
"Kamu keluar sekarang! Aku mau naik!" Ucapnya galak.
Karena Rendi juga hari ini sudah ada janji meeting penting dan beberapa karyawannya sedang menunggu di ruangan meeting. Tanpa menjawab Siska langsung keluar dengan wajah keki dari lift tersebut dan berjalan keluar kantor Rendi.
Setelah selesai meeting Rendi masuk ke ruangannya dan melihat ibunya tengah duduk di sofa dengan wajah penuh dengan kekesalan.
Kenapa aku seperti dejavu sekarang?
"Mamah kok ada di sini? Lalu Indah sama siapa?" tanya Rendi duduk di samping ibunya.
"Dia bersama Nella temannya," Ibu Santi merogoh ke dalam tas untuk mengambil kertas yang dia bawa sewaktu di rumah sakit. "Kamu baca Ren." Ucapnya menaruh di meja.
"Apa ini Mah?" tanya Rendi yang langsung mengambil dan membacanya,
Siska melaporkan Indah ke polisi? Memang apa yang Indah lakukan padanya? Jelas-jelas tadi aku bertemu dengan Siska. Dan sepertinya dia baik-baik saja.
"Kamu masih berhubungan dengannya?" Ucap ibunya menatap sinis.
"Enggak Mah." Jawab Rendi namun expresi ibunya seperti tidak percaya. "Aku bersumpah Mah, aku sudah memutuskan hubungan dengannya dan aku ingin memulai kehidupan ku yang baru bersama Indah." Ucap Rendi yang sudah bertekad.
"Kamu tidak bohong kan?"
"Iya aku tahu Mah aku sering sekali bohongin Mamah, tapi kali ini aku akan berusaha untuk memperbaikinya," mencoba meyakinkan ibunya.
"Bagus. Ini baru anak Mamah." Jawab ibu Santi sambil menepuk pundak anaknya, "Ya sudah kalau kamu ingin memperbaiki, kamu bisa mulai dari masalah ini. Mamah serahkan semua ke kamu dan jangan bikin Mamah kecewa." Ucap ibu Santi bangun dan berjalan ke luar dari ruangan Rendi.
***
Malam harinya Rendi datang ke rumah sakit dan menyuruh asistennya untuk membawa kasur lantai serta bantal dari rumah Rendi, untuk dirinya tidur.
"Kamu serius bawa kasur untuk menginap Ren?" Ucap ibunya melihat Dion mengangkat kasur itu ke dalam ruangan Indah dan menaruhnya di pojok.
"Serius Mah, lagian kalau tidur di sofa badanku pada sakit dan sofa di sini tidak seempuk di rumah." Jawabnya sambil menekan-nekan sofa, ibu Santi menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Rendi duduk sambil melihat Indah yang tengah tertidur pulas.
"Mamah nggak pulang? Ini sudah malam, nanti biar Dion yang mengantar Mamah pulang."
"Iya Ren. Oya tadi dokter bilang Indah dan ibunya sudah bisa pulang besok, nanti Mamah akan menjemput ibunya Indah pulang dan kamu temani Indah ke kantor polisi. Supaya masalah ini cepat beres." Ucap ibunya berdiri.
"Iya Mah, Mamah tenang saja. Tapi aku harap besok Mamah ke sini nggak usah bareng papah." Ucap Rendi merasa tidak enak. "Iya Mamah ngerti kok, sekarang Mamah akan suruh papah untuk menjaga jarak ke Indah dan ibunya," ucapnya tersenyum dan berjalan pulang.
Rendi membuka jaket dan menaruhnya di samping sofa, dia mengenakan kaos putih dan celana jogger.
Aku masih heran, apa yang Indah lakukan sampai Siska melapor ke polisi. Apa ini masalah besar? Tadi aku belum sempat bertanya sama Mamah.
Tak lama Indah terbangun karena haus dia mencoba untuk meraih gelas di atas meja. Rendi yang melihat langsung membantu untuk menuangkan air ke dalam gelas.
"Terima kasih Mas...." Ucapnya dengan lembut dan meminum air itu sampai habis.
"Apa kamu lapar?" tanya Rendi Indah menggelengkan kepala dan menyenderkan bahu di tepi ranjang.
"Besok setelah pulang dari rumah sakit, aku akan menemanimu ke kantor polisi." Ucap Rendi kemudian duduk di kursi kecil.
"Kenapa kamu diem aja?" Ucap Rendi yang melihat Indah bengong.
"Ah aku nggak papa Mas, aku mau lanjut tidur lagi." Ucap Indah berbaring dan menarik selimut, Rendi mengelar kasur lantai di dekat sofa dan langsung berbaring kemudian menutup mata.
***
Keesokkan harinya.
Ibu Santi datang bersama pembantu di rumah Rendi untuk membantu membereskan barang-barang Indah dan Rendi di rumah sakit. Kemudian ibu Santi bersama ibu Sarah pulang duluan ke rumah Rendi karena mulai hari ini Rendi memutuskan untuk tinggal bersama Indah dan mertuanya.
Dokter melepas lilitan perban di kepala Indah, dan kini hanya perban kecil di dahi atas sebelah kiri untuk menutup bagian yang masih luka akibat jahitan yang belum kering.
Indah juga sudah mengganti pakaian, dia mengenakan sweater berwarna merah dan celana jeans panjang.
__ADS_1
Sedangkan Rendi mengenakan stelan jas berwarna biru, Rendi menemani Indah untuk pergi ke kantor polisi tanpa sepengetahuan ibu Sarah.
Merekapun berjalan keluar rumah sakit dan masuk ke dalam mobil dengan Rendi menyetir dan Indah duduk di sampingnya.
Sepertinya ini kali pertama aku naik mobil berdua dengannya.
Gumam Rendi sambil menyetir.
Kenapa musti mas Rendi yang menemaniku, aku yakin nanti di sana dia pasti nggak akan percaya dengan omonganku.
Gumam Indah sambil sesekali melirik ke arah Rendi. Hampir di perjalanan mereka tidak berbicara sepatah katapun.
Sampainya di kantor polisi Rendi memarkirkan mobilnya dan membuka pintu mobil. Dan cuaca hari itu sangat panas.
"Kamu jangan keluar dulu." Ucap Rendi mencegah Indah yang baru saja hendak membuka pintu. Rendi keluar mobil dan membuka bagasi mobil, dia mengambil kaca mata hitam dan langsung memakainya, Rendi juga mengambil topi bermerek yang masih baru miliknya.
Rendi berjalan dan membukakan pintu untuk Indah. "Pakai ini," ucapnya menyodorkan topi tapi Indah malah diam saja dan hanya melihat topi itu. "Kenapa nggak di ambil, ini masih baru kok." Ucap Rendi yang kemudian menarik cap di pinggir topi itu.
"Buat apa Mas?" tanya Indah.
Rendi langsung memakaikan topi di atas kepala Indah dengan hati-hati karena takut mengenai dahinya, "Cuacanya panas, kamu kalau kemana-mana harus pakai topi supaya tidak sakit kepala." Hati Indah kembali berdebar-debar. Dia lalu turun dan berjalan di belakang Rendi.
Apa tadi dia sedang perhatian padaku? Ah mungkin dia di suruh sama mamah Santi.
Sampainya mereka ke dalam kantor polisi. Terlihat dua polisi berada di sana, yang satu berdiri dan yang satunya duduk di samping Siska. Siska juga di temani oleh seorang pria yang menjadi pengacaranya, dia pun kaget kalau Rendi datang untuk menemani Indah dan membawa pengacara juga.
Rendi dan Indah pun duduk bersebelahan. "Selamat datang Saudari Indah dan...."
"Saya Rendi Pratama." Ucap Rendi tegas sambil membenarkan kerah jasnya.
"Baik, sekarang kalian sudah ada di sini kita mulai saja, apa kamu mengenal Ibu Siska?" tanya pak polisi ke Indah.
"Iya Pak." Indah mencoba bersikap tenang dan berbicara tidak gugup di depan polisi.
__ADS_1
"Anda pasti sudah tahu kenapa Anda di panggil ke sini, sekarang coba Anda jelaskan kenapa Anda menampar Ibu Siska?" tegas polisi.
...💜Jangan Lupa Like💜...