Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 83. Mas, perutku sakit


__ADS_3

"Lebih baik aku mati saja, aku akan ikut bersama Mamah Sarah disana. Papah tidak bisa membuat hidupku bahagia! Yang Papah lakukan hanya membuatku makin menderita!" teriak Indah sambil menanggis histeris.


"Jangan sayang, kau tidak boleh melakukan itu. Papah disini akan menjagamu, melindungimu dan membahagiakanmu. Itu adalah janji Papah."


Dia menepuk-nepuk dadanya sendiri, masih berusaha untuk meyakinkan anaknya.


Sesuatu cairan merah dari milik Indah keluar, mengalir dari kedua paha menuju betis dan kaki. Hingga membuat rok kebaya yang ia kenakan ikut basah, darah itu keluar sampai terjatuh berceceran di lantai.


Kepala Indah makin terasa pusing kunang-kunang, pandangannya seakan buram. Perutnya saat ini kembali kram dan terasa sakit, gunting dari tangannya perlahan terlepas dan jatuh di lantai.


Indah sudah memegangi perutnya dengan kedua tangan.


"Aaawwww ... Sakit!" pekik Indah.


Tubuhnya seakan lemas dan tak mampu berdiri tegak. Dia sudah hampir terjatuh tapi dengan cepat Mawan dan Reymond berlari ingin menopangnya, tapi yang berhasil menangkapnya adalah Reymond.


"Sayang, kau ... Kau kenapa?" tanya Reymond dengan wajah cemas, wajah Indah terlihat begitu pucat.


"Mas, perutku sakit ...," lirih Indah sambil meringgis, tangannya memeras kemeja Reymond begitu keras.


"Angkat Indah, Reymond! Kita bawa ke rumah sakit!" perintah Mawan yang ikut cemas.


Reymond segera mengangkat tubuh Indah dan berjalan menuju mobilnya, Reymond langsung masuk. Duduk di kursi belakang mobil seraya memangku tubuh Indah diatas kedua pahanya secara miring. Sementara Mawan, dia duduk didepan seraya menyetir mobil.


Untuk sesaat dia menghentikan dulu emosinya pada Reymond, karena sangat cemas dengan keadaan Indah sekarang.


Roknya sudah rembes terkena darah, bahkan celana bahan Reymond saja ikut terkena darahnya. Reymond memeluk tubuh Indah dan mencium kening, Indah masih meringgis kesakitan.


"Sayang, perutnya sakit sekali? Kau tahan. Kita akan menuju rumah sakit, ya?"


"Mas, tolong lepaskan kebayaku. Aku sangat terasa sesak," pinta Indah sambil menanggis.


Mata Reymond terbelalak. "Kebaya?"


"Lakukan saja," sahut Mawan didepan.


Reymond langsung segera melepaskan kebaya itu secara perlahan pada tubuh Indah, Indah sekarang hanya memakai kemben saja untuk menutupi bagian dada sampai perut.


Tapi Reymond melepaskan kemeja biru lengan panjang yang ia kenakan, untuk memakaikan pada Indah. Supaya Indah tidak terlihat begitu seksi, dia tidak ikhlas jika tubuh istrinya dilihat oleh orang lain. Biarkan saja dia yang telanjang dada, lagian Reymond inikan seorang pria.


"Bagaimana sekarang? apa kau masih terasa sesak?" tanya Reymond.

__ADS_1


"Iya ... lepaskan semua, Mas. Kembennya juga, perutku terasa tertekan," pinta Indah pelan.


Reymond masuk kedalam kemeja yang Indah kenakan, dengan susah payah akhirnya pengait kemben itu berhasil dia lepas dan melemparkannya ke sebelah kursi.


"Sudah sayang. Ada lagi?"


Indah menggelengkan kepala, air matanya mengalir membasahi pipi masih menahan rasa sakit pada perut bagian bawahnya.


Reymond menyeka air mata dan menciumi kening Indah. Dada Indah terus memompa seluruh nafasnya dengan tersengal-sengal.


"Mas ... Sakit sekali."


Indah terus merintih kesakitan dan memeras lengan Reymond begitu kuat, tapi kepalanya terasa sangat pusing, alhasil dia kembali pingsan.


"Sayang?!" Reymond menepuk pipi Indah dengan halus, "Sayang!" tapi matanya sudah tertutup.


Reymond menyenderkan kepala Indah pada dadanya, "Pak. Indah pingsan!" pekik Reymond pada Mawan didepan.


Mata Mawan terbelalak, mereka makin panik. Mawan ingin mempercepat laju mobilnya supaya sampai ke rumah sakit, tapi jalanan saat ini sangat macet. Mobil dari depan dan belakang seakan berdesakkan.


Akhirnya Mawan memberhentikan mobilnya dipinggir jalan dan keluar. Dia berlari pada trotoar menuju urutan mobil didepan, untuk melihat seberapa macetnya jalanan saat ini.


Dia juga bertanya pada seorang pria paruh yang sedang berada didalam mobil taksi dengan kaca mobil yang terbuka.


"Katanya didepan ada yang kecelakaan, Pak," sahut pria itu.


Reymond berjalan keluar mobil seraya menghampiri Mawan, dengan tubuh Indah yang masih diangkat pada kedua lengannya, Indah masih tidak sadarkan diri.


"Pak Mawan kita jalan kaki saja menuju rumah sakit," ucap Reymond memberikan ide.


"Bodoh! Bagaimana bisa??"


Beberapa pejalan kaki berlalu lalang dari depan dan belakang, Mawan menghentikan langkah kaki salah satu dari mereka.


"Pak, rumah sakit terdekat daerah sini, dimana?" tanya Mawan.


"Ada didepan, Pak. Sekitar 1000 meter dari sini, Pak," sahutnya sambil menunjuk kearah depan.


Mawan menatap wajah Reymond, "Kita lari saja, bawa Indah ke rumah sakit, supaya cepat sampai," titah Mawan.


Reymond mengangguk, mereka berdua berlari menuju rumah sakit. Langkah mereka begitu panjang, Mawan terus menatap wajah Indah yang masih pingsan dalam pelukan Reymond. Matanya mulai berkaca-kaca, dia begitu tak tega melihat anaknya dalam keadaan seperti ini.

__ADS_1


Terik Matahari juga makin panas. Dahi Indah sudah bercucuran keringat, sama halnya dengan Mawan. Jangan ditanya lagi tentang Reymond, tubuhnya sudah seperti mandi keringat. Apa lagi dia tidak memakai baju, untung tidak bau badan.


Mawan ikut melepaskan kemejanya dan telanjang dada berdua dengan Reymond sambil lari-lari.


Dia mengangkat kemeja miliknya, mengarah pada kepala Indah. Supaya dia tidak merasa kepanasan akibat terik matahari.


Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai ke rumah sakit besar, penampilan merek berdua seperti sebuah tontonan bagi perawat dan pasien disana. Apalagi dada dan perut Reymond yang sangat sispeck itu, dengan roti sobek 8 potongnya, sungguh menggoda iman.


Reymond langsung memasukkan Indah menuju UGD. Supaya cepat ditangani oleh Dokter.


Mawan duduk di kursi panjang seraya memakaikan kembali kemeja pada tubuh sendiri, wajahnya terlihat begitu cemas.


Semoga tidak terjadi sesuatu pada Indah. Iya, semoga saja. Kalau Indah kenapa-kenapa, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.


Batin Mawan seraya menghela nafas dengan gusar.


Mawan menoleh kearah Reymond yang duduk menjaga jarak disampingnya. Wajah Reymond tak kalah khawatir dari dirinya, Mawan melihat Reymond yang telanjang dada, tapi matanya memperhatikan pada dua benjolan bekas luka milik Reymond.


"Kenapa dadamu?" tanya Mawan.


Reymond menatap mata Mawan dan meraba dadanya, "Ini luka habis ditusuk, Pak."


"Kau berkelahi?" tanya Mawan.


Reymond menggelengkan kepalanya, "Tidak. Aku disakiti oleh ....,"


Drettt .... Drettt .... Drett.


Getaran ponsel Mawan dari kantong celana berhasil menghentikan ucapan Reymond. Mawan langsung mengambilnya, ternyata yang menelepon adalah Santi, Mawan segera mengangkat.


"Papah! Papah kemana saja? Kenapa tidak pulang-pulang! Mamah sangat cemas!" Suara Santi terdengar begitu lantang.


"Indah ada di UGD, Mah."


Deg.....


"Apa?! UGD. Kenapa dia? Ada apa dengan Indah, Pah?!"


"Mamah kesini saja, nanti Papah ceritakan. Ajak Bayu dan Irwan. Papah akan kirim alamat rumah sakitnya."


"Iya ... Iya, Pah."

__ADS_1


Mawan segera menutup panggilan telepon, dia langsung mengirimkan pesan. Pintu UGD masih tertutup rapat, belum ada tanda-tanda Dokter akan keluar.


^^^Kata: 1020^^^


__ADS_2