
"Eemm ... Ayah, aku pamit ke kantor dulu," ucap Rio menepis obrolan santai diantara Dido dan Wahyu. Wahyu hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.
Rio masuk lagi ke kamar Wulan, niat hatinya ingin pamit padanya. Namun wanita itu sudah memejamkan mata, terlelap dari tidur karena pengaruh obat.
Pria tampan itu mendekat dan mencium pucuk rambut istrinya. "Cepat sembuh Wulan," ucapnya dan lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
Rio mencium punggung tangan Wahyu dan berlalu pergi, bahkan Wahyu tidak mengucapkan sepatah katapun padanya.
Apa Ayah masih marah? Bagaimana caraku supaya dia dan Wulan bisa memaafkanku? Wulan juga tidak mau aku ajak pulang kembali ke rumah. Padahal aku sudah rindu sentuhan busa pada tangannya, saat dia memandikanku.
Rio sudah masuk kedalam mobil dengan Dido yang memegang kemudi, sesekali Dido memperhatikan Rio yang tengah duduk terdiam pada kursi belakang. Bukan hanya terdiam, lebih tepatnya ia sedang melamun.
Sepertinya hubungan Pak Rio dan Pak Wahyu tidak baik. Ah jelas! Pak Rio adalah tersangkanya. Tapi itu bagus ... dengan begitu, akan jadi peluang untukku.
Batin Dido tersenyum licik.
Deringan ponsel pada saku jas Rio mampu membuyarkan lamunannya, ia langsung merogoh ponsel dan mengangkatnya. Panggilan itu dari Santi. Ah tapi kebetulan sekali, mungkin dengan meminta solusi sang Mamah, menjadi obat penawar rasa galaunya.
"Halo Rio."
"Halo, Mah. Selamat pagi."
"Pagi, kau ke kantor? Apa masih di rumah sakit?"
"Aku lagi di jalan, kearah kantor. Ada apa, Mah?"
"Tidak, bagaimana keadaan Wulan sekarang?"
"Wulan baik-baik saja, Mah. Tinggal tunggu pemulihan. Oya ... Mah, ada hal yang ingin aku bicarakan pada Mamah."
"Apa itu?"
"Wulan, Mah. Dia tidak mau aku ajak pulang ke rumah."
"Kau sudah membujuknya?".
"Sudah."
"Bicaramu kasar tidak? Kalau membujuk seorang wanita yang sedang marah itu harus lemah lembut, Rio."
"Aku sudah berusaha membujuknya dengan lembut kok, Mah. Tapi dia tetap tidak mau pulang ke rumahku. Dia bilang ingin tinggal bersama Ayah. Aku harus bagaimana, Mah? Apa aku menyerah saja?"
"Ish ... kau ini, masa begitu saja sudah mengeluh."
"Aku bukan mengeluh, tapi kata Mamah ... jangan pernah memaksa seorang wanita yang tidak mau. Kalau aku memaksanya, itu termasuk tindakan kejahatan." Rio mengingat ucapan Santi pada saat di Bandung.
"Iya, itu benar. Bagaimana kalau kamu ikut saja tinggal di rumah mertuamu," usulnya.
Mata Rio membelalak. "Apa? Aku tinggal di rumah Ayah?! Mamah yang benar saja, mana betah aku tinggal disana."
"Lalu kau sendiri betah tinggal di rumahmu tanpa Wulan? Tidak kesepian?"
__ADS_1
"Kesepian, Mah."
"Yasudah, kau saja yang mengalah Rio. Sekali-sekali hilangkan egomu sendiri. Bukannya itu bagus? Dengan begitu kamu juga bisa memperbaiki hubunganmu dengan Pak Wahyu."
"Kalau Ayah tidak mengizinkanku bagaimana, Mah?"
"Kau ini! Tanyalah nanti. Tapi Mamah yakin ... kalau Pak Wahyu mengizinkanmu. Masa menantunya mau tinggal bersama, dia larang! Tidak mungkin Rio!"
Apa aku turuti usulan dari Mamah saja? Tapi kira-kira aku betah tidak, ya?
"Lagian rumahnya yang sekarang jauh lebih nyaman dari kontrakannya yang dulu," tambah Santi.
"Memang Mamah tau rumahnya? Dimana, Mah?"
"Tau, dekat dengan kantor Papah."
Deg~
Ternyata Wulan dan Ayah pindahnya disana? Pantas waktu itu Wulan mau melamar kerja.
"Mamah tau dari mana?"
"Wulan yang beritahu Mamah, sebenarnya Mamah sudah tau dari dulu."
"Astaga!! Serius? Apa sebelum Wulan ketemu?" Rio menarik-narik rambutnya sendiri.
"Wulan tidak hilang Rio! Mamah sering bertemu dengannya. Kau saja yang tidak becus mencari!"
Rio membuang nafas dengan kasar. "Ah Mamah ini menyebalkan sekali, kenapa tidak memberitahuku sejak awal ...," lirihnya.
Deg~
Iya, Mamah benar.
***
Tepat setelah Dido mengantarkan Rio ke kantor dan memastikan kalau ia sibuk dan tidak bisa diganggu, saat itu juga Dido kembali ke rumah sakit.
Ia menjinjing paper bag yang berisi 2 porsi kebab, makanan kesukaan Wulan. Sengaja ia membawakan, supaya Wulan bisa mengenang masa pacarannya dulu.
Sampai disana, ia bertemu seorang Suster yang baru saja keluar dari kamar Wulan dengan membawa meja troli.
"Suster, Wulan sedang apa? Apa aku bisa menjenguknya?" tanya Dido dengan mata yang melirik kesana kemari, memastikan supaya tidak ada orang yang tau.
"Boleh, Bapak siapanya pasien?"
"Saya temannya, Sus. Didalam ada siapa?"
"Mbak Wulan sendiri, silahkan masuk. Tapi jangan lama-lama, biarkan pasien istirahat."
"Baik, Sus."
__ADS_1
Dido meraih gagang pintu dan menurunkan kebawah.
Ceklek~
"Ayah, Ayah cepat sekali kemba--" Wulan mengira yang masuk adalah Wahyu, karena ayahnya sempat izin untuk pergi keluar membelikannya sesuatu. Tapi yang ia lihat ternyata Dido, pria berkumis tipis itu tengah tersenyum manis kearahnya. Namun ekspresi Wulan terlihat tidak suka, ia bahkan memalingkan wajahnya.
Ngapain sih dia kesini? Apa tidak ada kerjaan? Bukannya tadi Ayah bilang dia dan Mas Rio pergi ke kantor?
"Wulan, bagaimana kabarmu?" Dido melangkahkan kakinya, mendekati kursi kecil dan duduk disana.
Wulan sedang menyandarkan punggungnya pada sisi ranjang.
"Aku baik-baik saja, mau apa Kakak kesini?" nadanya terdengar begitu ketus.
"Ini aku bawa kebab, apa kau ingat? Ini kebab kesukaan kamu, Wulan." Ia mengangkat apa yang dibawa, menunjukkan pada Wulan.
Wanita itu menoleh sebentar dan memalingkan wajahnya kembali. "Aku tidak boleh makan daging kata Dokter, Kak."
"Benarkah? Aku sia-sia dong membawanya."
"Bawa lagi saja."
Dido menaruh paper bag itu diatas meja.
"Wulan, apa kau baik-baik saja sekarang?"
"Bukannya aku sudah bilang baik-baik saja tadi? Memang tidak terdengar?"
"Wulan ... aku kasihan padamu, kamu bukan hanya sakit fisik tapi juga hati. Aku merasa bersalah sekali karena dulu pernah meninggalkanmu. Coba saja aku tidak meninggalkanmu, kita pasti sudah menikah."
Belum tentu, Kak.
"Aku tidak butuh di kasihani. Kakak tidak perlu bicara omong kosong. Kakak pergi dari sini, aku ingin istirahat!"
"Kau mengusirku?"
"Iya."
"Aku kesini karena khawatir padamu, Wulan."
"Yasudah, sekarang 'kan Kakak sudah tau keadaanku, lebih baik Kakak pulang. Aku tidak mau Mas Rio salah paham padaku. Hubunganku sedang tidak baik dengannya, Kak."
"Bukannya itu bagus? Kau dan Pak Rio akan bercerai, bukan? Aku akan menggantikan posisinya, Wulan."
Dia ini bicara apa sih? Ayah juga kemana lama sekali, aku malas sekali dengannya.
Lengan Dido perlahan terulur, hendak menyentuh punggung tangan Wulan. Namun wanita itu langsung menggeserkan tangannya, tidak mau di sentuh.
"Kakak, aku ini sedang sakit. Tolong jangan membuatku emosi. Lebih baik Kakak pergi dari sini!" sedari tadi Wulan tengah menahan amarahnya. Tapi Dido tidak pernah mengerti akan hal itu.
"Apa aku seperti mengganggumu, Wulan? Kalau memang benar, aku minta maaf. Tapi aku masih mencintaimu, Wulan. Pak Rio bukanlah pria yang baik untukmu. Bercerailah dengannya dan kembali padaku. Kita akan menikah dan memulainya dari awal. Aku akan jadi suami yang jauh lebih baik dibandingkan dirinya" ujarnya meyakinkan.
__ADS_1
***
Jika masih suka dengan novel ini, silahkan beri dukungan untuk Author. Berupa vote, gift, like dan komen. Terima kasih juga yang masih stay baca dari Season 1-2-3 sampai sekarang. I Miss you ... All 😘 peluk ciumku dari jauh. Bab selanjutnya akan aku bikin seminggu kemudian, biar Wulan cepet keluar dari rumah sakit 😆