Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
Episode 7. Mantan Rendi


__ADS_3

Indah duduk di bawah lantai dan terdiam dengan pikiran yang sangat kacau. Melihat sikap Indah yang seperti itu Santi mengulurkan tangan, mengangkat lengan Indah untuk kembali duduk di kursi.


"Kamu habis telepon siapa? Apa ada masalah?" tanya Santi.


Indah terdiam sejenak dan menghela nafas. "Mah ... Aku kayaknya ada urusan mendadak deh, aku tinggalin Mamah di sini nggak apa-apa, kan?"


"Mau kemana?"


"Mau ke kantornya Mas Rendi," jawab Indah.


"Ya sudah Mamah ikut."


Indah berencana untuk menemui Rendi dan meminta tolong padanya, tapi dia sebenarnya masih ragu apakah Rendi mau menolongnya atau tidak? Di coba saja dulu. Siapa tahu berhasil.


Mereka langsung meninggalkan rumah sakit dan menaiki mobil.


S


K


I


P


Sampainya mereka di depan kantor Rendi, terlihat semua karyawan menyapa Rendi. Hampir semua orang di gedung itu tidak tahu kalau Indah adalah istrinya, mereka hanya tahu Rendi menikah. Sudah itu saja.


Mereka berdua sudah naik lift dan berada di depan pintu. Melly sang sekretaris Rendi melihat kedatangan Santi, dia langsung berjalan menghampiri seraya menyapa.


"Selamat sore, Bu. Bu Santi ingin bertemu Pak Rendi?" tanya Melly dengan sopan.


"Iya. Siapa lagi, ada Rendi nya?"


"Mohon maaf, tapi Pak Rendi sedang ada tamu."


"Siapa yang jauh lebih penting dari ibu dan istrinya?" Santi melirik pada Indah yang diam mematung, dia sedang mempersiapkan diri untuk berbicara dengan Rendi.


"Sebentar saya panggilkan, Bu."


Tok... Tok... Tok.


"Permisi, Pak Rendi," ucap Melly seraya mengetuk.


Perasaan Indah begitu tak tenang. Dia begitu gugup dan rasanya area bawahnya itu menjadi ingin keluar, dia ingin pipis.


"Mamah ... Aku ke toilet sebentar ya," ucap Indah meminta izin.


"Iya sayang."


Indah langsung berlari kecil menuju toilet umum di kantor Rendi.


***


Sebelumnya....


Sebelum Indah dan Santi datang, ada seseorang terlebih dahulu yang datang.

__ADS_1


Melly sang sekretaris mengetuk pintu Rendi, tapi saat itu Rendi langsung menyahutinya dari dalam.


Ceklek....


Seorang wanita cantik masuk ke dalam, dia adalah mantan Rendi yang bernama Siska Novelis, wanita berusia 27 tahun. Seorang model dengan lekukan tubuh bak gitar Spanyol.


Siska adalah cinta pertama Rendi dan perempuan satu-satunya yang mampu meluluhkan hatinya, mereka berdua berpacaran selama setahun dan Rendi juga sering mengenalkannya pada Santi.


Santi awalnya memang setuju, karena dia bukan tipe mertua yang pemilih dalam soal mencari menantu. Asalkan mau di ajak serius untuk menikah dan saling melengkapi satu sama lain.


Namun berbeda dengan Siska, Siska tak pernah mau di ajak menikah oleh Rendi. Dia berasal karena ingin fokus menjadi model. Dia berfikir kalau nantinya menikah pasti akan punya anak, dan tubuh indah nan seksinya itu akan berubah. Dia tidak ingin semuanya sirna begitu saja.


Tapi tetap saja, Santi tidak peduli dan mendesak Rendi untuk menikahi Siska. Namun Siska merasa risih sekali dan pada akhirnya dia meninggalkan Rendi tanpa kabar, pergi bak tertelan bumi.


Hati orang mana yang tak sakit hati di tinggalkan wanitanya? Itu sangat menyakitkan menurut Rendi.


Beberapa bulan Rendi hampir mengalami depresi berat, tapi sampai sekarang Siska masih bersemayam di dalam hatinya.


Demi melupakan Siska, Santi berusaha untuk menjodohkan Rendi dengan anak temannya, tapi Rendi menolaknya mentah-mentah.


Dia lebih memilih mencari istri sendiri dengan caranya dan membuat surat 'Perjanjian Pernikahan' di atas materai.


Dia mengutus Dion sang asisten untuk mencarikan beberapa kandidat calon istri yang cocok untuk Rendi, tapi menurutnya semuanya tidak ada yang cocok. Entah apa alasannya Dion pun tidak tahu.


Sampai akhirnya dia bertemu dengan Indah di masa sulitnya itu, seseorang yang menderita dan membutuhkan uang mampu membuat Rendi untuk menolongnya.


Apa karena kasihan? Tentunya tidak! Itu karena dia mendapatkan kesempatan emas untuk menjadikan Indah istri. Rendi hanya perlu menikahinya saja dan memberikan uang tiap bulan sebagai nafkah, itu sudah menjadikan Rendi modal utama mendapatkan menantu untuk ibunya.


Dia mengira masalahnya sudah selesai sampai di sini, cinta ataupun tidaknya dengan Indah itu tidak dia pikirkan. Namun yang terberat sekarang adalah sehari setelah menikah dia malah bertemu lagi dengan mantan kekasihnya.


Siska melambaikan tangan. "Hai ... Ren! Apa kabar!"


Siska berjalan menghampiri Rendi dengan berlenggak-lenggok.


"Aku baik," Rendi menarik senyuman pada wajah tampannya itu.


"Apa aku sedang bermimpi?" Rendi sempat menepuk-nepuk kedua pipinya itu, tapi terasa sakit. Itu pertanda dia tidak sedang bermimpi.


"Tidak Ren, ini beneran aku," tanpa aba-aba Siska langsung memeluk tubuh Rendi dengan erat seraya berkata. "Ren ... Aku rindu padamu. Maafkan aku, dulu meninggalkan mu."


Tak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Rendi, rasanya langsung terkunci. Dia hanya merasa sangat bahagia bertemu kembali dengan Siksa.


Namun sayang kebahagiaan yang baru sebentar itu langsung lenyap karena ketukan pintu dari Melly.


Tok ... Tok ... Tok.


Beberapa ketukan pintu berhasil Rendi hiraukan, sampai akhirnya Melly mengatakan.


"Pak Rendi, maaf. Ada Bu Santi ke sini, dia ingin bertemu dengan Bapak."


Deg....


Jantung Rendi berasa di bom atom, seketika dia mengingat status barunya yang sudah menjadi istri orang. Rendi langsung melepaskan pelukan Siska dan bangun membuka pintu


"Ren ..." Panggil Santi di depan pintu, matanya langsung terbelalak. Begitu kaget kala melihat seorang wanita berada di ruangan anaknya, bahkan sedang duduk manis di atas sofa.

__ADS_1


Siska bangun dengan senyuman manis, dia menghampiri Santi dan mengulurkan tangan. "Tante Santi. Apa kabar?"


Uluran tangan Siska tidak di anggap sama sekali, justru membuat ubun-ubun Santi panas.


"Ngapain kau ada di sini?!"


Santi bertanya atau apa? Tapi dia berbicara dengan lantang dan bergema.


"Tante, aku ke sini mau minta maaf sama Rendi dan sama Tante," ucap Siska begitu enteng.


"Maaf?! Gampang sekali kamu bicara. Hah?! Kau tidak tahu Rendi dulu depresi gara-gara kamu!" pekik Santi.


Siska menatap mata Rendi begitu dalam. "Ren ... Serius kamu depresi gara-gara aku?" tanya Siska.


Rendi bak patung di sana, hanya diam saja. Dia tahu Santi sudah emosi, jalan satu-satunya dia harus diam saja. Cari aman.


"Tapi sekarang tidak penting! Yang penting adalah Rendi sudah menikah! Dan kau Siska," Santi menunjuk-nunjuk wajah Siska. "Jangan pernah ganggu hidup anakku lagi!"


Mata Siska terbelalak, tapi dia tidak percaya dengan apa yang Santi katakan.


"Menikah? Itu tidak mungkin Tante! Rendi hanya mencintaiku."


"Apa kau bilang? Kau pikir wanita hanya kau di dunia?" Santi menghela nafas.


"Cepat keluar!" pintu ruangan Rendi sudah di tunjuk, jelas dia mengusir Siska.


Bukannya langsung keluar Siska malah mendekati Rendi, dia seperti meminta penjelasan padanya.


"Ren ... Yang ibumu katakan tidak benar, kan? Kau tidak mungkin sudah menikah dengan orang lain. Kau hanya mencintaiku benar, kan?" Dia memegangi tangan Rendi.


Merasa kesal, Santi menarik lengan Siska dan mengeluarkannya dari ruangan Rendi, Siska tidak bisa apa-apa. Dia langsung melangkah pergi dengan wajah keki.


"Mah ... Mamah tidak perlu mengusirnya dengan kasar seperti itu," barulah Rendi berbicara, sedari tadi mulutnya seperti di simpan di dalam saku jas.


"Kasar katamu? Kau lupa ingatan? Dulu Mamah hampir kehilangan kamu gara-gara depresi mu itu."


"Iya aku ingat. Tapi dia tadi sudah minta maaf padaku Mah, tidak ada salahnya untuk aku memaafkan."


"Kamu tuh bodoh atau apa sih Ren? Seorang mantan tidak mungkin kembali kalau tidak ada maksud tertentu!"


"Siska tidak mungkin seperti itu Mah."


"Pokoknya mulai sekarang kamu harus janji untuk tidak berhubungan lagi sama Siska, dia bukan perempuan baik-baik. Dan kamu juga sekarang ..." Ucapan ibunya terpotong karena Indah yang tiba-tiba masuk keruangan Rendi.


"Mmm ... Maaf Mah, Mas. Aku menganggu obrolan kalian," Ujar Indah seraya mengusap tengkuk yang tidak gatal itu.


"Nggak kok Sayang ... Oya, Ren. Mamah ke sini mengantar Indah, mungkin dia ada perlu sama kamu," ucap Santi.


"Ada apa?"


Deg....


Belum apa-apa jantungnya sudah berdebar kencang, dia binggung harus memulai pembicaraannya dari mana. Tapi intinya memang dia butuh uang, dia melirik ke arah Santi yang sedang duduk di sofa.


Masa aku ngomongin masalah ini di depan Mamah Santi? Rasanya tidak enak.

__ADS_1


Batin Indah seraya menelan salivanya begitu kasar.


__ADS_2