Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 79. Gempa bumi


__ADS_3

"Itu kamar Nona Wulan, Pak." Bibi menunjuk pintu kamar yang tertutup rapat, didepan pintu kamar itu juga ada hordeng berwarna merah. Sedangkan disebelahnya ada kamar lagi, dengan pintu dan hordeng berwarna biru.


Oh mungkin sebelahnya kamar Ayah.


Rio menoleh kearah Bibi pembantu. "Apa Ayah Wahyu sempat pulang ke rumah, Bi?"


"Tidak, Pak. Bibi seharian tidak melihatnya."


"Yasudah, Bibi pulang saja sekarang. Biar aku dan Wulan disini."


"Baik, Pak." Bibi mengangguk dan keluar dari pintu rumah itu.


Rio segera masuk kedalam kamar yang tidak terkunci, kamar yang dimaksud Bibi barusan.


Ceklek~


Ia melihat Wulan tengah tertidur dengan pulas dengan posisi ditengah kasur. Ia mengenakan baju tidur lengan panjang. Tapi wajahnya begitu polos tanpa sentuhan makeup.


Rio memperhatikannya sambil tersenyum.


Apa tubuhmu masih lemas? Cepat sembuh Wulan, aku ingin bercinta denganmu.


Tapi kok, kenapa kau tidak memakai baju tidur dariku? Padahal aku ingin lihat, kau seksi atau tidak memakai baju seperti itu.


Paper bag berisi ponsel baru ia letakkan diatas meja. Rio membuka jas pada tubuhnya, lalu membuangnya ke lantai.


Ia merangkak naik keatas kasur, namun sentuhan kasur yang mengenai lututnya terasa sangat keras. Rio langsung duduk dan menekan-nekan kasur dengan kedua telapak tangannya.


Ini kasur apa besi? Keras sekali! Bisa-bisa badanku remuk tidur disini.


Rio melihat ranjang kayu yang sudah tua dan terlihat rapuh. Ia lantas menekan-nekan bokongnya begitu keras, seperti ingin mengetahui seberapa kuatnya ranjang itu.


Kalau aku bercinta disini, bisa patah tidak ya ini ranjang?


Lagi-lagi pikirannya bercinta dan bercinta. Tidak ada hal lain dalam otaknya sekarang.


Guncangan keras pada kasur yang Rio lakukan, justru bukan membuat ranjang itu patah, melainkan orang yang sedang tidur menjadi bangun. Wulan spontan tersentak kaget dan membuka matanya secara paksa.


"GEMPA BUMI!!" pekiknya seraya mengangkat tubuh untuk duduk.


Mengetahui Wulan terperajat, Rio langsung memeluk tubuh istrinya.


"Ada apa, Wulan? Mana gempa bumi?" padahal itu ulahnya sendiri, tapi Rio ikut-ikutan panik dan ketakutan.


Tubuh Wulan sampai bergetar hebat, ia pikir yang ia rasakan tadi benar-benar gempa bumi. Bahkan nyawa Wulan sehabis bangun tidur saja belum terkumpul seratus persen.


"Kita keluar rumah sekarang, Mas! Ini bahaya!" Wulan melepaskan pelukan dan menarik kasar lengan Rio untuk keluar dari rumah. Rio juga tampaknya menurut saja dengan apa yang Wulan lakukan.

__ADS_1


Kini mereka sudah berdiri didepan halaman rumah. Tapi Wulan merasa aneh, kenapa para tetangganya tidak ada yang ikut-ikutan keluar rumah karena rasa panik? Justru ada orang yang lewat didepan rumahnya dengan santai sambil mengisap puntung rokok.


Merasa penasaran, Wulan menghampiri orang itu. "Pak, apa Bapak tadi merasa ada gempa bumi?" tanyanya penasaran.


Pria itu menghentikan langkah kakinya. "Gempa bumi? Dimana ada gempa bumi? Saya tidak merasakan apa-apa kok dari tadi, Mbak."


Kok bisa? Jelas-jelas aku merasakan guncangan hebat, aku jadi khawatir sama Ayah dan Clara di rumah sakit.


Rio segera menghampiri Wulan dan merangkul bahunya. "Mungkin hanya perasaanmu saja, aku juga tidak merasakan ada gempa bumi," ucapnya tanpa dosa.


.


.


.


.


.


.


Kini mereka masuk lagi kedalam rumah, tampaknya Wulan masih begitu syok. Ia masih tercengang dengan alasannya bangun tidur. Tapi disisi lain, ia juga baru sadar. Sejak kapan Rio pulang?


"Mas Rio kapan pulang? Maaf aku ketiduran."


Ah iya, aku pas bangun juga sudah ada Mas Rio duduk di kasur.


"Sebentar, Mas. Aku mau ambil air minum dulu di dapur, apa Mas juga ingin minum?" Rio mengangguk pelan.


Wulan melangkahkan kakinya menuju dapur, ia membuka kulkas untuk mengambil botol air dingin. Namun saat Wulan menuangkan air itu pada gelas, tiba-tiba Rio mendekapnya dari belakang. Alhasil, karena kaget. Air itu tumpah mengenai celana tidurnya.


"Aaahhhh, dingin!" pekiknya, tapi untung saja gelas itu tidak sampai terjatuh. Karena Wulan segera meraihnya.


"Maaf, Wulan. Apa aku menggagetkanmu?" tanya Rio seraya menciumi rambut kepala Wulan dari belakang.


"Tidak apa-apa, Mas."


Kenapa dia tiba-tiba memelukku? Dan sekarang apa yang dia lakukan?


"Apa tubuhmu masih lemas?"


"Tidak, Mas."


"Eemm ... aku sepertinya ingin Wulan."


"Ingin apa? Mas ingin minum? ini." Wulan menyodorkan gelas dari belakang, Rio mengambil gelas tersebut dan menarik tubuh Wulan untuk ikut duduk bersamanya pada kursi di dekatnya.

__ADS_1


Posisi Wulan sudah duduk dalam pangkuan Rio, pria itu meminum segelas air, tapi ia minum setengahnya.


"Ini setengahnya lagi buat kamu, minumlah," titah Rio seraya menempelkan gelas itu pada mulut sang istri.


Wulan merasa binggung sekaligus heran dengan apa yang Rio lakukan. Tapi karena tak mau membuat Rio kecewa dan marah, ia hanya menuruti apa yang Rio perintahkan. Wanita itu meminum sisa air tersebut dengan tangan Rio.


"Bagaimana rasanya? Apa dingin?" Rio mengulurkan lengannya untuk menaruh gelas kearah meja dapur.


"Kan memang air dingin, Mas."


Perlahan tangan Rio meraba salah satu paha Wulan, bahkan celananya saja sudah basah kuyup.


"Eemm, Mas ... aku ingin ganti celana dulu. Celanaku basah." Wulan mencoba untuk bangun, namun kedua lengan Rio melingkar pada perutnya. Sepertinya tengah menahannya untuk pergi.


"Tidak usah ganti celana, lepaskan saja celananya."


"Iya, nanti aku lepaskan. Aku mau menggantinya."


"Aku ingin bercinta denganmu, Wulan." Rio sedari tadi masih sibuk menciumi aroma wangi shampoo pada rambut istrinya.


'Bukannya tadi siang dia bilang tidak bisa menyentuhku? Lagian dia juga sudah keluar, masa ingin lagi?' batin Wulan.


"Eemm ... lupakan saja, Wulan. Sekarang aku mau mandi."


"Tapi disini tidak ada bathtub, Mas. Tidak apa-apa, kan?"


"Tidak ada bathtub? Lalu kau, ayah dan Clara mandi dengan apa?"


"Dengan air, Mas."


Aneh sekali pertanyaan, mandi ya pakai air.


"Maksudku, kenapa tidak ada bathtub? Memangnya kalian tidak berendam pada air hangat? Ayah bukannya sering jualan dan capek, kan? Harusnya kalau mandi, berendam dulu pakai air hangat."


"Kami tidak pernah berendam, paling ayah hanya merendam kakinya dengan air hangat memakai ember."


"Kalau shower, ada?"


"Lebih baik kita lihat didalam kamar mandi, Mas. Biar Mas tau semuanya." Wulan mengangkat bokongnya dibarengi dengan Rio. Ia mengajaknya masuk kedalam kamar mandi.


Ceklek~


Rio melihat isi dalam ruangan itu, kamar mandi berukuran sedang. Tapi menurut Rio ukuran segitu terbilang sempit, bahkan sangat sempit. Temboknya belum di cat, tapi lantainya sudah memakai keramik. Kamar mandi itu juga tercium bau harum dan sangat bersih.


"Itu bathtub." Rio menunjuk sebuah bak mandi berbentuk persegi empat, berukuran sedang. Tingginya dibawah lutut Wulan.


"Itu bak, Mas."

__ADS_1


Bukannya bak dan bathtub sudah jelas berbeda? Kok dia mengira itu bathtub sih, aneh.


__ADS_2