
"Pih, Papih mau kemana?" Mitha segera menghampiri Aji yang baru saja pergi meninggalkan ruang makan menuju ruang tamu, ia menghentikan langkah kaki pria paruh baya itu. "Pih, ayok pergi."
"Papih 'kan sudah katakan, kamu lupakan saja Rio."
"Alasannya apa? Bukannya Papih selalu mendukungku?"
"Papih lelah, Mit. Papih sudah berusaha untuk membujuk Rio. Papih juga sering datang beberapa bulan terakhir ini ke kantornya, tapi dia sama sekali susah Papih ajak bicara," keluhnya.
Jangankan Aji, Mawan saja susah untuk menemui Rio.
"Begitu saja Papih sudah menyerah," cetus Mitha.
"Apanya yang begitu saja? Papih sudah melakukan semuanya untukmu. Dan sekarang coba kamu lihat ... kamu bahkan sudah kehilangan masa depanmu dan itu juga gara-gara Papih. Harusnya Papih tidak mendukungmu sejak awal. Papih kira ... Rio pria yang gampang tergoda, ternyata tidak." Aji geleng-geleng kepala, merasa sudah prustasi.
"Kalau Mas Rionya susah untuk Papih deketin, deketin saja istrinya. Bila perlu, Papih bunuh dia."
Deg!
Aji terbelalak. "Astaga Mitha! Apa yang kamu katakan? Kamu mau Papih masuk penjara?"
"Papih tidak akan masuk penjara, Papih harus melakukannya dengan cara halus." Mitha memeluk tubuh Aji, berusaha untuk membujuknya.
Aji menggeleng cepat. "Tidak, Mit. Kemarin saja ... setelah Rio keluar dari rumah sakit, Reymond datang ke kantor Papih, dia mengancam Papih."
"Mengancam apa?"
"Mengancam, kalau Papih mengusik rumah tangga Rio dan Wulan, Papih akan dimasukkan penjara. Kan kamu tau sendiri, kemarin saat Papih menjebak Rio ... itu semua murni ide Papih," jelasnya.
Mitha melepaskan pelukan. "Papih takut sama Pak Reymond? Bukannya Papih juga orang kaya?"
"Papih memang kaya dan banyak uang, tapi anak buahnya banyak sekali, Mit. Dan kamu ingat pria berbadan kekar saat di Hotel itu?" Aji mengingat Mitha pada Ali dan Aldi.
Mitha mengangguk.
"Mereka terus mengikuti Papih, kemanapun Papih pergi."
Ya, memang apa yang Aji katakan benar. Reymond pun ikut turun tangan setelah apa yang dialami Rio, tentunya ia juga disuruh oleh Santi.
"Rasanya Papih sudah capek, lebih baik kamu melupakan Rio saja. Nanti Papih akan cari calon untukmu, calon yang menerima keadaanmu."
"Aku tidak mau, aku mau menikah sama Mas Rio saja, Pih. Mendingan Papih bunuh si Wulan saja, biar Mas Rio jadi duda sekalian! Aku benci sama si Wulan itu!" geram Mitha.
"Kalau pun Rio menjadi duda, dia belum tentu mau menikahimu. Dia itu susah untuk mencintai wanita!" bentak Aji, ia merasa sangat kesal. "Lepaskan Rio ... Papih akan cari calon yang lebih tampan darinya untukmu, Sayang." Aji mengelus pelan pucuk kepala Mitha.
__ADS_1
"Aku tidak mau!" bantahnya seraya berlari menaiki anak tangga, masuk ke kamarnya.
***
Di rumah sakit.
"Mas apa ini tidak berlebihan?" tanya Wulan saat melihat penampilannya sendiri. Ia sudah mandi dan diminta Rio untuk memakai dress yang senada dengan setelan jas yang ia pakai. Berwarna hijau daun dengan motif bunga-bunga.
"Tidak, kamu tambah manis memakai itu." Rio membantu Wulan menyisir rambutnya, Wulan juga sudah memakai full make up.
"Oe ... oe ... oe." Rafa yang tengah dipakaikan kain bedong yang bermotif sama sedari tadi menangis terus, ia seakan tak nyaman.
"Rio, Rafa tidak usah pakai bedongan ini saja, ya?" pinta Wahyu. Ia merasa kasihan, kaki Rafa juga terus saja menendang-nendang hingga Wahyu susah untuk membungkusnya.
"Jangan dong Ayah." Rio menghampiri Wahyu yang tengah duduk di sofa. "Katanya Ayah bisa memakai pakaian untuknya, kok dia malah menangis?" cibir Rio seraya mengecup kening Rafa, hingga membuat tangisnya makin pecah.
"Oe ... oe ... oe."
"Bukan tidak bisa, dia sepertinya tidak nyaman." Wahyu tetap melanjutkan, berusaha untuk membungkus Rafa dengan telaten.
"Dia bukan tidak nyaman, itu bentuk rasa bahagianya. Mangkanya menangis," jawab Rio dengan mantap.
"Oe ... oe ... oe." Tadi Rafa, sekarang Raka. Ia menangis dengan alasan yang sama, seakan tidak mau memakai kain bedong oleh Santi.
Dengan penuh kesabaran, akhirnya berhasil juga terpasang dengan sempurna. Walaupun sampai sekarang ia masih saja menangis.
"Memang kau ini mau apa sih? Kok nyuruh Wulan dan si Kembar pakai baju yang sama sepertimu? Apa tidak lebay, Rio?"
"Mamah apaan sih? Ini 'kan hari mereka pulang ke rumahku, jadi kami harus memakai pakaian yang sama."
"Pulang? Memang Wulan sudah boleh pulang sama Dokter? Bukannya baru dua hari?"
"Boleh, tadi aku sudah bicara sama Dokter. Wulan bisa beristirahat di rumah."
"Oh, terus kau mau tinggal di rumahmu? Tidak di rumah Pak Wahyu lagi?"
"Iya, boleh 'kan Ayah?" Rio melihat ke arah Wahyu.
"Boleh," jawab Wahyu.
"Ayah dan Clara juga ikut bersamaku tinggal di rumahku, ya?" pinta Rio.
"Eemm ...." Wahyu terdiam, ia seperti binggung dengan permintaan Rio.
__ADS_1
"Ayah tidak mau menemani si Kembar? Bukannya aku pernah meminta supaya kita sama-sama mengurus mereka?" Rio menatap mata Wahyu dengan tatapan teduh.
"Iya, iya. Ayah dan Clara ikut tinggal di rumahmu. Tapi bagaimana dengan dagangan Ayah? Ayah tidak mungkin tidak jualan, kan?" iya, tidak mungkin juga Wahyu hanya hidup menumpang dan tidak bekerja. Wahyu tak mau menjadi beban hidup menantunya.
"Masalah itu gampang, aku akan mengurus semuanya."
Ceklek~
"Hahahaha ...." Reymond yang baru saja masuk ke kamar inap Wulan bersama Indah dan Bayu, ia bergelak tawa melihat penampilan satu keluarga itu.
Dress yang Wulan kenakan masih cocok pada tubuhnya, sama halnya dengan si Kembar. Walaupun jenis kelamin mereka laki-laki, keduanya masih cocok dan terkesan sangat imut memakai kain bedong dengan motif seperti itu.
Tapi lihatlah Rio, ia adalah alasan Reymond tertawa terbahak-bahak.
"Astaghfirullah, apa ini?" Reymond segera mendekati Rio di sofa, ia mencubit jas yang dipakai adiknya sambil meringis geli
"Memang Kakak tidak lihat? Kalau ini adalah setelan jas?" Rio melirik pada tangan Reymond yang menyentuh jasnya.
"Kenapa konyol sekali? Kau ingin konser di mana sih?" Reymond masih terkekeh geli, lantas dirinya mengambil Raka dari tangan Wahyu untuk ia gendong.
"Konser konser, Kakak ini bicara apa, sih?" Rio mendengus kesal.
"Lihat pakaianmu. Astaga, kau norak sekali."
"Cih!" Rio mendesis. "Bilang saja Kakak iri, kan? Kakak tidak punya pakaian couple seperti kami."
"Aku iri?" Reymond menunjuk diri sendiri sambil menimang-nimang Raka yang baru saja berhenti menangis. "Kenapa aku harus iri pada kau yang lebay itu. Kalau mau lebay ... sendiri saja Rio. Jangan ajak anak dan istrimu. Kasihan mereka," cibir Reymond.
Merasa kesal, lantas Rio mengambil Raka dari tangan Reymond hingga membuat anaknya kembali menangis.
"Oe ... oe ... oe."
"Kasihan? Apanya yang kasihan, mereka bahagia kok." Rio menciumi wajah Raka bertubi-tubi.
"Apanya yang bahagia? Lihat Wulan." Reymond menoleh ke arah Wulan yang sedari tadi diam saja bersama Indah dan Bayu. "Dia terlihat tertekan memakai pakaian yang sama denganmu."
"Ih, Kakak ini--"
"Rio, Rey! Sudahlah!" sela Santi, ia menepuk pelan bahu Rio dan Reymond secara bergantian, menghentikan perdebatan mereka.
"Jadi pulang tidak?" tanyanya menatap wajah Rio.
Jangan lupa like 💕
__ADS_1