Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 170. Dua jagoan, Ayah


__ADS_3

Tanpa menjawab, Rio bangun dan keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Wulan dan kedua anaknya, bahkan jenis kelamin anak keduanya belum Rio ketahui.


Ceklek~


"Bagaimana Wulan, Rio?" tanya Santi saat melihat anaknya membuka pintu, ia memeluk tubuh Rio dan mencium keningnya.


"Alhamdulilah, semuanya sukses, Mah. Cuma tadi Wulan sesak nafas."


"Tapi sedang ditangani Dokter, kan?"


Rio mengangguk.


"Cucu Mamah jenis kelaminnya apa?"


"Laki-laki, tapi yang satunya aku belum tau."


"Apa sudah lahir cucu Ayah?" tanya Wahyu yang baru saja datang dengan tergesa-gesa, ia mengatur nafasnya yang tersendat.


"Iya, Ayah. Cucu Ayah sudah lahir." Rio langsung memeluk tubuh mertuanya.


"Alhamdulilah, jenis kelaminnya apa?"


"Laki-laki, tapi yang satunya aku tidak tau." Rio mengulang jawaban dari Santi sebab pertanyaan Wahyu dan ibunya sama.


"Apa dia mirip dengan Ayah?" Wahyu melepaskan pelukannya dan mengusap rambut Rio.


"Tidaklah, pasti dia mirip denganku," jawabnya dengan percaya diri.


"Kau sudah melihat wajahnya?" tanya Santi.


"Belum, tadi tidak sempat gara-gara Wulan sesak nafas, Mah."


Wahyu terbelalak. "Sesak nafas? Lalu bagaimana? Apa dia baik-baik saja?" seketika Wahyu mengingat kejadian istrinya yang meninggal saat mau melahirkan, rasanya takut, takut kalau terjadi sesuatu pada putrinya.


"Wulan wanita yang kuat, Ayah. Dia pasti baik-baik saja, dia mungkin capek dan lemah. Maklum, karena melahirkan dua anak untukku." Rio menggembungkan senyuman, ia juga berusaha untuk membuat hati Wahyu tenang walau aslinya hatinya juga tak tenang.


"Kau pakai pakaian dulu Rio, biar enak bertemu anakmu nanti," tegur Santi.


"Iya, Mah. Aku akan memakai pakaian yang rapih dan akan terlihat tampan di depan anakku! Biar mereka terpesona!" Rio berjalan jingkrak-jingkrakan menuju kamar inapnya untuk memakai pakaian.


Wahyu dan Santi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah konyol Rio yang tak tau malu itu. Tapi mereka sangat bahagia, akhirnya penantian Rio tidak sia-sia dan semuanya berjalan dengan lancar, tinggal tunggu kabar tentang Wulan saja.

__ADS_1


Rio membuka koper dan memilih pakaian dari Santi, namun sayangnya dua setelan jas yang berwarna nevy dan merah maroon itu tidak terlihat menarik perhatiannya, pakaian itu juga terlihat seperti pakaian yang sering Rio pakai.


"Harusnya pakaianku baru, kan? Kan aku mau melihat kedua anakku yang baru saja lahir ke dunia." Rio mengangguki ucapannya sendiri. Lantas dirinya berjalan menuju sofa untuk mengambil ponselnya, menghubungi Indra.


"Halo, selamat pagi Pak Rio," sapa Indra saat mengangkat panggilan.


"Indra, ada kabar bahagia untukmu."


"Apa, Pak? Apa saya akan naik gajih?"


"Iya, kau akan naik gajih dan itu ada sebabnya." Sebenarnya Rio tak ada niat untuk menaikkan gajih Indra. Namun berhubung Indra membahas hal itu duluan, jadi tidak ada salahnya jika Rio menaikkan gajihnya. Indra sudah bekerja keras dan ikut andil dalam rumah tangga Rio. Ya walaupun memang dibayar, tapi kesetiaannya harus diberi apresiasi.


"Sebabnya apa, Pak?"


"Wulan melahirkan! Aku jadi seorang Ayah, Indra!" jawabnya bersorak.


"Alhamdulilah, selamat Pak. Jenis kelamin mereka apa, Pak?"


"Yang satu laki-laki, tapi yang satunya lagi aku tidak tau. Oya ... aku ingin kau membelikan pakaian baru untukku."


"Satu setelan jas atau pakaian biasa?"


"Warna cerah contohnya seperti apa? Putih, cream?" Indra menyebutkan dua warna cerah setelan jas yang Rio punya.


"Jangan, itu sudah biasa. Yang lebih cerah lagi, dan pokonya pakaian itu bisa menggambarkan hatiku yang sedang berbunga-bunga."


"Apa dong, Pak? Saya binggung. Bapak sebutkan warnanya saja."


"Masa kau tidak mengerti, sudah ah! Cepat! Nggak pakai lama!" perintah Rio seraya menutup telepon.


Ceklek~


Kamar inap itu sudah dibuka oleh Santi dan ia terbelalak lantaran sedari tadi Rio masih memakai handuk.


"Rio! Kau ngapain saja dari tadi? Sana temui anakmu. Kau belum mengadzaninya, kan?"


"Aku menunggu Indra, Mah."


"Kok nunggu Indra, mau apa? Kau mau minta dia mengajarimu? Bukannya kau bisa."


"Bukan, dia mau membawa pakaian baru untukku, Ayah di mana? Bayiku tidak boleh ada yang melihatnya sebelum aku!" Rio mulai panik, ia tak mau seorangpun selain dirinya melihat kedua bayinya. Mungkin selain suster dan dokter tadi. Rio hendak membuka pintu namun lengannya ditarik oleh Santi.

__ADS_1


"Belum ada yang melihatnya, sekarang cepat temui mereka di ruangan bayi! Tidak baik seperti ini!" tegas Santi.


"Wulan bagaimana, Mah? Apa Dokter sudah memberitahu keadaannya?"


"Belum, masih ditangani Dokter."


Tak lama Indra datang sambil membawa paper bag. Tanpa basa-basi, Rio segera mengambilnya dan masuk ke kamar mandi untuk memakai pakaian.


Hanya selang satu menit, Rio keluar dari kamar mandi. Penampilannya yang begitu mencolok dan menyilaukan itu sampai membuat Santi tidak berkedip saat melihatnya. Santi merasa aneh dan meringis geli melihat setelan jas berwarna kuning terang dengan motif bunga-bunga yang Rio pakai.


"Astaghfirullah, apa yang kau pakai Rio? Lebay sekali pakaianmu ini!" Santi menarik sedikit ujung lengan jas yang Rio kenakan, ia merasa tak suka dengan apa yang dipakai anaknya.


"Apa sih Mamah, ini bagus!" Rio menundukkan kepalanya, memperhatikan jas pada tubuhnya. "Ini menggambarkan hatiku yang sedang berbunga-bunga." Rio tak peduli dengan ocehan Santi. Ia sepertinya memang menyukai pakaian itu.


*


"Ayah! Ayah mau apa?" Rio menahan Wahyu yang baru saja hendak masuk ke ruangan bayi, salah satu tangan pria paruh baya itu memegangi handle pintu.


Wahyu menoleh dan membulatkan matanya, melihat menampilkan mencolok Rio. Pria tampan itu menjadi pusat perhatian rumah sakit dan itu membuat Wahyu terkekeh geli.


"Astaga, apa yang kau pakai? Ini lucu sekali." Wahyu mencubit kecil jas yang Rio kenakan.


"Lucu-lucu, ini bagus dan aku terlihat tampan." Rio memuji dirinya sendiri. "Ayah minggir, aku mau menemui anakku!" Rio menarik lengan Wahyu supaya menjauh dari pintu.


"Kita lihat bersama saja, Ayah juga mau melihat cucu Ayah."


"Tidak boleh! Hanya aku duluan yang boleh melihatnya!" tegas Rio. Ia menerobos masuk dan meninggalkan Wahyu di luar. Wahyu ingin ikut masuk, namun sayangnya ruangan itu sudah Rio kunci dari dalam.


Banyak sekali beberapa box bayi yang tentunya ada bayi di dalam sana. Rio mencari-cari bayi kembarnya dengan melihat papan nama Rio dan Wulan sebagai orang tua.


Setelah ketemu Rio baru tau, jika kedua anaknya berjenis kelamin laki-laki.


"Dua jagoan, Ayah. Ayah datang sayang." Rio menghampiri box bayi itu dan melihat kedua bayinya yang sudah terbungkus kain bedong dan kupluk pada kepala. Keduanya begitu mirip bak pinang dibelah dua. Tampan, lucu, putih dan mengemaskan. Nyaris sempurna. Wajah kedua bayi itu memang mirip dengan Rio, namun ada kombinasi dari wajah orang lain selain dirinya.



Rio yang belum sadar akan hal itu segera mengambil salah satu bayinya untuk ia gendong, ia mencium seluruh wajah imutnya dengan penuh kasih sayang.


Cup ... cup ... cup.


Jangan lupa like 💕

__ADS_1


__ADS_2