Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
88. Bahaya


__ADS_3

Ah sial. Bokongku benar-benar sakit, senjataku kurang kuat untuk tempur malam ini.


Gerutu Rendi melangkah perlahan menuju kasur menyenderkan tubuhnya di tepi ranjang, merasakan sakit bokongnya.


"Sayang kamu pakai kaos dan kolor ku saja nanti masuk angin." Ucapnya merosot kan tubuhnya di atas kasur.


"Lho katanya kita mau tempur Mas?" tanya Indah.


Eh tunggu dulu. Kok aku seperti mengajaknya, ah memalukan.


Batin Indah merona.


"Kamu tahan dulu ya sayang. Maafkan aku, sepertinya tugas negara kita malam ini gagal." Ucapnya merasa bersalah.


"Tapi kau tidak perlu khawatir, aku janji padamu. Aku yang perkasa ini akan memuaskan mu di malam-malam berikutnya," ucap Rendi dengan lengannya yang sudah di lipat untuk memamerkan otot-ototnya.


Indah menjawab dengan anggukan kepala dan senyum di bibirnya, dia berlari kecil untuk mengambil kaos dan kolor Rendi di lemari dan masuk kamar mandi.


Padahal Indah sudah begitu mempesona dan membuatku nafsu, tapi rasanya pinggulku tidak mampu untuk bergoyang malam ini.


Batin Rendi sambil melihat tubuh Indah yang sangat mulus. Kemudian dia menelepon Harun untuk membelikannya salep nyeri otot.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Keesokkan harinya, pagi-pagi Indah dan Rendi pulang dari Hotel dengan menaiki mobil yang di setir oleh Dion. Rendi langsung mengantarkan Indah ke kampus, setelah itu barulah dia ke kantor pamannya. Untuk mengambil Melly sebagai sekretarisnya lagi, sudah kayak barang saja si Melly di oper-oper.


Dari hasil rekaman suara yang Melly kirim padanya, terdengar jelas bagaimana mulut nakal Andra merayu dengan kata-kata mesumnya kepada Melly.


"Sayang kamu pulang dari kampus jam berapa?" tanya Rendi yang duduk merangkul Indah di kursi belakang, mereka duduk sangat lengket sudah macam prangko.


"Siang sih kayaknya Mas. Oya aku mau sekalian minta izin pulang dari kampus mau ke Mall dulu, apa boleh?" tanya Indah.


"Kamu mau belanja apa? Mau aku temenin?" tanyanya sambil membelai lembut pipinya.


"Aku mau beli blazer untuk wawancara nanti Mas. Kamu tidak usah menemaniku, aku mau sama Maya ke Mall nya,"


"Maya? Laki-laki atau perempuan?" tanya Rendi.


"Perempuan Mas, kan namanya Maya. Memang ada nama Maya laki-laki?" tanya Indah sambil terkekeh.


"Ya..... Bisa saja namanya, Mayangkara atau Mayanto." Sahutnya mengarang. "Oya masalah tugas wawancara. Nanti kamu yang akan mewawancarai aku bukan sayang? Soalnya aku dapat undangan juga?" tanya Rendi.


"Bukan Mas."

__ADS_1


"Terus kamu wawancarai CEO dari kantor mana?"


"Eeemmm?" pikirnya ke diri sendiri "Aku lupa nama kantornya Mas, tapi kata Nella sih CEO di sana adalah Omnya,"


Omnya Nella? Apa dia orang yang pernah ketemu Indah, pas di cafe itu.


Batin Rendi.


"Apa dia terlihat seperti om-om genit?" tanya Rendi seraya menarik alisnya keatas.


"Tidak Mas, dia orangnya ramah kok." Sahut Indah mengangkat kepala keatas samping, kearah Rendi.


Yang ramah kayak gini malah bahaya.


Batin Rendi.


"Ramah? Kok kamu tahu dia ramah. Memang kamu mengenalnya?" tanya Rendi mengerutkan dahi.


"Tidak Mas, cuma kan pernah ketemu."


"Berapa umurnya? Apa seumuran dengan Papah?"


"Tidak, dia masih muda. Mungkin seumuran denganmu Mas."


Batin Rendi.


"Bagaimana wajahnya? Apa dia tampan?" tanya Rendi yang mulai kebakaran jenggot, padahal aslinya tidak ada, dia kan rajin mencukur 2 hari sekali.


Indah mengangguk pelan. "Kalau di banding denganku bagaimana? Aku dan dia lebih tampan siapa?" tanyanya menunjuk diri sendiri.


"Eemmmm," Gumam Indah mulai mikir-mikir dan mengingat-ingat wajah omnya Nella.


Rendi langsung memegangi kedua pipi Indah dengan kedua tangannya supaya dia memandang wajanya, "Coba perhatian wajahku baik-baik." Ucapnya penasaran dengan keringat di dahinya yang sudah mulai mengalir.


Baru kali ini dia merasa tidak percaya diri dan takut pada pria lain yang ramah dan lebih tampan darinya, tentu mengenal istrinya.


"Bagaimana sayang?" tanyanya dengan jantung yang dag-dig-dug ser, sudah tak sabar mendengar jawaban dari Indah.


Mas Rendi kok sampai deg-degan gini.


Batin Indah yang mendengar degup jantung di dada Rendi.


Mulut Indah mulai ternganga dan berkata. "Lebih tampan kamu Mas." Jawab Indah dengan pasti.

__ADS_1


Mata Rendi langsung berbinar-binar dengan senyuman lebar di mulutnya, "Benar kah?" tanya Rendi lagi memastikan. Indah mengangguk dan tersenyum.


Cup... Langsung saja dia menciumnya, mata Indah terbelalak dengan kagetnya.


"Eeemmm Mas..." Lirihnya, dengan bibir yang sudah berpautan.


Bibir Rendi sudah menganga, mengajak Indah berciuman di dalam mobil. Lum*tan bibirnya menghisap lidah penuh dengan kelincahan. Indah membalasnya dengan sukarela, kali ini salah satu tangan Rendi sudah mulai menyusup kedalam kaos yang Indah kenakan, dan meremas buah dadanya dengan lembut.


Setelah itu Rendi mengecup leher Indah, dengan permainan lidahnya yang beracun. Karena membuat sensasi geli-geli enak, Rendi kembali lagi meraup bibir Indah


"Eeeemmmmm..." Gumamnya bersama, menikmati ciuman di mobil walau terasa kurang nyaman karena posisi yang kurang luas.


Fokus menyetir saja Dion.


Batin Dion sambil geleng-geleng kepala.


Sampai akhirnya mereka baru menyadari kalau Dion ada di sana, tengah menyetir di depan dan tidak di anggap. Dia hanya bisa menelan saliva dan pura-pura tidak melihat, walau kadang sering curi-curi pandang di spion depan mobil.


Dion memberhentikan mobilnya, karena memang sudah sampai di depan kampus dan langsung saja dia keluar dari mobil.


Mereka melepas ciumannya, "Mas kamu ini. Aku malu." Ucap Indah sambil menggigit bibir bawah.


"Malu kenapa? Kan cuma ciuman nggak sampai buka-bukaan." Sahut Rendi dengan santai dan mengusap bibir Indah yang basah.


"Tetap saja, aku malu kalau ada yang lihat." Sahutnya cemberut seraya memalingkan wajah.


"Ya sudah lain kali kita melakukan di tempat sepi. Sana kuliah, apa mau ikut aku ke kantor?" tanya Rendi dengan mata genit.


Indah langsung membuka pintu mobil dan berjalan keluar tanpa melihat Dion karena merasa malu.


🌸🌸🌸🌸


Di kantor Andra.


"Selamat pagi Pak." Sapa asistennya yang sudah masuk kedalam ruangan Andra.


"Pagi, bagaimana? Sudah ada informasi tentang istrinya Rendi itu siapa?" tanya Andra yang sedang duduk di kursi putarnya.


"Saya dengar dari orang-orang. Dia adalah anak dari ibu Sarah mantan cleaning service Bapak dulu."


"Sarah? Cleaning service?" tanyanya mengulang perkataan sambil mengingat-ngingat. "Oh yang penyakitan itu?" tanyanya.


"Betul Pak, dia juga pernah mengantikan posisi Bu Sarah sebagai cleaning service, setelah Pak Rendi memegang perusahaan. Nona Indah juga sekarang kuliah di universitas Xxxx. Tapi kalau soal ayahnya saya tidak tahu, saya dengar ayahnya meninggalkan Nona Indah dan ibunya, bahkan pas acara pernikahan dengan Pak Rendi saja dia tidak datang." Ucapnya menjelaskan.

__ADS_1


^^^🌾To Be Continue....🌾^^^


__ADS_2