
Aku mengenggam tangannya di atas meja yang berada di samping tanganku, dia menoleh dan melihatku. "Aku juga beruntung dapat kamu sayang."
Indah hanya tersenyum dan kembali melanjutkan makan, tidak ada jawaban sama sekali? Padahal aku sudah memujinya? Setidaknya kasih aku kecupan di pagi hari dulu kek. Kamu tidak adil padaku sayang, padahal aku sering mencium mu.
Aku melihat secangkir kopi hitam di dekat lenganku, masih ada uap panas yang bergelora.
Indah menggeserkan nya padaku, "Minum kopinya Mas."
Aku meraih secangkir kopi dan menyeruputnya.
"Ah!" segar sekali, memang sangat cocok minum kopi di pagi hari.
"Bagaimana rasanya Mas?" tanya Indah.
"Rasanya kayak kopi sayang."
Mata Indah berbinar-binar, kenapa dia? Apa jangan-jangan kopi ini buatan dia? Wah senang sekali rasanya.
Indah mendekatkan wajahnya padaku. "Tidak seperti air kobokan?" alis matanya ikut di tarik-tarik. Apa-apaan dia ini, membuat pipiku merona saja. Manis sekali kalau sedang menggoda.
"Kopi ini kamu yang buat?"
Indah mengangguk sambil tersenyum.
Astaga aku senang sekali, akhirnya istriku bisa membuat kopi! Walau rasanya biasa saja. Tapi yang penting tidak seburuk waktu itu. Aku menggeser kursi yang ia duduki untuk dekat denganku. Aku melingkari pinggulnya seraya memeluk dan mencium pipi.
"Hebat sekali kamu sayang, sudah pintar membuat kopi untukku. Rasa kopinya bahkan mengalahkan buatan barista di cafe," ucapku memuji, terdengar terlalu berlebihan. Tapi tidak apa kalau buat dia senang.
Indah melepaskan tanganku dan membenarkan posisi duduk. "Kamu berlebihan Mas."
"Tidak sayang, aku jujur!"
Indah berdecak. "Kopi itu memang aku yang buat, tapi kopi sachet dari Mamah Santi. Jadi sudah di racik oleh pabriknya sendiri, Mas," ucap Indah sambil terkekeh.
Jleb......
Aku kira dia yang meracik sendiri, sudah membuatku melayang tapi langsung di jatuhkan. Kan sakit! Tapi tidak apa, sedikit menyenangkan hatinya buat hatiku senang juga.
"Tapi kamu yang menuangkan air panasnya ke dalam cangkir, kan?"
"Iya."
"Nah itu! Mungkin enaknya dari situ."
"Apaan kamu Mas, makin nggak jelas," Indah kembali tersenyum.
__ADS_1
"Pinter gombal sekarang kamu ya, Ren," ucap Mamah sambil tertawa. Aku dan Indah juga ikut tertawa.
"Oya ngomong-ngomong kamu kerja di mana?" tanya Mamah.
"Kantornya Rizky, Mah."
"Tidak ingin kerja di kantor mu sendiri? Sepertinya Rio belum berpengalaman memegang kantor."
Mamah ini, aku tidak mungkin memegang perusahaan milikku sendiri. Kalau Papah tahu kepalaku bisa di penggal.
"Namanya masih baru Mah, nanti kalau sudah terbiasa pasti bisa. Aku juga dulu begitu."
"Oya, Mamah mau tanya tentang kejadian pada malam itu, siapa yang terakhir kamu hubungi dan menghubungi mu?" tanya Mamah.
Sedikit membahas masalahku, karena ponsel milikku saja saat itu hilang dan tidak di temukan.
"Anton Mah, habis itu aku mencoba menelepon Dion. Tapi belum sampai dia angkat, aku langsung di pukul oleh pria kekar dari belakang," tutur ku.
"Mamah kok jadi curiga sama Anton. Rey, kenapa bisa pas sekali dia menyuruhmu menjenguk Andra dan saat itu mobilmu kempes di jalan, lalu kau di pukul orang. Bagaimana menurutmu?"
Deg....
Mamah ada benarnya juga, kenapa aku tidak berfikir kearah situ. Anton hampir aku lupakan, padahal dia penyebab aku berniat menjenguk Om Andra.
"Iya, Mah. Mamah benar, apa aku langsung tanya-tanya dia juga, Mah?"
"Ngapain Mamah. Aku sendiri juga bisa," elak ku.
"Kau ini kapan pintarnya sih? Tiga tahun tetap saja begitu, kalau kau tanya-tanya dengan Anton lalu dia akan jawab apa? Dia akan tanya kamu dulu siapa."
Mamah bangun membungkuk dan menepuk pipi kananku.
"Wajahmu asing bodoh! Boro-boro Anton, istrimu saja tadinya tidak percaya padamu! Kalau dia tanya padamu kau siapa? Kau akan jawab kau Rendi, begitu?"
"Tidak."
"Ya sudah, nurut saja. Kapan kau pintarnya sih! Nama sudah di ganti jadi Reymond tapi tetap saja bodoh seperti Rendi. Mangkanya kau sering di bodohi, kau di siksa Siska juga ulah mu sendiri! Kalau dulu kau menurut sama Mamah untuk jangan balikkan lagi dengan Siska. Ini semua tidak akan terjadi!"
Hei kenapa Mamah membahas masalah itu lagi, aku melihat wajah Indah yang terdiam. Aku tidak enak padanya, aku merasa benar-benar bodoh saat itu.
"Tapi itukan sudah masa lalu, Mah. Aku putus dengan si Jalang itu juga sudah lama. Dianya saja yang gatal!"
"Sudah tahu wanita gatal tapi kau dulu sempat depresi, gila kau Ren. Mamah jadi emosi padamu!" seru Mamah seraya berdiri. Dia berjalan menuju dapur.
Indah juga ikut berdiri. Lho kenapa? Apa dia marah juga? Aku langsung memegang tangannya.
__ADS_1
"Sayang ... Kau marah padaku? Maafkan aku ya? Aku dulu sangat bodoh menyia-nyiakan kamu. Tapi aku sangat mencintaimu sekarang dan selamanya," aku ikut bangun dan memeluk tubuhnya.
"Sumpah demi apapun. Mulai sekarang dan sampai mati kau adalah satu-satunya wanita di hatiku. Kau harus percaya padaku sayang," ucapku seraya mencium rambutnya.
"Iya, Mas." Indah melepaskan pelukan. Kenapa? Apa dia tidak percaya padaku.
"Kau mau makan tidak? Aku akan ambilkan untukmu."
"Iya, sayang."
Indah mengambil piring yang baru. Dia menuangkan satu centong nasi goreng dan memberikan padaku.
Aku dan dia duduk kembali. "Sayang ... Kau percaya padaku, kan? Jangan bilang kau sekarang mencintai pria lain," ucapku dengan memelas.
"Iya, Mas aku percaya. Aku mau pipis sebentar ya."
Indah berjalan meninggalkan aku dan Bayu. Dia bahkan tidak menjawab pertanyaan ku, apa ada pria lain di hatinya? Aku masih melihat punggungnya, dia melangkah menuju dapur, Mamah bahkan belum kembali, apa dia masih marah? Kenapa mereka semua marah padaku sih?!
Aku melihat pada Bayu yang sibuk memegangi bola. Aku memegang tangannya.
"Bayu. Ayah mau tanya sama kamu."
Bayu menoleh padaku. "Apa, Ayah?"
"Apa Bayu sayang Bunda?"
"Sayang."
"Sama Oma sayang, nggak?"
"Sayang."
"Kalau Ayah? Bayu sayang, tidak?"
"Sayang."
"Ayah juga sayang Bayu."
"Yey!" seru Bayu sambil mengangkat-ngangkat tangannya keatas.
Aku terkekeh melihat tingkah anakku.
Setelah selesai sarapan dan emosi Mamah mereda. Mamah, Indah dan Bayu pamit pulang, sopir Mamah juga menjemput di depan parkiran. Papah juga terus menanyakan Indah untuk segera pulang ke rumahnya, Indah sempat berkata seperti itu padaku. Papah sekarang begitu posesif padanya, aku jadi makin jauh saja dengan Papah.
Tak lama Mamah balik lagi sambil mengendong Bayu, dan membuka pintu. Aku bahkan sudah bersiap dan memegang kunci mobil, mobil baru dari Mamah juga sudah ada di parkiran.
__ADS_1
"Mamah kok balik lagi? Nggak ikut pulang dengan Indah?"
"Kita ke rumah sakit Rey," sahut Mamah seraya berjalan menuju kamar sisa semalam dia tidur.