Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 31. Aku sudah punya suami


__ADS_3

"Dia habis operasi usus buntu, apa kamu mau ikut menjenguk Nella bersamaku? Dia di rawat di samping kamar Tante Sarah," ucap Steven mengajak.


"Boleh deh Pak," sahut Indah.


Steven berdiri dan keluar dengan Indah, bukan hanya Indah saja. Justru Santi juga ikut menemani mereka.


Mereka masuk ke dalam ruangan tepat di sebelah ruangan Sarah. Di dalam juga sudah ada Nissa yang sedang mengobrol dengan wanita paruh baya, ada Nella juga sedang duduk menyender sambil makan buah apel yang sudah di kupas.


Dia melihat Indah datang bersama Steven, Santi dan juga Bayu.


"Selamat siang," ucap Indah dengan sopan.


Nissa langsung bangun dan menghampiri Indah seraya memeluk. "Indah, apa kabar kamu? Tambah cantik saja," ucapnya memuji.


"Aku baik Tante."


Nissa memegang tangan kecil Bayu, dia juga sedang di gendong oleh Indah. "Ini pasti anak kamu kan? Nama kamu siapa sayang?" tanya Nissa begitu hangat.


"Bayu," sahut Bayu sambil tersenyum.


"Anak kamu lucu dan tampan sekali, mirip dengan ayahnya. Siapa namanya?"


"Mas Rendi," sahut Indah.


"Ah iya itu, maafkan Tante ya."


"Iya tidak apa-apa. Oya kenalin ini Mamah Santi mertua aku," Indah mengenalkan Santi yang sejak tadi diam.


Nissa mengulurkan tangannya pada Santi, wanita paruh baya itu juga berdiri dan saling mengenalkan diri. Tapi dia menatap dalam pada Indah, dia juga tersenyum senang.


"Indah," panggil Nella.


Indah berjalan mendekati temannya, "Kamu sakit Nell? Bagaimana keadaan mu?"


Nella memegangi tubuhnya sendiri. "Aku baik Ndah. Kamu apa kabar?" tanya Nella seraya memegang tangan Bayu.


"Aku baik Nell."


Santi tengah duduk dan berbincang dengan Nissa di sofa, sedangkan Steven duduk bersama wanita paruh baya itu yang ternyata adalah ibunya.


"Jadi dia yang namanya Indah?" tanya sang Mamah memperhatikan Indah yang asyik mengobrol dengan Nella. Bayu di dudukkan di atas ranjang.


"Iya Mah, cantik, kan?"


Sang Mamah mengangguk dan tersenyum, "Dia sudah punya calon belum?"

__ADS_1


"Sepertinya belum Mah, mangkanya aku harus segera melamarnya. Benar, kan?"


Sang Mamah mengelus pundak anaknya, "Iya, harus cepat nanti keburu di ambil orang," dia menyemangati anaknya itu yang sudah senyam-senyum melihat Indah.


Santi berdiri dan menghampiri Indah, "Indah sayang ... Mamah ke kamar Mamah Sarah dulu ya, kasihan Mamah mu di tinggal."


"Oh iya, aku juga ikut deh," Indah sudah kembali mengendong Bayu dan melangkah namun tangannya di hentikan oleh Nella.


"Indah kita ngobrol dulu sebentar lagi. Aku masih rindu padamu," ucap Nella memasang wajah memelas. Dia juga jarang sekali ketemu Indah, bahkan sekedar ngobrol pun seakan susah.


"Ya sudah kamu temani Nella dulu. Biar Mamah sama Bayu ke ruangan Mamah Sarah ya," Santi mengambil Bayu dari tangan Indah dan berjalan keluar.


Steven berjalan menghampiri Indah bersama dengan ibunya. "Indah kenalin ini Mamahku," ucap Steven mengenalkan padanya.


Tangan Indah sudah mulai terulur, "Aku Indah ... Tante."


"Kamu cantik sekali, Tante namanya Sindi. Bisa kita mengobrol sebentar?" Sindi mengajak Indah duduk di atas sofa tepat bekas bokong anaknya barusan.


Indah duduk di sampingnya, Sindi mengelus rambut Indah. Entah kenapa baru saja ketemu dia sudah tertarik pada Indah, dia juga ingin sekali melihat anaknya menikah.


"Indah apa kamu sudah punya calon?" tanya Sindi.


"Calon apa Tante?"


"Suami, kamu mau tidak menikah dengan anak Tante?"


Apa maksudnya? Kenapa ibunya Pak Steven bilang seperti itu padaku.


Batin Indah.


"Tapi aku sudah punya suami Tante."


Sindi memegang tangan Indah. "Iya, Tante tahu dulu kamu punya suami, tapi kamu tenang. Steven bisa kok jadi suami yang baik dan ayah yang baik untuk anakmu."


Aih apa-apaan ini? Aku masih jadi istrinya Mas Rendi, kenapa Tante Sindi mengatakan itu padaku.


Batin Indah.


"Maaf Tante, tapi aku tidak ..."


Tiba-tiba terdengar suara deringan telepon di ponsel Indah, yang membuatnya menjeda ucapan. Indah langsung melihat layar ponsel dan terlihat nomor baru yang menelepon.


Indah bangun dari duduknya, "Tante, aku angkat telepon dulu ya," Indah meminta izin seraya keluar dari ruangan Nella.


Steven kembali duduk bersama Sindi. "Mamah suka sekali dengan Indah Stev, besok kau lamar saja dia. Kau tahu rumahnya kan?" tanya Sindi.

__ADS_1


"Iya tahu Mah, dia anaknya Pak Hermawan."


"Wah ... Dia kan rekan bisnis Papah, semoga dia setuju Stev. Mamah akan do'akan."


"Amin Mah," sahut Steven penuh antusias.


Sebenarnya sejak dulu dia memendam perasaan pada Indah, namun dia sadar kalau Indah masih berstatus suami orang. Baginya sekarang adalah lampu terang untuknya, siapa tahu dia bisa berjodoh dengan Indah. Dia juga sudah tidak sabar untuk cepat-cepat meminangnya.


***


"Halo selamat sore dengan Nona Indah?" tanya seorang pria lewat telepon.


"Sore, ini dengan siapa?" tanya Indah, dia mendudukkan bokongnya di kursi di dekat kamar Nella dan Sarah.


"Saya Pengacara Harun, apa Nona masih ingat dengan saya?"


"Iya Pak, aku ingat. Ada apa ya, Pak?"


"Nona Indah ada di mana? Bisa kita bertemu, ada hal yang ingin saya bicarakan tentang Pak Reymond."


Mata Indah langsung berbinar-binar, senyumannya langsung tergambar jelas kala mendengar nama Reymond sang pemilik hati. "Saya ada di rumah sakit sejahtera Pak, Bapak ke sini saja kalau begitu. Saya tunggu."


"Baik Nona, ini saya akan segera ke sana."


Indah sudah menutup teleponnya, dia kembali masuk ke dalam ruangan Nella. "Nella, Tante dan Pak Steven. Aku ingin ke kamar Mamah dulu ya," ucap Indah pamit.


Mereka semua tersenyum dan mengangguk, baru saja Indah memegang gagang pintu kamar Sarah. Tiba-tiba dia mendengar suara orang berteriak sambil berlari.


"Dokter! Tolong bantu pacar saya, dia pingsan!"


Indah menoleh ke sumber suara, seorang pria tengah mengangkat tubuh wanita yang pingsan dan membawanya masuk ke dalam ruang UGD.


Dari pengawakannya terlihat familiar, karena penasaran dia menghampiri pria itu yang sudah duduk di kursi panjang.


Semakin mendekat dia semakin sadar kalau dia adalah Andra, Andra sedang mengusap pelipis matanya, perlahan namun pasti Indah mendekati dirinya.


"Om Andra," panggil Indah, Andra langsung menoleh padanya.


Tatapan matanya sudah nyalang menatap Indah, semenjak insiden Rendi yang di katakan hilang dan meninggal. Sikapnya menjadi sangat terang-terangan membenci Indah, dia selalu menyalahkan penyebab hilangnya Rendi adalah Indah.


"Ngapain kamu ada di sini?" tanya Andra dengan ketus.


"Mamah aku sakit Om, Om Andra siapa yang sakit di dalam?" tanya Indah dengan lembut, walau bagaimanapun sikap Andra, dia selalu menghormatinya, karena dia tahu suaminya sangat menyayangi Om gilanya itu.


"Irene."

__ADS_1


Tak lama Dokter keluar dari ruang UGD dan menghampiri mereka berdua.


__ADS_2