
Untuk pertamanya Indah merasakan pelukan oleh sang suami.
Hangat.
Tangan Indah juga perlahan meraih punggung Rendi, dan membalas pelukannya.
"Indah..."
"Ya Mas..."
"Tak apa kan aku memelukmu?" tanyanya kikuk. Jantung Rendi kini berdebar-debar.
Ah jantung berdebar? Ini aneh sekali?
Jujur saja, Rendi hanya berdebar tiap di dekat Siska, tapi sekarang dia merasakan hal itu kembali. Tapi itu bersama Indah, apa mungkin Rendi sudah mencintainya?
"Iya." Pelukan hangat yang pertama kali mereka lakukan.
Rendi mendekatkan hidungnya dan mencium harum dari tiap helai rambut Indah, "Rambutmu wangi sekali. Kau pakai shampoo apa?"
Apa dia tadi mencium rambutku?
Deg...
Deg...
Deg...
Jantung mereka beradu menjadi satu.
"Indah...."
"Ya Mas..."
"Aku... Aku akan mencoba mencintaimu, dan berusaha melupakan semua masa laluku."
"Iya Mas."
Hangat, nyaman sekali. Aku harap omongan mu kali ini bisa aku pegang mas.
***
20 menit lamanya mereka memeluk satu sama lain, Rendi masih terhanyut dalam dekapannya, sambil mengelus-elus rambut Indah, dan sesekali menciumnya. Tapi tidak dengan Indah, yang sudah merasa kegerahan.
"Mas..." Kata Indah
"Ya,"
"Apa sekarang pelukannya boleh di lepas?" tanyanya.
"Kenapa? Kamu tidak nyaman aku peluk?"
__ADS_1
"Bukan Mas... Aku gerah." Rendi melepaskan pelukannya, dan melihat baju Indah sudah basah karena keringat.
"Maaf Ndah, aku terlalu lama memelukmu." Rendi berjalan dan menarik beberapa lembar tissu lalu mengusap dahi Indah yang sudah bercucuran keringat.
"Iya Mas tak apa." Sahutnya sambil mengibaskan tangan kearah wajah, terlihat jelas, bukan hanya dahinya saja yang berkeringat. Tapi juga lehernya, mata Rendi terpanah kesana.
"Ah Aku keluar dulu deh, kamu ganti baju ya," Ucap Rendi menepis pandangan, berjalan keluar dan menutup pintu.
Rasanya ingin ku kecup lehernya, Tapi pertama-pertama aku cium dulu bibirnya, aku bahkan tadi tidak jadi berciuman, karena lihat bibirnya bergetar. Sepertinya Indah belum siap, sabar Rendi.
Perlahan-lahan saja Rendi, seperti air mengalir, sampai jos pada waktunya.
Pikiran mesum tiba-tiba saja datang dari otaknya.
Setelah beberapa menit Rendi kembali ke kamarnya, dia melihat Indah yang sudah berbaring tidur di atas kasur dan sudah mengganti baju. Rendi ikut merebahkan tubuhnya, dia menarik selimut untuk menyelimuti Indah dan mencuri kecupan pertama di kening Indah.
Cup.....
๐๐๐
Keesokkan harinya, setelah selesai bersiap dan sarapan mereka pamit ke ibu Sarah.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil, Rendi yang sudah berpenampilan rapih memakai stelan jas, dan Indah memakai celana jeans biru dan memakai kaos merah yang di lapisi oleh cardigan, terpancar cahaya bahagia yang keluar dari wajah Indah.
"Mas, apa boleh sebelum ke kampus, kita mampir dulu ke Restoran tempat dulu aku bekerja?" tanya Indah kearah Rendi.
"Boleh, mau apa? Apa kamu masih lapar?" tanya Rendi sambil menyetir.
Semoga tante Nissa sudah datang di Restoran.
"Kamu jangan kerja lagi. Sekarang kamu harus fokus saja kuliah." Jawab Rendi seakan melarangnya.
"Iya nggak Mas, aku juga ingin bilang kayak gitu ke tante Nissa."
"Bagus," kata Rendi sambil mengelus rambut Indah dengan lembut.
Hari ini, hari di mulai pernikahanku yang sesungguhnya, aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuknya. Semoga saja seiring berjalannya waktu, aku bisa mencintainya.
Batin Rendi.
Kini mereka telah sampai di Restoran, Indah membuka pintu mobil dan meminta Rendi menunggunya di mobil.
Suasana di Restoran belum terlalu ramai, karena baru saja di buka. Wulan teman kerja Indah terlihat sedang mengelap meja dan dia dibuat terkejut melihat kedatangan Indah.
"Indah..." Ucapnya langsung memeluk.
"Kamu apa kabar?" tanyanya.
"Aku baik Lan." Sahut Indah melepas pelukan, dan tergores senyuman di bibirnya.
"Eh Indah kamu sudah datang, pagi-pagi sekali." Kata Nissa, tiba-tiba yang baru juga datang ke Restorannya.
__ADS_1
Mereka berdua menoleh. "Ya sudah kita ke ruangan Tante." Ajak Nissa.
Indah mengangguk, "Wulan.. Aku ke sana dulu ya." Tunjuknya kearah Nissa yang sedang berjalan.
"Iya-iya." Jawab Wulan kemudian meneruskan pekerjaannya.
Di dalam ruangan Nissa, terlihat di atas meja sudah ada 3 stel seragam baru.
"Duduk Ndah." Ucapnya menyuruh duduk.
"Ini seragam baru buat kamu," Ucapnya menggeser baju itu kearah Indah.
Indah mendudukkan tubuhnya di atas kursi di dekat Nissa, "Maaf Tante sebelumnya," sahutnya pelan, dan merasa tak enak hati. "Aku kesini karena mau bilang..." Nissa sudah sangat penasaran dengan apa yang Indah ucapkan. "Kalau aku, nggak jadi kerja lagi di sini."
"Lho kenapa?" tanyanya dengan wajah kecewa.
"Aku hari ini mau masuk kuliah lagi, dan sepertinya aku ingin fokus kuliah saja." Seketika raut kecewa dari wajah Nissa berubah setelah mendengar jawaban dari mulut Indah.
"Wah bagus dong, Tante ikut senang. Kamu kuliah yang rajin ya biar sampai lulus." Kata Nissa seolah sudah memberikan dukungan.
Sementara itu Rendi duduk menunggu di dalam Restoran. Salah satu pelayan menghampirinya, "Selamat pagi Pak, Bapak mau pesan apa?" sapa nya sambil memberikan buku menu.
"Saya tidak ingin pesan apa-apa." Sahutnya sambil menggelengkan kepala, tanpa mengambil buku menu itu.
"Lho terus Bapak kenapa...."
"Kenapa apa? Saya di sini nunggu istri saya apa tidak boleh?" Sontak Rendi dengan sedikit emosi.
"Mas... Kok kamu ada di sini." Rendi langsung berdiri melihat Indah yang berada tepat di depan matanya, "Bukannya aku suruh tunggu di mobil saja."
"Ah tak apa, aku ingin ngadem juga di sini." Sahutnya cengar-cengir.
Pelayan itu pun merasa aneh melihat wajah Rendi yang sudah berubah. "Kenapa lihat-lihat?" lirik Rendi dengan ketus. Pelayan itu langsung pergi meninggalkan mereka.
"Ah maaf Ndah, Apa kamu sudah selesai?" Indah mengangguk.
"Ya sudah kita ke kampus sekarang." Ucapnya mengajak.
๐ธ๐ธ๐ธ
Sampailah mereka di sebuah Universitas Xxx dengan gedung besar nan megah. Salah satu kampus terbaik di Jakarta, yang selalu Indah dambakan untuk bisa lulus di sana. Indah melangkahkan kakinya, di dalam hatinya seakan sudah ada bunga-bunga yang bertebaran. Senang? Bahagia? Tentunya menjadi satu.
Dia teringat akan dulu, bagaimana susahnya untuk bisa bertahan tetap kuliah sambil bekerja. Air mata Indah perlahan menetes. Tetesan bahagia keluar di bola matanya.
"Kenapa kamu menanggis?" tanya Rendi di sampingnya, sambil mengusap air mata yang mengalir di pipi Indah.
"Aku nggak menyangka Mas bisa kuliah lagi, rasanya seperti mimpi." Sahutnya dengan geregetan seakan ingin melompat-lompat.
Gemes banget sih, aku juga ikut bahagia Ndah.
...๐บKasih Rate 5 dan Vote๐บ...
__ADS_1
...๐Jangan Lupa Like๐...