Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
Episode 74. Takut kehilangan


__ADS_3

Dengan cepat Rendi mengusap air matanya, "Kau jangan menanggis Ndah, Aku......" Tiba-tiba saja kepala Rendi teramat sakit, "Aakkkhhhhhh...." Pekiknya, sambil memegang kepala, pandangannya seakan sudah kabur.


"Mas kau kenapa?" tanya Indah, dengan seketika tubuh Rendi ambruk di pundaknya.


Mata Indah langsung terbelalak dan kaget. "MAS...." tanya Indah sambil menyentuh pipinya, namun Rendi tidak sadarkan diri. "Rio... Mas Rendi pingsan!"


Dengan cepat Rio mencoba mengangkat tubuh Rendi, walau terlihat kesusahan dan merasa berat. Karena tubuh Rendi lebih besar di banding tubuhnya. Untung saja Harun pengacara Rendi masih stand bye di depan kamar Hotel, dia ikut membantu mengangkatnya dan mereka membawa Rendi ke rumah sakit terdekat.


Buliran air mata Indah mengalir deras di pipinya, "Mas bangun... Kamu baik-baik saja kan?" tanya Indah sambil memegangi pipi Rendi, Indah duduk di kursi belakang mobil dengan kedua pahanya yang menyangga kepala Rendi. Rendi berbaring dengan wajah yang pucat.


Untuk sesaat rasa takut kehilangan itu muncul.


Sampainya di rumah sakit, Rendi cepat di tangani oleh dokter. Rio dan Indah menunggu di depan. Rio meraih ponselnya untuk menelepon kedua orang tuanya, memberitahu kalau kakaknya di bawa ke rumah sakit.


Tak lama dokter keluar dari ruang ICU.


"Maaf apa kalian adalah kerabat dari pasien?" tanya sang Dokter.


Dengan cepat Indah mengusap air matanya, "Saya istrinya Dok." Jawab Indah.


"Baik, silahkan ikut saya ke ruangan." Ajak Dokter laki-laki itu menyuruh Indah masuk ke ruangannya.


"Apa suami saya baik-baik saja Dok?" tanya Indah dengan cemas.


"Ini bukan masalah besar." Ucap Dokter dengan santai. "Pak Rendi hanya kurang darah akibat kelelahan. Asam lambungnya juga ikut naik, mungkin karena dari kemaren dia terlalu banyak minum kopi dan tidak makan apapun. Untuk sementara waktu biar dia di rawat di sini."


Kamu pasti begini gara-gara aku Mas.


Batin Indah.


"Baik Dok, lalu apa sekarang saya bisa nemuin suami saya?"


"Bisa tapi nanti kalau dia sudah di pindahkan di ruang rawat."


"Kalau gitu saya permisi Dok." Ucap Indah berjalan keluar dari ruangan itu, terlihat Rio yang sudah merasa penasaran akan apa yang Dokter katakan padanya.


"Indah bagaimana? Kak Rendi sakit apa?" tanya Rio.


"Ini semua gara-gara kamu Rio." Jawabnya dengan ketus.


"Gara-gara gue? Salah gue apa?" tanya Rio yang seolah tak menyadarinya.

__ADS_1


"Pakai nanya. Dia begini gara-gara ulahmu menculik aku. Lagian aku binggung sih sama jalan pikiranmu, kenapa kamu bisa nekat menculik istri kakak kamu sendiri." Kata Indah yang duduk agak menjauh.


"Indah, apa lu sampai sekarang nggak mengerti juga? Gue lakuin ini semua demi lu."


"Demi aku?" tanya Indah sambil menatap Rio dengan kesal. "Apanya yang demi aku?"


"Lu kan dulu bilang pengen cerai."


Indah menghela nafasnya dengan kasar. "Maafkan aku Rio, memang dulu aku ingin bercerai dengannya, tapi sekarang aku ingin mempertahankan rumah tanggaku."


"Apa lu yakin?" tanya Rio menggeser bokongnya agak mendekat.


"Iya, aku minta mulai sekarang kamu lupakan aku. Kamu laki-laki yang sempurna, kamu bisa dapat yang lebih dari aku." Ucapnya meyakinkan Rio.


Jleb.......


Apa dia benar-benar menolak ku?


Batin Rio.


"Oke, baiklah. Gue terima keputusan lu, semoga lu bisa bahagia dengan kak Rendi." Katanya yang berlalu pergi.


Setelah Rendi di pindahkan, Indah masuk di ruang perawatan VVIP yang sudah ada Rendi tapi dia belum bangun. Indah mendekat dan mengusap rambut Rendi.


Batin Indah.


"Maaf Nona ini saya bawakan makanan dan minuman untuk Anda, Nona belum makan kan sejak tadi pagi?" kata Harun sambil menyerahkan kantong berisi makanan.


"Iya terima kasih Pak." Jawab Indah dan menerimanya dengan senang hati.


"Dan ini saya bawakan ponsel Pak Rendi, siapa tau ada yang bisa Anda hubungi. Kalau gitu saya permisi." Ucapnya kemudian keluar.


Indah baru ingat kepada ibunya, mungkin saja dia sangat mencemaskan keadaanya. Setelah selesai makan Indah pergi keluar ruangan untuk menelepon ibunya karena takut menganggu Rendi istirahat.


"Halo iya Ren."


"Mah..."


"Ah Indah sayang. Dari kemaren nomormu susah sekali di hubungi, kalau kamu ingin pulang ke rumahmu harusnya bilang dulu ke Mamah. Mamah cemas sekali." Ucap ibunya.


Jadi Mas Rendi tidak memberitahu Mamah kalau aku di culik? Mungkin karena dia takut Mamah khawatir.

__ADS_1


Batin Indah.


"Oh iya Mah... Maafin Indah."


"Sekarang kamu di mana?"


"Di rumah sakit."


"Kamu sakit? Sakit apa?"


"Bukan aku tapi Mas Rendi."


"Rendi kenapa? Terus di rumah sakit mana? Mamah akan kesana menjenguk Rendi."


"Ah tidak usah Mah.. Mas Rendi di rawat di luar kota, di sini terlalu jauh........."


🌿🌿🌿


Sementara itu di kantor Andra.


Melly yang tengah duduk sambil mengetik laptop di depan matanya, tanpa permisi Andra masuk dan mengelus punggungnya dengan nakal.


"Eemm Pak maaf, saya lagi fokus ngerjain data-data ini." Ucapnya merasa tak nyaman.


"Ah Mell, sebentar saja." Katanya berbisik sambil meraba-raba buah dada Melly, perlakuan ini yang kerap kali Melly rasakan.


"Maaf Pak, Bapak tidak seharusnya bersikap seperti ini." Kata Melly sambil menepis tangan Andra.


"Wah sombong sekali kamu. Mentang-mentang sudah jadi sekretaris Rendi, apa kamu lebih suka di perlakukan seperti ini hanya sama Rendi?" tanya Andra dengan lancang.


"Apa maksud Bapak? Pak Rendi bahkan tidak pernah melakukan hal seperti ini." Sahut Melly dengan emosi.


Dengan cepat Andra dekapannya dari belakang. "Oh tidak ya, maaf-maaf... Aku kira, aku dan Rendi tidak ada bedanya," bisik nya.


Tak lama suara ponselnya berdering, panggilan masuk dari luar negeri. Andra melepas dekapannya dari tubuh Melly dan mengangkat telepon.


"Hello Mr. Andra. Are you busy? There is something I want to talk about." Ucap seseorang pria dari telepon.


"No sir. What is it?" tanya Andra.


^^^Bersambung......^^^

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak like ❤️...


__ADS_2