
Tengah malam ada sebuah mobil terparkir lumayan jauh dari rumah panti asuhan, mobil itu adalah mobil baru milik Dion. Didalam mobil ia tidak sendiri, melainkan bersama Hersa asisten Rizky.
Dion dan Hersa seperti menunggu seseorang dan tak lama mobil hitam berhenti tepat dibelakangnya.
Keluarlah dua orang pria berbadan kekar, mereka adalah Ali dan Aldi, mereka memakai seragam serba hitam dengan tas gendongnya masing-masing. Kakinya melangkah mendekati mobil Dion.
Tuk ... tuk ... tuk.
Ali mengetuk jendela mobil, pria didalam mobil itu segera menurunkan kacanya.
"Malam Pak Dion," sapa Ali dan Aldi.
"Malam, kalian langsung saja kesana. Tapi ingat!" Dion mengangkat jari telunjuknya kedepan wajah Ali dan Aldi. "Hanya mengambil berkas-berkas informasi saja, jangan sampai melukai orang dan anak-anak panti," tegur Dion.
"Baik, Pak."
Ali dan Aldi segera mengambil topi dan masker hitam. Setelah itu mereka berlari kecil kearah panti asuhan.
Saat sampai disana, suasana rumah panti itu sangat sepi. Namun ada seorang pria paruh baya tengah duduk di teras depan, ditemani secangkir kopi hitam dan rokok.
"Kita lewat samping saja, Di," ucap Ali pelan.
Aldi mengangguk dan mereka berjalan sembunyi-sembunyi pada samping rumah itu. Setelah melihat sebuah jendela, mereka memberhentikan langkah. Dion sempat memberitahu warna jendela pada ruangan Bu Susan, ia yakin kalau berkas-berkas itu ada di ruangannya.
Tentunya mereka juga membawa pelaratan untuk bisa masuk kedalam ruangan itu melalui jendela, Ali mengambil besi berukuran sedang yang sudah dipipihkan kedalam tas gendong miliknya. Ia mencongkel jendela kamar dan tidak menunggu waktu yang lama, jendela itu berhasil dibuka.
"Siapa yang masuk kedalam?" tanya Ali pelan.
"Kau saja Li, aku tunggu disini sambil melihat situasi," jawab Aldi pelan.
Ali mengangguk, ia langsung naik pada jendela itu. Untung saja ruangan Bu Susan berada di lantai bawah, jadi mereka tidak perlu memanjatnya.
Tidak ingin membuang waktu yang lama, Ali segera mengeledah seluruh ruangan itu. Ia menghampiri meja dengan dua laci. Langsung saja ia tarik dan mengambil beberapa berkas lalu membukanya, namun tidak ada yang dia butuhkan disana.
"Informasi tentang orang tua yang mengadopsi bayi, enam tahun yang lalu." ucapan Dion begitu lekat pada otaknya.
Dia kembali melihat lemari plastik dengan empat pintu, ia membuka dan kembali mencari-cari. Tapi tidak ketemu.
Hampir semua ia geledah, tapi tinggal lemari kayu berukuran sedang dengan dua pintu, belum tersentuh oleh tangannya.
Ketika ia hendak membuka pintu lemari itu, sayang sekali pintunya terkunci. Ali mencoba pintu urutan kedua. Ternyata dua-duanya terkunci.
"Sial! Kenapa di kunci begini?! Apa aku congkel saja?" Ali membuka tasnya kembali untuk mengambil besi dan kemudian berusaha mencongkelnya.
Tok ... tok ... tok.
Deg~
Suara ketukan pintu itu membuat jantung Ali berdebar, kepalanya dengan refleks melihat kearah pintu. Namun dia masih berusaha untuk membuka lemari kayu itu.
"Brengsek kau, cepat terbukalah!" gerutu Ali kesal menatap nanar lemari.
"Bu Susan ...." Terdengar suara anak kecil perempuan dan tak lama anak itu membuka pintu.
__ADS_1
Ceklek~
"Bu Susan ...."
Ia tidak melihat siapapun disana. Namun ruangan Bu Susan sudah berantakan seperti kapal pecah, beberapa kertas sampai berhamburan di lantai.
Mata gadis cantik itu membulat sempurna. "Kok berantakan gini? Ada apa, ya?"
Hembusan angin dari jendela yang bolong itu masuk kedalam ruangan. Gadis cantik yang bernama Shelly langsung berlari keluar ruangan.
"Bu Kinan! Bu Kinan!" Shelly berteriak memanggil salah satu pengurus panti, namun bukan hanya Bu Kinan saja yang datang. Melainkan seluruh menghuni panti.
"Shelly, kamu kenapa?" tanya Bu Susan seraya menghampiri, wajah Shelly terlihat begitu ketakutan.
"I-Ibu ...." Ia langsung memeluk tubuh Susan dengan erat.
"Kenapa kamu? Ada apa?"
"Aku tadi cari Ibu di ruangan Ibu, tapi Ibu tidak ada."
Shelly sempat mengira Bu Susan hilang dan pergi, itu yang membuatnya merasa ketakutan.
"Iya, Ibu 'kan sekarang ada disini." Shelly melepaskan pelukan dan menatap mata Susan.
"Tapi di ruangan Ibu sangat berantakan. Ibu ikut denganku, Bu ...." Shelly menarik lengan Bu Susan, mengajaknya untuk masuk kedalam ruangan.
Tibanya disana, Susan membulatkan kedua matanya, begitu tercengang dengan apa yang ia lihat. Apalagi ia sadar kalau lemari kayu miliknya tidak ada.
Deg~
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Karena rasa kesal pada lemari yang tak kunjung bisa dibuka, Ali memutuskan untuk membawanya saja.
Keduanya lari terbirit-birit, menghampiri Dion dan Hersa yang masih didalam mobil. Mereka berdua terbelalak kaget, melihat apa yang Ali bawa.
"Ali. Kenapa kau bawa lemari?! Aku hanya menyuruhmu mengambil berkas," ucap Dion heran.
Ali mengatur nafasnya dulu sebelum menjawab ucapan dari Dion.
"Lemari ini susah dibuka, Pak. Jadi saya bawa saja."
Aldi mengambil lemari dari tangan Ali, kemudian memasukkannya kedalam mobil dan ia juga masuk kedalam.
"Kamu masuklah kedalam mobilku," titah Dion pada Ali.
Pria itu mengangguk dan duduk di kursi belakang, sedangkan Aldi mengikuti mereka dari belakang, menaiki mobil.
"Apa kau yakin dengan isinya?" tanya Dion seraya menyetir.
Ali mengusap keringat pada dahi menggunakan tangannya.
"Yakin, Pak. Tadi hampir saya geledah semuanya dan hanya lemari itu yang belum saya cek."
"Tapi kau tidak membuat curiga mereka, kan? Tidak ada yang memergokimu?"
"Itu dia masalahnya, Pak. Saat saya hendak membuka lemari ... ada yang mengetuk pintu. Karena rasa panik dan takut, saya segera mengangkat lemari itu dan membawanya sampai kesini."
"Kau ini! Kalau sampai Bu Susan curiga bagaimana?" tanya Dion kesal.
"Semoga saja tidak, Pak."
***
Keesokan harinya.
Penampilan Wulan begitu rapih, ia memakai celana bahan panjang berwana hitam dan kemeja lengan pendek berwarna putih.
Ia mulai berdandan didepan kaca lemari, alat makeup-nya sama seperti dulu. Hanya bedak tabur dan lipstik berwarna pink.
Setelah itu ia menyisir rambut panjangnya dan mulai menguncir. Sebenarnya Wulan dari dulu tidak pernah memanjangkan rambut. Alasannya hanya satu, tidak nyaman. Selain tidak nyaman, Wulan juga merasa cepat gerah. Itu mengapa dia lebih suka dengan rambut pendek.
"Apa aku potong rambut saja, ya? Lagian rambut panjang ini untuk Mas Rio. Sedangkan dianya saja begitu orangnya," ucap Wulan seraya membelai rambutnya sendiri.
Ia menatap wajahnya pada pantulan cermin. "Tapi kalau di potong, nanti Mamah Santi akan marah tidak, ya?"
Wulan terdiam sejenak dan kembali bermonolog.
"Ah jangan dipotong deh, aku tidak enak sama Mamah Santi. Setidaknya aku bisa menghargai usahanya untuk membantuku mempercantik diri."
"Ya ... walau sama sekali tak dianggap," ucapnya dengan sendu. "Malah Mas Rio belum pernah memujiku, apa aku sejelek itu di matanya?"
Wulan memegangi kedua pipinya dan masih melihat wajahnya sendiri didepan kaca. "Tapi aku ada manis-manisnya sedikit, kok. Mas Rio mungkin belum sadar aja! Ah mana ada dia sadar! Otaknya aja nggak ada!" umpatnya kesal.
^^^Kata: 1044^^^
__ADS_1