang lengannya, membuat wanita itu menoleh kearahnya.
Cup~
"Terima kasih, Wulan. Kau istirahatlah di rumah. Ada Bibi juga, kalau ada apa-apa minta tolong padanya. Oya ... saat kecelakaan itu aku tidak menemukan ponselmu, apa hilang?"
"Sepertinya iya, Mas."
"Yasudah, nanti aku belikan ponsel yang baru untukmu. Oya ... nanti malam kau pakai baju tidur, ya?"
"Bukannya setiap malam aku memang pakai baju tidur ya, Mas?"
"Ah, benar juga." Rio mengusap-usap tengkuknya sendiri, padahal ada hal lain dari maksud ucapannya. Tapi ia sendiri merasa malu.
'Katanya tadi suruh buru-buru! Tapi sekarang sibuk mengobrol sama Wulan' gerutu Dido.
Wulan membalasnya dengan senyuman dan langsung membuka pintu untuk keluar dari mobil.
__ADS_1
Dido langsung menancapkan gasnya untuk pergi dari rumah Wahyu, dadanya lagi-lagi terasa sakit. Kedua matanya saja sampai memerah.
Sabar-sabar Dido. Aku yakin Wulan tidak akan gampang luluh pada Pak Rio. Apalagi Pak Rio orangnya mudah tersinggung.
Rio menyunggingkan senyum, melihat Dido seperti tengah kebakaran jenggot. Tapi ada rasa puas tersendiri dalam hatinya.
"Kau habis dari mana tadi?" tanya Rio.
Dido menghela nafas dengan gusar dan mengusap-usap wajahnya. "Saya habis dari warung, Pak. Maaf ...."
"Oh. Habis beli apa?"
"Air minum, saya haus."
"Haus sama panas juga, ya?" Rio seperti tengah memancingnya.
"Panas apa maksud Bapak?" Dido pura-pura tidak mengerti maksud Rio, padahal ia tau betul, bosnya sedang meledeknya sekarang.
"Panas karena melihatku berciuman dengan Wulan tadi."
"Saya tidak melihatnya, Pak."
"Bohong! Aku tau kau melihatnya. Lalu kau keluar karena merasa tidak kuat, bukan?"
Dido terlihat tersenyum paksa, Rio seperti dapat mengetahuinya.
"Tidak kuat apanya, Pak? Saya memang tadi haus saja."
"Hahahaha ...." Rio bergelak tawa sambil geleng-geleng kepala. "Hebat juga sandiwaramu Dido, kau mampu menutupi rasa cemburu." Rio melipat kedua tangannya diatas dada. "Tapi, bagus juga. Kau memang harus membiasakannya."
"Apa kau tau? Tadi aku dan Wulan habis bercinta. Ternyata dia memang pintar sekali memuaskan suami. Kau menyesal, bukan? Menyesal karena pernah meninggalkannya?"
"Hahahaha ... aku jadi ingin cerita padamu, Dido. Aku pertama kali bertemu dengan Wulan saat dia sedang patah hati. Dia sampai menangis seperti wanita bodoh!"
"Tapi sekarang, kau yang justru bodoh karena telah meninggalkannya. Sekarang kau tidak akan bisa mengambil Wulan dariku, dia milikku selamanya!"
Semua ocehan yang Rio lontarkan, masuk dengan sempurna pada kedua telinga Dido. Tapi pria itu sama sekali tidak memperdulikannya. Ia masih tetap dalam pendirian, untuk bisa kembali dengan wanita di masa lalunya.
__ADS_1
Bapak pikir ... Bapak sudah menang? Ini baru awal, Pak. Aku tidak akan membiarkan Bapak bahagia diatas penderitaanku.