
Sesudah mengantar Clara pulang, Wulan juga mengganti pakaian untuk ikut lagi ke kantor Rio. Padahal kemarin-kemarin ia sempat bilang bosan untuk ikut dengan Rio, tapi entah kenapa sekarang justru ingin ikut bersamanya.
Sebelum sampai di kantor, mereka berdua sempat mampir dulu untuk makan siang di Cafe, karena Wulan sudah tidak sabar untuk menyantap mangga muda.
"Apa enak?" tanya Rio yang tengah duduk di kursi putarnya, ia melihat Wulan tengah mengigit mangga muda yang sudah ia potong-potong diatas piring.
Wulan menoleh dan mengunyahnya dengan lahap. "Enak, Mas. Mas Rio mau?"
Piring yang ia pegang lalu disodorkan diatas meja Rio, tapi suaminya itu sama sekali tidak tertarik untuk memakannya. Dilihat dari penampakannya saja, buah itu begitu pucat. Sudah pasti sangat asam. Tapi ekspresi wajah Wulan begitu bahagia saat memakannya, ia sangat menikmati sampai tidak terlihat kalau buah itu benar-benar asam saat digigit.
"Asam?" tanya Rio memastikan.
"Iya, Mas. Tapi enak. Mas Rio coba saja."
Rio menggeleng cepat. "Tidak, buat kau saja."
"Eemm ... yasudah." Wulan mengambil piring itu kembali dan mengigit potongan mangga.
Rio yang sedang mengerjakan tugasnya didepan layar laptop, sesekali melihat ke arah Wulan. Ia seperti binggung, karena tumben Wulan ingin ikut dengannya. Tapi tak apalah, Rio tidak mau bertanya. Intinya ia sangat bahagia kerja di temani Wulan. Walau hanya duduk-duduk saja.
Satu jam berlalu, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu. Wulan yang baru saja keluar dari kamar mandi, lantas membukakan pintu tersebut.
Ceklek~
Seorang pria tampan berjas rapih berwarna biru dongker berdiri didepan pintu, pria itu melihat Wulan yang sama-sama melihatnya. Ia memperhatikan Wulan dari ujung kaki ke ujung kepala, Wulan tampak begitu manis mengenakan celana jumpsuit berwarna cream pas pada tubuhnya.
"Pak Dimas," ucap Wulan.
"Kau kenal aku? Siapa kau?" tanya Dimas merasa pangling saat melihat Wulan dengan full make up. Ia merasa baru pertama kali melihat Wulan dandan, terakhir saat dirinya menjadi pengantin.
"Kenapa lu musti tanya? Dia Wulan istri gue, Dimas!" sergah Rio seraya menarik lengan Wulan dan memyembunyikannya di punggungnya.
"Wulan? Oh ... ya, ya." Dimas mengangguk-ngangguk.
Dia Wulan? Segitu cantiknya, tapi Rio bilang dulu dia jelek meskipun sudah berdandan? Kacau memang mata si Rio! Kalau tau hanya berdandan Wulan jadi cantik begini, dulu dia sama gue saja.
"Woy! Liatin apa lu!" hardik Rio seraya menepuk keras bahu Dimas, ia melihat pria itu seperti terkesima melihat wajah Wulan. Sungguh, Rio sangat tidak terima, ditambah ada rasa takut kalau temannya tertarik pada istrinya.
__ADS_1
Enak saja kau lihat-lihat istriku! Dia hanya milikku, Dimas!
"Maaf-maaf. Eemm ... gue nggak di suruh masuk nih?" tanya Dimas seraya menarik turunkan alisnya, mencoba menggoda Rio supaya sikapnya yang ketus memudar.
"Masuklah!" Rio mengenggam tangan Wulan dan melangkahkan kakinya menuju sofa, ia menyuruh Wulan untuk duduk disebelahnya. Dimas juga ikut duduk di sofa di sebelah Rio, Rio menjadi penghalang diantara mereka.
"Lu mau apa kesini? Kan kita nggak ada meeting?" tanya Rio.
"Ini, gue mau kasih minuman buat lu." Dimas meletakkan paper bag panjang yang sedari tadi ia tenteng diatas meja.
"Apaan?" Rio mengambil paper bag itu dan mengambil isinya, ternyata isinya adalah minuman alkohol. "Kok lu kasih gue minuman? Gue 'kan nggak pesen?"
Ya, Rio memang dulu sering sekali meminta Dimas untuk membelikannya beberapa botol minuman beralkohol. Apalagi saat Rio di tinggalkan oleh Wulan, ia hampir setiap malam minum.
Namun semuanya berubah saat Rio bertemu kembali dengan Wulan. Ia melupakan kebiasaannya minum-minum, mungkin karena sekarang ia tidak lagi merasa kesepian.
"Iya, ini buat lu aja. Kakak gue habis pulang dari luar negeri, dia bawain gue minuman ini. Ada beberapa botol, jadi buat lu satu."
"Nggak ah, gue nggak mau minum." Rio menggelengkan kepalanya dan menyodorkan kembali paper bag itu didekat Dimas. "Lu bawa pulang lagi aja."
"Kenapa lu nggak mau? Bukannya lu seneng minum? Ini varian baru dan rasanya juga enak, lu pasti suka Rio."
"Happy? Happy kenapa?"
Rio merangkul bahu Wulan, wanita itu sedari tadi diam dan hanya menunduk. Tangan Rio mengusap lembut perut istrinya. "Gue happy karena sebentar lagi gue jadi Ayah, Mas," ucapnya sambil tersenyum dengan pipi yang merona.
Dimas membulatkan matanya. "Maksud lu ... Wulan hamil?"
Rio mengangguk semangat.
"Serius?" Dimas mengerutkan kening. "Terus anak siapa?"
Plakk!!
Rio menepuk paha kiri Dimas dengan keras. "B*go amat! Anak gue lah! Kan gue bilang, gue Ayahnya!" geram Rio.
Dimas bergelak tawa saat melihat ekspresi wajah Rio yang begitu masam menatapnya. "Hahahaha ... lu serius? Bukannya lu dulu bilang nggak mau nyentuh Wulan, tapi kok sekarang lu bikin dia bunting?"
__ADS_1
"Aaw ... aww ... sakit b*go!" Dimas memekik saat tangan Rio memelintir perutnya. Rio begitu kesal, sangat kesal mendengar mulut lemes Dimas. Ia tidak enak pada Wulan, takut wanita itu marah.
"Lu sana pulang aja! Gue masih banyak kerjaan!" usir Rio.
"Sombong banget lu sekarang, mentang-mentang lagi bahagia. Temen sendiri di lupain!" cibirnya seraya memalingkan wajah.
"Maaf ... lagian lu ngomongnya ngeselin banget!" Rio mengendus kesal, ia melirik lagi pada Wulan yang sedari tadi termangu sambil memainkan jari jemarinya.
"Iya, iya. Yasudah ... gue pulang deh." Dimas bangun dari duduknya sambil merapikan kembali jas yang sempat kusut.
"Ini bawa lagi! Gue nggak mau minum!" Rio mengangkat paper bag, lalu memberikan pada Dimas, tapi ia enggan untuk mengambilnya dari tangan Rio.
"Lu nggak menghargai gue ... gue jauh-jauh ke kantor lu nganterin itu, tapi lu nolak! Fiks ini mah, lu udah nggak anggep gue temen lu lagi, Rio!" hardik Dimas.
"Yaudah-yaudah, gue terima. Terima kasih!" jawabnya terpaksa sambil meletakkan kembali paper bag itu diatas meja.
"Jangan lupa diminum, gue pulang dulu." Dimas menepuk bahu Rio sekilas dan menoleh ke arah Wulan. Ingin rasanya ia mengatakan sesuatu, tapi rasanya tak berani, karena melihat Rio tengah melorotinya.
"Udah sana! Hati-hati di jalan," ucap Rio dengan nada mengusir.
"Iya." Dimas melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Rio.
Sepeninggal Dimas, Rio mendekati Wulan. Ia memperhatikan istrinya yang masih terdiam tanpa kata dengan kepala menunduk.
Dilihat dari mimik wajahnya, wanita itu seperti memendam rasa kesal, ia juga begitu cemberut. Apa mungkin Wulan merasa tersinggung dengan apa yang Dimas katakan barusan? Hanya itu yang ada dalam benak Rio.
"Kau kenapa? Kok diam saja?" tanya Rio seraya menaikkan dagu Wulan, supaya bisa saling memandang.
Wulan menggeleng samar. "Tidak, aku tidak kenapa-kenapa."
"Ucapan Dimas barusan, tidak usah didengar. Itu sudah masa lalu. Sekarang hatiku sudah berubah padamu," tegasnya.
Berubah? Berubah bagaimana?
Perlahan tangan lincahnya membelai pipi Wulan dan menciumi seluruh wajahnya. Salah satu tangan Rio meraih pinggang Wulan, mendekatkan pada tubuhnya. Semakin lama wajahnya makin dekat, hanya beberapa inci saling memandang. Wulan meneguk salivanya dengan kelat dan saat itu pula Rio berhasil membenamkan ciumannya.
Cup~
__ADS_1
^^^Kata: 1100^^^