
Bibi pembantu mengangguk paham, atas semua yang Rio ucapkan. Ia langsung mengetik nomor Wulan dan segera menelepon, teleponnya tersambung dan tak lama diangkat oleh wanita manis diseberang sana.
Bibi menglospeaker sambungan telepon itu, supaya Rio dapat mendengar suara Wulan.
"Halo, selamat malam Nona Wulan."
"Malam, Bi. Ada apa telepon? Tumben."
Rio langsung bangun dan menyandarkan punggungnya disisi ranjang. Wajahnya tidak bisa dibohongi, ia memperlihatkan rasa senang dan menarik senyum kala mendengar suara lembut Wulan dari sambungan telepon.
Giliran Bibi telepon langsung diangkat, giliran aku, kau abaikan! Menyebalkan!
Ah tapi tetap saja, ia terus menggerutui Wulan.
"Maaf Bibi mengganggu malam-malam. Bibi mau tanya ... apa Nona sudah tau Pak Rio keluar dari rumah sakit dan sudah ada di rumah?"
"Sudah, Bi."
"Nona tau dari siapa?"
"Mamah Santi, memangnya kenapa ya, Bi? Mas Rio baik-baik saja, kan?"
Deg~
Rio merasa jantungnya terserang debaran yang sangat kencang. Ada rasa berbunga dalam hati, mendengar Wulan masih menanyakan tentang keadaannya, itu tandanya Wulan masih peduli.
"Pak Rio baik, tapi semenjak keluar dari rumah sakit dia susah makan, Nona. Malah dari pagi sampai sekarang belum makan. Bibi pusing, Nona ...." Padahal Rio hanya belum makan malam. Bibi sengaja berbohong, diperintahkan oleh bosnya yang anteng duduk sambil mendengarkan percakapan mereka.
"Kenapa pusing, Bi. Bibi tanyakan saja dia mau apa. Bukannya Bibi sudah lama tinggal di rumah Mas Rio? Pasti Bibi lebih mengerti," ucap Wulan.
"Itu masalahnya Nona, Pak Rio ingin nasi goreng buatan Nona Wulan. Apa Nona bisa datang kesini untuk membuatkannya?"
Jawaban Wulan begitu lama, mungkin ia sempat bergumam dalam hatinya terlebih dahulu.
"Maafkan aku, Bi. Aku tidak bisa kesana. Bagaimana kalau aku kirimkan saja resepnya?"
Bibi melihat kearah Rio. Pria itu menggelengkan kepalanya, seakan memberikan isyarat untuk hal apa yang selanjutnya Bibi katakan.
"Nanti hasilnya tidak akan seenak masakan Nona, yang ada Bibi dimarahi dan bisa dipecat. Bibi masih ingin kerja dengannya ...," lirihnya pelan.
"Mas Rio tidak mungkin memecat Bibi hanya masalah itu, Bi."
"Dia sudah mengancam Bibi, Nona."
"Ah memang dia itu bisanya mengancam orang yang lemah! Keterlaluan memang!" Wulan mendengkus kesal.
Lagian kau menyebalkan Wulan, coba nurut saja padaku. Aku tidak akan jadi orang gila yang mencari keberadaanmu.
Batin Rio sambil tersenyum.
"Bagaimana kalau Bibi ke rumah Nona saja, nanti kita masak nasi goreng bersama," ucap Bibi menawarkan.
"Lebih baik aku saja yang membuatnya, lalu biar kurir yang mengantarnya. Begitu saja ya, Bi?"
__ADS_1
Bibi kembali melihat kearah Rio, namun pria didepannya sekarang mengangguk semangat.
"Iya, Nona. Begitu lebih baik."
"Apa Mas Rio tau Bibi telepon aku? Atau mungkin Bibi disuruh oleh Mas Rio?" terka Wulan.
Deg~
Mata Rio dan Bibi saling membulat dengan sempurna. Segera Rio menggerakkan kedua tangannya, memberikan isyarat lagi.
"Tidak Nona, saat ini Bibi ada di dapur. Pak Rio tidak tau Bibi telepon Nona."
"Oh, bagus deh. Dia ada dimana sekarang, Bi?"
"Di kamar Nona."
"Oh yasudah, aku mau bikin nasi gorengnya sekarang."
"Baik, Nona. Bibi tunggu, terima kasih sudah membantu Bibi."
"Sama-sama," sahut Wulan seraya menutup telepon.
"Sekarang bagaimana Pak?" tanya Bibi kearah Rio.
"Bibi siapkan air hangat untuk aku mandi dulu. Setelah itu bilang pada satpam depan, kalau ada kurir yang mengantar nasi goreng dari Wulan. Cegah dia untuk pergi, aku akan menemuinya," titah Rio.
"Baik, Pak."
Rio yang ingin ketemu Wulan, dia ikut kerepotan. Bibi segera menelepon satpam depan untuk melakukan apa yang Rio perintahkan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Empat puluh menit berlalu, Rio keluar dari kamar mandi dan langsung mengeringkan tubuhnya menggunakan handuk putih. Ia menghampiri lemari dan membukanya, diambilnya celana jeans panjang berwarna biru, kaos putih polos dan jaket bomber berwana hijau armi.
Tak lama suara ponselnya berdering, sang satpam rumah menelepon.
"Halo."
__ADS_1
"Pak Rio, ini ada kurir didepan. Dia menunggu Bapak."
"Suruh tunggu sebentar, aku akan kesana."
"Baik, Pak."
Seusai sambungan telepon itu tertutup, Rio cepat-cepat memakai apa yang ia ambil tadi. Bergegas keluar dari rumah untuk menemui kurir. Ia sampai tidak sempat menyisir rambutnya yang masih berantakan. Tapi yasudah lah, memang dia suka mengacak-acak rambutnya sendiri. Jadi untuk apa dirapihkan juga.
Ia melihat seorang pria berkulit hitam manis memakai jaket berwarna hijau, tengah berdiri diluar gerbang. Satpam rumahnya membuka gerbang untuk Rio menghampiri kurir tersebut.
"Bapak yang bernama Rio Pratama, bukan? Saya ada kiriman nasi goreng untuk Bapak." Tangannya memegangi paper bag, lalu ia menyerahkan pada Rio.
"Siapa pengirimnya? Wulan?" tebak Rio seraya melihat kantong itu, ada tupperware yang berisi nasi goreng didalamnya.
"Bukan, Pak."
"Bukan bagaimana? Jelas ini Wulan yang mengirimkan. Wanita berambut panjang sepunggung, berkulit putih dengan tinggi sekitar segini, kan?" Rio mengukur bahunya, karena Wulan tinggi sebahu.
"Iya, benar."
"Yasudah, sekarang kau antarkan aku ke alamat yang tadi," titah Rio.
"Saya tidak bisa, Pak. Banyak orderan dan kiriman paket yang lain," bantah kurir.
"Aku bayar, kau batalkan saja semuanya," ucap Rio memaksa.
"Saya kirim saja alamatnya ke Bapak, biar Bapak sendiri kesana. Bagaimana, Pak?"
Rio merogoh saku jaket untuk mengambil ponsel, lalu diserahkan pada kurir untuk mencatatnya.
"Benar tidak ini alamatnya? Jangan sampai salah, ya?" ancam Rio.
"Tidak. Itu benar alamatnya, Pak."
Setelah mendapatkan alamat itu, Rio langsung berlari menuju mobilnya. Ia masuk kedalam dan menyetir mobil dengan kecepatan sedang.
Ia melihat Maps pada ponsel yang sudah Rio taruh didepan. Mengarahkan supaya Rio sampai pada tujuan yang benar.
Namun saat Asisten go*gle itu menyatakan sudah sampai. Justru Rio memberhentikan mobilnya didepan mini market, bukan sebuah rumah yang ia pikir adalah rumah Wulan.
Rio mengerutkan dahi. "Lho kok, kenapa bisa berhenti disini? Apa salah alamat?"
Ia kembali mengecek titik dimana dia berada dan alamat itu, tapi memang benar tempatnya didepan mini market.
"Si Wulan mengerjaiku atau bagaimana? Dia mengirimkan nasi goreng tapi didepan mini market! Sengaja sekali, supaya aku tidak bisa menemukanmu!"
Rio tersenyum menyeringai. "Kau sedang menantangku, Wulan? Apa benar, begitu? Oke ... aku terima tantanganmu! Sampai ujung dunia pun aku akan mencarimu! Bahkan pada lubang semut sekalipun!" pekiknya dengan lantang.
Ia mulai lagi bermonolog sendiri, tapi jiwanya merasa tertantang oleh Wulan yang masih bersembunyi darinya.
Rio segera turun dari mobil dan melihat sekeliling mini market itu. Ada seorang tukang parkir didepan tengah duduk, Rio berjalan menghampiri dan menunjukkan foto Wulan pada ponselnya, "Pak, saya ingin bertanya, apa sekitar satu jam yang lalu ... Bapak lihat wanita ini menunggu kurir datang didepan mini market?"
^^^Kata: 1044^^^
__ADS_1